
Malam menjelang. Matahari telah terganti rembulan. Gelap sempurna menyelimuti bumi. Meskipun kini tak benar-benar gelap. Gemerlap lampu pijar menjadi penerangan. Terpasang disetiap ruangan, juga disepanjang jalan. Membuat malam lebih berwarna dan menarik.
Reyhan memenuhi janjinya. Membelikan kursi roda baru untuk bunda. Nampak senyum bahagia terpancar dari wajah keriputnya, yang masih menyimpan gurat kecantikan. Pasti bahagia bukan? Bisa pergi kemana pun tanpa menunggu kedatangan sang anak. Bisa menghirup udara luar yang bebas dari pengapnya kamar sempit. Mau kekamar mandi pun tak perlu menunggu sore. Tak harus menikmati penuhnya diapers.
Tapi sayang. Kursi roda itu dikirim lewat kurir. Suamiku tak ikutan pulang hingga malam menjelang. Katanya ada rapat beserta kepala yayasan, sesuai pesan yang dikirimkan.
Setelah menemani bunda makan malam, aku memilih masuk kamar. Membaca buku. Membiarkan bunda istirahat.
Ting.
Suara ponselku. Menandakan ada pesan masuk.
Rena.
Sya, lo yakin mau resign?
Isi pesan chat dari sahabat kantor. Pesan yang dikirim secara pribadi, bukan lewat group kantor yang selalu rame. Meskipun aku tetap hanya menjadi pembaca setia obrolan aja. Tak minat ikut nimbrung.
Ya yakin lah. Emang kenapa?
Ketikku sebagai balasan. Dia sedang online. Jadi langsung membalas pesanku.
Rena
Disuruh ama laki lo ya?
Tak asik lah tak ada lo. 😥
Mau gimana lagi? Perintah suami harus dituruti. Dimanjakan ini namanya. Suruh stay dirumah aja biar nggk capek.
Sok bahagia lo! Padahal bosen dan kesel banget dikurung dirumah dengan ibu mertua. Tak bisa bebas bepergian seperti dulu. Protes hati.
Rena
Halah. Gaya lo. Tapi tak apalah, besok aku juga gitu.
Gitu gimana?
Rena
Ya, jadi ibu rumah tangga yang baik. Cukup ngurus anak dan suami.😁
Ya lah. Terserah lo. Ditunggu kabar baiknya.
Rena
Doakan segera. Tapi jangan jadi sombong lo ya! Kalo aku chat dan telpon jangan dicuekin.
Sip.
__ADS_1
Rena
Lain kali main-main lah sini. Kami kangen semua lo sama kamu.
Iya. Tak janji tapi.
Asik chatingan mengobati bosan. Hingga ganti topik pembahasan dan cerita Rena tentang kemajuan hubungan dengan gebetannya. Hingga menceritakan suasana kantor selama aku pergi. Hot gosip yang beredar disana.
"Chatingan ama siapa sih?" Suara Reyhan yang mengagetkanku.
Aku menoleh melihatnya yang sudah duduk diatas kasur sebelahku. Bahkan dia sudah segar setelah mandi.
"Udah pulang? Kok aku tak tahu kamu masuk?" Heranku. Karena aku tak dengar dia masuk kamar.
"Gimana mau tahu? Yang dilihat cuma hp terus." Cebiknya. Dan merebahkan badan disebelahku. Raut mukanya sedang tak baik-baik saja. Sedang menahan marah kayaknya ini.
"Ya maaf. Kenapa muka kusut gitu?" Mematikan ponsel dan menyimpannya. Duduk menghadapnya yang berbaring telentang dengan menyikukan tangan kanannya untuk dijadikan bantal.
"Gimana nggk kusut? Pulang malam, capek, laper. Lihat istri sibuk main hp. Boro-boro disambut, sadar suami pulang aja kagak. Mau makan tak ada makanan. Kamu nggk masak?" Cerocosnya yang bikin aku melongo tak percaya. Protes dengan mode ngambek dan merajuk. Gini amat ya punya suami brondong?
Soal dia datang tanpa ku sadari, memang aku mengaku salah. Terlalu asik chatingan hingga tak sadar suami pulang. Tapi soal lapar dan tak ada makanan? Sumpah aku masak tadi lo. Banyak malahan. Bahkan aku sendiripun belum makan karena ingin makan bersama dengan suami. eh?
"Kamu ngomong apa sih, Rey? Aku tadi sore masak banyak lo." Bangkit dari tempat tidur dan keluar menuju dapur. Berniat membuktikan kalo aku bukan istri pemalas.
"Panggil suami yang sopan. " Protesnya , dan berjalan membuntutiku masih dengan muka manyun.
"Ni, ba..." Membuka tudung saji yang tadi sore penuh hasil masakanku. Namun ucapanku berhenti saat dibawah tudung saji itu kini sudah kosong melompong. Sama sekali tak ada makanan.
Aku menutup kembali tudung saji dengan bingung. Gantian kebelakang melihat tempat cuci piring yang ternyata sudah menumpuk. Mangkuk dan piring yang aku ingat sebagai tempat menu makan malam sudah teronggok cantik disana. Aku menghela nafas dalam dan berjalan kembali menemui suamiku.
"Kenapa?" Tanya Beti yang membuka kulkas mengambil minum dingin. Dan mendapat tatapan horor dari kami berdua.
"Kamu yang habisin semua makanan? Kenapa nggk disisain sih? Kan tadi aku masak banyak." Cercaku kesal. Dia malah tetap santai meneguk muniman dingin dan menutup kulkas dengan keras.
"Heh. Kamu punya telinga nggk sih? Dengar aku ngomong nggk?" Seruku marah.
Kan aku yang jadi kena omel karena tak ada makanan saat suami pulang. Padahal aku udah melakukan tanggung jawab dan kewajiban. Eh, malah dihabisin ama ni orang. Mana habis makan tak cuci piring lagi. Berasa kayak pembantu aku disini.
"Sut. " Meletakkan jari dimulutnya, memerintah diam.
Ih, songong ni anak ya. Aku menggerutu kesal. Melihat suami yang hanya menarik nafas dalam.
"Ngomongnya bisa santai nggk? Cuma makanan aja dimasalahkan banget sih. Kayak kehilangan berlian aja." Santai kali ngomongnya. Dengan tangan bersidekap didepan dada. Tak tahu orang lagi emosi apa? Shombong banget lah.
"Ya tapi tadi aku masak banyak lo. Kenapa bisa habis semua? Kalo makan ingat yang lain juga dong. Kan dirumah nggak cuma kau doang." Tudingku pada wajah sengaknya itu. Ih, geregetan saya.
"Namanya juga lapar. Kalo situ juga lapar masak lagi aja sana. Dasar orang pelit. Makanan aja diperhitungin banget." Mengibaskan tangan dan melenggang pergi.
Udah ngabisin hasil masakanku, dan masih sempat ngatain pelit? Yah gimana nggk perhitungan? Semua bahan masakan aku yang beli dengan uang pribadi. Dia tak mau patungan sama sekali. Bantuin masak apa lagi. Nambah kerjaan iya. Mendingan tetap ngantor lah kalo gini ceritanya. Dapat gaji lagi, la ini?
__ADS_1
"Heh. Sial...."
"Udah." Reyhan nampak sekali malas berurusan dengan kakak iparnya itu. Dan memintaku diam saat ingin melanjutkan memaki tu anak yang tak tahu malu. Menarikku untuk tak mengikuti dan memaki tu kakak tak berakhlak.
"Kenapa kamu cuma diam aja sih. Bela kek istrinya." Marahku plus sebal. Dia malah cuma duduk santai menikmati kemarahan istrinya.
"Udah lah. Maklumin aja, masih kecil dia tu."
"Owh. Berarti kamu nikahin aku yang udah TUA ini biar nggk banyak memaklumi ya?" Makin naik pitam aja aku dengar pembelaannya.
"Ya nggk gitu juga kali." Tak punya alasan untuk membela diri. " Udah lah. Kalo Bunda udah makan belum?" Mengalihkan pembahasan.
"Udah."
"Kalo kamu?"
"Kira-kira?" Masih ketus dan duduk dikursi sebelahnya.
"Makan diluar yok. Sekalian jalan-jalan." Ajaknya membujuk dengan menampilkan senyum terbaiknya, dan mengusap perutnya untuk minta pengertian kalo dia sedang lapar.
"Tak lapar." Bangkit dan berjalan kembali kekamar.
Udah terlanjur marah. Malas mau ngapa-ngapain. Enakan tidur. Meskipun sebenarnya perut juga keroncongan minta diisi. Tapi tak peduli, tetap naik dan merebahkan badan diatas kasur.
"Ayoklah ,sayang. Tak enak tahu makan malam sendirian diluar. lapar ni." Suara mode merayu.
Aduh. Panggilan keramat itu akhirnya keluar juga. Panggilan yang membuatku tersenyum tipis dibalik bantal. Entahlah. Rasanya ada desiran halus dihati saat mendengar panggilan itu.
"Yank. " Sudah menyusul berbaring dibelakangku, dan tangan mulai melingkari perutku. Yang membuat bulu kuduk meremang seketika.
"Malas." Menepis tangannya sebelum badanku bereaksi lebih. Memindahkan jauh-jauh.
Oh jantung ada apa denganmu? Apakah kamu sudah mulai tertarik dan mencintainya? Entah karena cinta atau bukan semua reaksi ini. Bukankah tubuh akan tetap bereaksi diluar nalar jika disentuh seintim itu oleh orang lain? Apalagi aku yang sedari dulu selalu menjaga jarak dengan lelaki. Tak pernah interaksi dekat dengan mereka.
"Ayok lah. Mau masak lagi atau temani makan diluar?" Memberikan pilihan yang keduanya tak ingin ku pilih.
Udah malam-malam gini diminta untuk masak? Meskipun aku suka masak. Tapi malas juga kali. Lihat waktu lah.
"Sayang." Suara lembutnya yang terasa dekat ditelingaku. Yang membuat telinga terasa gatal dan geli. Dan tangan kembali melingkari perutku, dan jemari bergerak menggelitik. Bahkan bisa kurasakan dadanya yang menempel dipunggungku.
Aduh. Bisa mati aku. Habis ini nanti.
"Apaan sih Rey." Berseru protes. Membalik badan dan mendorong tubuhnya, yang sialnya tak bergeser sama sekali.
"Kalo gitu makan kamu aja lah." Tuturnya dengan seringaian mengerikan. Tangannya makin mencekal kuat. Semakin ku dorong, dia semakin mengeratkan pelukan.
Aku ngeri sendiri melihatnya. Gugup dan takut.
"Iyalah iyalah. Ayok makan diluar." Melepaskan diri dan bangkit pergi. Mengalah juga, dari pada aku yang harus jadi santapannya? Karena dia langsung melonggarkan tangannya saat aku menyetujui permintaannya.
__ADS_1
Dia hanya terkekeh melihat reaksiku. Yang membuatku mendelik kesal.