
Matahari mulai naik. Memberikan kehangatan pada penduduk bumi. Memaksa manusia untuk bangkit memulai aktifitas. Mengisi hari libur dengan kebersamaan dengan keluarga. Menciptakan kenangan bersama orang-orang tercinta. Menikmati kebersamaan setelah sepekan bekerja.
Hari ini kami sekeluarga pergi menikmati akhir pekan. Liburan bersama . Tak lupa Bang Bagas beserta anak istrinya, juga Marta, dan Abah ikut serta.
Pantai. Itu tempat yang kami tuju. Karena memang tempat itu yang dekat dengan desa kami. Desa pesisir. Jadi dari pada liburan ketempat yang jauh. Mendingan cari yang dekat. Yang penting itu kebersamaannya, bukan tempatnya.
"Yank. Sini." Panggil Reyhan yang sedang duduk di gubug sendirian , melambaikan tangan memintaku mendekat.
Aku hanya melengos dan berlari menjauh, ikutan bermain dengan Tama. Bang Bagas yang mendekat menemani Reyhan. Sedangkan Abah kebetulan ketemu orang yang entah siapa aku tak kenal. Mengobrol bersama.
Marta lebih asik menjadi juru photo. Sedangkan kak Ina memilih berlarian ditepi pantai mengejar Tama. Menikmati terjangan ombak yang sesekali menghantam pepasiran. Dan tertawa menikmati sensasi tertarik saat air kembali surut.
Aku ikutan bertingkah seperti anak kecil yang sedang bermain air. Berkecipak menjejakkan kaki di lembutnya pasir yang diterjang ombak. Tak peduli celana panjang yang udah digulung tetap basah terkena air saat ombak besar datang. Bahkan Tama sudah basah kuyup setelah bergulung pada gulungan ombak. Untung dia bawa baju ganti.
Para lelaki hanya mengobrol melihat kearah kami. Sambil memakan kacang goreng dari penjual keliling.
Matahari mulai condong kebarat, tanda siang berganti sore. Kami memutuskan untuk kembali pulang. Tama tidur dimobil sepanjang perjalanan. Perjalanan yang hanya menempuh waktu setengah jam untuk sampai kerumah kembali.
Sampai rumah aku langsung tepar diatas kasur. Tanpa mandi. Cukup ganti baju langsung tidur.
"Yang, bangun." Suara Reyhan mengganggu tidurku. Dengan tangan menepuk pelan kedua pipiku.
"Apa sih, Rey?" Lenguhku dan menepis tangannya yang masih memegang kedua pipiku.
cup. Satu kecupan singkat mendarat dipipi. Makin berani aja ni suami.
"Reyhan." Marahku ,langsung bangkit dan memukul keras bahunya.
Cup, cup. Gantian mendarat di bibir.
"Heh." Duduk dengan tegak melempar bantal kearahnya, dan bersungut sebal.
"Masih panggil Rey atau Reyhan, tandanya minta cium." Ancamnya dengan senyum menyeringai, menekankan penyebutan namanya. Kembali mendekat kearahku yang sudah duduk menepi didekat dinding.
"Iya lah, Bang Reyhan." Kataku keki." Jangan lagi." Menutup muka dengan kedua tangan saat wajahnya sudah dekat dihadapan.
"Cih, bang." Tak suka dengan panggilan yang ku pilih.
"Terus apa?" Mendelik kesal. Membuka wajah saat sudah tak terasa hembusan nafasnya didepanku. Dia memberi jarak, menjauh.
__ADS_1
"Jangan mimpi minta dipanggil sayang atau ayang." cibirku kesal.
"Nah ,itu lebih baik." Jawabnya santai dengan wajah berbinar senang. "Ulangi lagi?" Pintanya kembali mencondongkan wajah mendekat.
"Apa?" Sengakku dengan pukulan didadanya. Meminta mundur.
"Panggil kayak yang tadi lo. Aku juga sering lo panggil kamu pake panggilan sayang." Ucapnya dengan menggerakkan alisnya menggoda. " Aku lebih muda. Tak mau dipanggil mas, bang, atau apapun itu."
"Okelah, Ay. A-y-a-n-g." Kataku dengan mengeja kata ayang. Bibirku kelu sendiri mengucap panggilan itu. Ada yang aneh. Dulu pacaran aja tak pernah panggil sayang. Panggilnya nama karena seumuran. Dia tak protes pun.
"Itu lebih baik. Makasih." Ucapnya dan mencuri ciuman sekali lagi sebelum turun dari tempat tidur dan berjalan menjauh.
Dasar laki-laki. Suka kali cium-cium. Gerutuku pelan dan mengusap kasar pipi bekas ciumannya.
"Bersiap lah. Kita pulang." Perintahnya sebelum keluar dari kamar.
"Apa? pulang? Aku masih mau disini." Teriakku dan berlari keluar untuk menyusulnya. Ingin protes akan kehendaknya yang minta pulang.
"Tak ma..." Teriakku terhenti saat mendapatkan tatapan horor dari abah dan bang Bagas yang ada diluar kamar. Sedang Reyhan malah duduk tenang pura-pura tak tahu.
Ternyata diluar ada orang ya? Sadar Sya, bukan dirumah sendiri.
"Maaf. Bah." Rengekku manja dan memeluk abah dari belakang, melirik tajam pada suami yang duduk acuh. Berharap abah tak jadi marah melihat kelakuanku.
"Hem." Sahutan abah tak minat.
"Aku kan masih kangen sama abah, Masak udah diajak pulang aja." Mengadu. Berharap mendapat pembelaan dan ditahan disini.
"Ya, lain kali main kesini lagi." Jawaban yang diluar harapan.
"Tapi, bah. Apa salahnya sih kalo aku ingin lebih lama disini?Berangkat sekolah bisa berangkat dari sini bareng abah. Lebih dekat malahan." Berniat membujuk.
Aku bukannya tak mau menurut apa kata suami. Hanya malas bertemu Beti dan melihat tampang sombong dan angkuhnya.
"Udah sana siap-siap." Perintah abah tak bisa dibantah.
"Kok abah jadi ngusir Tasya sih?" Memasang wajah tersedih dan kecewa karena tak bisa tinggal lebih lama.
"Bukan ngusir. Jadilah istri yang baik. " Menepuk tanganku yang ada dibahunya. Aku hanya merengut kesal dan melotot marah pada suami yang malah tersenyum menang.
__ADS_1
"Iya abah." Lirihku pasrah. Kembali kekamar untuk bersiap-siap.
Akhirnya aku pulang sore ini dengan riang setelah Rey janji setiap akhir pekan akan main kerumah abah. Meskipun cuma menginap semalam tak apalah, dari pada nggk sama sekali.
Aku menaiki mobilku sendiri dengan alasan biar enak kalo mau bepergian. Pun bisa mengajak bunda jalan-jalan kalo ada mobil. Tak perlu mengandalkan ojek jika ingin bepergian sedangkan suami belum pulang. Toh mobil itu hak milikku, karena ku beli sendiri dari hasil kerjaku.
Jadilah aku pulang mengendarai mobil, sedangkan suami naik motor kesayangannya. Kayak suami istri lagi marahan aja yak.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu?" Tanya Reyhan yang sudah naik motor dan memakai helmnya. Aku pun sudah didalam mobil , tapi belum jalan aja. Masih dihalaman rumah.
"Mampir kemana?" Berfikir ingin melakukan apa udah sore begini?
"Ya nggk tahu lah. Siapa tahu mau cari makan mateng, biar sampai rumah tak perlu repot masak lagi." Jelas suami.
"Nggk usah lah. " Melihat jam dari hp. Dan memperkirakan sampai dirumah jam berapa, dan masih sempat masak atau tidak. "Kemaren aku udah belanja banyak. " Kataku setelah memungkinkan untuk masak dirumah. Dan sudah terbayang akan masak apa sore nanti.
"Okey. Aku juga kangen makan masakanmu." Kata Reyhan tersenyum manis, lalu membiarkanku jalan lebih dulu.
Sepanjang perjalanan motor suami selalu melaju dibelakangku. Mengawal mobilku dari belakang. Tak peduli meskipun mobil melaju selambat mungkin, dia tak mau menyalip. Juga turut melaju kencang saat aku menambah kecepatan.
Aku tersenyum sendiri melihatnya dari spion. Hingga kini kami sampai dirumah yang kami tuju. Cukup satu jam perjalanan dari rumah abah kerumah mertua.
Masuk rumah dibuat tercengang dengan bentuk rumah yang ampun deh. Banyak remah makanan bertebaran dilantai. Dengan kursi berantakan tidak pada tempatnya. Seperti habis dipake untuk acara aja ni rumah.
"Kenapa sih? Kok aneh gitu lihatnya?" Tanya Reyhan yang baru masuk dan melihatku mengedarkan pandangan kesegala penjuru dengan wajah kesal.
"Tengok ni. Kenapa kayak kapal pecah begini sih? " Tanyaku kesal menunjuk semua yang berserakan.
Reyhan hanya menarik nafas dalam. Seakan sudah biasa melihat hal begini. Tak merasa aneh.
"Kalo hari ahad memang biasanya kak Beti ada acara kumpul-kumpul ama teman-temannya. Mungkin hari ini kebetulan giliran dirumah kita." Jelasnya mencoba memahamkanku. Dan berharap aku memakluminya.
"Ya kalo habis ada acara dibereskan lagi dong." Kesalku dan menghentak kaki kasar bin sebal.
" Ya udah kamu masak sana. Biar aku yang membersihkan sini." Menunjuk ruang tamu dan ruang keluarga yang sama berantakannya.
Aku setuju dengan usulan suami. Memilih meletakkan tas dikamar, lanjut memasak. Sedangkan Reyhan nyamperin Bunda dulu sebelum memulai bersih-bersih.
"Astagfirrullah. Bati..." Teriakku nyaring memanggil sang punya nama. Geram bin kesal saya.
__ADS_1