Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
David Arfan Saputra


__ADS_3

"Kamu ni mas. Katanya saudara, kok malah jelek-jelekkin gitu?"


"Bukannya jelek-jelekkin. Tapi kenyataannya begitu kok. Sejak kenal sama David, belum pernah lihat dia dekat dengan perempuan manapun." Jelas Johan acuh-tak acuh. Masih menatap lurus tanpa melihat Marta yang duduk menghadapnya.


"Owh namanya David ya? Tapi kok mirip banget dengan kak Arfan ya?" Gumam Marta lirih.Berfikir. Tak peduli dengan ungkapan Johan tentang David. Lebih fokus pada nama yang tak sengaja disebutnya.


"Mirip siapa? Arfan?" Tanya Johan yang mendengar gumaman Marta. Merubah duduk menyamping menghadap Marta. Menaikkan kaki diatas bangku panjang.


"Heh. Ya Arfan." Marta sedikit terkejut mendengar sahutan Johan. " Tapi dia udah lama tak nampak kok. Mungkin sudah hilang ditelan bumi kali. Tapi sumpah dia mirip banget." Lanjut Marta menjelaskan.


"Ya mirip lah. " Dengan senyum simpul tercetak dibibirnya. Johan menunduk, mamainkan kuku-kuku jarinya. Seakan punya sedikit rahasia yang disimpannya.


"Maksudnya?" penasaran. Mendekatkan wajah pada Johan yang terdiam, enggan bicara nampaknya. "Emang mereka kembar, atau saudaraan?" Tanya Marta minta kejelasan.


"Tidak juga. Dia terlahir sendirian, tak ada kembaran. Saudara kandungnya cuma satu, perempuan. " Jelas Johan masih dengan ekspresi yang sama. Seakan enggan menjelaskan.


"Terus? Maksudnya gimana sih?" Tanya Marta tak sabaran. Duduk tegak siap mendengarkan. Tak mau kelewat sedikit pun informasi itu. Tapi Johan malah menerawang kedepan, lalu melihat Marta dengan intens.


"Emang kamu kenal Arfan dimana sih? Apakah dia cinta masa lalumu?" Tanya Johan menyelidik. Ada ketakutan diwajahnya jika tebakannya benar. Terusik dengan reaksi Marta yang antusias mendengar kabar soal saudara jauhnya itu. Seakan kehadirannya tak ada artinya lagi.


"Bukan,,bukan begitu." Menggoyangkan tangannya untuk meyakinkan kalo dia tak ada apa-apa dengan orang yang disebutnya. Wajahnya mulai pias dan khawatir "Percayalah, kalo cuma mas Johan yang Marta cintai. Nggk ada yang lain. Kenapa aku kenal dengan Arfan? Karena dia pacar kak Tasya dulu. Udah dulu sekali sih. " Jelas Marta saat melihat ada kesalah pahaman diantara mereka. Tak ingin kekasihnya berfikir yang macam-macam. Takut melihat wajah Johan yang melihatnya penuh ancaman.


"Beneran?" Tanya Johan meminta kepastian.


"Ya beneran lah. Lagian waktu kenal dia aku masih SD tau. Mana tau cinta-cintaan? Apalagi pacaran? " Marta mempertegas kejujurannya. Agar lebih meyakinkan.


"Dih, memang sekarang dia udah tua apa?." Ucapnya disusul tawa sumbang. "Nyatanya masih banyak yang ngejar-ngejar dia." Tersenyum samar mengingat perempuan yang sering datang ke restaurant.


"Terus?" Menaikkan alis butuh penjelasan tentang David dan Arfan.


"Terus apa lagi sih?"

__ADS_1


"Ya apa hubungannya David dan Arfan? Kenapa mereka mirip kalo saudara bukan, kembaran juga bukan." Ucapku keki. Kesal deh Johan tak paham juga maksudku. Bukannya dari awal itu yang aku tanyakan?


"Ya karena setahuku mereka orang yang sama. Namanya David Arfan Saputra. Nama panggilannya David, tapi entah apa sebabnya saat dia ikut kakek dan nenek lebih suka dipanggil Arfan. Bisa jadi Arfan yang kamu maksud adalah orang yang sama dengan David. Tapi bisa juga tidak." Jawabnya udah kembali santai.


"Hah? Berarti itu dia dong? Itu tadi kak Arfan dong?" Tanya Marta melebarkan matanya tak percaya. Kembali melihat tempat mobil tadi menghilang.


Beneran itu kak Arfan? Tapi kenapa dia sombong kali? Apakah dia melupakan aku? Bahkan melupakan kak Tasya. Batin Marta sedih. Teringat kembali masa-masa sulit kakaknya yang ditinggal Arfan. Mengurung diri dikamar sepanjang libur panjang kelulusan sekolah. Hingga jatuh sakit dan dirawat dirumah sakit.


Apakah sebegitu tak berartinya kenangan kalian masa lalu kak? Hingga kabar tentangmu pun tak pernah kami dengar. Padahal kak Tasya kehilangan senyum cerianya hingga kini.


"Kenapa? Kok kamu malah sedih sih?" Melihat mata Marta yang mulai berkaca.


"Ya aku sedih aja lihat kak Arfan sekarang. Dia masih bisa hidup baik dan nyaman. Bisa tertawa lebar tanpa beban. Bisa sebegitu bahagianya. Padahal dia udah pergi membawa keceriaan kakakku, membuat kak Tasya tak semangat menjalani harinya." Cerita Marta sedih. Menghapus air mata yang sudah lolos turun. Johan hanya mendengarkan dengan kening berkerut. Bingung.


"Kakakmu Tasya? Tapi setahuku difoto yang tersimpan dilaci kantor, namanya itu Thata, bukan Tasya." Mencoba mengingat kenyataan lain. Tapi setahunya David tetap hidup dengan normal selama ini.


"Owh begitu ya? Ya udahlah. Lagian kakakku udah nikah. Moga udah bahagia dengan suaminya sekarang."


"Ya lah." Marta menurut. Menutup pembahasan tentang David atau Arfan.


"Katanya kangen tadi?" Tanya Johan dengan senyum miring, mata mengerling genit.


"Emang mas nggk kangen sama aku?" Jawabnya memonyongkan bibir menahan senyum malu.


"Nggk ah. Baru kemaren ketemu kok."


"Ih. Jahat." Memukul pelan lengannya yang ada disandaran bangku.


"Kalo jahat mas tak akan datang kesini dong." Menyanggah penilaian Marta.


"Mas tadi dari mana? Kok cepet datangnya? Biasanya tiga puluh menit baru sampai?" Mulai kepo dengan jadwal pacar.

__ADS_1


"Halah. Datang cepat aja disambut bibir manyun gitu kok." Ledek Johan mencubit bibir mengerucut Marta.


"Ih apaan sih mas? Bukan mahram, tak boleh pegang-pegang." Memukul tangan yang tadi mencubitnya. Tambah memanyunkan muka.


_______


Hari ini Reyhan pulang lebih cepat. Sebelum kumandang adzan asar terdengar ,dia udah pulang. Bahkan aku pulang setelah belanja dia udah ada dirumah, dengan pakaian santainya.


"Tumben pulang cepat ,Ay?" Tanyku saat melihatnya menyambutku pulang.


"Iya. Kan mau ngajak kamu jalan kesuatu tempat." Jawabnya dengan senyuman misterius. Membantu mengeluarkan belanjaan dari bagasi, juga membawanya masuk kerumah. Juga dengan cekatan menyusunnya di kulkas.


"Emang mau kemana sih? Jauh ya?" Tanyaku penasaran. Duduk diatas kursi menuang air lalu meminumnya. Melihat suami yang sibuk menata belanjaan pada tempatnya.


"Lihat aja nanti. Tak jauh kok." Jawab Reyhan yang udah selesai dengan kerjaannya. Ikutan duduk didepanku, yang membuatku tersipu malu diperhatikan olehnya.


"Ya udah kalo gitu. Aku mandi dulu, baru berangkat. Bauk." Pamitku pergi. Menghindari tatapan mata nya yang tanpa berkedip. Mengangkat tangan dan mencium ketiak sendiri yang bau keringat.


"Mandilah. Aku udah mandi." Jawabnya tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.


Setelah mandi dan Sholat asar, kami berangkat keluar rumah. Tak lupa Bunda diajak juga. Kasihan jika ditinggal. Antipasi kalo nanti pulang telat.


Kami menaiki mobil dengan Reyhan yang mengemudi. Aku hanya melihat pemandangan jalan yang asri. Diam. Sepanjang jalan hanya diam. Sesekali hanya ada lirikan mata untuk curi pandang dan saling melempar senyum saat ketahuan. Bunda pun hanya diam dengan wajah sedih melihat luar jendela. Entah apa yang dipikirkannya.


"Kita mau Karumah abah Ay?" Tanyaku saat menyadari mobil sudah hampir keluar dari desa kami tinggal. Melewati jalan yang biasanya kami tempuh jika kerumah abah.


"Nggk lah. Bentar lagi sampai." Jawab Reyhan melihatku sekilas dengan senyum manis terulas. Lalu kembali fokus pada kemudi dan jalanan.


"Ngapain kita disini?" Tanyaku heran.


Masalahnya didaerah ini termasuk pinggiran desa yang sudah jarang penduduknya. Tak ada tempat rekreasi atau berwisata. Juga tak ada tempat belanja yang terkenal, juga tak ada tempat makan yang menarik.

__ADS_1


Dulu aku cukup sering main kesini. Karena dijalur ini juga dulu Arfan tinggal dengan neneknya. Mobil berjalan mendekati rumah yang masih penuh kenangan bagiku. Entah kenapa hatiku makin tak nyaman.


__ADS_2