
Aku melihat sekitar. Tempat yang masih sama seperti bertahun lalu saat aku datang kemari. Hanya satu yang berubah, pohonnya makin besar-besar, hingga tempat ini makin terkesan ngeri. Selebihnya masih sama.
Sejak tinggal didaerah ini , baru dua kali aku datang kemari. Kemaren saat bertemu dengan Rena, dan yang kedua yaitu sekarang ini. Reyhan tak pernah mengajakku main ke tempat wisata. Aku pun juga tak pernah meminta atau berinisiatif mengajaknya.
Bagiku tempat ini makin menarik saat sore hari. Memang waktu sore suasana terkesan seram bagi yang takut gelap. Namun saat sore hari, banyak burung-burung pemakan ikan beterbangan diatas danau. Itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta binatang. Namun tetap saja jarang orang yang datang , apa lagi menjelang petang. Sudah kalah dengan isu angker yang terlanjur beredar luas.
"Disini tak semenyeramkan itu kan, Mel? Coba lihat ." Kataku menunjuk belasan burung tengkek yang beterbangan, dan beberapa menukik terjun menangkap mangsa.
Aku tersenyum. Tempat ini selalu menyenangkan untukku. Bukan karena tempatnya, juga suasananya. Namun lebih pada sejarah kenangannya. Disini sering menjadi tempat pilihan saat kami berkencan dulu. Dulu cukup banyak anak muda yang datang kemari. Tapi entah apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir? hingga tempat ini bener-bener sepi. Mungkin pernah ada kejadian menakutkan.
"Waw... Kok aku baru tahu kalo sore hari banyak burung disini. Warnanya cantik, mbk." Seru Amel takjub melihat ujung pinggiran danau. Matanya berbinar dan tersenyum riang melihatnya.
"Bangunkan dia Mel." Perintahku mengingatkan pada tujuan kami datang kemari, dan aku memilih duduk tak jauh dari bangku panjang itu. Kakiku rasanya sudah tak kuat menopang badan. Namun melihat pemandangan diatas air danau itu membuat pusing dikepala sedikit berkurang. Rasa bahagia memang menjadi obat paling ampuh untuk semua rasa sakit bukan?
"Eh, kok aku mbk?" Protesnya dan menunjuk dirinya sendiri. Nampaknya dia sedikit keberatan ku suruh membangunkan orang yang akan kami temui itu. Mungkin dia sudah malas berurusan lagi dengannya.
"Iya, lah. Dari pada nungguin dia bangun sendiri? Sampai malam nanti kita disini. Mau kamu?"
"Nggk mau lah mbk. "Jawabnya cepat dengan wajah takut dan melihat sekitar dengan tatapan ngeri.
"Makanya cepetan. Bangunin aja, aku yang ngomong." Perintahku lagi. Aku mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan keindahan senja didanau ini. Tersenyum melihat burung berbulu kemerahan itu terbang berputar, dan ada juga yang bertengger diranting ditepi danau.
Bibirku melengkung mencipta senyuman saat melihat ada yang menukik turun, dan naik kembali sudah mendapatkan makanannya. Ada juga yang hanya sekedar meminum sebelum kembali kesarang.
"Mbk. Sudah." Ucap Amel yang sudah menyusul duduk disampingku. Aku tersenyum melihatnya, lalu mematikan ponsel setelah merasa mendapatkan gambar yang ku mau.
__ADS_1
"Ekhem." Deheman pelan dari bangku yang ada disebelah sedikit jauh, yang membuatku menoleh menatap punggung yang sedang duduk membelakangi kami, menunduk merapikan pakaiannya, dan mengusap wajahnya.
Aku mengernyitkan kening. Berpikir. Apakah aku pernah mengenalnya? Hingga dia begitu ingin ketemu aku? Namun aku merasa tak pernah mengenal postur tubuh itu. Tapi entah dengan wajahnya. Karena pria itu belum juga menghadapku. Malah sibuk memperbaiki penampilan dengan menyisir pelan rambutnya yang menurutku sudah rapi.
Aku mengumpulkan kekuatan untuk berjalan mendekat. Menyapanya dan menuntaskan urusan secepat mungkin. Badanku sudah merindukan kasur ini. Ingin rebahan lagi.
"Maaf, pak. Langsung aja, kami kemari untuk meminta bayaran dari pesanan yang sudah bapak terima." Ucapku tanpa basa basi. Hari sudah mulai sore. Siapa pula yang mau lama-lama ditempat beginian dengan lelaki asing? Bagaimana pun juga aku adalah perempuan bersuami. Tetap punya rasa takut untuk berinteraksi dengan lelaki lain, meskipun itu urusan bisnis. Ingin cepat kelar, dan pulang.
Lelaki itu tampak mematung sesaat mendengar ucapanku, menurunkan tangannya yang sibuk menyisir rambutnya yang cukup panjang untuk ukuran lelaki. Lalu perlahan memutar badan dan sempurna melihatku. Tersenyum manis kearahku, lalu menggeser duduk keujung. Menyisakan tempat kosong disebelahnya.
"Apakah kamu tak ingin duduk sejenak ? Aku ingin bicara sebentar sama kamu. Untuk bayaran aku janji nanti aku akan bayar, plus bonusnya. " Ucapnya dengan tersenyum manis, menepuk ruang kosong disebelahnya.
Deg. Jantungku seakan berhenti berdetak melihat raut wajah dihadapanku. Namun sesaat kemudian berdetak cepat , tak karuan. Aku terpaku. Memperhatikan lelaki yang tak asing bagiku.
"Duduk bentar sini. Ada yang ingin aku bicarakan." Ucapnya lagi dan meraih tanganku untuk memaksaku duduk disisinya. "Tenang, aku hanya ingin duduk berdua. Tak akan lebih." Lanjutnya lagi dengan tawa pelan.
Aku masih ingat betul. Dulu aku sering protes saat dia peluk-peluk, atau curi-curi ciuman. Senakal-nakalnya aku, aku tetap tak ingin melampaui batas syariat. Meskipun setatusnya pacaran, namun cukup pegangan tangan. Tak ingin lebih. Meskipun Arfan terkadang tetap nakal suka curi-curi yang lebih. Namun sebatas pelukan, atau ciuman dipipi.
"Arfan?" Lirihku. Hanya itu suara yang mampu keluar dari mulutku. Rasanya aku tak percaya dengan apa yang ku lihat kini. Tak percaya kekasih hati benar-benar ada dihadapan kini. Aku masih belum menguasai situasi. Padahal sebenarnya banyak hal yang ingin ku ku ceritakan, juga banyak hal yang ingin ku tanyakan. Namun lisanku seakan kehilangan kata-kata. Otakku tak mampu berfikir cepat.
"Iya. Aku Arfan mu, Thata." Sahutnya meyakinkan.
Rasanya kakiku makin melemas. Tenaga yang tadi kukumpulkan untuk melangkah hilang sempurna. Aku bener-bener terkejut akan kenyataan ini. Arfanku masih hidup. Dia masih ingat aku? Tapi kemana saja dia selama ini? Kenapa dia membiarkanku menunggu bertahun-tahun tanpa kabar dan kejelasan? Hingga membuatku harus menerima pernikahan ini.
"Eh kenapa?" Tanyanya menangkap badanku yang luruh jatuh. Tulang kakiku sudah sempurna tak kuat menopang berat tubuh. Mataku tak beralih dari wajah yang kini dekat denganku. Meyakinkan diri kalo ini adalah kenyataan. Bukan mimpi atau hayalan.
__ADS_1
"Mbk. Mbk nggk papa?" Suara panik Amel yang terdengar menghawatirkan. Namun tak mendekat karena mendapat pelototan tajam dari Arfan yang memerintahnya diam ditempat.
"Sini duduk dulu." Membimbingku duduk dibangku yang tadi didudukinya. Aku tak menolaknya saat dia menuntunku. Otakku sedang tak bisa berfikir normal. Tak bisa membedakan mana yang boleh ku lakukan dan mana yang dilarang. Aku hanya membiarkan tubuh bereaksi sesukanya.
Apakah aku bahagia? Entahlah. Aku tak tahu pasti apa yang kurasa. Aku tak melupakan setatusku yang kini sudah menjadi seorang istri orang. Bahkan bentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Namun kenyataan ini tak membuatku menolak perlakuan manis Arfan padaku kini.
Seandainya aku mau bersabar sedikit lagi. Mungkin aku akan benar-benat bahagia. Jika aku memilih bersabar sedikit aja. Mungkin aku bisa membina rumah tangga dengan orang yang benar-benar aku cinta. Namun, bukankah hidup tak perlu kata andai? Jika andai itu berlaku. Aku memilih mengandai jiak perpisahan itu tak pernah ada. Hingga tak perlu ada penantian panjang dan air mata . Tak perlu ada pernikahan ini. Namun sayang, kata andai hanya sebuah hayalan yang tak mungkin menjadi nyata.
"Kamu benar Arfan?" Tanyaku dengan suara tercekat, bibirku bergetar tak yakin dengan kenyataan.
Apakah aku bahagia? Tapi ternyata rasa marah yang lebih mendominasi saat bertemu lelaki yang selalu ku tunggu.
"Aku Arfan ,sayang. Apakah kamu melupakanku? Padahal aku selalu merindukanmu lo." Gombalnya yang membuat hatiku trenyuh. Mataku membasah, dan isak kecil terdengar. Ku rasakan dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku tak menolak.
"aku juga merindukanmu Arfan. Bertahun-tahun aku selalu merindukanmu. Namun kenapa baru kini kamu datang dan bilang rindu? Selama ini kamu kemana? Aku hanya bisa bersuara dengan hati. Lisanku masih kelu tak mampu menyampaikan maksud hati.
Aku tak bisa mendefinisikan perasaan yang ku miliki saat ini. Ada rasa bahagia, rasa sedih, rasa marah, rasa kecewa. Semua berbaur menjadi satu.
Bersambung...
Happy reading.
jangan lupa tinggalkan like dan komentnya. Atau hadiah dan votenya. ..
Makasih....🤗🤗
__ADS_1