Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Agenda Liburan


__ADS_3

Aku masih betah duduk menikmati air jernih ini. Melihat ikan dibawah, juga karang yang bergerak menari mengikuti irama ombak. Bahkan hingga matahari benar-benar menghilang diujung sana, aku masih duduk dengan sesekali menjulurkan tangan menyentuh air, menangkap ikan yang mendekat, meskipun ikan langsung menjauh begitu tanganku menyentuh air.


"Udah magrib ni. Masuk yok." Ajak Reyhan yang menemaniku. Hanya duduk berdampingan dalam diam. Sibuk menikmati keindahan ciptaan tuhan dengan penuh takjub. Tapi Reyhan dari tadi hanya sibuk memelukku, dengan tangan yang jail singgah kemana-mana. Juga berulang menciumiku. Aku hanya sesekali menghalaunya, namun tak menolak secara terang-terangan.


"Ayok." Aku setuju mengikuti ajakannya. Karena memang sudah masuk waktu magrib. Seiring mega merah dilangit menghilang, habis juga waktu magrib.


Tangan Reyhan tak lepas merangkulku. Bahkan hingga masuk berniat menunaikan kewajiban sebagai muslim.


"Waw.... Kalo begini betah banget disini Ay." Gumamku melihat tatanan ruang istirahat yang Reyhan pesan untuk kami bermalam. Aku melepas rangkulan Reyhan, menjatuhkan diri diatas kasur empuk yang sudah ditabur bunga mawar merah berbentuk love diatasnya. Aku menyentuhnya, meraupnya dan melemparnya keatas, hingga menjadi hujan bunga. Tak peduli sudah merusak kreasi pembuatnya.


Reyhan hanya tersenyum melihat tingkahku. "Nanti lagi mengagumi semuanya, sekarang sholat dulu, dan bersyukur pada Dzat yang memberi kita kesempatan untuk bisa menikmati semua ini." Ucap Reyhan lembut.


"Iya-iya. " Urung menyentuh kain putih yang dipilin dan dibentuk menjadi love diujung tempat tidur. Aku bangkit mengikuti Reyhan untuk mengambil wudhu. Lalu memastikan arah kiblat memakai aplikasi, dan sholat berjamaah.


Setelah menikah jarang sekali kami sholat berjamaah berdua. Karena biasanya Reyhan suka sholat berjamaah dimasjid, sedangkan aku dirumah. Sering sih Reyhan membangunkanku dini hari untuk sholat tahajud bersama, namun aku yang malas bangun. Hanya menggeliat dan menarik selimut lagi. Sedangkan Reyhan orangnya tak pernah memaksa.


Usai berdzikir bersama dan mengaminkan doa yang dipanjatkan Reyhan, aku meraih tangannya dan menciumnya saat dia berbalik menghadapku.


"Kenapa sih, Ay? Kok lihatnya gitu?" Tanyaku malu yang diperhatikan intens oleh suami. Dia masih betah duduk menghadapku dengan mata menatap tanpa berpaling, sedangkan aku grogi ditatap begitu, mau beranjak dan pergi lebih dulu tak berani.


"Jangan gitu lah." Menutup mukaku sendiri dengan mukenah yang masih ku pakai. Reyhan hanya senyum melihatku.


"Emang nggk boleh ya lihatin istri sendiri? Menikmati ciptaan Tuhan yang telah dijadikan halal untuk terus ku pandang. Bahkan halal mau diapa-apain?" Dengan mata mengerling menggoda, tangan terjulur meraihku dan menarikku dalam pelukannya.


"Ay, mandi yok?" Di udara dingin ini, badan terasa gerah banget dalam situasi canggung begini.


"Boleh. Mandi bareng kan?" Semangat sekali dia menjawab. Menjauhkan jarak dan wajahnya terlihat bahagia.


"Nggk mau lah. Besok aja mandi barengnya." Tolakku takut-takut.


"Ck." Decaknya kecewa, dan kembali memelukku. Menunda niat mandi.


Aku hanya menarik nafas perlahan dalam pelukannya. Mendengarkan irama detak jantungnya yang berpacu cepat.


"Aku sudah lama merindukan masa seperti ini." Ucap Reyhan pelan, meletakkan dagunya diatas kepalaku. Aku hanya mendengarkan, tak berniat menyela.


"Ku pikir sepanjang masa hamil kamu akan sulit ku sentuh. Dari pagi bangun tidur sudah sibuk didapur, tak ada masa manja-manjaan dikamar. Pulang kerja sudah tidur, bangun cuma sholat terus tidur lagi. Kehadiranku sama saja dengan ketidak hadiranku, tak dihiraukan. Sibuk sendiri." Curhat Reyhan dengan suara pelan. Dengan tangan bergerak mengusap perutku perlahan.


"Kamu tahu nggk yang? Padahal aku sudah membayangkan repotnya memiliki istri hamil yang berubah jadi manja, suka marah-marah, atau suka muntah-muntah, dan istri hamil yang suka merengek minta dibelikan ini dan itu, ingin makan ini dan itu. Aku sudah menyiapkan energi jika itu terjadi, sudah mengantisipasi dari jauh-jauh hari, sudah bersiaga jika itu terjadi, tapi ternyata kenyataan tak sesuai ekpektasi." Lanjut cerita Reyhan diakhiri tawa kecut.


"Orang hamil kan beda-beda bawaannya, Ay." Ucapku membela diri.

__ADS_1


"Iya. Tapi mungkin lebih mudah disuruh berburu makanan untuk memenuhi kebutuhan ngidam ya? Dari pada dianggurin tiap malam. Jangankan minta lebih, dipeluk aja udah nolak." Ucapnya dengan muka kesal.


"Yah, Ay. Bagaimana mau ngasih lebih, kalo untuk buka mata aja berat. Ini kan sebab anakmu juga." Mendongak menatapnya yang kesal.


"Iya -iya. Tapi kayaknya malam ini sudah sehat ya? Boleh dong??????" Menggoda dengan memainkan matanya, menunduk membalas tatapanku dengan genit.


"Apa sih Ay? Mandi sana, bau ." Menjauhkan diri dengan cepat. Reyhan malah tertawa melihatku yang reflek menjauh.


"Katanya mandi bareng tadi? " Menggoda.


"No. "


"Ya udah deh. Siapa duluan ni yang mandi?"


"Kamu duluan." Aku beranjak melepas mukenah dan melipatnya. Reyhan menurut untuk mandi lebih dulu.


Aku membuka pintu, berjalan keluar kembali ,duduk diluar menikmati pemandangan alam yang membentang ditengah kegelapan, dengan lampu penerangan yang dipasang sepanjang jalan. Beberapa pengunjung ada yang menikmati dinginnya malam dibawah gemerlap bintang hanya memakai pakaian mini. Bahkan dari jarak sedikit jauh dari tempatku, ada juga yang menyelam dibawah air beserta pasangan, hanya dengan memakai pakaian renang yang super ****. Padahal aku yang memakai pakaian lengkap aja terasa menggigil saat angin datang. Untungnya tempat yang dipilih Reyhan yang paling ujung, jadi cukup sepi. Jarang ada pengunjung lain sampai ketempat ini.


"Sayang..." Panggil Reyhan dari dalam. Tandanya dia sudah selesai mandi.


"Hemmmz.." Gumamku pelan sebagai sahutan.


" Mandi dulu sana!" Perintahnya dan ikutan keluar, sudah rapi setelah mandi.


"Ck. Air hangat sayang. "Aku hanya menjawab dengan muka keberatan. "Terserah lah." Duduk disampingku. "Kalo dingin ngapain disini yang? Masuk yok!"


"Nggk mau. Kita jalan-jalan untuk menikmati keindahan pemandangan kan? Tadabur alam Ay. Bukan cuma sembunyi dikamar." Tolakku halus.


"Ck. Ya lah. Lapar nggk?" Tanyanya.


"Lapar lah."


"Okey. " Merogoh ponselnya dari saku, dan siap pesan makanan.


Reyhan pindah duduk dibelakangku, memelukku erat dari belakang. Yang membuatku sedikit hangat.


"Makasih." Kataku tulus dan menyandarkan kepalaku.


"Masama. Besok mau kemana?" Tanyanya.


"Aku ngikut aja."

__ADS_1


"Mau melihat keindahan bawah laut? Disini kan terkenal keindahan bawah lautnya. "


"Aku tak bisa renang Ay." Jawabku sedikit bohong. Sebenarnya aku bisa renang, meskipun tak pandai.


"Terus mau kemana? Mau kebukit sana? Melihat keindahan dari atas?" Menunjuk arah gelap yang hanya ada lampu kelap-kelip kecil dari kejauhan.


"Capek kalo harus naik bukit Ay."


"Terus????" Aku hanya menggeleng.


"Ya udah. Seharian dikamar aja lah. Olah raga dikamar."


"Nggk mau." Jawabku cepat.


"Terus maunya apa?"


"Aku disini aja, Ayang yang nyelam. Nanti ceritain apa yang Ayang lihat dibawah sana. "


"Mana boleh begitu. Tak asik."


"Lagian mana ada orang renang pake baju kayak aku ini. Apa Ayang mau aku renang pake baju kayak gitu? " Menunjuk arah orang yang masih berenang dengan baju renangnya.


"Nggak." Jawabnya cepat, dan menggeleng kuat.


"Ya udah. Menikmati keindahan laut tak harus terjun kedalamnya kan? Memandangnya dari atas juga sudah cukup menyenangkan bagiku."


"Tak seru lah. Udah jauh-jauh kesini cuma menikmati pasirnya doang. "


"Ya , mau gimana lagi?"


"Ya, disini kan banyak pemandu diving, dan pasti juga punya alat keamanan yang lengkap. " Mengambil ponselnya dan mulai searching mencari info pemandu diving didaerah ini.


"Ya lah. Aku ngikut aja. Tapi aman nggk untuk ibu hamil?"


"Oh iya. Kok lupa ya yang. Mau berangkat tak checkup dulu ya." Menepuk jidadnya sendiri. Sangking semangatnya mengajak liburan, sampai lupa tak periksa kandungan dulu.


"InsyaAllah sehat. Kan baru minggu lalu aku periksa." Ucapku menenangkan.


"Semoga ya."


"Berapa hari disini?"

__ADS_1


"Tiga hari. Kalo ada tempat yang ingin kamu singgahi bilang aja. Atau mau makan makanan khas sini?"


"Semua makanan khas sini aku ingin coba dong. Dan yang penting tiga hari jalan-jalan, nggk hanya dikamar. " Jawabku menegaskan.


__ADS_2