
Suara tawa membangunkanku dari tidur siang. Siang ini aku tidur bersama bunda. Yang benar itu ketiduran setelah banyak cerita dan bercanda. ku lihat Bunda masih nyenyak tertidur disampingku.
Aku menajamkan telinga. Tak ada yang salah dengan pendengaranku. Memang ada suara tawa juga obrolan beberapa wanita. Yang ku taksir dari arah ruang tamu.
"Ada siapa?" Monolog ku. Dan bangkit, meraih jilbab bergo yang tersampir asal dikursi. Melangkah keluar untuk mengetahui siapa yang bertamu.
Ternyata diluar ada Beti dan tiga wanita lain yang tak aku kenal. Mungkin kawan-kawannya. Mereka bertiga mengobrol dengan diselingi tawa. Sambil memakan ciki-ciki yang ada dihadapannya. Bahkan beberapa plastik kosong berserak diatas meja, juga ada yang terjatuh kelantai. Nampak bahagia sekali. Tanpa beban sama sekali. Sepertinya mereka ini termasuk orang yang terbebas dari masalah hidup.
"Ada tamu ya? Udah lama datang nya?" Tanyaku sok akrab, dan mendekat kearah mereka. Yang membuat keempat wanita itu diam seketika. Melihat kesatu arah, yaitu aku. Aku jadi salah tingkah di perhatikan gini.
Beti menatapku horor. Seakan protes kenapa aku harus keluar menghampiri mereka. Para wanita berpakaian branded dan sangat fashionable . Bahkan pakaiannya terbilang ****. Tak jauh beda dengan gaya Beti.
Keluarga suamiku ini memang hanya Reyhan yang memiliki riwayat pendidikan pesantren. Sedangkan Rasya bisa dibilang lelaki modis dan sangat mengikuti trend.
Sepuluh bersaudara. Enam perempuan dan empat laki-laki. Dan kakak perempuan Reyhan semua mengenakan jilbab meskipun bervariasi. Ada yang modis, ada juga yang menutup secara syar'i. Bahkan kakak perempuan tertua mengenakan niqob . Tertutup rapat. Meskipun tak lulusan pesantren, mereka taat beragama. Hanya Rasya yang sedikit gaul dan tak terlalu ambil pusing urusan agama. Dapat istri pun tak jauh beda dengan dirinya.
Kembali lagi diruang tamu.
Masih diam. Ketiga teman Beti kini ganti melihat Beti yang ada ditengah-tengah mereka. Siapa dia? Itu mungkin maksud tatapannya. Butuh penjelasan akan kehadiranku yang menyapa mereka. Aku berjalan mendekat, duduk dikursi paling ujung.
"Owh, kalian baru lihat dia ya? "Bertanya pada temannya dengan jari menunjukku meremehkan. Dengan raut menyebalkan.
"Kenalin. Aku Tasya." Mengulurkan tangan untuk berkenalan pada orang yang paling dekat denganku. Yang menurutku paling kalem diantara yang lainnya.
Biasanya aku bukan orang yang mudah mengajak kenalan orang lain. Selama ini terlalu asik dengan dunia sendiri. Cukup dengan teman yang sudah ada.
Tapi ,disini aku cukup bosan juga hanya berteman dengan Bunda. Apa salahnya menjalin hubungan juga dengan teman-teman kakak ipar. Mencoba lebih ramah didalam rumah mertua.
"Angel." Jawab anak manis yang duduk paling dekat denganku. Tersenyum bersahabat dan menerima jabatan perkenalanku.
"Dia ini Tasya. Adek ipar aku. Adek ipar sih, tapi umurnya lebih tua jauh dibanding aku. Bahkan lebih tua dari suamiku." Jelas Beti akan kedudukanku dengan gaya pongahnya.
Tak ada yang salah dengan penjelasan itu. Aku akui itu fakta. Tapi nada bicaranya itu seakan menghina umurku yang bukan lagi Abg. Seakan menyayangkan adek iparnya yang memilih istri berumur seperti aku.
__ADS_1
"Beneran? ini istrinya kak Reyhan?" Tanya anak yang duduk tepat disebelah Beti. Dia nampak kaget dan tak percaya dengan kabar yang dia dengar. Dengan mata melebar, butuh keyakinan.
"Iya." Jawab Beti tak suka. Orang tadi juga melihatku tak suka. Dengan sorot mata menyimpan kecewa.
"Kenapa kak Reyhan pilih wanita yang lebih tua? Padahal kak Reyhan tampan lo." Timpal yang satunya lagi.
"Pantesan aja kak Reyhan selalu menghindar saat aku dekati. Ternyata seleranya seperti dia." Melirik sinis.
"Cinta kan tak memandang umur." Ucapku membela pilihan suami. Padahal aku sangsi atas ucapanku. Nyatanya hingga kini aku belum yakin sudah jatuh cinta sama suami itu.
"Hallah. Jangan terlalu percaya diri kamu." Sanggah Beti yang sangsi kalo diantara kami ada cinta yang tulus. Dengan nada suara yang sangat menjengkelkan. " Kamu ini dinikahi biar ada yang nemenin Bunda aja. Biar Reyhan tak perlu nyewa perawat untuk Bundanya itu. Biar irit, ada perawat gratis." Tambah Beti dengan suara angkuhnya. Seakan sangat meyakinkan akan kebenaran ucapannya.
Entah kenapa, kata-kata Beti sangat menyinggungku. Meskipun aku juga penasaran ingin tahu alasan Reyhan menikahi dan memilihku. Soalnya kita tak seakrab itu untuk menjadi alasan dia memilihku karena Cinta. Tapi jika benar apa kata Beti? Itu sangat keterlaluan dan menyakitkan. Baru tadi pagi Reyhan membuat hatiku senang saat dia bersikap manja didepanku.
"Beneran begitu?" Tanya temannya dengan mata berseri bahagia kembali. Seakan mendapat kabar bahagia setelah tadi dapat kabar duka. Aku memicingkan mata, melihatnya dengan curiga.
Ternyata suamiku punya fans ya?
"Ya bener lah. Kalo aku tahu sendirilah ya. Masak udah cantik setelah nyalon, harus ngurus ibu yang lumpuh?" Kata Beti memperlihatkan tangan mulusnya dan rambutnya lurus dan lembut.
"Jangan gitu lah. Nanti dapat cap pelakor lo." Kata Angel mengingatkan. " Lagian kak Tasya masih sangat cantik kok." Memujiku dengan tulus dan tersenyum kearahku.
Ternyata ada yang normal juga teman Beti ni. Aku balas senyum terima kasih udah dibela. Meskipun penuturan Beti tadi masih terngiang jelas ditelinga. Lebih menyita perhatianku dibanding dengan bibit pelakor yang ada dihadapanku.
"Heh. Kamu teman siapa sih?" Bentak Beti pada Angel.
"Ya. Seharusnya bela teman dong."
"Lagian tak akan ada pelakor yang berhasil kalo istrinya lebih menarik. Kalo yang potongan begini mana menarik?"Menunjukku yang masih duduk dengan usaha kuat agar tetap tenang.
"Ya kalo mau coba jadi pelakor , ya silahkan saja! " Kataku menjaga suara agar tetap santuy. Meskipun dalam hati bergemuruh siap meledak.
Bukan karena kata pelakor, atau ada yang berniat mendekati suami. Sungguh bukan karena itu hatiku marah dan kecewa. Tapi hatiku sakit karena alasan Reyhan menikahiku yang diutarakan Beti.
__ADS_1
Aku memilih Meninggalkan teman-teman Beti yang ngedumel. Ah, bodoh amat lah. Lebih baik belanja untuk kebutuhan dapur yang mulai menipis. Tak lupa pamit sama Bunda sebelum pergi. Dan menawarkan ingin dibelikan apa.
_______
Sore ini aku pulang setelah keliling berburu bumbu masak, juga lauk dan sayur. Setelah dapat semua yang aku cari langsung pulang.
Sampai rumah sudah hampir magrib. Tak sempat masak malam. Untung tadi bunda pesan makanan martabak manis, hingga bisa jadi ganti jatah makan malam.
"Aku hari ini nggk masak." Kataku saat baru pulang belanja dan disambut suami yang ternyata sudah pulang, dengan tangan ku yang penuh tentangan barang.
"Kenapa?"
"Nggk tengok baru pulang dari belanja? Semua bahan dapur habis." Alasanku dengan nada ketus. Dan menyerahkan beberapa barang agar dibantu dibawa kedapur.
"Terus Bunda?"
Selalu Bunda yang pertama dikhawatirkan. Seakan aku tak penting aja. Apakah benar yang Beti ucapkan tadi? Sakit hati aku.
"Ni aku belikan martabak."
"Ya udah mandi dulu sana. Nanti kita makan diluar aja lah. Sekalian malam mingguan." Perintahnya , dengan diakhiri kata rayuan dan senyum menggoda.
"Main kerumah Abah yok, Rey. Kangen sama abah." Ucapku merayu. Merubah bicara selembut mungkin biar dikabulkan.
"Ck." Decaknya yang membuatku sebal sendiri. Hilang wajah manis yang tadi aku tampilkan.
"Nggk mau ya udah." Ketusku dan pergi untuk memilih baju dibawa kekamar mandi.
"Bukannya nggak mau kerumah abah. Tapi aku nggk suka dipanggil begitu. Nggk menghargai suami aja sih. Meskipun masih muda, aku tetap suami kamu."
______
Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejek. Like, komen, dan gift nya.
__ADS_1
🤗🤗😍😍
Jangan lupa kritik sarannya juga ya. Ditunggu.