
"Halo halo. Dengan siapa disana?" kembali suara Tasya terdengar makin keras, kesal karena mendapatkan panggilan tanpa ada jawaban dari sebrang.
"Zaman sekarang masih aja ada orang iseng." Gerutu Tasya melihat ponselnya yang masih terhubung. Dengan kesal menyentuh gagang telpon berwarna merah diponselnya. Mematikan panggilan yang tak kunjung ada jawaban.
"Kirain akan ada pelanggan baru, eh ternyata orang nyasar." Kesal Tasya kembali memasukkan ponselnya pada tas kecil yang dibawanya.
Keluar mobil berniat keliling sekolah untuk mengamati bangunan yang sepi ini. Karena semua penghuninya sedang dikelas masing-masing. Jam istirahat sudah selesai, jam istirahat kedua masih lama, apalagi jam pulang. Masih jauh.
David nampak tak puas mendapati panggilan terputus. Tetap tersenyum mengingat suara lembut yang tak pernah berubah, apalagi mendengar gerutuan samar yang tertangkap pendengaran. Menatap kembali layar yang menampakkan deretan angka. Tertawa sendiri mengingat kebodohannya yang tak mampu mengucap sepatah katapun. Terlampau bahagia mendengar suara yang dulu akrab bersamanya, hingga membuatnya lupa mengucap kata. Mengobati rasa rindu yang membuncah. Namun ternyata mendengar suaranya tak mengobati rindu, namun membuat rindu makin terasa menggebu.
Dia kembali mendial nomornya. Menunggu panggilan tersambung. Dengan senyum cerah menanti dengan perasaan bahagia.
Sebahagia itu hanya menunggu mendengar suaranya. Bagaimana bahagianya jika menunggu kedatangannya? Tertawa sendiri membayangkan wajah cantik yang kini mengenakan jilbab lebar.
Dulu saat bersamanya Tasya belum sempurna istiqomah menutup aurat. Mengenakan jilbab hanya saat sekolah dan keluar rumah jauh, itupun jilbab alakadarnya yang jauh dari syar'i. Saat dia berkunjung kerumahnya masih sering membuka jilbab, bahkan kadang memakai baju pendek. Kini dia mengingat sempurna setiap inci wajah itu. Terekam jelas senyum manisnya juga wajah cemberutnya saat ngambek.
"Tha. Aku kangen banget. Apakah kamu akan menerimaku lagi seperti dulu? Atau kamu sudah menemukan penggantiku?" Tanya David pada photo yang ada dimeja kerjanya. Meletakkan ponsel karena panggilannya rak dijawab.
Setelah menatap beberapa saat wajah muda dalam gambar itu, kini David kembali mengalihkan perhatian pada ponselnya yang tergeletak sempurna.
"Bismillah." Kembali mencoba menghubungkan panggilan. Namun berdering hingga cukup lama tak kunjung dijawab.
"Angkat dong sayang." Gumamnya berharap panggilannya diangkat oleh sang pujaan. Namun akhirnya hanya suara operator yang menjawab.
"Mungkinkah kamu lagi sibuk? Atau menganggapku orang iseng?" Menerka kemungkinan yang ada. Lalu kembali mencoba dan mencoba. Hingga lima kali melakukan panggilan, namun semua tak terjawab.
Namun Dia sama sekali tak kecewa. Tetap mampu tersenyum membayangkan kebersamaan masa lalu, dan membawanya kemasa kini. Membayangkan kebahagian yang terjadi di masa lalu, seandainya terjadi juga dimasa kini. Pasti lebih bahagia bukan? Bersama hingga masa depan nanti.
Setelah lama menghayal dan membayangkan wajah yang dirindukan. Dia memilih mengirimkan pesan singkat.
"Assalamualaikum Tha. Gimana kabarmu? Apakah kamu masih mengingatku yang selalu menunggumu."
Membaca ulang. "Ah, terlalu lebai. Nanti dia malah kabur lagi." Menghapus kembali pesannya sebelum dikirim. Kembali berfikir menuliskan pesan pertama setelah sekian lama tak jumpa.
"Tha, ni aku Arfan. Apakah kamu merindukanku? Atau malah tak mengingatku?"
__ADS_1
"Aneh lah. " Menghapus kembali tulisan yang diketiknya.
"Tha, maafkan aku yang lama tak kunjung datang menemuimu.Terlalu lama lupa karena kejadian yang tak kuharapkan. Kejadian yang membuatku kehilangan kamu, juga nenek dan kakek. Namun berkenankah kamu menemuiku ? Didanau yang sering kita main dulu?"
Membaca ulang. Namun dihapus kembali. Rasanya tak cocok kata-kata itu ia ucapkan lewat pesan singkat.
Sesusah itu hanya untuk menyapa wanita yang masih bertahan dihati setelah sekian lama tak jumpa. Serba salah atas semua kata yang tersusun. Bagaimana kalo ketemu langsung? Apakah lisannya bisa bersuara? Sekedar menyapa lewat tulisan aja pertimbangannya banyak banget.
Berulang kali David menulis dan menghapusnya kembali. Kembali menelpon siapa tahu kali ini akan diangkat oleh pemilik nomor. Namun ternyata tak juga tersambung panggilannya.
Memilih menyampaikan maksudnya dengan pesan. Bermenit-menit dia tak kunjung menemukan kata yang pas. Bahkan satu jam berlalu, belum ada pesan yang terkirim.
"Ngapain sih kak?" Sapa suara yang mengagetkannya. Membuatnya melihat pemilik suara yang kini sudah duduk disofa ruangannya.
"Masuk ruangan orang tu salam dulu, paling tidak ketuk pintu gitu." Nasehatnya tanpa melihat yang diajak bicara. Namun dia sudah meletakkan ponselnya. Berfikir, berfikir. Kata-kata apa yang akan disampaikan, yang membuat Tasya tak punya alasan untuk menolak. Dia merasa pesimis cinta Tasya masih untuknya setelah sekian lama tak ada kabar darinya. Bukankah hanya kebodohan menanti kehadiran orang yang entah ada dimana. Mengandalkan perasaan yang mungkin sudah terkikis oleh waktu.
"Aku udah ketuk pintu, kak. Sudah salam juga. Kakak aja yang asik chatingan sambil senyum-senyum sendiri. Setelah itu geleng-geleng sendiri." Sindir Johan yang kini duduk tak jauh darinya.
Meskipun punya usaha sendiri-sendiri. Namun mereka nampak akrab dan saling membantu dalam banyak hal. Padahal usaha yang dimilikinya sama. Namun itu tak membuat mereka bersaing dan saling menjatuhkan. Malah saling menguatkan dan saling bertukar pendapat untuk memajukan usaha masing-masing.
"Diam kamu." Cetus David dan melempar pena untuk merintah Jo diam. Mengganggu konsentrasi aja.
"Lagi jatuh cinta ya? Udah mulai menerima Rena ini?" Ledek Jo yang melihat aura bahagia diwajah saudara sekaligus sahabatnya itu. Bahagia yang berubah kesal karena kedatangannya.
"Kenapa Rena?" Bingung David dan menautkan alis heran. Menatap Johan yang tersenyum mengejek. David bangkit dan duduk disamping Jo.
"Lah? Emang siapa lagi? Perasaan hanya dia yang sering datang, bahkan kini kamu pun tak pernah menolak kehadirannya. Bahkan beberapa hari ini kamu sering jalan bareng dengan dia kan?" Tebak Jo akan perasaan kakak sepupunya.
Memang benar adanya. Setelah malam dipantai itu, kini dia dan Rena sering bertemu ditempat yang sama saat malam hari. Jika dia tak datang kepantai, Rena akan mengunjunginya ke resto. Jadi setiap hari mereka bertemu.
David kini mulai menerima kehadiran Rena. Bukan karena mulai punya rasa. Hanya saja dia tahu kalo Rena adalah sahabat Tasya, siapa tahu Rena bisa membantunya dekat dengan Tasya. Meskipun tiga kali dia mencoba membahas tentang gadis kesayangannya itu. Namun Rena seakan tak mau membicarakan orang lain dalam kebersamaannya. Tapi apa salahnya dicoba lain waktu?
.
"Emang ada cewek lain? Jangan bilang Thata lagi. Aku bosen dengar nama dia." Tebak Jo jengah menyebut nama yang sering diulang oleh David.
__ADS_1
"Iya. itu dia." David nampak semangat sekali mendengar nama Thata disebut. Matanya berbinar hanya mendengar nama itu.
"Halah." Malas Jo. Dan merebahkan badannya disofa panjang.
David tak peduli dengan wajah malas Jo. Tetap bicara dan bercerita tentang apa yang barusan terjadi. Mengutuk diri yang tak bisa berkata-kata sangking bahagianya. Hingga membuat pembicaraan itu berakhir tanpa penyelesaian.
Jo bangkit dan mendekat kemeja kerja David. Mengambil foto yang selalu menghiasi meja itu. Memperhatikan sejenak . Dan sembunyi-sembunyi mengambil gambar dengan hp.
"Jangan lama-lama lihat cewekku. Nanti kamu naksir lagi." Merebut Bingkai yang dipegang Jo. Posesif sekali hanya dengan gambar. Dan meletakkan dangan posisi terbalik diatas meja.
"Siniin hp mu. Aku bantu." Pinta Jo menengadahkan tangannya.
"Tak sudi. Nanti kamu kirim pesan yang aneh-aneh lagi." Menolak, dan menyembunyikan ponsel yang sedari tadi masih dipegangnya.
"Percaya sama aku. Aman. Aku tak akan mempermalukan kakak tertamvanku ini." Bujuknya,.
"Masa?" Tak yakin akan ucapan Johan.
"Beneran. Dimana dulu kalian sering kencan?"
"Danau, pantai, taman, sekolah, waterpark."
"Satu aja kali. Kencan tiap hari ya gitu. Semua tempat menjadi tempat kencan."
Bersambung
______
Happy reading.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, koment, gift, dan votenya.
Makasih banyak.
__ADS_1