
"Nggk." Jawab Tasya menggeleng pelan.
"Tanggal dua belas bulan lalu. Sekarang masih tanggal sepuluh tu. Belum telat." Kata Reyhan menjelaskan. Paham betul arah pembicaraan dua wanita itu. Atau dia juga menunggu kabar bahagia itu?
"Kok kamu tahu sih ,Ay? Aku aja nggk ingat lo." Tanya Tasya surprise dan tak percaya, tersenyum lebar mendapati suaminya seperhatian itu. Hingga ingat tanggal datang bulannya. Pasti tanggal nikah dan ulang tahun lebih ingat dong ya?
"Ya ingat lah. Tanggal mulai puasa malam." Jawabnya pelan sambil mengunyah bengkoang.
"Apa sih, Ay?" Mencubit pelan lengan suaminya. Malu pada Rena kalo sampai dengar ucapan suaminya. Sebenarnya Tasya malu juga kalo menyinggung kerja malam. Dia tak pernah membahas itu, dan mukanya selalu panas dan memerah jika suaminya bicara yang berhubungan tugas malam. Meskipun cuma berdua aja malunya minta ampun, apalagi kini ada Rena didekatnya.
"Aduh. Sakit ,Yanx. Jangan pake kekerasan dong." Merengut dan menjauhkan lengannya.
"Makanya jangan mesum." Rengek Rena malu.
"Sama istri sendiri pun. Apa salahnya?" Tetap menjawab santai, tak merasa bersalah sama sekali. "Emang kenapa sih tanya tanggal datang bulan?" Mengembalikan pembahasan awal.
" Tu. Kata Rena aku ngidam. Nggk kan Ay?" Menunjuk Rena dan meminta pembelaan akan pendapatnya.
"Ya kalo beneran ngidam, Alhamdulillah. Kalo gagal ya coba lagi bulan depan, usahanya lebih sering lagi berarti." Jawab ngaco Reyhan dengan mata berkedip genit.
"Ay.." Malu Tasya.
"Ekhem." Dehem Rena yang sedari tadi diam dan diabaikan. Hanya menjadi pendengar dan penonton adegan suami istri dihadapannya. "Pengusiran secara halus ni." Sindir Rena.
Tasya hanya tersenyum minta maaf, dan menggeser duduk menjauh dari suaminya. Reyhan tak protes juga tak mendekat.
"Na, gitu dong. Nggk kasihan apa mesra-mesraan didepan jomblo dibawah umur ini?"
"Kalo jomblonya sih percaya. Tapi .." Kata Tasya lambat-lambat, dan menahan senyum mengejek.
"Dibawah umur konon." Rey ikutan mencibir.
"Ih, kalian ni kompak banget sih ngehina aku? Pulang aku nanti." Ngambek Rena.
"Jangan ngambek dong. Calon tetanggaan lo." Hibur Tasya yang malah menjadi cibiran.
"Nggk usah ngelededek. "
"Aminkan saja sih." Balas Tasya.
Tasya masih memikirkan pasal ngidam tadi. Melihat suaminya yang ternyata tak sedingin dan sekaku bayangannya dulu. Dia cukup menyenangkan menjadi partner hidup. Juga tak sependiam dulu. Atau memang dia banyak bicara hanya pada orang-orang tertentu? Entahlah.
"Kenapa Yanx?" Tanya Reyhan yang melihat istrinya menatapnya intens. Malah terkesan melamun.
__ADS_1
"Hey." Menoel dagunya pelan untuk menyadarkan, karena panggilannya tak direspon.
"Nggk kok. Nggk papa." Tergagap. Malu ketahuan memperhatikan suaminya.
"Nggk kok lihatnya gitu? Kayak nggk pernah ketemu aja."
"Baru sadar dia kalo suaminya itu ganteng." Rena yang menjawab.
"Kamu kali yang baru sadar aku ganteng?" Reyhan menanggapi ucapan Rena. Yang membuat Tasya merengut tak suka. Secara terang-terangan bilang begitu pada cewek lain? Hati istri mana yang tak panas?
"Ya, ya, kan memang baru sekarang kan ketemu. Waktu nikah kalian dulu cuma lihat sekilas aja." Jawab Rena gugup dan tak enak. Sedangkan Tasya memicingkan mata, waspada.
" Ya lah percaya. Tapi aku tahu kamu udah lama lo." Kata Reyhan.
"Ay sudah kenal lama sama Rena?" Tanya Tasya cepat dengan mata mendelik.
"Entah ni. Aku perasaan tak pernah ketemu sebelumnya." Rena yang menjawab bingung. Tak menemukan potongan kenangan tentang Reyhan. Sama sekali tak pernah merasa kenal Reyhan dimasa lalunya.
Kini dua wanita itu sama-sama melihat Reyhan. Yang satu dengan tatapan penasaran dan bingung, yang satunya marah dan cemburu. Reyhan hanya melihat Rena sekilas, dan fokus melihat tatapan nyalang sang istri, yang membuatnya tersenyum penuh arti.
"Nggk usah senyum-senyum. Jelasin." Ketus Tasya melihat suaminya malah senyum-senyum sendiri. Rena ikutan mengangguk setuju.
"Okey." Ujarnya akhirnya. "Rena ini kakak senior dikampus dulu. Kenapa aku tahu dia? Karena dia memang cukup famous dikampus. Anak usahawan yang kaya raya, dan menjadi incaran para lelaki. Kalo aku mah apa atuh? cuma orang yang mati-matian mempertahankan biasiswa, biar jatah biaya kuliah bisa untuk makan dan kebutuhan hidup. Nggk perlu ngoyo kerja." Jelas Reyhan lembut untuk memahamkan sang istri.
"Emang kenapa sih Sya kalo naksir? Masa lalu juga kan? Toh sekarang dia udah milih kamu." Rena ikutan angkat suara. Mencoba mendinginkan suasana yang sedikit memanas. Tapi malah bikin panas.
"Eh?" Menatap Rena protes dan kembali melihat Tasya. "Nggk kok, yanx. Aku nggk pernah naksir sama dia. Hanya kagum aja. "Sanggah Reyhan cepat , menarik tangan istrinya dan menggenggamnya. "Masak gitu aja marah sih? Tapi nggk papa marah. Itu tandanya kamu sudah sepenuhnya mencintaiku kan?" Membujuk Tasya. Dan dengan percaya diri menyimpulkan kata cinta atas sikap Tasya. Tersenyum puas akan penilaiannya.
Sepenuhnya Cinta? Benarkah? Otak Tasya bekerja mencari jawaban. Kalo memang dia sudah jatuh cinta dengan Reyhan, kenapa dia masih sering mengingat Arfan? Apakah mungkin mencintai dua orang dalam waktu bersamaan?
"Iya tu. Cemburu tanda cinta." Rena ikutan menanggapi.
"Apaan sih kalian." Salah tingkah. Berdiri dan meninggalkan suami dan temannya. Teringat cake yang dibikinnya. Bergegas melihat dan mengangkat. Sedangkan Rena dan Reyhan hanya tersenyum senang melihat tingkah Tasya.
Din Din.
Suara klakson mobil berulang dari halaman depan. Bahkan masih dijalan tu mobil. Tak ada sopan-sopannya pengemudinya. Jangankan turun untuk mengutarakan maksudnya, belok ke halaman rumah aja nggk. Memang sih, rumah Tasya dan Reyhan belum berpagar juga belum aja pintu gerbang.
"Siapa sih? Berisik banget tu mobil." Kata Tasya yang merasa terganggu dengan suara klakson dari depan. Meletakkan cake dan mengintip dari balik jendela.
"Entah." Jawab Rena acuh.
"Nggk ada orang kok didepan." Merasa tak melihat apapun dihalaman rumahnya.
__ADS_1
"Coba ku lihat kedepan." Putus Reyhan berdiri dan melihat siapa yang berisik disore begini.
Tasya kembali duduk dihadapan Rena yang masih betah duduk ditempatnya.
"Eh, jangan-jangan David lagi." Rena teringat kalo dia datang kesini dengan orang lain. Berlari keluar dan benar saja. Dia melihat mobil yang tadi ditumpanginya berhenti didepan sana.
"Orang iseng kali. Nggk kenal, dan pengemudinya aja nggk turun dari mobil." Kata Reyhan yang sudah masuk lagi.
"Itu jemputan aku. Aku pulang dulu ya." Bersalaman dengan Tasya, cipika cipiki kilat, juga pelukan singkat. Berlari cepat kedepan.
"Re, tunggu. Dibawa ini." Teriak Tasya teringat cake buatannya belum dibawa Rena.
"Antarin sana. " Perintah suaminya.
"Re, tunggu." Panggil Tasya lagi, dan berlari menyusul Rena .
"Rena." Teriak Tasya yang berusaha menghentikan langkah Rena. Rena berhenti tak jauh dari mobil. Bisa Tasya lihat wajah kesal lelaki yang mengemudikan mobil, dan berubah tegang saat melihat Tasya.
"Oh ya. Cheesecake kesukaanku ketinggalan ya." Ucap Rena saat tahu ada yang tertinggal.
"Nggk menghargai usahaku yang khusus membuat untukmu." Cemberut Tasya.
"Lupa sayang. Makasih banget lo udah mau direpotin. Makasih juga masih ingat makanan kesukaanku." Berpelukan lagi.
"Iya. Ya udah sana masuk, keburu ditinggal beneran nanti." Perintah Tasya dengan senyum penuh arti.
______
Didalam mobil. David duduk dibangku penumpang. Terpaku mendengar suara itu lagi. Menatap nanar kearah luar saat melihat sang pemilik suara. Garis wajah yang sama persis pada photo yang disimpannya. Namun sedikit ada perubahan penampilan juga nampak sangat dewasa.
Melihat wajah itu kepalanya kembali pusing. Banyak potongan-potongan kejadian berkelebat tak jelas. Hingga berdenyut berat dan mengaburkan pandangan. David tak sadarkan diri.
"Kak." Teriak Johan yang melihat David ambruk dibelakangnya. "Kakak nggk papa?"
"Aku masuk dulu Sya." Pamit Rena yang mendengar suara teriakan David. Ternganga tak percaya melihat David tak sadarkan diri. Rena segera masuk, melepas seatbelt David dan membaringkan dengan nyaman, berbantalkan pahanya.
"Cepat cari rumah sakit terdekat Jo." Perintah Rena panik, memegang David agar tak jatuh.
Bersambung...
____
Jangan lupa mampir dan tinggalkan dukungan ya....
__ADS_1