Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Titian kesabaran


__ADS_3

Impian hanyalah tinggal impian. Berharap mendapatkan perhatian, nyatanya sebuah penolakan yang di dapatkan. Raut wajah Mia berubah masam saat keluar dari ruangan Randy, sangat berbeda saat dia memasuki ruangan itu. Sudah dapat di pastikan, Mia di tolak mentah-mentah.


Bisik-bisik netizen pun kembali terdengar, mereka kembali mencemooh kelakuan Mia. Sudah jelas Randy sudah memiliki pendamping, gadis ini memaksa maju bermodalkan secangkir kopi. Sungguh lucu bukan?!.


"Istri pak Randy sangat cantik, sangat bohay, Mia hanyalah seujung kuku nya."


"Hahaha, kamu benar. Cepatlah kamu sadarkan Mia, kamu nggak mau sekantor dengan orang gila, bukan?!."


Bisikan itu bukan enggak terdengar di telinga Mia, gadis ini hanya pura-pura enggak mendengar saja. Cemooh itu bukan memangkas semangat Mia untuk merebut hati Randy, justru menjadi pecutan semangat.


"Baiklah, mari kita lihat seperti apa wanita itu berpakaian," bisik hati Mia. Sejurus kemudian gadis ini berselancar di dunia maya. Sengaja mengintip sosial media Randy, demi melihat seorang Salwa lebih jelas.


"Waw, dia memang sangat cantik. Sangat menawan. Owh, tubuhnya bagus sekali!!, apakah dia melakukan operasi di bagian depan dan belakangnya??," rasa percaya diri itu seketika menciut. Pesona seorang Salwa mampu membuat Mia rendah diri.


Usai puas memandangi Salwa, Mia beralih pada Randy. Hatinya berdecak kagum, sungguh sangat tampan. Perasaan minder itu perlahan terkikis, meski sadar diri Salwa lebih cantik dan lebih seksi ketimbang dirinya, Mia tetap akan melangkah maju.


"Aku nggak akan berhenti sebelum membawamu ke atas ranjang!," desis Mia.


Sementara Randy, permainan Salwa sungguh membuatnya ketagihan. Saat bekerjapun permainan Salwa terus berkelebat di dalam pikiran.


Randy menekan tombol di telepon yang terhubung dengan sang sekretaris, untuk menanyakan jadwal kerja. kalau nggak ada lagi dia mau cepat pulang dan bermain panas dengan salwa.


Mari kita tinggalkan sejenak bahtera rumah tangga berlandaskan nafsu ini. Mengintip seorang pemuda yang tengah gundah gulana. Penyakit cinta itu terus menggoncang hati, sekedar memandang dari jauh saja tidurnya pun menjadi terusik. Dan Yasmine, sang pemberi permen kapas itu masih menjadi misteri baginya.


Termenung gadis ini di halte bus, menunggu paman supir berkeliling mengantar dan menjemput santri yang pulang dan pergi di sore hari. Di pondok ini ada dua pilihan, para santri dapat memilih untuk mondok atau hanya pulang pergi saja. Bagi yang mondok maka akan pulang sebulan sekali, bagi yang pulang pergi maka akan di jemput setelah Dzuhur, dan di antarkan pulang pada jam lima sore.


Bersama Ustadzah Syabilla, Yasmine mendapat tugas berbelanja ke pasar. Sebelum Dzuhur bus itu telah berangkat ke perkotaan, menyinggahkan Yasmine dan Ustadzah Syabilla di pasar. Sebelum menjemput para santri bus akan singgah di bengkel terlebih dahulu, sekedar mengecek keadaan bus yang memang rutin di lakukan. Siang itu usai berbelanja, dua wanita ini dengan belanjaan yang banyak menunggu bus menjemput.


"Titt!!" suara klakson mengejutkan Yasmine dan Ustadzah Syabilla.


Sosok pemuda dengan senyum yang manis, gegas keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka.


"Yasmine, mau pulang ke pondok ya. Mari aku antar."


Mengantupkan bibir, Yasmine ragu untuk menerima ajakan Yahya, sang calon suami. Ustadzah Syabilla yang belum mengetahui tentang hubungan mereka, menarik Yasmine perlahan, mencipta jarak di antara mereka.


Yahya melihat pergerakan itu meski samar, dia pun lekas memperkenalkan diri"Perkenalkan saya Yahya, calon suami Yasmine."


"Saya Syabilla, Ustadzah di sekolahnya."

__ADS_1


Kedua alis Ustadzah Syabilla terangkat naik, dia terkejut. Yasmine dan dirinya tebilang dekat, namun sampai saat ini nggak sedikit pun Yasmine bercerita tentang Yahya. Manik indah wanita dengan wajah bulat itu menatap Yasmine, dan terlihat anggukan dari gadis itu.


"Ya sudah, ayo pulang. Ada bagusnya juga kita di antara Yahya, sebab sekarang bus pasti membawa banyak santri, sedangkan belanjaan kita pun lumayan banyak." Ujarnya.


"Siilahkan" ucap Yahya begitu sopan, mempersilahkan dua wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


Alih-alih salah satu dari mereka duduk di kursi depan, dua wanita itu memilih duduk di kursi belakang. Hingga mau nggak mau Yahya meletakan sisa belanjaan yang nggak muat di bagasi ke kursi depan.


"Nggak pa-pa di simpan di situ?" tanya Yasmine, melihat dua kardus Snack di letakan di sana. Hari ini selain belanja untuk dapur, Ustadzah Syabilla sekalian belanja jajanan untuk kantin. Oleh karena itulah belanjaan mereka lumayan banyak.


"Iya, nggak pa-pa. Dari pada kamu yang duduk di sini" Yahya melempar senyum dari kaca spion di depannya.


Yasmine sungguh malu, merasa di goda di depan Ustadzah Syabilla. Sedangkan Ustadzah Syabilla nggak bisa menahan tawa, hingga memalingkan wajah agar tawanya nggak terlihat mereka berdua.


"Ustadzah, nggak apa-apa kan bercanda sama calon istri." Nggak di sangka, Yahya menanyakan hal itu.


"Nggak apa-apa sih. Tapi akan lebih bagus kalau sudah sah."


Yasmine menaikan satu alis, membalas lirikan nakal Yahya dari kaca spion.


"Kok begitu?. Kan akan menikah juga akhirnya." Yahya mulai menjalankan mobil.


"Akan menikah, berbeda kan dengan sudah menikah." Sahut Ustadzah Syabilla seraya mengetik pesan, dan mengirimkan kepada paman supir bus.


...****************...


Hunian milik Arjuna dan Enda hampir selesai. Berbeda dengan milik Enda yang modern, hunian milik Arjuna terlihat sederhana. Lebih banyak memakai bahan kayu ulin alih-alih bahan keramik seperti milik Enda. Selain itu bahan dinding pun memakai bahan kayu ulin.


"Biar lebih terasa tinggal di desanya Yah" begitu jawaban Arjuna pada sang Ayah. Agam saat itu melihat berpedaan besar pada dua hunian anak muda ini.


"Terlihat lebih sederhana juga kan, dari pada rumah Bang Enda" tambah Arjuna.


Agam, sang Ayah mengangguk memandangi dua hunian itu"Tapi milikmu pasti lebih mahal kan?."


"Mahal punya Enda dong Ayah. Rumah Arjuna cuman dari kayu" sang Ibunda menimpali.


Arjuna tertawa, hingga kedua mata itu menyipit.


"Ih kok nyengir. Iya kan, mahal rumah Syailendra kan?" ujar sang Ibu lagi.

__ADS_1


Ayah nya mengusap pucuk kepala sang istri, hingga mereka berdua berhadapan"Ini lho Sayang, harga satuannya aja bisa ngalahin satu sak semen" kakinya menghentak lantai beranda kediaman putra mereka, yang terbuat dari kayu ulin itu.


Jenaira, sang ibu menelisik kayu yang menurutnya sangat keras itu"Masa sih Yah?!."


"Ih si Ibu. Anak juragan properti kok nggak tau bahan bangunan."


"Itukan bukan kerjaan aku." Ibunda menepis tangan Ayah, yang berhasil mencubit hidungnya.


Gemas usai menarik ujung hidung sang istri, Agam beralih menarik kedua pipi Jena. Arjuna yang berada di situ bagaikan obat nyamuk, menemani pasangan ini bersenda gurau dan bermanja.


"Aduhhh!! kok mesra-mesraan depan Juna sih!!."


"Kamu iri? makanya buruan pilih calon yang di ajukan Nenek."


Menjaga jarak dari Ibunda"Aduh Ibu, mereka perempuan kok di jadikan pelihan untuk Juna sih. Biarin kayak gini aja, kalau sudah sampai jodoh itu pasti ketemu kok."


Lirikan Jenaira berubah tajam"Jangan bilang kamu masih mengharapkan wanita itu?. Istri orang itu??." Dari suara dan lirikan mata, nggak salah Arjuna menjaga jarak dengan Ibundanya sekarang.


"Ibu jangan marah. Nanti kepalanya pusing" coba meredakan emosi yang mulai merangkak naik.


"Ayah~~~, coba kasih tau ini anak!. Aku nggak mau punya anak di cap pebinor!!" merengek, sang Ibu terlihat lucu di mata Arjuna.


"Enggak!!. Arjuna nggak gangguin rumah tangga mereka kok." Jawaban ini nggak memuaskan bagi Jena, juga Agam.


Agam menarik sang putra"Ayo kita kembali ke kediaman Nenek Adila. Ayah mau bercerita banyak sama kamu."


"Mau cerita apa mau mengomel."


"Cerita..."


"Tapi Ibu cemberut kok" Arjuna nggak yakin akan lolos dari omelan orang tuanya, karena masih mengharapkan Salwa.


"Ayah janji nggak akan mengomel." Oke, kali ini Arjuna akan mempercayai ucapan sang Ayah.


Sementara itu di tempat lain, Randy kembali berulah. Pak Heru menawarkan kerja sama yang sangat besar labanya, dengan syarat dia menghabiskan satu malam dengan Salwa. Demi tender besar Randy membujuk Salwa.


"Mas gila!!. Mas mau menjualku??." Pekik Salwa dengan sepasang mata yang memerah.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2