
Kicau burung mengiringi langkah Nenek Adila dan Arjuna menuju halaman. Sore ini Nenek Adila meminta sang cucu untuk menemaninya ke kediaman Salwa. Hal ini tentu nggak di katakan sejak awal oleh Adila, kalau tau dari awal sang cucu pasti akan menolak. Patah hati itu telah Arjuna rasakan, dan penolakan kedua Salwa semakin membuat hatinya berselimut lara.
Kurang lebih sepuluh menit, rasa curiga mulai menjalari hati Arjuna. Panduan jalan yang di tunjukan Nenek Adila, mengantarkan mereka pada sebuah gang, yang menuju kediaman Salwa.
Menghentikan mobil"Nenek ku yang cantik, Nenek lagi ngerjain Arjuna ya?."
Mengembungkan kedua pipi dengan pandangan ke luar jendela, Adila menahan tawa.
"Nenek...." panggil Arjuna lagi. Dari pantulan kaca mobil, dia dapat melihat mimik wajah sang Nenek, yang sama seperti sang Ibunda kalau sedang berkilah.
"Apa?" akhirnya sang Nenek memandang wajah Arjuna.
"Bilang deh Nenek mau di antar ke mana?."
"Itu....ke rumahnya Nenek Jamela."
"Oh ya?. Arjuna nggak lupa lho Nek, ini jalan menuju rumah Salwa."
"Owwhhh itu" Adila cengengesan"Nenek Jamela itu rumahnya di sebelah rumah Salwa. Teman Nenek kan bukan cuman Ibu nya Salwa, ada banyak kok teman Nenek di desa ini."
Mengangguk pelan"Ohh, gitu ya Nek?."
"Iya" jawabnya segera.
"Mau ngapain sih ketemu Nenek Jamela?." Pemuda ini kembali menjalankan mobilnya.
"Sudah lama Nenek nggak ketemu sama dia. Terakhir Nenek dapat kabar kalau dia sakit-sakitan. Nih, Nenek sudah bawain buah salak, buah kesukaannya." Nampak meyakinkan Nenek Adila ini. Padahal Nenek Jamela sudah sehat sekarang. Nggak bohong sih, rumahnya memang bersebelahan dengan rumah Salwa. Dari Nenek Jamela inilah Nenek Adila mendapatkan kabar kalau tadi pagi Randy datang menyerahkan Salwa secara langsung. Perceraian mereka sudah lama di proses, namun baru kali ini Randy datang secara langsung. Kini tinggal menunggu putusan hakim yang sudah Randy katakan bahwa mereka akan resmi berpisah.
Hemmm, begitu detail Nenek Jamela mengetahui kabar ini. Tentu saja, saat Randy datang dia sedang berada di kediaman Salwa. Awalnya sih hanya mengantarkan uang hasil panen nanas Ayah Salwa, saat ada Randy dia beralasan ingin meminta garam hingga kembali lagi ke kediaman Salwa. Begitulah proses kabar itu sampai kepadanya. Ckckckc!! gemar menguping ternyata Nenek Jamela ini.
"Arjuna menunggu di dalam mobil aja ya."
"Kok nggak ikut turun?" kini mereka telah sampai di kediaman Nenek Jamela.
"Kalau Arjuna tau Nenek bakal ke sini, mending Abang Enda aja yang nganterin Nenek." Ujarnya memasang masker di wajah. Sudah cukup lama Arjuna melepaskan masker itu, namun kali ini dia kembali mengenakannya.
__ADS_1
"Syailendra kan lagi sibuk ngurusin pernikahan."
"Heiii, kok pake masker lagi??. Nenek sudah senang lho cucu Nenek nggak lagi di sangka ninja." Adila melepaskan masker di wajah Arjuna. Namun bukan hanya Adila yang keras kepala, Arjuna pun sama. Dia kembali memakainya meski sang Nenek memberengut.
"Ihh, Arjuna nggak sayang Nenek!." Jurus andalan Adila, dia akan merajuk dan mengatakan hal seperti ini kalau Arjuna menolak keinginannya.
Meletakan kedua tangan di pipi Adila"Aduh Nenek ku yang cantik, yang manis seperti gula aren. Jangan ngambek, kalau ngambek manisnya bertambah, Arjuna nggak kuat lho Nek. Jadi pengen cubit pipi Nenek kan."
Melirik Arjuna dengan ekor mata, Adila mencibir"Dasar!! pandai sekali menggombal. Kamu sama kayak Ayah kamu, mulutnya manis banget!!. Ya sudah, kamu tungguin Nenek di sini, tapi jangan di tinggal pulang ya!." Jari telunjuk Adila bermain di depan wajah Arjuna, sang cucu tertawa hingga matanya membentuk bulan sabit.
"Iya, iya!. Arjuna kan kalau sudah janji nggak akan ingkar."
"Awas aja kabur!" ancam Adila dengan jari seperti hendak mencubit. Arjuna menggeleng seraya terkekeh.
Sepasang manik pekat itu memandangi sang Nenek yang langsung di sambut sahabatnya, Nenek Jamela. Sekilas Arjuna melambaikan tangan, dan Nenek Jamela pun membalasnya.
Lima menit menunggu, rasa bosan itu datang. Arjuna berniat keluar dari mobil dan berjalan di sekitar. Ada beberapa bocah yang asik bermain bola kasti di lapangan seberang kediaman Salwa.
Baru saja kakinya turun memijak tanah, suara gaduh terdengar dari dalam rumah Salwa. Seorang pemuda panik menggendong sang Ayah di punggung.
"Aduh gimana ini Hanif!!, Ayah!! jangan bikin takut dong!!" Ibunda Salwa menangis, sang suami terlihat nggak berdaya di atas punggung sang putra.
Ibunda Salwa sempat terkejut atas kehadiran Arjuna. Namun rintih kesakitan sang suami lekas menyadarkan.
"Kita mau ke puskesmas. Ayah jatuh, dadanya sesak" pemuda itu menjelaskan. Dia hendak melangkah menuju arah puskesmas tanpa memakai alas kaki.
"Langsung ke rumah sakit saja. Mari saya antar."
Hanif dan Ibunda Salwa saling berpandangan.
"Petugas puskesmas sudah nggak ada kalau sore" ujar salah seorang warga yang juga hadir di sana.
"Iya Bu, langsung ke rumah sakit saja" saran warga lain.
Rintihan Ayah semakin terdengar pilu, Ibunda Salwa pun menerima saran Arjuna.
__ADS_1
Nenek Adila dan Nenek Jamela langsung keluar saat mendengar kegaduhan itu.
"Ayo cepat masuk" sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, melihat Salwa hanya diam mematung di muara pintu, Nenek Adila menarik wanita ini menuju mobil Arjuna.
"Anu----."
"Ayo Kak cepat!!" seru Hanif yang sudah berada di dalam mobil. Begitu cepat sang Ayah di bawa ke dalam mobil, tentu atas bantuan Arjuna.
Saat hendak masuk, kursi bagian belakang sudah penuh oleh Ibu, Hanif dan Ayah. Lantas di mana tempat untuk Salwa?? sedangkan Nenek Adila duduk di kursi depan bersama Arjuna.
Paham akan situasi tersebut, Adila lekas bertindak"Kalian saja yang ke rumah sakit. Aku masih ada urusan dengan Jamela."
Ehhhh!! Arjuna dan Salwa terkejut.
"Ck!! cepat masuk Kak!. Lihat muka Ayah pucat sekali!!" seru Hanif kembali.
Mau nggak mau, Salwa akhirnya duduk di kursi depan bersama Arjuna, sedangkan Nenek Adila senyum-senyum bersama Nenek Jamela.
Seperginya mereka, Nenek Adila dan Jamela kembali ke kediaman Nenek Jamela"Yes!!. Bakal jadi tuh mereka!!" Nenek Jamela kegirangan.
"Aduh, jangan senang dulu Jamela!!. Proses cerainya belum selesai!."
"Ahh itu mah gampang, waktu akan berlalu tanpa terasa!" Jamela mengedipkan mata kepada Adila, hingga mereka tertawa bersama.
Suami Jamela geleng-geleng kepala, melihat tingkah sang istri dan sahabatnya"Dasar perempuan, kalau urusan seperti ini selalu saja gembira."
"Iya dong Yah, sebentar lagi akan ada acara nikahan di desa ini." Celetuk Jamela lagi.
"Hihihi, kita lihat nanti deh. Akan di adakan di sini apa di desa kami" sahut Adila.
"Ckcckkc!! lancar sekali hayalan kalian."
"Biarin!!" sahut Adila dan Jamela bersamaan.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.