
Kini Rena dan Tasya sudah sampai rumah yang dituju, yaitu rumah Tasya. Hati sudah lega setelah berbagi kisah dengan teman. Sudah bisa tertawa kembali seperti biasa, meskipun hati tak sempurna bahagia. Ah, tertawa itu tak harus saat bahagia bukan? Namun tertawalah agar selalu nampak bahagia.
"Ternyata rumahmu tak jauh dari mas David ya?" Kata Rena saat sudah berhenti didepan rumah, dan melihat rumah belum jadi yang tadi disinggahinya. Rumah yang nampak pagar depannya dari tempatnya berdiri.
"Ya. Makanya cepat nikah, biar kita jadi tetanggaan." Balas Tasya dan masuk kerumah yang diikuti Rena.
"Tapi kalo dia tinggal disini bagaimana dengan usahanya ya?" Bertanya entah pada siapa. Berfikir sendiri.
"Mana ku tahu. Aku bukan ibunya, juga bukan kekasihnya. Paham usaha dia apa aja nggk, gimana mau tahu bagaimananya?" Jawab Tasya mengangkat bahu acuh.
"Gitu banget jawabnya."
"Emang harusnya gimana?"
"Assalamualaikum." Salam Tasya saat masuk rumah yang tak tertutup.
"Waalaikum salam. Lama banget yanx?" Jawab suaminya dari dalam, dan keluar melihat kedatangan istrinya.
"Iya, Ay. Maaf, tadi jemput teman dulu. Kenalin ini Rena." Memperkenalkan teman yang berkunjung.
"Owh, kak Rena ya?" Tanya Reyhan seakan pernah kenal dengan wajah Rena.
"Iya, aku Rena. Nggk usah panggil kak juga kali." Jawab Rena tak suka dengan embel-embel kak. Terkesan tua gitu. Padahal Rena dan Tasya masih tua Tasya lo. Selisih dua tahun antara Rena dan Tasya. Tapi itu tandanya Reyhan tetap lebih muda kan?
"Ya deh. Ya udah dienakin aja mainnya. Aku masuk dulu." Pamit Reyhan dan masuk kembali untuk nonton tivi bareng Bunda.
"Kita mau bikin rujak Ay." Kata Tasya menarik Rena masuk dapur, sekaligus izin pada suaminya untuk mengajak tamu kebelakang.
"Oh ya? Ya udah sana bikin. Nanti kalo udah jadi panggil, aku juga mau ." Jawab Reyhan mengusir dan kembali duduk disofa panjang depan tivi.
"Sip." Jawab sang istri dan berlalu kedapur.
Rena dan Tasya memilih buah yang akan dibuat rujak. Dikulkas ada timun dan bengkoang. Dan mengambil mangga muda pemberian tetangga yang masih ada tiga buah diatas meja. Juga pepaya mengkal yang baru metik dari belakang rumah.
"Kok suamimu tahu aku Sya? Kamu sering cerita ya?" Tanya Rena heran.
"Apa pentingnya cerita tentang kamu? Emang nggk ada hal menarik lain yang perlu dibahas?" Ketus Tasya.
__ADS_1
"Ini dikupas. "Perintah Tasya .Mengambil dua pisau untuk mengupas buah. Sedangkan Rena malah asik memperhatikan ruangan yang ditempatinya.
"Ini rumah baru ya Sya?" Komentar Rena akan rumah Tasya .
"Kok tahu?" Tetap asik mengupas mangga muda, sedangkan Rena hanya memegang pisau kecil tapi tak bekerja.
"Tahu lah. Eh, kok dapat mangga muda juga sih? Ada nanasnya juga nggk?" Tuh kan baru tahu kalo ada mangga muda? Padahal sudah satu buah berhasil dikupas Tasya.
"Mikirin apa sih kamu? Baru tau kalo ada mangga? dan nggk usah tanya yang nggk ada ya. " Sewot Tasya dengan tangan cekatan mengupas mangga.
"Mikirin kamu." Jawab Rena lucu, dan mulai ikutan mengupas pepaya.
"Jam berapa nanti pulang?" Tanya Tasya mengalihkan pembahasan, dan mencuci beberapa buah yang telah dikupas.
"Entahlah. Mungkin sore nanti. Tapi kalo aku ditinggal pulang duluan kamu mau ngantar aku kan?" Memasang muka sedih jika seandainya itu terjadi.
"Ditinggal?" Beo Tasya menghentikan memotong buah yang sudah dikupas dan juga sudah dicuci.
Rena menganggukkan kepala pelan dengan bibir mengerucut.
"Kalo ditinggal pulang. Stop mencintai dia, dan stop berharap bisa bersanding dengannya. Kalo sampai dia tega meninggalkanmu yang berangkat bareng dia, berarti benar katamu. Kamu mencintai orang yang salah. " Tegas Tasya sedikit emosi.
"Re. Kalo sampai itu terjadi, berarti dia itu lelaki brengsek yang tak layak diperjuangkan. Masih banyak lelaki yang lebih bertanggung jawab kok." Menyomot potongan mangga muda.
"Iya deh iya." Pasrah Rena, malas mendebatkan hal yang sudah sering diperdebatkan. " Ih, nggk masam apa Sya? Sejak kapan kamu suka buah asam-asam begini?" Rena yang bergidik melihat Tasya makan mangga muda langsung begitu.
"Nggk lah Re. Enak tahu. Tadi aku udah habis dua buah tahu. Tadinya dikasih lima biji sama tetangga, ni tinggal tiga biji aja." Jawab Tasya santai,memakan buah asam tanpa merasa kemasaman.
"Kayak orang ngidam aja Sya." Cetus Rena yang membuat Tasya terdiam.
"Kamu ni Re. Sama kayak orang yang ngasih buah ini. Dikira aku ngidam." Menunjuk potongan buah dengan tak suka.
"Kok bisa tetangga ngira kamu ngidam? Gimana ceritanya?" Menyiapkan bumbu untuk teman buah-buahan itu.
"Ya kemaren aku ngantar pesanan kerumah dia, aku lihat ada pohon mangga kecil tapi udah berbuah. Lumayan banyak lagi buahnya, sampai-sampai batangnya harus disangga kayu biar nggk patah. Ya aku hilang aja 'Seger kayaknya tu buah' Eh, paginya diantar. Biar anaknya nggk ngiler katanya." Cerita Tasya sudah berganti pekerjaan. "Aku bikinkan cheesecake ya untuk bawa pulang. Kangen kan sama cheesecake buatanku?" Menyiapkan bahan untuk buat cake kesukaan sahabatnya itu.
"Oke. " Rena yang menyiapkan buat bumbu rujak. "Tapi bisa jadi lo Sya. Udah hampir tiga bulan kan kamu nikah? Siapa tahu udah ada hasilnya kan?" Analisa Rena dengan mata berkedip menggoda.
__ADS_1
"Nggk mungkin ah. Perasaan belum lama aku masih haid kok." Sanggah Tasya beralasan.
"Emang tanggal berapa haidnya?" Pancing Rena.
"Tanggal berapa ya?" Berfikir, mengingat tanggal datang bulannya. Namun dia tak ingat.
"Lupa kan? Siapa tahu perasaanmu aja belum lama. Siap ni." Menyelesaikan tugasnya. Bekerja sambil cerita itu tak terasa udah selesai aja. Yang penting kerja semua, bukan cuma mulut yang kerja, namun tangan diam saja. Tak akan kelar pekerjaan.
"Masak sih? Nggk mungkin ah." Tak yakin, bahkan tak percaya tebakan sahabatnya.
"Emang kenapa kalo iya? Jangan bilang kamu KB?" Tuding Rena.
"Nggk mungkin lah, Re. Umurku sudah tak muda lagi, aku juga ingin punya anak kali." Jujur Tasya. Dan mengangkat adonan dan siap dimasukan oven.
"Baguslah kalo gitu."Menikmati makanan yang sedari tadi diidamkannya.
Tasya ikutan menikmati buah tanpa bumbu rujak, dan meraih ponsel melihat kalender.
"Tanggal berapa ya?" Mencoba mengingat, namun sayang dia tak ingat sama sekali. Selama ini dia tak peduli tanggal datang bulannya. Meskipun dulu dia pernah menghitung dan memperhatikan siklus bulanannya.
"Lama banget sih, Yanx. Malah makan disini ?" Datang Reyhan yang tak sabar menunggu makanan yang disiapkan sang istri dan kawannya. Eh, ternyata sudah jadi, tapi dimakan sendiri.
"Iya, Ay. Baru selesai itu tadi." Jawab Tasya hanya melihat sekilas Reyhan yang datang dan duduk disebelahnya. Sedangkan Rena duduk diseberang meja makan panjangnya.
"Kok malah tinggal main hp sih? Kasihan tu kawannya." Menegur istrinya yang mengabaikan sang teman.
"Lagi cari tanggal haid dia." Rena yang menjawab dengan cuek, tanpa menghentikan makannya.
"Tanggal? Emang dikasih tanda diHp?" Tanyanya Heran, dan ikutan melirik layar penuh ditangan istrinya, yang menampakkan deretan angka. Dan tak ada tanda apapun disetiap angka itu.
"Nggk." Jawab Tasya menggeleng pelan, dengan cengiran kecil.
Bersambung
_____
Selamat membaca.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar author makin semangat updatenya.
Like, komen, gift, dan vote nya.....