Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Gadis bernama Salwa


__ADS_3

Menjalani hari-hari bersama sang kekasih. Rasa bahagia semakin bertambah saat sang kekasih berniat melamarnya.


"Nak Arjuna pria yang baik. Baik rupa dan agamanya" ujar sang Ibu, saat dirinya menolak lamaran lelaki lain, lelaki yang bahkan nggak di kenalnya.


"Ibu, Mas Randy juga baik. Dia selalu perhatian sama aku."


"Tapi Nak----."


"Ibu, pokoknya aku nggak mau menikah dengan lelaki yang enggak aku kenal itu."


"Tapi dia mau langsung melamar, alih-alih hanya berpacaran denganmu" sang Ayah ikut bersuara.


Lamaran, menikah, gadis ini kerap di todong tentang pernikahan oleh kedua orang tuanya. Sudah bertahun-tahun dirinya berpacaran dengan sorang pria, pria yang sangat baik menurutnya. Randy, dialah pria itu. Seorang anak tunggal dari keluarga kaya. Di usia muda dia sudah menjadi seorang CEO dari perusahaan yang berkembang di bidang produk digital.


Kasih sayang dan perhatian, kerap dia dapatkan dari seorang Randy. Selain Randy sendiri, kedua orang tua pemuda itu juga sangat menerima kehadiran dirinya. Meski hanya seorang pegawai di toko bunga, dan datang dari keluarga biasa, keluarga Randy nggak pernah memandang sebelah mata padanya.


Salwa Al-Adnan, itulah namanya. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang nan indah. Memiliki tubuh tinggi dan langsing, juga berisi. Itulah salah satu alasan mengapa Randy sangat menyukai dirinya. Demi Salwa, apapun akan Randy berikan, termasuk membiayai sekolah sang calon adik ipar.


Ya, dengan Randy menopang kebutuhan sekolah putra bungsu mereka, kedua orang tua Salwa akhirnya nggak lagi mempermasalahkan perihal pernikahan, yang nggak kunjung datang itu.


Hanya mengelola kebun sawit milik sendiri, nggak terlalu besar namun masih mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Datangnya Randy tentu sangat membantu, dengan begitu beban di pundak dapat berkurang.


Bertandang ke kediaman Salwa, Randy akhirnya mengikat tali pertunangan. Desas-desus penolakan Salwa terhadap lamaran pria terdahulu, sirna sudah. Terganti dengan desas-desus lamaran seorang pria kaya raya. Ya, begitulah tinggal di desa itu, apa yang terjadi kerap menjadi bahan perbincangan masyarakat di sana.


"Pernikahan akan dilaksanakan dalam tahun ini. Harinya sedang di bicarakan" ujar sang pembicara yang mewakili rombongan Randy malam itu.


Kembali menjalani keseharian sebagai pegawai di toko bunga, cincin pengikat itu telah tersemat di jari manis Salwa.


"Sayang, aku membelikan kamu dress, pakailah saat bekerja. Dress ini sangat cocok dengan mu yang selalu di kelilingi bunga-bunga yang cantik. Kamu seperti dewi di antara para bunga" Randy memberikan dress indah dengan motif bunga-bunga.


"Terimakasih Sayang" ucap Salwa seraya mendaratkan ciuman di pipi Randy.


Bukan hanya kali ini, Randy kerap memberikan ini dan itu untuk Salwa. Dia sangat gemar mempercantik wanitanya. Kalau di pandang, penampilan Salwa sangat modis. Dia memakai jam tangan mahal, tentu dari Randy. Tas bermerek yang juga dari Randy. Pakaian yang di beli di butik, bukan pasar tepi jalan. Sampai alas kaki pun, tak luput dari perhatian Randy. Gadis yang sangat feminim, selalu berdandan dan wangi.

__ADS_1


Lantas bagaimana dengan isi dompet Salwa, tentu di isi dengan uang Randy juga.


Perihal uang di dompet, Salwa baru mengungkapkan hal ini saat Ayah dan Ibu mendesaknya untuk menikah. Juga di saat mereka menyesalkan lamaran pria lain yang di tolak Salwa. Kesal karena seolah di salahkan, Salwa pun mengungkapkan kebaikan Randy kepadanya. Hal ini terjadi sebelum Randy datang ke kediaman mereka, juga sebelum Randy melamar Salwa dan menanggung biaya sekolah Adik laki-laki Salwa.


Sore itu, Randy sedang ada pertemuan penting. Salwa yang sudah selesai bekerja memilih untuk pulang menaiki bus saja. Sudah lama dia nggak menaiki angkutan umum itu, dan sebelumnya dia berbelanja dahulu di supermarket.


Dengan belanjaan yang banyak, Salwa menaiki bus. Bertepatan dengan jam pulang kantor, tentu bus dalam keadaan penuh, beruntung Salwa mendapatkan tempat duduk di sana.


Menunggu giliran turun seraya memainkan ponsel mahal, dengan merek apel tergigit, tanpa di sadari ada seseorang yang memerhatikannya.


45 menit waktu yang di tempuh. Tepat di depan halte pemberhentian Salwa turun. Sedikit berjalan maka dia akan memasuki desa tempat tinggalnya. Jalanan cukup ramai, meski terletak jauh dari pusat kota. Saat malam hari pun Salwa merasa aman bepergian sendirian, karena daerah itu sudah sangat ramai.


Di sisi lain, Syailendra baru keluar dari jalan pedesaan. Dirinya mengantarkan Arjuna pulang ke kediaman Nenek Adila karena saat berangkat Arjuna nebeng mobil sang Ayah.


"Tolong!!! copet!!" seorang wanita berteriak. Di jalan menuju desa yang bersebelahan dengan desa tempat tinggal Nenek Adila.


Atas dasar rasa kemanusiaan, Enda yang suka menolong mempercepat laju kendaraan. Menghalau sang copet yang berlari tunggang langgang di kejar masa.


Nggak ingin melewatkan kesempatan emas, Enda lekas keluar dari mobil, menarik si copet.


Cukup ahli dalam berkelit, si copet melayangkan tinju di wajah Enda. Akh! wajah tampan itu!!. Enda sangat khawatir wajah tampannya akan lecet. Mengaduh dan langsung di dorong si copet, Enda terjatuh ke sisi mobilnya.


Bertepatan dengan naiknya copet itu ke motor rekannya, rombongan masa yang mengejar pun sampai di hadapan Enda.


"Mas!!. Mas berdarah!!" pekik gadis itu, yang tak lain adalah Salwa.


"Wah berani mengacau di sini. Kita harus lebih menjaga tempat ini" seru salah seorang dari masa yang ingin membantu Salwa.


"Ya!!. Penjahat seperti itu jangan sampai berkembang biak di daerah kita" sahut yang lainnya.


"Mas mari kami bantu" seorang bapak-bapak memapah Enda, hendak membawanya ke sebuah warung tepi jalan, tak jauh dari tempat itu.


"Bantu saya masuk ke mobil aja pak, ada obat kok di dalam mobil saja."

__ADS_1


Mereka pun membantu Enda masuk ke dalam mobil"Di mana kotak obatnya Mas" tanya Salwa dalam panik. Dia tak menghiraukan tas yang masih berantakan di tepi jalan. Juga belanjaan miliknya, yang sedari tadi di titipkan pada Ibu-ibu. Gemas dengan copet itu si Ibu-ibu juga ikut mengejar copet.


Mengambil kotak obat dengan meringis, Salwa lekas mengambil alih kota obat itu dari tangan Enda"Biar saya bantu Mas."


Melihat sang korban berniat merawat sang pahlawan kesorean, masa pun bubar meninggalkan mereka.


"Neng, ini belanjaan Eneng" si Ibu nggak lupa menyerahkan belanjaan Salwa sebelum pergi.


"Ini tas Eneng. Semua barangnya sudah saya masukan ke dalam. Silahkan di periksa. Tapi ponselnya pecah Neng" seorang Ibu lain menyerahkan tas milik Salwa.


"Enggak apa-apa. Syukurlah masih kembali sama saya. Terimakasih Ibu-ibu atas bantuannya" nggak lupa Salwa mengucapkan terimakasih.


"Sama-sama Neng" dua Ibu-ibu itu pergi usai menyerahkan barang milik Salwa. Kini tinggal Salwa dan Enda, di dalam mobil itu.


"Saya baik-baik saja."


"Tapi sudut bibir Mas berdarah."


"Hanya perih sedikit. Periksalah barang-barang kamu. Semoga nggak ada yang hilang" Ujar Enda mengambil alih lagi kotak obat itu. Berduaan dengan seorang wanita di dalam mobil saja sudah membuatnya deg-degan. Gimana kalau gadis ini yang mengobatinya, dia takut terjerat akan perangkap setan.


"Alhamdulillah aman Mas" ujar Salwa usai memeriksa isi dalam tas.


"Kamu mau kemana?, mau saya panggilkan ojek?." Alih-alih menawarkan diri untuk mengantar, Enda menawarkan ojek pada Salwa.


paham dengan hal itu, Salwa meminta di antar ke pangkalan ojek yang sempat dia lalui saat mengejar copet.


Hanya mundur sedikit, tugas Enda pun selesai. Setelah mengucapkan banyak terimakasih, akhirnya Salwa dan Enda berpisah.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2