
Petang menjelang di kediaman keluarga Khair. Ruang tamu sederhana itu terlihat sepi, namun enggak di bagian dapur. Dua wanita berbeda generasi sedang beraksi, meracik bahan masakan untuk hidangan malam ini.
Seorang gadis manis bersurai sebatas bahu, terlihat lihai menggunakan sebilah pisau daging.
"Umma, kulitnya nanti di sambal goreng aja ya."
"Iya, terserah Mecca aja" sahut Umma. Wanita ini sedang membersihkan sayuran.
Usai membersihkan daging, Mecca mengambil air mineral dari dalam kulkas. Mengambil duduk di meja makan, seraya membuka tutup botol saat itulah terdengar suara mobil sang Abang.
"Umma, Abang datang. Nenek Adila bilang dia titip Nanas sama Abang, pas banget kan di masak sama kulit ayamnya."
Seraya memasang kerudung bergo miliknya"Mecca keluar dulu ya, buat ambil Nanas nya" ucapan Mecca di angguki sang Umma.
Di halaman depan dia bertemu sang Abang, pemuda itu terlihat memakai masker. Alih-alih bertanya kenapa memakai masker, Mecca berseloroh"Gini nih, kalau habis ketemu Bang Juna, ketularan jadi pake masker juga kan."
"Bukannya salim, malah ngoceh" celetuk Enda.
Gegas Mecca meraih jemari Enda"Selamat datang Abang Mecca yang bawel." Berucap demikian, dengan mata berkedip-kedip.
"Kamu tuh bawel."
"Abang yang bawel. Mana Nanas dari Nenek Adila?."
"Sebentar" Enda terlihat sibuk dengan bawaan, sebelum pulang dia mampir ke toko buku dahulu dan membeli beberapa buku bacaan.
"Akh Abang lama deh. Mecca aja yang ambil. Abang buruan masuk, mandi gih, bau naga lho badan Abang" gadis ini memang gemar menggoda sang Abang, dan mengatainya ini dan itu. Sedangkan Enda, dia hanya tersenyum atau memutar balik ocehan sang Adik alih-alih membalas dengan marah.
"Ya sudah, ambil sendiri di belakang."
Bukannya ke bagian bagasi, Mecca justru mencari ke kursi depan. Eh!! apa itu?. Mecca melihat sesuatu yang asing di dalam mobil Enda.
Dengan alis berkerut, Mecca mengambil benda itu di bawah kursi. Sudut bibirnya terangkat naik, apakah sang Abang akan mengabulkan keinginan sang Kakek, untuk segera menikah?. Benda temuan Mecca hanya di milik wanita, dan dia yakin benda itu bukan miliknya, apalagi milik Umma.
__ADS_1
"Umma!!! Abang habis jalan sama ceweeekk!!!" teriakan Mecca membuat gaduh kediaman itu.
Cewek? seorang Enda jalan sama cewek?. Suatu hal yang sangat mustahil, sebab selama ini Enda selalu menjaga diri dari lawan jenis. Mematikan kompor, segera sang Umma menghampiri Mecca di halaman. Sedangkan Enda juga menyusul ke sana, tuduhan sang Adik hendak ia sangkal segera.
Sebuah lipstik dengan warna maroon. Sang Umma selalu berdandan tipis dan nggak pernah memakai lipstik dengan warna maroon. Hanya warna merah muda dan itu pun di pakai tipis sekali. Sedangkan dirinya, rasanya akan menjadi perhatian kalau memakai lipstik dengan warna tersebut. Mecca menunjukan pewarna bibir itu pada sang Umma"Ini bukan lipstik Umma kan?, Mecca yakin pasti bukan!." Dia yang bertanya, dia juga yang menjawab. Ya, seperti itulah Mecca, gadis manis dengan rasa ingin tahu yang tinggi, juga ceria.
Umma tentu menggelengkan kepala.
Langkah cepat Enda membawanya sampai di halaman beriringan dengan Umma"Mungkin itu punya cewek yang tadi Abang bantu!."
Membawa langkah ke samping, Mecca beralih berhadapan dengan Enda"Oh ya?. Memangnya Abang nolongin siapa?."
Enda pun menceritakan kejadian tak terduga tadi. Dengan jelas dan sangat terperinci, dia nggak mau ada kesalahpahaman di antara mereka"Dia Enda antar ke pangkalan ojek, hanya itu Umma" meski tak bertanya, Enda merasa perlu menjelaskan kepada Ibundanya.
Seulas senyum terbit di wajah Umma"Alhamdulillah, Abang sudah menjadi penolong bagi gadis itu. Terus apa kalian berkenalan?. Kalau iya, kembalikan lipstik ini kepadanya. Sepertinya ini lipstik mahal, di lihat dari kemasannya yang terlihat elegan.
"Sama Mecca aja balikin lipstiknya" gadis ini berseru. Ini kali pertama Enda terlibat peristiwa bersama seorang wanita, Mecca jadi penasaran akan sosok wanita tersebut.
Namun, harapan untuk bertemu sang wanita harus sirna, karena sang Abang menggelengkan kepala"Enggak Umma. Setelah mengantarkan nya ke pangkalan ojek, kami berpisah tanpa adanya perkenalan.
"Nggak menarik banget sih Bang!. Kalau di film, usai adegan pahlawan kesiangan membantu si cewek, mereka akan berkenalan, bertukar nomor ponsel, saling berkirim pesan terus---."
"Terus masuk neraka sama-sama!!."
Akh!!! sambaran kata-kata Enda membuat Mecca tersenyum masam.
"Kan cuman kenalan Abang!."
"Dari berkenalan akan berakhir dengan pertemuan. Dari pertemuan tanpa tujuan yang pasti akan menimbulkan jalan setapak menuju hal yang nggak di sukai Allah, perzinahan!!. Zinah mata karena saling pandang. Apalagi sampai bersentuhan yang bukan mahram, haram!!."
Membawa diri kebelakang sang Ibunda, Mecca menghindari tatapan tajam sang Abang"Umma, mode ustadz nya nyala tuh" Mecca berbisik"Pantas masih bujangan, galak begitu!."
Umma tersebut kecil"Kamu sih, suka godain Abang."
__ADS_1
"Abang, Adeknya cuman asal bicara kok. Jangan di omelin."
"Ya sudah, kamu buruan mandi. Lipstik nya biarkan di dalam mobil saja, siapa tau nanti ketemu di jalan, jadi benda itu bisa langsung di kembali pada empunya" ujar Umma lagi.
"Iya Umma" ocehan Mecca membuat Enda mengelus dada. Demi menenangkan diri, Enda kembali masuk ke dalam, melaksanakan mandi seperti apa yang Umma anjurkan.
......................
Desa kecil tempat tinggal Nenek Adila, memiliki lima bagian desa yang saling berdekatan. Jaraknya sangat dekat, seperti jejeran RT yang hanya terpisah oleh gang kecil saja. Di desa itu ada tiga Masjid, satu di tempat Nenek Adila dan dua lainnya di desa tengah dan ujung sana.
Warga desa pertama dan kedua kerap melaksanakan sholat berjamaah di Masjid yang sama. Saat Maghrib menjelang, Arjuna bersama sang Nenek beriringan menuju Masjid, hendak melaksanakan sholat Maghrib di sana.
"Pulang dan pergi ke tempat Nenek, apa kamu nggak cape?. Waktumu banyak di habiskan di jalan" seraya melangkah, Nenek Adila mengajak Arjuna berbicara. Sudah hampir dua minggu, sang cucu menginap di kediamannya. Setelah lamaran itu di tolak, Arjuna masih ingin menenangkan diri di desa tersebut. Suasana pagi yang sejuk di desa, suasana sore di desa, suasan malam di desa, suasana itu meredakan rasa kecewa di dalam dada usai mendapat penolakan. Meski berdekatan dengan desa tempat gadis itu tinggal, setidaknya mereka nggak pernah saling bertemu. Baik sang gadis atau pun keluarganya, tak sekalipun Arjuna bertemu mereka, sejauh ini. Jadi, Arjuna merasa aman kok tinggal di sana.
"Nggak sampai satu jam, itu waktu yang sebentar Nenek."
"Tapi...apa kamu nggak capek?."
Melirik sendu ke arah sang Nenek"Apa Nenek sudah nggak mau menampung Arjuna?. Jujur saja, Arjuna menyukai suasana di desa ini. Kalau di kediaman Ayah dan Ibu, pikiran Arjuna terusik akan lamaran yang di tolak itu. Arjuna merasa kasihan melihat Ayah dan Ibu, mereka pasti juga merasakan kekecewaan yang Arjuna rasakan."
Mengusap lengan sang cucu"Nenek sangat senang kamu tinggal lama bersama Nenek. Nenek hanya takut kamu merasa terbebani."
"Beban? enggak kok."
"Ya sudah, bagus deh kalau kamu senang tinggal bersama Nenek di sini" senyum di wajah Adila mengembang, dan Arjuna pun ikut tersenyum bersamanya.
"Eh, Arjuna. Sudah waktunya Adzan. Kamu yang mengumandangkan ya" ustadz Wahab yang kebetulan baru datang, meminta hal itu kepada Arjuna.
Mendorong pelan sang cucu"Iya, kamu yang Adzan sana. Nenek kangen sama suara Adzan kamu."
Seperti apa yang Ustadz Wahab minta, juga sang Nenek minta, suara Arjuna terdengar merdu menyerukan panggilan sholat di desa itu. Memiliki suara yang merdu, para warga di sana sudah sangat mengenal suara indah pemuda tampan ini.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca, jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.