
"Mencintai sebelah pihak itu sakit. Sakit banget. kita yang berusaha selalu ada, namun hanya dia yang tak ada yang selalu ada dalam ingatannya. " Lanjut Rena mendesah lesu.
"Kalo semenyakitkan itu mencintai tanpa dicintai, kenapa tak tinggal kan saja? Kenapa tak mencoba membuka mata saja untuk melihat yang lebih tulus mencintaimu." Mencoba mengingatkan.
Mengatakan memang lebih mudah dari pada menjalankannya bukan? Dulu aku juga begitu. Kenapa sih menghabiskan waktu untuk menunggu yang hilang? Kenapa tak menerima dengan lapang dada dia yang datang? Dulu sering bang Bagas mengingatkanku begitu. Tapi aku selalu menulikan telinga. Tak peduli dan tak pernah mempertimbangkan kata-katanya.
Dan kini aku sok bijak memberi nasehat seperti yang dulu aku dengar? Hanya memfoto kopi kata-kata mereka yang dulu ditunjukkan padaku.
"Tak semudah itu, Sya. Hati tak bisa dipaksa kan?" Hati selalu menjadi alasan untuk menolak masukan.
"Ya. Hati tak bisa dipaksa. Tapi apa salahnya dicoba?"
Makanan sudah habis, minuman pun juga sudah habis. Hanya mendiskusikan hal yang buntu, tak ada jalan keluarnya. Hanya karena alasan hati yang tak bisa dipaksa, membuat diri tak menerima solusi apapun.
"Eh kalian disini rupanya. Tante cari-cari lo." Suara dari belakang ku. Dia tante Keysa dan Karin yang sudah mendapatkan barang yang dicarinya.
"Iya, tan. Laper, jadi cari makan. Tante mau makan dulu?" Ucap Rena menyambut calon mertua datang, dan dengan sopan menawarkan makan. Sedangkan Karin sudah ambil duduk dikursi sebelahku dengan mata tak beralih dari ponsel mulus. Itu ponsel bukan yang tadi, apakah sudah ganti? Ah. orang kaya mah gitu ya? Hanya retak sedikit ganti baru.
" Nggk lah. Lagian kalian sudah selesai makannya. Pulang aja yok. Nanti keburu sore lo." Tolaknya dan melihat waktu yang sudah kelewat siang. "Yok nak Tasya."
"Ya tante, mari." Jawabku tak kalas sopan.
"Tasya mau langsung pulang atau mau cari yang lain dulu?" Tanya Rena yang sudah berdiri siap melangkah pergi. Aku pun sudah berdiri, memanggil waiters membayar tagihan makan.
"Langsung pulang aja." Jawabku. Udah tak ada rencana lain.
"Nak Tasya dulu kerja dibank ya? Terus sekarang kerjanya apa?" Tanya tante Keysa sambil berjalan beriringan keluar mall.
"Saat ini jadi ibu rumah tangga aja, tan." Jawabku apa adanya.
"Emang nggk ada planning kerja lagi apa, Sya? Atau sudah ada tanda-tanda mau punya momongan ya?" Tanya Rena dengan wajah meledek.
"Nggk usah meledek deh ,Re. Nikah baru berapa hari juga nanya tanda-tanda." Memanyunkan bibir.
"Emang nak Tasya nikah udah berapa hari?" Tanya tante Keysa dengan senyum hangat. Sedangkan Karin? Jangan tanya lagilah. Dia terlalu asik dengan dunianya sendiri. Game.
__ADS_1
"Berapa ya? Hampir dua minggu, Tan. Sebenarnya sih ada planning, mau buka usaha kecil-kecilan." Ucapku mengalihkan pembahasan tentang pernikahan.
"Apa tu?" Tanya Rena antusias.
Aku menjelaskan tentang keinginanku memulai buka usaha kuliner melalui online. Karena belum ada tempat untuk buka warung makan, apalagi restaurant. Dan untuk memulainya akan menitipkan makanan diwarung-warung dulu. Dan menerima pesanan by online.
"Ih mantab dong. Moga berhasil dan laris manis lah. Aku akui masakan kamu memang enak." Doa tulus Rena yang membuatku tambah semangat. Dan mengacungkan jempol memuji masakanku.
"Emang beneran kamu pinter masak ya? Masak apa aja tu?" Tante Keysa ikutan tertarik. Bertanya dengan wajah antusias.
"Pinter sih nggk, tan. Kan aku tak pernah sekolah dibidang itu. Hanya hobi masak aja, kata orang sih enak. Jadi, apa salahnya mencoba menekuni hobi agar bisa menghasilkan juga. Kalo jenis masakan, aku sering coba-coba apa aja. Masakan tradisional seringnya." Jelasku malu. Namun semangat ada yang mendukung niatku.sedangkan ini ko
"Owh begitu? Anak tante usahanya juga dibidang kuliner lo. Restaurant. Udah membuka beberapa cabang. Tapi disini belum ada. Besok bisa tu kerja sama." Tante Keysa semangat kali mengingat usaha keluarga yang maju. Dan menawarkan kerja sama pula. Bikin aku malu. Ah, usaha receh kayak aku yang mulai aja belum, udah mau diajak kerja sama dengan restaurant besar.
"Iya, Sya. " Rena tak kalah semangat. " Mas David maunya tinggal disini lo. Yang mau renovasi rumah neneknya juga dia. Nanti bisa kerja sama." Rena berbisik ditelingaku. Namun bisikannya cukup terdengar oleh orang yang dekat dengan kami.
"Ya ,memang David semasa kecilnya tinggal bareng nenek dan kakeknya. Semenjak kakek dan neneknya meninggal barulah dia mau tinggal bareng kami. " Tante menanggapi bisikan Rena. Yang menandakan kalo dia dengar .
"Owh begitu ya? Makanya dia ingin tetap mengenang kenangan bersama sang nenek ya. " Kataku menimpali.
"Ya udah, nak Tasya. Kami pamit, pisah disini ya? Semoga lain waktu bisa ketemu lagi." Pamit Tante Keysa saat sudah dilobi, dan sudah ada mobil lamborghini yang menunggunya.
"Iya, tante. Sampai ketemu lain waktu." Jawabku sopan.
"Doain ya. Moga aku punya kesempatan bersama mas David . Biar kita bisa tetanggaan, didesa yang sama. Usaha bareng ." Bisik Rena sebelum pergi, yang ku jawab dengan jempol. Sip.
________
Panas matahari kali ini sangat terik sekali. Membuat kaki malas melangkah dibawah sinarnya. Mencari tempat berteduh, menikmati semilir angin yang berhembus. Atau bertahan digedung ber AC yang dingin.
Siang ini Marta tak ada kelas. Menunggu ditaman kampus hingga kelas selanjutnya. Berteduh dibawah pohon rindang yang menaunginya dari sengatan matahari. Membaca buku cerita terbaru yang dibelinya. Menunggu kekasih datang setelah sebelumnya mengirim pesan ingin jumpa, dan disetujui Johan.
"Tunggu, sepuluh menit lagi aku datang." Isi pesan balasan Johan setelah Marta mengungkapkan hati yang rindu ingin bertemu. Padahal baru kemaren ketemu.
Marta membaca buku, dengan mata sesekali melirik jalanan kampus setiap ada mobil datang. Menunggu dan berharap yang datang adalah orang yang ia tunggu. Semenit, dua menit, tiga menit ,,, ,,, hingga sepuluh menit berlalu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
__ADS_1
"Kemana sih mas Johan? Katanya sepuluh menit lagi sampai. Ini udah lebih satu menit ,belum juga sampai." Menggerutu dalam kesendirian. Melanjutkan baca buku, tapi tak bisa fokus. Matanya selalu melihat jalanan berulang, hingga tak paham alur cerita yang dibacanya.
"Udah lebih tiga menit ini " Menunggu dengan resah . Kembali melihat penunjuk waktu. Memberi tanda pada buku, lalu menutupnya, memasukkan kedalam tas gendongnya.
Mobil sport mewah berhenti tak jauh dari tempat Marta duduk. Marta melihatnya, namun kesal karena itu bukanlah mobil kekasihnya yang dia hapal. Lagian mobil sport itu hanya berhenti, tanpa mematikan mesin mobilnya.
"Ih. Lama amat sih." Kembali melihat jam. Sudah lewat lima menit. "Biasanya mas Johan tak pernah telat jika aku ajak ketemu." Entah protes pada siapa dia. Menundukkan kepala, menggurat tanah dengan sepatunya. Membuat lukisan abstrak. Tak jelas. Dia sedang kesal karena menunggu dalam hitungan menit.
"Hay sayang." Suara panggilan yang sangat dikenalnya. Johan, siapa lagi? Marta mengangkat kepala, menoleh arah suara. Benar saja, Johan keluar dari mobil sport itu dengan tangan melambai kearahnya.
"Mau dijemput atau naik taksi?" Suara orang yang masih didalam mobil dengan jendela kaca terbuka.
Deg. Dia lagi?
"Taksi aja. Udah sana pergi." Balas teriak Johan, dan melambaikan tangan mengusir.
"Okey. Aku juga akan pergi. Aku tak mau jadi setan untuk orang pacaran." Serunya disusul derai tawa, dan menutup kacanya kembali. Melaju kencang tanpa ancang-ancang. Yang membuat Johan menendang udara kosong dengan makian karena ucapan saudaranya.
"Maaf ya telat." Ucap Johan lembut, dan duduk disamping Marta.
Marta udah lupa tentang telatnya sang kekasih. Awalnya ingin marah, tapi Kedatangan lelaki yang mirip dengan orang yang ada dimasa lalu kakaknya lebih mengganggu.
"Kamu kenapa sih? Kamu beneran jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dia itu? " Johan duduk menyilangkan kakinya, melengos membuang muka mmengetahui sang kekasih malah memperhatikan mobil yang melaju pergi.
"Namanya siapa?" Tanya Marta penasaran, tak peduli dengan pacarnya yang cemburu. Apakah dia benar-benar bang Arfan?
"Eh, kamu beneran suka sama dia? Bisa-bisanya tanya tentang lelaki lain sama pacar?" Serunya marah.
"Kenapa marah? Aku cuma tanya mas! Emang tanya nama tandanya suka gitu?" Tak menerima kesalahan. Marah gantian marahlah. Emang dia aja yang bisa marah?
"Ya biasanya gitu. Tanya nama, no hp, pdkt, jadian. " Beber Johan tentang tips pendekatan." Tapi tak usah lah suka sama dia. Dia punya kelainan, tak suka sama wanita. Disini ada lelaki normal yang cinta sama kamu kok, malah tanya yang lain." Merajuk dia.
"Kamu ni mas. Katanya saudara, malah menjelek-jelekkan gitu." Kesal Marta.
______
__ADS_1
Selamat membaca.
Jangan lupa dukungannya. 🤗🤗