
Bunda dan Rasya turut menyolatkan. Sedangkan Reyhan hanya berdiri mematung melihat sosok yang terbungkus kain kafan. Menatap nanar pada ayah yang kini tak bisa direngkuhnya. Semua sudah diurus oleh orang-orang yang juga bermata sembab. Mencoba tegar dan ikhlas dengan kepergian orang yang disayang. Orang yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran hidup.
"Ayah, maaf kan Reyhan. Bukannya Reyhan tak bisa mengikhlaskan Ayah pergi. Bukannya Reyhan tak bisa menerima takdir. Tapi kenapa Yah? Kenapa Reyhan tak boleh memeluk ayah terakhir kali. Tak boleh mencium ayah seperti yang ayah lakukan setiap akan pergi. Bahkan hanya untuk melihat wajah ayah pun tak bisa. Kenapa, Yah? Kenapa?" Reyhan terduduk meratap.
Mendengar doa yang masih dilantunkan untuk sang ayah setelah disolatkan. Sendirian berdiri dipinggir pintu. Sedangkan diluar orang-orang sudah mulai berkurang, tak seramai tadi.
Langit berubah warna. Semburat jingga memenuhi cakrawala. Senja yang indah kini penuh air mata. Melepas kepergian orang yang sangat berjasa.
"Ayah. Adakah hal yang tak Reyhan tahu? Kenapa Bunda menurut saja saat tak diizinkan masuk untuk melihat Ayah? Apakah memang yang disholatkan itu bukan ayah Reyhan? Apakah ayah Reyhan masih hidup? Tapi kenapa Bunda begitu yakin kalo ayah yang pergi? Padahal tidak melihat wajahnya." Protes Reyhan dalam ratapannya.
Menyolatkan sudah selesai. Semua sudah bubar dan keluar ruangan. Dan keranda siap diusung kepemakaman. Bunda menghampiri Reyhan yang masih duduk menyandar pintu. Sedangkan Rasya berjalan dibelakang pengusung keranda.
"Ayok, Rey. Kita antar ayah sampai tempat istirahatnya." Bunda mengangkat Reyhan untuk berdiri. Berjalan mengikuti langkah kaki semua orang yang mengantar ke pemakaman.
Reyhan menurut. Berjalan dipapah Bunda.
"Rey. Anak cowok harus kuat, tak boleh cengeng. Kamu harus bisa menjaga dan melindungi Bunda saat ayah tak ada. Jangan menyusahkan Bunda. Anak cowok harus mandiri dan tangguh. " Suara ayah terngiang, dengan wajah menenangkan penuh senyuman. Itu nasehat ayah setiap kali akan pergi mencari uang. Memang Reyhan yang dekat dengan ayah, sedangkan Rasya lebih acuh dan tak suka melihat ayah. Pasti ada sebabnya.
Reyhan menarik nafas dalam, mengeluarkan perlahan. Menghapus air mata perlahan. Berdiri dan berjalan tegap. Anak cowok harus kuat. Mengulang nasehat ayah untuk menguatkannya sendiri. Walaupun sialnya air mata tak mau berhenti.
Area pemakaman tak terlalu jauh dari rumah ayah. Kini sudah sampai. Reyhan tetap berdiri berjarak dari liang lahat. Melepas tangan bunda yang merangkulnya, berjalan kian mendekat. Melihat jasad terbungkus yang diturunkan. Diam mematung memperhatikan prosesi pemakaman. Hingga tanah diturunkan, Reyhan tetap berdiri disisinya. Menolak saat ditarik orang menyuruhnya menyingkir, karena mengganggu pekerja.
Hingga pengantar sudah mulai pulang, Reyhan masih berdiri disana. Para keluarga dan pengusung jenazah (anak-anaknya) Reyhan masih berdiri mematung ditempatnya.
"Udah malam, nak. Pulang yok. Mau ditunggu sampai kapanpun ayah tak akan kembali. Ikhlaskan." Bujuk Bunda menepuk pelan bahu Reyhan. Mencoba mengajaknya pulang, namun Reyhan masih enggan.
__ADS_1
Apa itu ikhlas? Jelaskan padaku bagaimana caranya ikhlas? Ayah, bagaimana caranya agar aku bisa ikhlas? Sedangkan aku tak tahu apa itu ikhlas.
"Ayah.." Lirihnya dengan bibir bergetar. Memeluk batu nisan bertuliskan nama ayahnya. Kenapa aku hanya dizinkan memeluk batu nisan bertulis nama ayah? Tangannya mengusap tanah merah yang masih basah . Seakan mengusap tangan ayahnya. Cukup lama menikmati posisinya, seakan sedang dalam pelukan hangat ayahnya.
"Udah nak. Mari pulang." Ajak bunda menarik perlahan Reyhan. Sedangkan Rasya hanya diam tanpa air mata, meskipun wajahnya kusut tanda dia juga tak baik-baik saja.
Reyhan menurut. Berjalan beriringan keluar pemakaman yang mulai sepi dan ngeri. Sedangkan Rasya berjalan dibelakang bagai pengawal.
Meskipun malam telah larut. Reyhan beserta abang dan Bundanya tetap pulang. Mpok Lastri masih menunggunya. Sepanjang perjalanan pulang hanya ada kesunyian dan keheningan. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sedangkan Lastri malah tidur mendengkur.
Reyhan menatap jendela kaca. Memandang kegelapan malam dipebukitan, jarang penduduk. Menulis nama Ayah dikaca yang terkena embun malam.
Seminggu telah berlalu. Namun duka belum juga pergi. Reyhan masih sering mengurung diri menatap wajah ayahnya pada album yang tersimpan. Sedangkan Bunda mulai mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Karena tak ada lagi uang nafkah dari sang suami. Ditambah Reyhan akan daftar sekolah, juga Bang Rasya yang sudah naik kekelas tiga, banyak keperluan dan biaya untuk ujian akhir sekolah. Ah, bahkan selama ini bunda memang bekerja. Namun kini lebih giat dan sibuk dengan kerja.
"Bun, seharusnya bunda bilang dong pada mereka. Kalo ada kita disini. Kita juga berhak mendapatkan harta warisan ayah untuk membantu kelangsungan hidup kita. " Rasya nampak emosi bicara dihadapan Bunda. Sedangkan Reyhan hanya mendengar dari kamar. Reyhan yang semasa kecilnya sering sakit-sakitan, jarang sekali diajak bicara hal yang serius.
"Jangan Ra. Bukan cuma kita yang kehilangan dan kesusahan. Tapi mereka juga. Jangan buat masalah." Jawab bunda dengan suara lirih.
"Tapi aku dan Reyhan juga anaknya, bunda istrinya. Kita juga berhak mendapatkan warisan kan bun? " Ucap Rasya ngotot. Bunda hanya terdiam.
"Aku hanya tak ingin melihat bunda sakit dan kecapekan begini . "Suara Rasya terdengar melunak. "Mereka udah besar-besar, Bun. Pasti bisa diajak musyawaroh. Kalo nggk aku tak usah lanjut sekolah, aku kerja aja bantuin bunda." Suara Rasya terdengar sangat pilu. Reyhan yang mendengar ikut meneteskan air mata.
"Jangan, nak. Kamu harus tetap sekolah. " Tolak Bunda.
"Kalo gitu biar Rasya kesana untuk bicara dengan mereka." Rasya seakan mencoba bernego dengan mengajukan pilihan. Seakan mengancam aja.
__ADS_1
"Ra, kita nggk punya hak nak. Maafkan Bunda. Meskipun kalian anaknya, tapi nama kalian tak tercatat dalam kartu keluarganya. Bunda nggk punya surat nikah, nak. " Jelas Bunda disela isakkan kecil.
Rasya terdiam. Mencoba memahami posisinya. Seorang anak yang tak terdaftar dalam kartu keluarga. Jadi tak punya hak untuk menuntut hak waris?
"Kita bisa nak. Kita pasti bisa. Meskipun tak lagi ada ayah, tapi selalu ada Allah."
"Tapi, bund....." Reyhan hendak protes lagi, meskipun langsung dipotong oleh bunda.
"Udah nak. Jangan sampai karena urusan dunia kalian jadi bermusuhan. "
"Emang kenapa, bun? Toh mereka selalu menganggap kita musuh kan? Tak pernah menganggap kita saudara." Suaranya kembali meninggi.
"Makanya itu, jangan menambah rumit urusan ini. Jangan mengajak perang. Berusahalah berdamai. Jangan mempertajam jurang pemisah antara kalian."
Hati Bunda terbuat dari apa sih? Tetap bisa menerima saat kehadirannya tak diharapkan, bahkan dianggap pembawa masalah. Tetap bisa menerima waktu kebersamaan dengan ayah yang tak adil jika dibandingkan waktunya dengan anak-anak yang lain. Terlalu sedikit
"Allah tak pernah tidur nak. Kita hanya perlu usaha, biarkan Allah yang menentukan hasilnya. Bunda ikhlas bangun lebih pagi untuk mengais rezeki. Bunda akan usaha lebih keras. Bunda baik-baik saja." Bujuk bunda untuk menenangkan putranya.
"Istirahatlah. Sudah malam." Perintah bunda lembut.
Reyhan kembali bergerak cepat dan meloncat ketempat tidurnya. Menutup badannya dengan selimut sebelum abangnya masuk kekamar yang sama dengannya.
_______
Selamat berakhir pekan.....😂😂
__ADS_1
Jangan lupa klik favorit, dan tinggalkan like, komen dan giftnya....🎆🤗😍😍