Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Penggoda


__ADS_3

...Yang tersembunyi biarlah tersembunyi, jika itu menyangkut aurat perempuanmu....


...Salwa Al-Adnan...


...🥀🥀🥀🥀...


"Salwa, Mas berangkat ya."


Berlari kecil, Salwa mengejar langkah sang suami hingga ke muara pintu"Salimnya Mas," alih-alih Randy yang mengulur tangan, justru Salwa yang menarik tangan sang suami. Akh sudahlah, hal ini juga bukan hal baru.


"Mas akan pulang cepat, nanti sore kita jalan-jalan ke mall ya."


Senangnya, suami tercinta mengajak Salwa keluar rumah. Sungguh, rasa sepi itu sangat terasa, saat Randy nggak ada di rumah, Salwa hanya berteman dengan sepi.


"Mas, boleh aku....."


"Dandan yang cantik ya, jangan lupa rambutnya di tata yang indah."


"Emh....iya Mas."


Nggak bosan meminta izin untuk sekedar berpakaian tertutup, dari kata-katanya sangat jelas Randy nggak akan mengizinkan Salwa keluar memakai kerudung.


Sepasang manik cantik itu memandang punggung suaminya yang perlahan masuk ke dalam mobil. Masih menatap kepergian pria itu hingga akhirnya benar-benar hilang di ujung jalan.


Kesunyian kembali terasa, hunian besar itu membuat Salwa semakin terasa kecil. Teringat dahulu ada banyak kawan yang sesekali bertandang ke kediaman, kini bahkan seorang pun nggak pernah datang lagi. Kalau nggak ada yang bertandang, mengapa nggak Salwa saja yang menjumpai teman-temannya? owh! buang jauh-jauh pikiran itu. Cctv di kediaman ini selalu terpantau oleh Randy. Kedatangan seorang pengantar paket saja di pertanyakan Randy pada Salwa, padahal paket itu adalah pesanan dirinya sendiri.


Apalah kesibukan seorang wanita rumahan seperti Salwa, menyapu dan mengepel sudah dia lakukan sehabis subuh tadi. mencuci pakaian dan menjemur pun sudah Salwa lakukan, apalagi memasak, Randy nggak akan berangkat ke kantor kalau hidangan itu belum sampai ke dalam perutnya. Bagaimana dengan menonton televisi? berita selebriti? sajian di layar televisi cenderung menampilkan informasi nggak bermutu. Menonton sinetron? ck! Salwa sudah bosan, sudah terlalu banyak kisah tentang menantu dan istri teraniaya yang di tayangkan di chanel ikan terbang itu.


Teringat dengan kisah istri teraniaya yang pernah Salwa tonton di chanel tersebut, tiba-tiba membawanya untuk bercermin pada diri sendiri"Apakah....aku termasuk ke dalam kategori istri yang teraniaya?," yah! pertanyaan itu terbesit detik itu jua.


Dan, Salwa mulai bertanya pada diri sendiri. Masihkah mencintai Randy dengan tulus? sedangkan semakin hari rasa itu perlahan memudar?. Lantas, kalau sudah nggak lagi cinta, berdosakah kalau Salwa meminta berpisah darinya?.


Wanita itu memukul diri"Salwa! buang jauh-jauh pikiran itu. Bukan hanya dirimu yang bergantung kepada Randy, tapi juga keluargamu!," gumamnya gemas pada diri sendiri.

__ADS_1


Demi membunuh waktu dan mengusir rasa bosan, Salwa mengambil gawai dan berselancar di laman Ig. Di sana, begitu banyak nasihat pengingat untuk diri sendiri, hingga Salwa menemukan sebuah foto seorang wanita sedang berdiri di depan Ka'bah. Seketika hatinya berdesir, akankah diri yang kotor ini sampai ke sana? sedangkan untuk menutup aurat saja dia nggak mampu?.


Menangis, hanya dapat menangis. Apa yang harus dia lakukan, di saat hati sudah begitu mantap namun nggak mendapat izin dari suami.


Sungguh, saat ini Salwa sangat butuh seorang teman, teman untuk berbagi dan memberi nasihat baik padanya.


Di kantor....


"Bagaimana, Ran?. Kamu nggak akan memenuhi keinginan Pak Heru, bukan?."


Alih-alih menjawab pertanyaan Adi, Randy tetap fokus pada layar monitor di depan. Bukan rahasia lagi bahwa Randy adalah sosok pria berwajah tampan, namun wajah tampan nggak menjamin dirinya menjadi pria yang baik. Di balik wajah rupawan itu tersimpan pikiran yang gila, dan Adi sedang mencoba membuang pikir gila Randy tersebut.


"Rand!! kamu gila kalau memenuhi keinginan Pak tua itu!!."


Sebuah tatapan tajam kini mengarah pada Adi"Aku sedang sibuk. Bagaimana dengan kamu? apa nggak sibuk? sementara di sini akulah bos mu?."


Wajah Adi berubah masam. Hubungan saudara nggak di hitung di sini, Randy selalu bersikap tegas dalam pekerjaan"Yah, ada banyak pekerjaan menungguku di meja kerja."


Adi membuang nafas kasar, dirinya hanya ingin menasihati Randy agar nggak salah melangkah. Namun sikap pria ini membuatnya menyesal sempat berniat membantunya. Suasana sudah terasa canggung, Adi hanya ingin segera pergi dari ruangan itu. Namun, saat dirinya berbalik, Randy memanggilnya.


Membalikan badan"Apa lagi?, bukankah aku harus menyibukkan diri, sementara bos ku sedang sibuk saat ini," kata-kata itu terdengar menyinggung. Dan Randy sangat tahu akan hal itu.


"Tolong, katakan pada Ob, antarkan kopi ke sini."


Tanpa menjawab, Adi pergi dengan pesan yang di ucapkan bos menyebalkan ini.


Saat hendak berbelok ke arah pantry, Adi menjumpai Mia, alih-alih Ob. Nggak ingin berjumpa kembali dengan Randy, Adi pun meminta tolong kepada Mia untuk membawakan kopi pada Randy.


"Sekalian, kamu buatkan kopi untuk pak Randy," ujarnya yang mendapati gadis cantik itu tengah membuat kopi di sana.


Seperti kejatuhan duit, Mia segera membuatkan kopi untuk Randy, dengan hati berdebar mengantarkan minuman tersebut.


Gadis itu memeriksa penampilan sebelumnya, setelah memastikan semuanya baik, berlenggak-lenggok Mia berjalan menuju ruangan Randy.

__ADS_1


"Permisi pak Randy. Ini kopi anda."


Melirik Mia sekilas"Letakan saja di meja itu," ujarnya seolah nggak ingin di dekati Mia. Owh! bukan adegan seperti ini yang Mia mau, dia ingin dirinya meletakan kopi itu di meja kerja Randy, sedikit menyenggolnya hingga si kopi tumpah ke baju Randy. Dengan begitu, mungkin saja Randy akan membuka bajunya saat itu juga karena kopi panas. Ck! Mia yakin Randy memiliki perut rata dengan otot yang mampu membuat kedua bola matanya membulat kalau melihatnya.


"Apa yang kamu lihat?,"suara dingin Randy memecah lamunan Mia. Dan saat itu juga bayangan tubuh atletis sang bos pun sirna.


"Ah, enggak Pak. Ini kopinya."


"Iya, dan saya bilang letakan saja di meja itu."


Mia tersenyum sangat manis"Bapak nggak mau segera meminumnya?."


Randy menyerngitkan sebelah alis"Haruskah aku meminumnya sekarang?. Oh satu lagi, kenapa kamu yang mengantar kopi ini?."


"Ob sedang sibuk Pak. Kebetulan saya sedang membuat kopi di pantry, jadi...saya nggak keberatan untuk membuatkan bapak kopi."


"Sungguh wajah yang sangat cantik. Bentuk tubuh yang cukup menarik. Seandainya Salwa berpakaian seperti Mia saat keluar rumah.....," pikiran itu singgah di kepala Randy. Dan tatapan pria itu membuat Mia malu-malu kucing.


Melihat gelagat tergoda, Mia melangkah menuju meja kerja Randy, dan meletakkan kopi itu di sana. Jarak yang begitu dekat, membawa harum gadis itu pada indra penciuman Randy.


"Hem...aroma gadis ini manis sekali," gumam sang hati.


Saat mulai memikirkan Mia, bayangan Salwa memakai baju tidur merah, menyingkirkan imajinasi liar Randy terhadap Mia. Seketika pria itu bersikap tegas"Lekas tinggalkan ruangan ini. Aku nggak suka di ganggu!."


Mia benar-benar gagal melancarkan aksinya. Dia terkejut akan sikap Randy. Gadis itu pun segera pamit undur diri setelah meletakkan dengan benar cangkir kopi di hadapan Randy.


"Sekarang kamu masih bersikap dingin padaku Pak, cepat atau lambat kamu akan memberikan kehangatan pada tubuhku. Lihat saja nanti!!," bisik hati Mia.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2