Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Kesibukan Akhir Pekan


__ADS_3

Heningnya malam pecah oleh dentang pagi. Meskipun matahari elum menemani bumi. Pun gelap belum sempurna pergi. Dinginnya udara pagi meminta penghuni bumi untuk kembali berlindung dibalik selimut. Akhir pekan, tak ada tuntutan pekerjaan kantor. Hari libur membuat malas beranjak meninggalkan kenyamanan diatas bantal.


Akhir pekan adalah hari libur untuk para pekerja kantoran. Tapi tidak untuk para pebisnis dan pedagang. Hari libur waktunya mengumpulkan cuan sebanyak-banyaknya. Karena hari libur lebih banyak pengunjung dan permintaan pesanan.


Tak jauh beda dengan Tasya. Pagi ini tak ada malas-malasan. Dari subuh Nita dan Amel juga sudah datang untuk membantu menyiapkan daftar pesanan yang cukup pajang. Bunda dan Reyhan pun turut serta membantu.


Kirain Tasya akan mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umunya. Yang merasakan mual dan muntah di pagi hari. Tak doyan makan makanan tertentu, atau ngidam ingin makan sesuatu yang unik. Tapi ternyata tidak. Setiap pagi Tasya bisa beraktifitas seperti biasa, membereskan rumah, menyiapkan dagangan. Tak ada keluhan. Tak ada acara muntah-muntah dan mual di pagi hari. Namun semua berubah saat hari beranjak sore. Tasya tumbang tak kuat ngapa-ngapain. Bawaannya tiduran dikasur. Mengangkat kepala aja berat banget.


Allah itu maha pengertian memang. Tasya saat awal hamil yang dikhawatirkan adalah nasib usaha yang dirintisnya, dan Allah menjawab dengan ketentuan-Nya.


"Diteliti benar-benar. Jangan sampai ketukar pesanan orang." Kata Tasya memperingati Amel yang memegang catatan. Sedangkan Tasya dan Reyhan saling bantu membuat adonan. Bunda menyiapkan sarapan. Nita bagian mendekorasi kue yang sudah jadi. Semua kerja sama dengan kemampuannya masing-masing.


"Siaap..." Jawab Amel dengan memberikan hormat, seperti hormat pada bendera. Lalu lanjut lagi menghitung jumlah pesanan, dan mencatat dibuku, biar tak lupa.


"Sarapan dulu, yok. Udah siap ini sarapannya. Biar lebih semangat bekerja." Seru Bunda yang sudah menyiapkan makanan.


"Okey Bun. Aku sarapan duluan aja ya. Nanti langsung antar pesanan diujung gang. Cepetan selesaikan mbk Nita. Jam delapan acaranya dimulai." Ucap Amel memdekati meja makan. Sok memerintah dia. Karena dia yang akan kena marah jika telat mengantarkan pesanan pada pelanggan.


Hari sudah mulai siang. Matahari sudah mulai naik memberikan kehangatan pada penghuni bumi.


"Makan aja dulu sana. " Perintah Tasya.


"Kamu selesai sarapan. Selesai pula ini." Ucap Nita yang sedang membuat gambar hello kitty pada kue. Pesanan pertama untuk acara ulang tahun anak berusia delapan tahun. Bukan cuma pesan kue ulang tahun, tapi juga kotak Snack untuk acara, yang sudah diselesaikan Nita dan Amel semalam. Kalo lembur malam Tasya tak ikutan. Badannya tak memungkinkan untuk kerja dimalam hari.


"Bunda, temani Amel makan dong. " Pinta Amel yang melihat Bunda mendekat kearah Tasya dan Reyhan.


"Iya, Bun. Bunda makan duluan aja. Kasihan Amel makan tak ada temannya tu." Tasya ikutan menyuruh Bunda makan duluan.


"Iya, Bun. Sarapan duluan aja. Kami nanti nyusul kalo sudah beres ini." Tambah Nita menunjuk beberapa pesanan yang harus diantar pagi.


"Aku juga mau ikutan makan. Lapar. " Reyhan ikutan berdiri dan mengambil makanan untuk sarapan. Tapi tidak makan dimeja makan bersama Amel dan Bunda. Memilih mendekat pada istrinya ,sambil menyuap istrinya yang masih sibuk.


"Makasih Ay. Aku tak mau telornya. Mau nasi gorengnya aja. Pake kubis Ay." Request Tasya saat disuap Suaminya. Udah disuap masih juga protes.


"Tinggal mangap aja ,yang. " Reyhan malas mengambil kubis mentah sesuai keinginan Tasya. Udah terlanjur duduk.

__ADS_1


"Kalo gitu aku makan sendiri nanti." Menolak saat disuap.


"Ya deh aku ambilkan."


Hingga siang hari keadaan dapur masih sibuk. Amel pun sudah mulai mengantar pesanan sesuai jadwal acara yang akan diadakan pelanggan. Jangan sampai telat.


"Mbk, ini yang pesanan di danau minta mbk sendiri yang antar." Kata Amel saat akan mengantar pesanan. Melihat notifikasi dari pemesan, yang minta diantar pemilik usaha kue itu.


"Emang pesanan dari siapa? Kok ada syarat begituan?" Ucap Reyhan tak suka dengan Syarat yang ada.


"Badanku rasanya udah capek semua Mel. Antar lah. Yang penting kuenya sampai." Pesan Tasya yang merasa pegal semua badan. Merebahkan badan diatas karpet. Rasanya kini badannya mudah sekali lelah.


"Iya tu. Emang dia butuh kuenya atau penjual kuenya?" Reyhan ikut bicara dengan nada tak suka. Melanjutkan tugas istrinya yang sedang istirahat.


"Ya udah lah ,aku antarkan. Tapi ini beneran didanau angker itu? " Akhirnya Amel pergi dengan membawa tiga kotak pesanan yang cukup besar. Namun masih ragu dengan alamat yang akan ditujunya.


"Emang harusnya gitu." Nita ikutan menimpali dengan tangan dan mata fokus pada kerjaannya.


"Iya. Benar itu. Tak ada angker-angker."


"Terserah orang lah Mel." Jawab Nita.


Amel menyusuri jalanan menuju danau yang jauh dari pemukiman. Danau yang biasanya cukup sepi karena dikabarkan danau angker. Hanya orang-orang tertentu yang mau singgah kesana. Amel pun yang asli penghuni sini cuma sekali datang kesana.


Sampai ditempat Amel merasa heran dengan tempat yang tetap sepi. Jika dihitung hanya ada lima orang yang ada. Semua lelaki. Tiga sedang berkumpul sambil makan-makan juga ada botol minuman beralkohol. Sedangkan satu orang duduk dibangku panjang sambil memainkan ponselnya, satu lagi sedang asik memotret keindahan danau yang asri.


"Ini beneran atau kena tipu sih? Katanya jam sebelas suruh antar. Tapi tak ada orang gini kok. Tak nampak akan ada acara meriah. Padahal pesannya tiga kue cukup besar lo." Omel Amel memperhatikan sekitar. Memilih menelpon mbk Tasya untuk memastikan.


"Iya benar itu. Cari aja orang yang namanya sama dengan yang ada disitu." Jawab Tasya dengan suara lemahnya, lalu mematikan sambungan telpon. Tak membiarkan Amel bertanya lanjut.


Tempat itu tetap sepi. Meskipun tak bisa dibilang kotor. Hanya ada pohon-pohon besar yang membuat area danau terkesan angker, namun sejuk. Semak-semak belukar tak tumbuh disana. Hanya diarea-area tertentu yang tak pernah terjamah manusia.


"Yang mana pula yang namanya David ini." Amel melihat nama pemesan yang memakai nama David.


"Mungkin yang itu. Tiga orang, tiga kue." Menunjuk tiga orang yang sedang duduk sambil minum minuman dan cerita, sesekali terdengar tawa keras dari arahnya.

__ADS_1


"Permisi. Apakah ada yang bernama David?" Tanya Amel sopan, yang membuat ketiga orang lelaki itu melihat Amel.


"Hay cantik. Sini duduk sama abang." Tak menjawab, malah merayu dengan mata merah dan suara parau. Mungkin dia sudah cukup banyak minum minuman yang membuatnya mabuk. Yang membuat Amel bergidik ngeri, namun mencoba tetap tenang.


"Disini tak ada yang bernama David." Ucap salah satu dari tiga orang yang masih terlihat tenang.


"Oh, makasih. Saya permisi." Amel berniat menjauh dari orang-orang tak jelas itu.


"Mau kemana cantik? Disini aja." Menarik tangan Amel yang berniat pergi.


"Lepas." Teriak Amel yang tak suka dipegang orang yang lagi mabuk.


Mbk, gimana ini? Kenapa malah ketemu orang-orang gila begini? Gerutu Amel dalam hati.


"Kenapa? Disini lo sepi, jangan malu-malu." Ceracaunya tak jelas, tanpa mau melepaskan pegangan tangannya. Malah menariknya mendekat.


"An. Lepasin dia." Tegas lelaki yang masih tenang, memerintah. Sedangkan satu lelaki lagi hanya menceracau dengan berulang menyebut sebuah nama. Mungkin lagi patah hati.


"Ah, aku tak mau melepas bidadari secantik dia." Ni orang bener-bener udah kelewatan, bahkan tangannya kini menyentuh pipi mulus Amel dan menjilat bibirnya sendiri. Menatap Amel dari atas hingga bawah dengan penuh minat.


Amel masih mencoba tenang, meskipun sebenarnya takut tak ketulungan. Melihat sekitar yang sepi. Marah pake banget dengan sikap lelaki itu, sedangkan kedua temannya hanya menonton. Memberontak untuk menjauh dan melepaskan tangan, tapi berat. Tenaganya kalah telak.


"Lepas aku bilang." Marah Amel menarik kasar tangannya, lalu mengumpulkan seluruh tenaga dikepalan tangan dan mendaratkan tinju didada lelaki mabuk itu. Yang membuatnya oleng dan jatuh, meringis menahan sakit pada dadanya. Amel berlari meninggalkan.


"Hey jangan lari kau." Teriaknya marah.


"Udah. Tak usah bikin ulah." Nasehat temannya lagi.


Amel gantian mendekati lelaki yang duduk dibangku panjang. Menggeturu dalam hati. Melihat arah tiga orang tadi yang ternyata tak mengejar.


Sial-sial. Kenapa sih tak antar kealamat rumah seperti biasa? Atau ke cafe atau restaurant gitu kan lebih bagus. Nggk ketempat angker begini. Pokoknya harus dapat bonus besar ini nanti. Gerutu Amel mendekati lelaki yang duduk sendirian. Mencoba bicara ramah meskipun hatinya dongkol dan marah.


"Permisi. Dengan bapak David?"


"Iya . Kenapa?" Tanya balik lelaki itu dengan suara datar.

__ADS_1


__ADS_2