Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Gelitik cinta


__ADS_3

Rasa senang terlihat jelas di wajah Anton saat Arjuna datang. Dia sangat berharap Arjuna dan Salwa segera menikah, namun lagi-lagi masalah waktu. Bagaimana Anton nggak menyukai Arjuna, dia pemuda yang baik pastinya. Ketulusan Arjuna dapat dia rasakan, lain rasanya saat Randy menunjukan perhatian kepada mereka di awal perkenalan.


"Aku pulang, assalamualaikum" ujarnya saat Salwa mengantarkan hingga ke mobil.


"Waalaikumsalam" sahutnya pelan. Ada rasa nggak rela saat Arjuna pulang, benih cinta mulai berkecambah, dan ingin lebih lama bersama. Namun Salwa harus lekas menyadarkan diri, Arjuna seorang pemuda yang sangat menjaga diri.


Beberapa kali bertandang ke kediaman Salwa, Arjuna pun mulai di kaitkan dengan Salwa"Ehem" seorang tetangga yang lewat berdehem.


Salwa yang hendak masuk ke dalam rumah menoleh padanya. Dia tersenyum seadanya, karena tetangga itu tersenyum.


"Neng Salwa, kok itu anak sering kemari?."


"Menjenguk Ayah" sahut Salwa.


"Oh ya?. Ada hubungan apa sama Pak Anton?."


"Ayah kenalan Kakeknya" sahut Salwa lagi.


"Oooo" mulut tetangga itu membulat.


"Terus cowok yang tinggi besar kemarin, siapa?."


"Teman Hanif" sebisa mungkin Salwa menjawab dengan santai. Padahal otaknya sambil berpikir keras menjawab pertanyaan dadakan dari tetangga itu.


"Mantan-----."


"Salwa, di panggil Ayah" Nur memanggil Salwa dari muara pintu. Dia sengaja memanggil Salwa demi menghindari pertanyaan tak berujung tetangga kepo.


"Permisi ya Bu, saya masuk dulu" ujar Salwa pamit diri.


Di dalam kamar Salwa membuka ponsel, melihat obrolan dirinya dan Arjuna yang sudah lama itu. Arjuna menunjukkan ketertarikan padanya saat itu, namun sekarang perasaan itu harus tertahan. Sudah lama mereka nggak bertukar pesan, sejatinya Salwa merindukan masa-masa Arjuna begitu gencar mendekatinya.


"Bagaimana kalau aku mengiriminya pesan lebih dulu" gumam Salwa. Selama ini hanya Arjuna yang lebih dulu mengirimi pesan padanya.


"Apa aku akan di anggap wanita murahan? karena mengirim pesan lebih dulu?" pikir Salwa lagi.

__ADS_1


Rasa penasaran terus mengusik hati, demi mengobati rasa penasaran itu pun Salwa memberanikan diri mengirimkan pesan lebih dulu.


Masih dalam perjalanan kembali ke kantor, Arjuna menepikan mobil saat pesan itu masuk ke ponselnya.


"Apa kamu sudah sampai?."


Seulas senyum terbit di wajah Arjuna. Hatinya terasa menghangat, apakah Salwa mulai merindukannya sebab mereka baru saja bertemu.


"Aku masih di jalan" jemarinya mulai mengetik balasan. Kemudian matanya melirik jam di layar ponsel"Ku pikir baru beberapa menit aku berangkat dari rumahmu."


Mendapat sindirian halus, Salwa nggak lagi dapat membalas pesan itu. Dirinya membenamkan wajah pada bantal empuk.


Menunggu balasan namun nggak jua di balas, Arjuna memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Baru saja memarkirkan mobil, langkah Arjuna di hadang seseorang berperawakan tinggi besar. Dari caranya berpakaian Arjuna menerka dia adalah seorang bodyguard, meskipun bodyguard nya sendiri jarang memakai setelan lengkap seperti itu.


Memiringkan kepala menatap datar orang tersebut"Ada apa?."


"Maaf Tuan, bos besar ingin bertemu anda."


"Bos besar?. Ada banyak bos besar di sekitarku."


Tangan lelaki itu menjulur ke arah sebuah mobil di dekat mereka. Kaca mobil terbuka, dan nampaklah seorang pebisnis senior di sana.


Segera menghampiri dan mencium punggung tangannya"Selamat sore Pak Teguh."


"Ada waktu? aku ingin bicara denganmu."


"Tentu Pak" ujar Arjuna.


Arjuna mengajak lelaki berusia setengah abad itu masuk ke perusahaan mereka. Kini mereka telah berada di ruangan Arjuna.


"Langsung saja ya, kenapa kamu selalu menolak kerja sama yang di ajukan Randy."


"Perusahaan Randy sudah sangat besar. Sedangkan kami hanyalah perusahaan baru yang belum berpengalaman. Penawaran yang Randy berikan sangat besar, kami merasa belum mampu memikul tanggung jawab besar itu."


Sudut bibir Teguh terangkat naik, pandai sekali pemuda ini memberikan alasan.

__ADS_1


"Tapi kemampuan mesin pelacak kalian sangat tinggi. Dalam sekejap postingan tentang putra dan mantan menantuku menghilang begitu saja."


Dua lelaki berbeda generasi ini saling berpandangan. Sejurus kemudian Arjuna tersenyum"Pak Teguh sudah tau dari awal?."


Mengangguk tanpa bicara, namun masih ada senyuman di wajahnya.


"Ku akui kemampuanmu sangat luar biasa. Aku sangat berharap kalian bisa menjalin kerjasama. Setidaknya dengan begitu putraku bisa belajar secara langsung darimu."


Pada intinya Teguh menginginkan dirinya dan Randy berteman, tanpa orang tua ini sadari dirinya dan Randy sangat jauh dari kata berteman. Apalagi persaingan di antara mereka terjadi karena seorang wanita, sungguh masalah yang sangat rumit bukan.


"Jangan merenung saja. Bantulah orang tua ini."


"Pak Teguh, kami adalah dua orang yang berseberangan. Sungguh saya nggak bisa melakukan keinginan anda. Maaf" ujarnya.


Terdengar lenguhan nafas berat Teguh, dirinya hanya memiliki seorang putra, yaitu Randy. Terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, sebelumnya Randy pernah mengungkapkan keinginan untuk bekerjasama dengan perusahaan AB Game.Co. Kesibukan mengurusi bisnis membuat Teguh baru mendatangi Arjuna sekarang, yang tanpa dia tahu telah banyak kisah yang terjadi di antara putranya, Arjuna dan mantan menantunya.


"Maaf Pak Teguh. Ada banyak perusahaan pengembang game di negeri ini, dan orang berkemampuan tinggi dalam IT bukan saya saja. Apalagi saya hanyalah seorang pemula dalam bisnis ini, akan lebih baik kalau permintaan itu anda lontarkan pada orang lain saja, yang lebih berkemampuan."


"Seperti siapa misalanya?" tanya Teguh.


Sejenak Arjuna berpikir, dalam benaknya mengabsen satu persatu CEO muda handal yang berkecimpung di dunia Game.


"Tuan Xiao He, CEO dari Wei Game."


Teguh mengingat sosok Xiao He, pengusaha asal Wuhan yang sangat terkenal di negeri ini"Aku nggak yakin orang sukses seperti dia bersedia menjalin kerjasama dengan perusahaan Randy."


"Ayolah Pak Teguh, jangan berkecil hati. Akan salah kalau perusahaan besar mencari ilmu dalam perusahaan kecil seperti kami. Wei Game adalah rekan terbaik dan sepadan bagi Randy" ujarnya lebih meyakinkan Teguh. Terlihat orang tua itu sedang berpikir, dia sependapat dengan pikiran Arjuna.


"Hupffhh!! aku akan menyampaikan saran ini pada Randy."


Arjuna tersenyum, setidaknya dia serius memberikan saran itu untuk Randy. Keuntungan yang di tawarkan Randy memang sangat menggiurkan, namun kalau menyangkut Salwa, dia nggak bisa memisahkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Dia mengaku pada diri sendiri bahwa dirinya memang terlalu bucin pada Salwa, untuk menghindari hal yang nggak baik di kemudian hari lebih baik nggak ada hubungan jenis apa pun di antara dirinya dan Randy.


Teguh mengucapkan terimakasih kepada Arjuna, setidaknya orang tua ini lebih rendah diri ketimbang sang putra. Dia tak ragu bertandang ke perusahaan Arjuna, padahal kalau dia mengundang Arjuna akan datang padanya dengan senang hati. Juga saat Arjuna menolak keinginannya, dia nggak langsung pergi seraya mengomel, dia justru menelaah segala saran yang Arjuna katakan.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2