
Kembali ke kediaman bersama Randy, Salwa merasakan sesak di dada lagi. Bagaimana lelakinya ini ingin menggauli di saat dirinya sedang kedatangan tamu bulanan, meski dia sangat tau bahwa Randy memang menggilai tubuhnya.
"Perlahan saja" ujar Randy membujuk sang istri.
Manik indah nampak ber-embun itu tak di hiraukan. Randy lebih peduli pada puncak pelepasan nafsu.
Sakit, jijik, itulah yang Salwa rasakan. Hati semakin meronta, prilaku Randy sudah nggak wajar baginya. Di bawah shower, air mata itu kembali tumpah.
"Aku nggak kuat. Dia hanya peduli pada nafsunya, bukan perasaanku" lirih Salwa meratapi nasib diri.
"Sayang, kok lama?." Suara Randy mengetuk pintu kamar mandi, membuat Salwa mengusap wajah, sebisa mungkin membuat diri tenang kembali.
"Anu---, aku masih membersihkan diri" sahutnya.
"Cepatlah, malam ini kita makan malam bersama Pak Heru."
Pak Heru, Salwa teringat pesan dari orang tua baik hati itu.
Mengepalkan tangan"Aku akan mencoba menjadi diri sendiri, kali ini" ujarnya.
Alih-alih memakai pakaian seksi pilihan Randy, Salwa ingin memakai pakaian yang lebih sopan. Tentu, Randy menolak pilihan sang istri. Saat raut wajah pria itu menegang, Salwa merasakan debar di dada. Namun demi harga diri, Salwa memberanikan diri untuk menolak pilihan Randy kali ini.
"Kamu kenapa sih??" menatap Salwa yang mengenakan celana panjang dengan atasan menutupi dua aset berharganya.
"Ada apa dengan kemeja ini?" menarik atasan berlengan panjang di tubuh Salwa.
"Aku nyaman berpakaian seperti ini" sebelum berkata, Salwa menarik napas perlahan.
"Enggak!!. Kamu nggak menarik kalau memakai pakaian seperti ini!!."
"Ya sudah, aku di rumah saja."
"Salwa!!" hardik Randy, tatapan tajam kini menghujam sang istri.
"Mas! aku nggak mau memakai pakaian seksi lagi. Aku nggak nyaman!" untuk yang pertama kalinya, Salwa bersuara usai Randy menghardiknya.
Menyeringai, Randy mengambil duduk di sofa ruang tamu"Salwa istriku, kamu milikku, apa yang menjadi milikku harus menjadi apa yang aku mau" dengan nada datar, Salwa dapat merasakan emosi yang tertahan itu.
"Mas----."
"Salwa ku sayang. Jadilah istri yang patuh kepada suami" berdiri dan mendekati Salwa. Menarik wajah sang istri agar beradu pandang dengannya.
Tampan. Ya! kata itu langsung terlintas dalam benaknya. Namun, tampan saja nggak cukup!.
__ADS_1
"Menjadi milikmu, apa itu berarti aku nggak bisa menjadi diriku lagi?" dalam pandangan sendu, Salwa mencoba menyelami hati sang suami.
"Bukan seperti itu sayang. Aku hanya ingin kamu selalu terlihat menarik. Aku bangga memilikimu" kedua alis dengan bulu tebal itu beradu, menekankan kepada Salwa betapa dia mencintainya.
"Hanya itu? hanya ingin aku selalu terlihat menarik?. Lantas, bagaimana dengan perasaanku?. Aku nggak nyaman menjadi perhatian lelaki selain dirimu" ayolah, manik wanita ini kembali berkabut, dia hanya ingin lebih di mengerti pasangannya.
"Sayang ----."
"Aku nggak jadi pergi. Mas saja yang pergi." Melangkah berniat meninggalkan Randy.
"SALWA!!" nada itu, baru kali ini Salwa dengar dari mulut seorang Randy.
Wajah Salwa menegang, namun dia beranikan diri untuk menatap sang suami.
"Cepat ganti pakaian mu. Atau---." Kata itu menggantung. Dan Salwa tau ini adalah ancaman.
Salwa seperti mendapat pencerahan sejak bertemu dan banyak bicara dengan Heru. Wanita ini ingin mengambil kesempatan atas suami yang gemar mempertontonkan tubuhnya.
"30 juta. Mas selalu mengancam akan menghentikan uang bulanan Ayah dan Ibu kalau aku menolak keinginan Mas. Kali ini, aku ingin imbalan. Meski rutin menerima uang dari Mas, nyatanya Ayah dan Ibu masih mempunyai hutang."
Randy mengusap wajah, bukan perihal uang yang Salwa sebutkan. Sikap sang istri kali ini sungguh membuatnya terkejut.
"30 juta?."
"Ya."
"Ya."
"Oke. Aku lupa. Seharusnya aku lebih mensejahterakan keluargamu karena hidupmu ada di tanganku." Ucapan ini di iringin tatapan tajam. Salwa menelan saliva, hal ini semakin menenggelamkan dirinya dalam kubangan nafsu Randy.
"Besok pagi kita urus hutang piutang itu, malam ini kembalilah menjadi Salwa ku yang menawan. Oke?!" mendekati Salwa dan mengusap pucuk kepalanya. Lembut suara Randy namun menusuk ke jantung hati, hidup Salwa semakin terjerat pada lelaki ini.
...****************...
Rasa malu, memeluk Yasmine begitu erat meski sedang berada di pondok pesantren. Ada beberapa santriwati yang menanyakan kemana hilangnya cincin yang tersemat di jari manis, dan Yasmine seperti kehabisan kata-kata untuk memberikan jawaban. Padahal, semula dia hanya mengatakan itu cincin biasa, tanpa adanya ikatan khusus antara dirinya dengan seseorang. Hanya ustadzah Syabilla yang tau, namun rasanya satu asrama pun tau. Akh!, begitulah Yasmine. Tingkat kekhawatiran gadis ini memang terlampau berlebihan.
Lebih pendiam, itulah yang di rasakan orang di sekitarnya. Yasmine yang biasanya memasang wajah datar menelisik wajah santriwati saat setoran hafalan, kini lebih banyak terlihat sendu. Bahkan saat salah satu santriwati keliru melantunkan urutan nadhom tajwid, Yasmine diam saja.
"Yasmine!!." Panggil Nada.
Yasmine seolah berada di dunia lain, panggilan itu tak di hiraukan.
"Yasmine Fateena!."
__ADS_1
"Hah?!!!."
"Limadza?."
"La ba'sa. Ana bikhoir" ujarnya berkata baik-baik saja, tapi jelas terlihat gamang.
Syarifah, salah seorang rekan Yasmine mengambil alih meja kecil di hadapan Yasmine"Cuci mukamu, sholat dan perbanyak dzikir. Jangan tenggelam dalam lamunan saat sedang ada masalah. Mengadu kepada Allah, itu lebih baik daripada bersiap sok kuat."
Syarifah seperti tau masalah itu tengah bertengger di pundaknya, padahal Yasmine nggak pernah bercerita kepadanya. Nada mengerutkan kening mendengar ucapan Syarifah. Dia pun merasakan perubahan Yasmine, tapi Syarifah seolah tau masalah yang sedang mengusik kehidupan sang rekan sekamar.
"Aku hanya lelah. Sepertinya nggak enak badan. Aku izin istirahat aja ya" masih nggak mau berbagi cerita.
"Hemm, pergilah" ujar Syarifah dan Nada.
Saat Yasmine pergi, Nada menanyakan maksud perkataan Syarifah.
"Kamu nggak peka banget, padahal teman sekamar. Dia memang pendiam tapi akhir-akhir ini lebih pendiam. Ku pikir dia pasti sedang ada masalah."
"Betul kak. Kak Yasmine seperti nggak fokus, kemarin dia ambilin jemuran aku lho. Padahal jemuran dia ada di jemuran sebelah."
Menatap santriwati yang salah menyebutkan urutan nadhom tadi, Syarifah segera berkata"Malah ikut ngobrol. Ulangi lagi hafalan kamu."
Nyengir kuda"Kan tadi sudah kak sama Kak Yasmine."
"Kamu kira aku tuli, jelas-jelas kamu salah kok tadi. Ayo ulangi lagi."
"Yahhh Kak Syarife, kalau di ulang lagi saya nggak yakin bisa" memelas, bukan hal baru lagi kalau mengulang nafalan itu nggak selalu lancar.
"Syarifah, bukan Syarife!!. Main ganti nama orang aja. Buruan ulangin, kalau nggak aku kasih merah nih!!."
"Sama Kak Nada aja deh."
"Ini giliran ku!" santriwati lain protes karena sudah duduk di depan Nada. Nada terkenal paling lembut, dan paling toleransi di antara para keamanan di sini. Nggak aneh sih kalau yang mengisi barisan pada bagian dia lebih banyak ketimbang barisan keamanan yang lain.
Terlihat murung, mau nggak mau santriwati itu berhadapan dengan Syarifah.
Rupanya, Kyai Bahi memperhatikan mereka sejak tadi. Sudut bibir pria tua ini terangkat naik menyaksikan tingkah mereka. Dan mengenai Yasmine, sejujurnya rasa ingin menjadikan cucu menantunya itu masih ada. Melihat gadis itu murung, hatinya jadi merasa khawatir.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1