
Seperginya Rena dari rumahku, bibirku selalu mengulas senyuman. Ada debaran bahagia yang selalu menemani setiap menitku. Reyhan juga nampak sering menatapku penuh harap akan hal yang tak terucap. Hanya satu hal yang sebenarnya mengusik dan memenuhi pikiranku. Yaitu hamil. Itu cukup membuatku berkali lipat merasakan bahagia.
Aku hanya bisa berharap dan berharap. Belum bisa menyimpulkan apapun karena memang belum telat dari jadwal haidku. Meskipun aku tahu kalo ini sudah kelewat dari jadwal yang seharusnya, namun ini belum lewat dari tanggal haid bulan lalu. Namun memang siklus haidku tak sempurna sebulan, biasanya setelah dua puluh enam hari akan datang lagi. Begitu biasanya.
Hari-hari berlalu dengan perasaan harap-harap cemas. Selalu tersenyum lega setelah tak menemukan tanda kedatangan tamu bulanan.
Setiap kekamar mandi yang pertama ku lihat adalah ****** *****. Berdoa dan berharap tamu bulanan tak datang. Berharap Allah mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu. Memiliki buah hati diusiaku yang sudah cukup umur ini. Dengan atau tanpa cinta pada suamiku. Namun aku tetap berharap ada benih cinta dirahimku. Aku tetap memimpikan memiliki anak dengan cara halal dan baik.
Setiap keluar kamar mandi aku selalu tersenyum saat tak menemukan sedikitpun flek disana. Ingin segera mengeceknya namun ragu. Apakah sudah bisa diketahui jika baru beberapa hari telat datang bulan? Bukankah rata-rata orang akan mengecek dan memeriksakan diri setelah lama telat datang bulan? Harus telat berapa hari hingga bisa diketahui keberadaannya?
"Kenapa sih Yanx? Kayaknya ada beban gitu sih?" Tanya Reyhan yang berbaring diatas tempat tidur, sudah siap istirahat. Melihatku keluar kamar mandi dengan wajah ragu-ragu. Yang menandakan sedang memikirkan sesuatu.
"Nggk papa kok Ay. Istirahatlah udah malam." Perintahku dan ikut masuk kedalam selimut yang sama dengannya. Berbaring membelakanginya sambil memeluk guling. Ragu untuk memulai membahas hal anak dengan Reyhan.
"Yakin tak ada apa-apa? Tapi kayaknya kamu lagi mikirin sesuatu gitu?" Menarikku mendekat rapat dalam dekapannya. Menciumi kepala, membaui harum sampo dirambutku. Dia memang suka memainkan dan mencium rambutku. Aku pun suka dengan caranya memainkan rambut gelombangku.
" Apa iya? Sok tahu kamu lah Ay." Tetap membelakanginya, namun tak menolak pelukan hangatnya.
"Ya tahulah. Tiap hari aku melihatmu, pastilah paham kalo ada perubahan sedikit aja diwajahmu. Istriku ini kan bukan orang yang pandai berakting, juga bukan orang yang pandai berbohong. Jadi kalo ada masalah nampak jelas, seakan sedang tertulis disini. Beban." Menulis dikeningku dengan jarinya tanpa melihat. Yang membuatku bergidik ngeri.
Emang dia bisa melihat semua yang ku rasakan? Apakah dia juga tahu kalo aku sesekali masih memikirkan lelaki lain?
"Lebay lah Ay. Emang aku begitu ya?" Menyikutnya yang berbaring dibelakangku. Mustahilkan? Atau aku memang yang tak pandai menyembunyikan sesuatu?
Reyhan hanya tersenyum geli melihatku. Sama sekali tak mengaduh sakit akan sikutanku. Juga tak berniat menanggapi pertanyaanku.
Tangannya yang melingkari perutku mulai merabanya dengan lembut, seakan penuh kasih sayang dan penuh perhatian. "Atau sedang berharap disini sudah ada kehidupan? " Tanyanya lembut. Tanganku ikutan menyentuh tangannya yang mengusap lembut perutku yang masih datar.
Setiap perempuan pasti berharap menjadi ibu bukan? Aku pun salah satunya.
Bunda juga sering mengutarakan harapannya yang menginginkan agar aku cepat hamil.
Aku berbalik arah menghadapnya. Melihatnya yang tersenyum lembut, dan membiarkanku memberi jarak antara kami.
__ADS_1
"Entah lah Ay." Ucapku ragu.
Jika sedang bersama Reyhan begini aku sama sekali lupa kalo pernah ada Arfan dalam hidupku. Seakan selamanya aku akan hidup bersama Reyhan. Sudah membuang jauh harapan bersanding dengan Arfan. Menguncinya dibilik hatiku sebagai masa lalu tanpa harus membuangnya. Sedangkan Reyhan adalah masa depanku.
"Emang kamu maunya gimana?" Membelai rambutku, dan menyisipkannya dibalik telinga agar tak menutupi wajahku.
"Kok aku? Ay gimana maunya?"
"Kamu yang akan hamil sayang. Kalo Aku mah ngikut saja. Mau ikut program hamil aku setuju aja, kalo mau menunda dulu aku juga tak melarang. Asalkan kegiatan buat anaknya tak ditunda juga, tak dijadikan dulu tak apalah." Ucapnya penuh senyum licik dengan mata berkedip kedip menggoda. Tetap tak mau rugi kan ?
"Ih. Mesum deh. Malas aku." Mencubit pelan perutnya, dan menyingkirkan tangannya yang melingkariku. Merubah posisi berbaring telentang melihat awang-awang.
"Nggk boleh malas dalam beribadah sayang. Itu juga termasuk ibadah lo." Rayunya kembali menggeserku mendekat.
"Iya lah." Ucapku malas berdebat. Tapi ucapanku dianggap persetujuan olehnya, kini dia sudah memulai aksinya. Tangannya sudah bergerilya, aku menghentikannya. Memegang tangannya yang sudah merayap kemana-mana.
"Ay."
"Hemmz." Menghentikan tangannya karena aku cekal, namun gantian bibirnya yang mengambil alih pekerjaan. Aku tak bisa menolaknya, lagian tubuhku selalu bereaksi untuk membalas, bahkan meminta lebih. Aku sama sekali tak berniat menahannya.
"Loh?" Menghentikan aksinya, dan mengangkat kepala untuk melihatku dengan jelas. "Emang kalo hamil kenapa? Hamil ada suami kok repot. Kalo hamil tak ada suami baru perlu khawatir dan bingung. Ini hamil punya suami kok bingung. Alhamdulillah, sayang. Rahmat itu." Ucapnya santai menenangkanku.
"Tapi kan aku baru mau merintis usaha Ay. Nanti kalo terganggu gimana?" Alasanku.
"Ya. .... Nanti cari karyawan lah. Mau hamil atau nggk aku sarankan tetap cari karyawan yanx. Biar kamu nggk terlalu capek. Lagian sekarang pesanan lumayan banyak lo." Anjurannya.
Aku tersenyum senang memiliki suami yang baik seperti dia. Apa sih kurangnya Reyhan? Dia sama sekali tak kurang apapun. Mungkin hatiku yang kurang bersyukur akan karunia ini.
"Tapi kalo belum jadi kamu nggk kecewa kan?"
"Kecewa pada siapa? Pada Tuhan yang belum memberikan amanah? Emang siapa saya berhak untuk kecewa akan ketentuan-Nya?" Ucapnya menegaskan perasaannya.
"Kalo menurutmu kira-kira gimana?"
__ADS_1
"Nggk usah ngira-ngira. Besok kita periksa. Atau mau aku beli testpack sekarang? Mumpung belum terlalu larut ini." Tawarnya sudah bangkit duduk.
"Nggk lah Ay. Sudah malam ini." Tolakku tak enak hati.
"Ya nggk papa lah. Dari pada istriku ini tak bisa tidur karena penasaran? Atau besok kita kebidan untuk konsultasi? " Menawarkan pilihan yang lain.
"Emmm..." Menimang dan memikirkan mana yang lebih enak dan nyaman ya?
Kalo kebidan malu nggk ya? Aku belum pernah konsultasi apapun pada bidan tentang program hamil. Lagian pernikahanku belum lama. Kalo Testpack bisa periksa mandiri.
"Jangan kelamaan mikirnya. Nanti keburu tutup."
"Beli testpack aja lah. Tapi aku malas, Ay sendirian tak apa kan belinya? " ucapku tersenyum memelas. Aku malu kalo beli hal begituan. Belum pernah soalnya. Bukankah Reyhan juga belum pernah?
"Ya." Tanpa beban Reyhan menarik jaket dan pergi. "Mau pesan yang lain?" Kembali nongol dipintu.
"Emmm apa ya? Nggk ada lah." Jawabku setelah berfikir sejenak. Sebenarnya ada dua bahan kue yang sudah habis, namun tak enak hati kalo menyuruh suami belanja bahan dapur.
Tak lama Reyhan pergi. Tak lebih dari tiga puluh menit dia sudah kembali lagi. Membawa sepuluh alat cek kehamilan dengan merk yang berbeda-beda.
"Kenapa banyak sekali Ay?" Protesku saat mendapatkan banyak alat alat yang baru kulihatnya
"Ya siapa tahu mau seminggu berturut-turut cek urine biar lebih meyakinkan hati. Atau mau sekali pake sepuluh itu juga terserah." Jawab Reyhan dan kembali berbaring memelukku setelah memberikan benda yang dibelinya.
Aku mengambil salah satu itu. Membaca cara pakainya dan kapan kira-kira memakainya. Lalu meletakkan nya kembali setelah paham.
Bersambung...
_______
Makasih sudah mampir.
Jangan lupa klik 💗 , dan 👍👍👍
__ADS_1
Koment, gift, dan votenya juga ya.