Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Menagih janji sang koki


__ADS_3

Hanya bergurau saja, Arjuna nggak benar-benar meninggalkan Syailendra dan Fateena. Lagi pula hal pertama yang Salwa katakan saat Arjuna mengajak sang istri jalan-jalan adalah mengajak serta Fateena dan Syailendra. Setelah kehilangan teman-teman, Salwa sangat senang akhirnya memiliki teman berbagi lagi, salah satunya adalah Fateena.


Bersenandung kecil, Salwa sangat antusias dalam bersiap diri. Tak lupa mereka akan singgah di supermarket dahulu sebelum pergi ke ujung desa ini. Ya, seperti yang pernah Salwa katakan, keindahan pemandangan di desa ini sudah nggak di ragukan lagi. Salah satu spot yang kerap menjadi tujuan para wisatawan adalah bagian ujung dari desa ini. Terletak di tepi sungai dengan dermaga yang cukup besar. Ada banyak kapal yang siap mengantarkan para wisatawan berkeliling. Selain menikmati pemandangan dengan menaiki kapal, orang-orang kerap piknik di padang rumput tepian sungai itu. Pada wilayah tertentu di perbolehkan untuk berenang, bagi pengunjung yang memang ingin berenang. Tapi ingat, jangan terlalu jauh, sebab sungai ini dapat mengantarkan kita menuju laut lepas.


"Katanya urusan masak serahkan sama Abang, kok malah menggelar tikar." Dirinya baru selesai meletakan pembakaran di samping mobil, sedangkan Salwa menata tempat untuk mereka bersantai.


"Masih pagi Arjuna. Kalian sudah sarapan kan sebelum berangkat."


"Kami belum sarapan, karena kami berencana sarapan di sini."


"Oh jadi itu alasan kamu mengajak kami ke sini pagi-pagi sekali?. Ckckckk!! meski berniat sarapan di sini seharusnya kamu memberi sedikit makanan kepada Salwa."


"Kamu juga Salwa, kok mau-mau saja di ajak ke sini tanpa sarapan." Seperti seorang bapak-bapak, Syailendra memberikan kuliah pagi pada mereka berdua.


"Makan roti sama minum jus. Mas Arjuna juga makan roti, tapi minumnya kopi jeruk hangat."


"Tuh kalian sudah sarapan, kok bilangannya belum sarapan." Menatap pada Arjuna.


"Aku lapar lagi Bang. Ayolah, setidaknya berikan kami sepiring nasi goreng olahanmu." Mengayun-ayunkan lengan Syailendra, tingkah Arjuna seperti seorang bocah.


"Ck! manja banget sih!" mendengus mendudukan diri di karpet yang telah dia gelar. Angin pagi sangat nyaman, Enda ingin berleha-leha saja saat ini.


Fateena mendekati Salwa dan berbicara pelan"Kamu lapar juga?."


Mengantupkan bibir, Salwa cengengesan dan terdengar dia tertawa. Fateena tersenyum di iringi kepala yang sedikit menggeleng, tingkah Salwa dan Arjuna ini ada-ada saja.


"Hanya selembar roti, untuk mengganjal perut saja."


"Kamu beruntung Fateena, selalu bisa menikmati masakan seorang koki" dasar Salwa, dia mulai membujuk Fateena agar membujuk Syailendra.

__ADS_1


"Kamu tuh ya, semakin mirip dengan Arjuna. Pandai bicara manis kalau ada maunya. Aku nggak lapar sih, tapi menikmati pagi di sini sembari menikmati sarapan, kayaknya enak juga."


"Wuhh enak banget malah" rupanya sedari tadi Arjuna menguping, telinganya seperti antena yang gesit menangkap obrolan para istri.


"Aku penasaran dengan kopi kesukaan mu. Boleh aku memintanya?" ini adalah penawaran seorang Fateena, sudah sejak lama dia penasaran dengan rasa dari minuman kesukaan Arjuna itu. Saat mendengar Salwa mengatakan Arjuna meminum kopi itu sepagi ini, lidahnya jadi ingin mencicipi jua.


Tertawa dengan anggukan samar"Hehehe, kopi doang kan. Itu mah gampang Kakak ipar."


Fateena membulatkan mata mendengar Arjuna memanggilnya Kakak ipar, sangat tidak biasa.


"Secangkir kopi harus di temani dengan kue, tadi kami membeli kue manis dengan rasa jeruk juga di supermarket. kakak ipar juga mau kue nya?." Ada apa dengan kedua mata Salwa, terlihat berbinar-binar. Kali ini dia juga memanggil Fateena dengan sebutan Kakak ipar.


Meletakan jemarinya di dagu, Fateena bergumam"Hemmm, boleh juga. Baiklah para Adik-adik, Kakak ipar kalian ini akan membawa koki kita ke hadapan kompor lagi. Kalian segera buarkan kopi dan siapakah kue untuk ku."


Meletakan tangan di atas alis"Siap Kakak ipar" seru Arjuna seperti sedang hormat kepada sang saka.


Fateena melirik Salwa"Oh!! kue nya segera siap Kakak ipar!" ujarnya jua.


"Idih!! ge-er banget" celetuk Arjuna. Dia mencibir ke arah Syailendra sembari menuju ke arah Salwa. Sedangkan Fateena gegas mendekati sang suami. Pertama-tama Fateena memegangi perut, Syailendra mengira dia sakit perut.


Lebih mendekat kepada suaminya kemudian berkata pelan"Aku lapar."


Syailendra memiringkan kepala, menatap Fateena dengan ekor matanya. Wanita itu tak kuasa menahan tawa, dia pun tergelak di balik kain penutup wajah.


Jari telunjuk Syailendra bergerak-gerak di depan sang istri, kemudian berpindah ke arah Arjuna dan Salwa. Adik lelakinya itu tertawa sambil bersembunyi di balik tubuh Salwa.


"Kalian bersekongkol ya!."


.

__ADS_1


Meninggalkan mereka yang sedang asik di tepian sungai. Di apartemen yang tak di ketahui Mia, Randy tengah terpuruk meratapi nasib diri. Masalah datang silih berganti, berbicara dan mencurahkan kegundahan kepada Mia hanya akan menambah bebannya saja. Mia merajuk, saat bertemu dengan Randy dia selalu bersikap judes dan kerap menyindir tentang Salwa.


Selain Tuan William yang menarik sahamnya dari perusahaan Randy, beberapa petinggi lain kompak melakukan hal yang sama. Kemarin dirinya membuat heboh dunia hiburan dengan video menindas Arjuna di rumah sakit. Hari ini di tengah usahanya mencari jalan keluar atas masalah yang sedang di hadapi, para pemburu berita kembali mencari dirinya. Bukan ingin meminta penjelasan tentang video di rumah sakit itu, melainkan meminta penjelasan tentang kabar baru yang sedang beredar pagi ini.


Ini menyangkut soal pencucian uang, Randy di duga terlibat dalam kasus seorang pejabat nakal. Sebagai orang tua, juga sebagai orang pertama yang mendengar kabar itu Teguh lekas menghubungi Randy. Langit bahkan masih kelabu saat Randy di minta pergi dari kediamannya.


Di apartemen itu Teguh meminta penjelasan dari Randy. Nggak bisa mengelak lagi, tuduhan itu bukan tanpa sebab, juga bukan tanpa bukti. Di antara deretan nama sang penerima uang haram, ada nama Randy di sana. Sialnya hal ini terjadi sudah cukup lama.


"Kenapa Randy? kalau perlu uang kamu tinggal bilang sama Ayah!." Dadanya terasa sesak, namun sebisa mungkin Teguh menahan diri agar tidak tumbang.


"Randy khilaf Ayah."


"Khilaf itu sekali!!. Kalau selama ini bukan khilaf namanya!!." Akh!! jawaban Randy menambah sesak di dada. Tak terbayang kalau jawaban seperti itulah yang Randy berikan saat di depan pengadilan nanti.


"Jawabanmu seperti orang yang enggak berpendidikan!!!. Sangat aneh Randy!!."


Mematung, Randy terpojok dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Semua aliran dana yang keluar dan masuk di rekening mu akan di selidiki. Sedangkan Ayah setiap bulan menerima uang dari kamu, yang kamu katakan sebagai uang kasih sayang terhadap orang tua."


"Maaf Ayah. Aku akan menanggung semuanya sendiri."


Duduk berhadapan dengan Randy di sofa"Enggak semudah itu putraku. Kamu telah menyeret Ayah. Juga orang-orang terdekatmu."


"Maaf. Maafkan aku Ayah" lirih Randy sangat tak berdaya.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2