
Ternyata ancaman dari abah ampuh sekali. Perlahan pintu kamar terbuka , dan memperlihatkan Marta yang jauh dari kata rapi. Matanya sembab, hidungnya memerah, rambut acak-acakan, memakai celana jins dan tunik selutut, menandakan kalo dia belum mandi, kerena belum memakai baju rumahannya. Marta mempersilahkan abah masuk. Lalu pintu ditutup pagi.
Tasya dan kak Ina membersihkan ruang makan. Mengganti dengan makanan penutup beserta kue bawaan Tasya. Tumben-tumbenan ada makanan penutup ini. Hari spesial.
"Emang sejauh apa sih hubungan Marta dan pacarnya? Kok sampai segitunya?" Tanya Tasya yang kembali duduk setelah menyingkirkan piring kotor. Reyhan beserta bang Bagas juga masih duduk ditempat yang sama.
"Entahlah. Lagian dulu kamu kayak apa?" Jawab bang Bagas menyindir sambil menyeruput kopi panasnya. Yang membuat Tasya merengut dan melirik Reyhan yang tetap diam menikmati puding.
"Ummi, aku mau itu." Seru Tama menunjuk kue yang sedikit jauh darinya. Tak sampai meraihnya.
"Okey." Kata kak Ina mengambilkan makanan keinginan anaknya.
"Tak mau kecil. Mau yang besar." Menolak saat hanya diberikan potongan tipis dari bolu pandan.
"Ini dihabiskan dulu. Nanti kalo kurang boleh ambil lagi. " Jawab kak Ina menasehati. " Kalo langsung ambil banyak nanti nggk habis lo. Mubazir. Orang mubazir itu kawannya setan. Adek baru habis makan nasi lo. Nanti nggk habis. Mau jadi temannya setan?" Tambahnya, yang dijawab gelengan pelan Tama.
"Aku istirahat duluan ya. Capek banget rasanya. " Pamit Tasya yang badannya minta direbahkan barang sejenak.
"Istirahatlah. Ibu hamil muda itu harus banyak istirahat."Kata kak Ina menasehati.
"Tapi nggk teler kan dek? Masih doyan makan? Tu umminya Tama dulu teler total. Semua makanan tak doyan, bawaannya marah-marah aja kalo lagi punya energi, kalo lagi nggk ada energi ya, nangis." Tanya bang Bagas dan menceritakan sekilas kisah istrinya waktu hamil.
"Alhamdulillah sih. Tasya biasa aja. Cuma memang lagi lelah aja." Reyhan yang menjawab.
"Belum kali. Kakak dulu mulai tak bisa ngapa-ngapain itu hamil tiga bulan keatas. Umur kehamilan sebulan kayak Tasya gini masih enjoy, semua makanan masih masuk. Ngapain aja bisa. Tak ada keluhan." Bantah kak Ina.
"Beneran begitu kak? Katanya morningsicknes itu hanya ditrimester pertama kak?" Tanya Tasya sedikit panik dan tak percaya. Takut juga kalo dirinya begitu. Bagaimana nasib usaha yang baru dirintisnya? Padahal baru mulai berkembang. Masa harus tutup dulu? Pelanggan setia bisa kabur dong. Mau ngandalin Nita dan Amel? Mereka belum lama belajar.
"Ya, kalo kakak dulu begitu." Jawab kak Ina santai, sambil mengambil satu lagi potongan kue saat Tama memintanya. Tu anak kecil makannya banyak juga ternyata.
"Semoga istriku nggk lah." Doa Reyhan melihatku. Kayaknya dia tak mau jadi suami yang repot ngurusin istri yang sakit karena hamil.
"Amien."
"Ya udah sana istirahat dulu, siapa tahu nanti hilang capeknya. Atau mau ditemani?" Perintah Reyhan dan menawarkan diri untuk menemani.
"Tak usah, Ay. Aku istirahat sendiri aja. Lagian bentar lagi Adzan isya."
Tasya masuk kamar untu merebahkan diri, meskipun tak berniat tidur. Tak baik tidur sebelum sholat isya.
__ADS_1
Sedangkan Reyhan dan bang Bagas sudah pindah keruang tamu untuk melanjutkan cerita. Sedangkan kak Ina menyimpan kembali makanan yang masih tersisa. Siapa tahu nanti malam ada yang mau makan lagi.
Didalam kamar Marta ,Abah membuang nafas berat menatap anaknya yang tak biasa. Meletakkan makanan dan minuman diatas meja kecil samping tempat tidur. Sedangkan Marta kembali naik ketempat tidur, dan duduk menyandar disana. Selalu menghindari tatapan mata Abah.
"Kamu sakit apa? Kita kerumah sakit ya? Biar cepat sembuh." Bujuk Abah memegang kening Marta yang hangat.
"Marta udah periksa sebelum pulang Abah. Cuma meriang aja, Udah dikasih obat kok. Nanti juga sembuh." Jawab Marta menenangkan. Padahal dia hanya beli obat penurun demam diapotek tadi.
"Ya udah kalo gitu. Sekarang makan dulu, nanti obatnya diminum." Menyodorkan piring yang penuh makanan, namun Marta mendorongnya menjauh, tak minat makan.
"Nanti aja aku makannya ,Bah."
"Harus dimakan sekarang. Atau mau abah suapin?" Tawaran abah menyodorkan sendok penuh nasi dan lauk ke mulut Marta.
"Aku sudah besar Abah. Bukan anak kecil yang harus disuap." Menolak, dan memalingkan muka tak mau membuka mulut.
"Apa salahnya sih? Kamu lagi sakit. Sesekali biar abah suapin. Dulu kamu selalu makan banyak jika disuap. Abah suapin.. Aaaa .... Buka mulutnya." Perintah abah. Marta menurut. Dia juga kangen dimanja sama abah.
Abah sangat perhatian dengan semua anaknya. Apa lagi saat salah satu dari mereka ada yang sakit. Yang membuatnya sedih saat anaknya sakit adalah kenangan akan almarhumah istrinya. Dulu istrinya yang selalu ada menemani sepanjang hari saat ada anaknya yang sakit. Meskipun dia tak bisa selembut dan sesabar istrinya dalam menyikapi anak-anaknya. Dia berusaha sabar dan ada untuk anaknya. Menggantikan peran seorang ibu.
Jika ada Ibu. Aku tak akan sesedih ini saat ada anak yang sakit. Aku jadi kangen ibu. Batin Abah mengenang istrinya yang sudah berpulang. Saat-saat melihat anaknya sakit, sedih, atau saat mereka ada masalah. Abah selalu ingat dan rindu pada mendiang istrinya. Rindu ketelatenan istrinya yang tak bisa dilakukannya.
Saat menyuapi Marta, mata abah menangkap ponsel Marta yang tergeletak diatas kasur. Layar ponsel nampak menyala dan berkedip berulang tanpa suara maupun getaran. Nampak ada panggilan masuk dengan nama kontak Mmz . Sesaat kemudian sudah berhenti dan layar penuh itu kembali menggelap. Abah tak bertanya macam-macam, tetap menyuapi Marta dengan tenang.
"Ini masih banyak ,Nak. Makan dikit lagi." Bujuk Bah.
"Marta udah kenyang." Menolak dengan tegas.
" Ya udah. Mana obatnya?" Tanya abah dan meletakkan piring diatas meja kembali. Tak memaksa.
" Di Tas slempang tadi. Mana tas Marta tadi?" Mencari tas yang tadi dibawanya.
"Ini tas." Kata Abah mengambil tas yang tergeletak dekat ponsel.
Abah ikutan naik ketempat tidur putrinya dan menggeledah tas untuk mencari obat yang dimaksud. Abah kembali melirik ponsel yang kembali menyala dengan kontak pemanggil yang sama.
"Hp mu dari tadi ada yang telpon. Kenapa tak diangkat? " Tanya Abah mencoba mengorek masalah Marta. Pastilah ada apa-apa dengan penelpon itu. Tapi sayang tak tertulis namanya dalam kontak itu, juga tak ada gambar penelpon.
"Biarin aja bah. " Ucap Marta tak minat. "Mana obatnya bah?" Mencoba mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
"Emang kenapa? Dia teman kamu? Atau kamu merasa terganggu dengan telponnya?" Abah tetap mengintrogasi.
"Udah lah bah, cuekin aja. Marta belum ingin bicara dengan dia. " Marta menundukkan kepala dengan mata yang kembali berkaca.
Dia udah lama tak hubungin Marta, bah. Bahkan minta sedikit memberi jarak dengan alasan agar Marta bisa fokus belajar dan cepat selesai. Ternyata dia jalan sama teman Marta. Dia pembohong. Jahat. Maki Marta hanya berani dalam hati. Mengusap matanya yang kembali basah.
Abah menebak kalo ini pasti dari pacar yang tadi dibicarakan menantunya itu. Menantunya bilang kalo Marta punya pacar.
Abah mengambil ponsel yang masih menyala. Namun belum sempat menjawab ,panggilan sudah berakhir. Disana sudah tertera ada lima puluh panggilan tak terjawab.
"Dia teman dekat kamu?" Tanya Abah lembut. Tak ingin memarahi anaknya yang sedang sedih. Hanya ingin anak gadisnya sudi cerita dan berbagi beban hatinya pada Abah.
"Dulu."
"Kalo sekarang? Udah putus?"
Marta hanya diam. Apa yang harus dia jawab? Dia sakit hati melihat pacarnya jalan bareng dengan temannya yang terang-terangan mengutarakan isi hatinya menyukai kekasih Marta. Tapi dia dan kekasihnya belum putus hubungan.
"Dia selingkuh abah." Hanya berani menjawab dalam hati.
"Jika memang kamu sudah tak peduli lagi dan tak sayang lagi sama dia. Kenapa kamu menangis? Jangan buang-buang air mata hanya untuk menangisi orang yang tak kamu cintai. Kalo memang kamu Cinta sama dia, angkat telponnya, dan bicara baik-baik untuk menyelesaikan masalah. Jangan menyiksa diri sendiri. Mungkin dia akan menjelaskan sesuatu. Lihatlah, sudah puluhan kali dia mencoba menelpon.
"Abah percaya putri abah bisa menjaga diri.Meskipun dulu abah melarang kalian pacaran, tapi Abah tak melarang putri abah jatuh cinta pada lelaki. Itu normal nak. Dan kamu sudah besar, nak. Kamu berhak memilih calon suami kamu." Nasehat Abah lembut dan mengelus pelan rambut putrinya untuk menenangkan.
"Beneran bah?" Tanya Marta dengan mata berbinar. Namun meredup lagi mengingat apa yang dilihatnya siang tadi.
"Ya benar dong. Kapan abah main-main dengan beginian. kalo memang kamu serius sama pilihan kamu. Bawa dia kemari untuk menemui abah. Abah ingin tahu lelaki seperti apa pilihan kamu itu. Tapi bukan berarti abah langsung merestui, abah perlu kenal dulu dengan dia, baru abah putuskan dia layak atau tidak jadi menantu abah."
"Yah, abah,,." Kecewa.
"Kenapa? Abah hanya ingin kamu mendapatkan lelaki bertanggung jawab nak."
"Ntah lah bah. Marta tak yakin dia serius atau tidak sama Marta. " Adu Marta dengan muka sendu.
"Makanya bicarakan dulu dengan dia. Jangan sampai kayak kakak kamu yang ditinggal pergi tanpa kabar. Tapi tetap harus tahu batasan , nak. Jangan bikin malu. "
"Marta tahu abah."
"Ya kalo gitu cepat ajak kerumah. Jangan pacaran lama-lama. Nanti jadi Zina. Kalo dia tak serius tak usah ditangisi. Besok abah carikan lelaki yang terbaik untukmu. " Perintah abah.
__ADS_1
" Ih, abah deh."
"Ni dia telpon lagi. Sana diangkat. Abah mau kemasjid dulu. Udah adzan tu."