Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Panggilan Terhubung


__ADS_3

Setelah sedikit basa-basi, aku diarahkan untuk berbaring diatas tempat tidur yang disediakan. Membuka sedikit pakaianku hingga menampakkan perut, dan mengoles gel yang terasa dingin menyentuh kulit.


"Ni, lihat lah. Janinnya masih kecil sekali. Kira-kira baru berusia lima mingguan." Jelas Dokter yang bernama Nina itu. Menunjuk monitor yang menampakkan baby kecil yang belum nampak bentuk anggota badannya. Hanya terlihat seperti lingkaran kecil disana.


"Berarti istriku beneran hamil, bu?" Tanya Reyhan antusias mendekat, ikutan melihat dan memperhatikan layar. Dia nampak bahagia sekali.


"Ya beneran lah." Jawab bu dokter.


Antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Aku bahagia akhirnya aku akan mendapat gelar baru, yaitu ibu. Namun entah kenapa aku juga merasakan sedih yang tak tahu sebabnya. Aku merasa ada yang salah dengan keputusanku untuk memilih hamil. Tapi entah itu apa.


Reyhan masih betah menatap calon bayi kami dengan terharu. Beralih melihatku dengan senyuman hangatnya. Aku hanya bisa membalas senyumannya, dan kembali terdiam menatap lampu diatas sana. Tak tertarik melihat janin yang masih sangat kecil itu.


Setelah banyak konsultasi dan banyak penjelasan, juga disarankan minum vitamin dan susu hamil. Juga diberikan buku yang disuruh bawa setiap kontrol. Kini kami pamit untuk undur diri.


"Makasih ya, sayang. Kamu sudah bersedia menjadi ibu untuk anakku." Ucap Reyhan saat berjalan meninggalkan ruangan, melewati koridor yang panjang. Menggenggam tanganku dengan senyuman yang tak pernah surut.


"Aku juga terima kasih, Ay. Kamu sudah memilihku untuk jadi ibu dari anak-anakmu. " Balasku dengan gamang.


"Iya sama-sama. Aku bahagia Allah menjadikanmu sebagai istriku." Berubah merangkulku untuk masuk mobil. Membukakan pintu untukku. Dengan senang hati aku menerimanya.


"Kesekolah dulu ya? Ada kunjungan ketua yayasan jam dua belas nanti, jadi tak bisa izin pulang duluan. " Pintanya melajukan mobil ke sekolah yang tak jauh dari klinik tanpa menunggu persetujuanku.


"Ay." Panggilku saat mobil sudah melaju. Aku tak keberatan sih singgah sejenak kesekolah tempat suami kerja. Sekalian ketemu Abah dan menyampaikan kabar baik ini. Pasti abah bahagia kan? Sudah hampir sebulan aku tak berkunjung kekediaman abah.


"Iya." Jawabnya melihatku sekilas, dan kembali fokus memarkirkan mobil. Yah, tak sampai lima menit kami sudah sampai didepan sekolah dengan bangunan tiga lantai, yang terdiri banyak bangunan. Meskipun sekolah swasta, terlihat sekolah ini sangat maju, dengan fasilitas lengkapnya, juga pastinya banyak peminatnya. Terlihat banyaknya ruangan lokal sekolah yang ada. Pastinya muridnya juga banyak kan?


"Kenapa? Hemm?" Tanyanya setelah sukses memarkirkan mobil, dan melihatku yang masih terdiam. Malah memperhatikan bangunan-bangunan sekolah.


"Emmm,,,, Boleh tanya sesuatu nggk?" Ucapku ragu.


"Boleh dong sayang. Apapun itu, tanyakan lah jika ada yang mengganggu pikiranmu. Aku dengan senang hati akan menjawab." Merubah duduk menghadapku. Siap mendengarkan curhatanku.


"Kamu nampaknya akrab dengan dokter tadi? Dia siapa? " Tanyaku hati-hati.


"Ya udah kenal aja makanya akrab. Dia siapa? Ya dia dokter spesialis kandungan sayang. Emang ada apa sih? " Jawabnya bingung akan pertanyaanku. Mungkin baginya aku aneh bertanya begitu.

__ADS_1


Apakah suamiku ini cukup terkenal didaerah sini ? Atau karena dia kepala sekolah didekat sini? Atau memang ada hubungan khusus dengan dokter itu?


"Kenal kenapa? Bukan karena ada sesuatu kan?" Ucapku memanyunkan bibir.


Reyhan malah tertawa mendengar ucapanku. Melebarkan mata tak percaya akan kata-kataku. Sesaat kemudian tersenyum melihatku, dan meraih tanganku untuk digenggamnya.


"Jawab, Ay. Bukannya senyum-senyum gitu." Sebalku karena tak dihiraukan, malah senyum-senyum sendiri. Menarik tanganku, namun dia kembali meraihnya dalam genggaman.


Reyhan mengecup tanganku yang digenggamnya, mengusapnya perlahan. "Maksudnya apa sih kamu bertanya gitu? Kamu cemburu? Takut kalo ada hubungan sepesial antara kami? " Tanyanya lembut dengan menahan senyum. Mungkin pertanyaanku lucu ya? Apa salahnya sih waspada?


"Emang salah?" Makin manyun aku merasa diejek Reyhan.


Tapi tunggu deh. Apakah aku cemburu? Benarkah aku cemburu? Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Bukankah cemburu tanda cinta? Atau hanya sekedar tak rela suamiku dekat dan akrab dengan wanita lain?


"Apakah kamu akan selalu berfikir seperti itu jika melihatku bicara akrab dengan wanita lain? Sedangkan aku ini kepala sekolah lo sayang. Harus ramah dan sopan bicara sama semua orang. Terutama pada setiap wali murid." Jelasnya.


"Emang dia wali murid apa?" Tanyaku tak yakin akan ucapannya.


"Iya. Dia wali murid dari salah satu murid disini. Anaknya sudah sekolah SMP sini lo. Masak aku ada main sama ibu-ibu yang sudah tua?" Ucapnya dengan senyum miring.


"Beneran dia sudah punya anak SMP? Tapi kok masih cantik banget Ay. Kirain lebih muda dari aku lo. " Tanyaku tak percaya akan kenyataan itu. Kalo dia sudah punya anak usia SMP, tak mungkin dong lebih muda dari aku? Apalagi dari profesinya yang seorang dokter. Seorang dokter jarang yang menikah dini.


"Emang kamu nyesel punya suami lebih muda? Yang penting aku tetap DEWASA." Jawabnya dengan percaya diri. Meyakinkan kalo dia sudah dewasa.


"Iyalah..."


"Kamu mau tahu rahasia awet mudanya?" Mengalihkan pembahasan.


"Apa?" Tertarik.


Bukankah setiap wanita suka jika bisa tampil awet muda? Aku pun juga ingin dong memiliki wajah yang selalu cantik. Tak kunjung nampak keriput meskipun usia terus berlanjut.


"Makanya konsultasi sama dia." Jawabnya dengan tawa . Yang membuatku kesal akan candaannya. "Udah yok masuk." Mengajakku turun.


drrrt drrrt

__ADS_1


Ponselku berdering tepat saat Reyhan mengajakku masuk. Terlihat nomor baru disana.


"Duluan lah Ay. Aku tunggu disini aja."


"Yakin? Aku sedikit lama lo. Atau kalo mau nyusul nanti cari aja kantor. Aku disana. Kalo abah mungkin ngajar sekarang." Jelasnya yang sudah keluar siap pergi.


"Iya. Nanti kalo aku bosan disini, aku nyusul." Setujuku.


"Sip. Emang telpon dari siapa sih? " Berbalik lagi melihatku yang masih memegang ponsel yang berbunyi, belum ku angkat.


"Entah, nomor baru. Calon customer mungkin." Jawabku tak tahu. Dan Reyhan tak bertanya lebih lanjut. Pergi meninggalkanku sendirian diparkiran.


________


Diruang luas, dibalik meja kerjanya. David menatap ponselnya. Melihat nomor yang diberikan Rena. Sedari kemaren maju mundur untuk melakukan panggilan. Selalu urung saat akan menekan tombol panggil. Bingung mau mengucapkan apa padanya nanti.


Berhari-hari diserang galau dan dilema. Akhirnya hanya bisa melihat nomor, dan bergantian lihat photo yang menghiasi meja kerjanya. Selalu ada keraguan untuk memulai menyapa. Ingin berkunjung kesana lagi, namun pekerjaan masih sibuk belum mengizinkannya pergi.


"Tapi kenapa dia ada disana ya? Apakah dia pindah rumah? Atau aku berkunjung kerumah lamanya untuk mencari tahu?" Monolognya bingung.


Satu hal yang membuatnya bingung. Kini dia sudah ingat alamat rumah sang pujaan. Juga nama lengkap dan beberapa potongan kenangan indah bersama. Namun melihat Thatanya dirumah yang tak jauh dari tempat tinggalnya dulu menciptakan banyak pertanyaan yang tak mampu dia jawab.


Dari awal maminya sudah menyarankan untuk meminta bantuan orang untuk mencari keberadaan orang yang dimaksudnya. Namun David menolak itu. Dia ingin ingat dengan sendirinya, dan tahu semua hal dengan sendirinya. Tak tahu pilihannya ini menguntungkan untuk dia, atau sebaliknya. Itu waktu awal kecelakaan dulu. Namun dia tak pernah menyangka proses kembalinya ingatan akan selama ini.


"Apa salahnya sih telpon duluan. Pake alasan pesan cake sepesial gitu. Apa susahnya." Putusnya untuk menekan panggil pada nomor yang sedari kemaren dilihatnya. Bahkan sudah hapal susunan digit angkanya diluar kepala. Sangking setiap saat dilihat.


Nada panggil terhubung, namun tak kunjung diangkat oleh Thata. David menunggu dengan gelisah dan harap-harap cemas. Otaknya memikirkan kata apa yang akan diucapkannya sebagai sapaan.


"Hallo, Assalamualaikum." Sapaan suara ramah dari sebrang. Yang membuat David mematung tak mampu mengeluarkan kata jawaban. Hanya tersenyum mendengar suara yang sangat dirindukannya.


"Hallo, dengan Tasya disini. Ini bicara dengan siapa? Ada perlu apa?" Suara lembut itu kembali menyapa. Namun pikiran David ngblank, tak bisa mengatakan apa-apa. Tak ada kata yang bisa terucap dari bibirnya.


Bersambung...


_______

__ADS_1


Happy reading.


Jangan lupa dukungannya.


__ADS_2