
Fajar menyingsing. Tanda malam telah berakhir. Kumandang adzan memanggil, membangunkan kaum yang rela dan setia memenuhi panggilan-Nya. Menanggalkan selimut hangat, meninggalkan mimpi lelap.
Setiap pagi aku bangun selalu telat. Reyhan sudah tak ada disampingku. Dia selalu pergi kemasjid lebih awal. Adzan subuh dia sudah keluar rumah, pun tak membangunkanku.
Aku subuh sendiri dikamar. Memang selalu begitu. Karena suami selalu sholat dimasjid yang tak jauh dari rumah. Disini aku dipaksa bangun pagi, langsung bergegas masak nyambi beres-beres. Belum ada peraturan tak tertulis bagi tugas seperti dirumah dengan Marta. Meskipun disini juga ada Beti sebagai kakak.
Dua kompor menyala agar cepat selesai masak. Tak lupa memasukkan beras plus air pada penanak nasi. Tambah memutar mesin cuci setelah memungut baju kotor bunda, juga baju kotor kami.
Sebagai wanita harus bisa kerja gesit kan? Sambil goreng ikan, tangan mencuci piring yang kotor. Biar semua selesai bersamaan. Tak melulu sibuk dibelakang.
"Aku heran deh sama kamu." Suara Beti yang mengagetkanku. Datang dengan rambut basah berbalut handuk, menyeduh minum tanpa menawarkan apa yang perlu dibantu. Bahkan merasa memang seharusnya begitu. Aku yang sibuk sendirian.
"Kenapa?" Tanyaku cuek. Dia ini memang sedikit tak bersahabat dan angkuh. Maklum, masih muda. Sombongnya tak ketulungan.
"Yah, pengantin baru kok pagi-pagi sudah sibuk didapur. Aku nih, meskipun sudah hampir setahun menikah. Pagi-pagi masih menikmati kehangatan suami diatas kasur." Menarik handuk kecil dikepalanya, dan memamerkan rambutnya yang basah.
Umurku sudah tak lagi muda. Aku cukup paham apa maksudnya. Bangun dan mandi wajib di pagi hari sebelum melakukan sholat subuh? Tapi aku memilih tak menanggapi. Menata piring bersih, lanjut mengangkat ikan yang sudah matang.
"Yah, gimana mau semangat? Udah tua, palingan udah keriput. "
Apanya yang keriput? Lagian umurku tak setua itu kali. Ditambah aku selalu merawat tubuh dengan skincare mahal yang sudah teruji aman. Jadi tetap masih mulus, tak kalah sama ABG.
"Tak berga*r*h lah ya. Beda sama kami." Sombong kali ya ni anak. "Nikah terpaksa ya gitu."
Ampun deh mulut ni orang. Ingin ku siram pake minyak bekas goreng ikan. Tapi sabar lah. Kata orang 'yang waras ngalah'.
Dia merasa menang dan bangga saat aku mati kutu dan tak bisa menjawab. Ah, sebenarnya tak sudi meladeni sih. Dia langsung melenggang pergi setelah selesai menyeduh teh dua gelas, dan membawanya kembali masuk kamar.
Apa dia bilang tadi? Terpaksa menikah? Apakah dia tahu kalo aku tak seratus persen ikhlas menjalani pernikahan ini? Atau Reyhan juga merasakan hal yang sama padaku?
Biarlah. Aku tak peduli. Dia terlihat baik didepanku. Meskipun memang belum punya waktu bicara dari hati ke hati.
"Masak apa?" Tanya suami yang baru pulang. Entah apa yang dilakukan suamiku itu dimasjid. Sesiang ini baru pulang jamaah subuh.
"Tu." Menunjuk makanan yang sudah tersaji. Tinggal membersihkan kuali dan panci yang baru dipake masak.
"Mantab tu." Mencomot bakso dalam capcay, lalu pergi kekamar bunda.
Selesai masak, selesai pula cuci piring. Cucian baju juga selesai, tinggal jemur aja. Kini gantian menyapu aja.
__ADS_1
Ternyata hidup disini lebih capek dari pada dirumah Abah. Disana Marta masih mau berbagi tugas beres-beres, ditambah rumah mertua lebih besar jika dibanding rumah orang tuaku. Tu si Beti sama sekali tak peduli. Keluar kamar kalo perlunya doang. Mulutnya nyinyir pula. Makan ati aja.
Aku selesai beres-beres, Reyhan bersiap berangkat kerja. Juga sepasang suami istri yang nyebelin itu. Kalo bang Rasya aku jarang jumpa, selain waktu sarapan dan makan malam. Bahkan dia sering tak hadir dimeja makan. Dia seorang bisnisman yang super sibuk. Bahkan sering pula tak pulang karena ada urusan diluar kota katanya.
"Rey." Ucapku berniat curhat. Dia sedang memasukkan beberapa kertas kedalam tasnya.
"Apa? Kenapa muka ditekuk gitu?" Melihatku yang menghampirinya dengan muka cemberut. Panas bin keki mendengar ucapan Beti tadi. Bukan iri sih. Hanya saja tak terima ada yang mencampuri urusan pribadi.
"Kakak ipar kau itu nyebelin banget ya?" Mengadu.
"Kenapa? Emang sepagi ini dia udah bikin ulah apa?" Santai kali dia menanggapi. Seakan curhatan aku bukan hal yang perlu dipertimbangkan. Atau memang dia sudah hapal perangai kakak iparnya itu?
"Mulutnya itu lemes kali."
"Emang kamu tak bisa bermulut lemes juga? Balaslah."
Hah? Tanggapan macam apa itu? Bahkan dia sudah kembali sibuk dengan kertas-kertas tak jelas.
"Kamu ni. Sama nyebelinnya." Menghentak kasar, dan pergi meninggalkan kamar. Mendingan cerita sama bunda aja lah.
"Nanti pulang sekolah insyaAllah ku belikan kursi roda baru untuk Bunda." Ucapnya mengalihkan pembahasan. Menyetujui permintaanku semalam.
Aku menunggu Bunda sarapan. Bahkan aku memilih sarapan dikamar bunda juga.
"Bund, Rey berangkat dulu ya." Pamit suamiku pada ibunya, dan melihatku sekilas yang duduk dikursi plastik disamping bunda.
"Iya. Jangan pulang terlalu sore. Selesai langsung pulang. Ingat, sekarang ada istri yang menunggumu dirumah." Pesan Bunda, yang membuatku dan Reyhan saling menatap .
"Iya, bund. Bunda sudah tak kesepian lagi kan dirumah? Apa Tasya jadi teman cerita yang baik untuk bunda? Apa dia melakukan hal yang tak bunda sukai? " Khawatir sekali dia pada ibunya?
"Emang aku dinikahi hanya untuk jadi teman cerita Bundamu? " Protesku yang hanya berani dalam hati.
"Baik banget. Bunda senang punya menantu seperti dia. Dia pandai masak, rajin, baik lagi. Bunda sayang." Melihatku dan mengusap pelan kepalaku. Yang memaksaku untuk tersenyum.
Ku lihat Reyhan juga tersenyum samar kearahku. Lalu mencium tangan bunda untuk berpamitan. Juga mencium kedua belah pipi ibunya itu.
"Reyhan berangkat, Bund."
"Eh, eh, eh. Anak nakal." Cegah bunda . Yang membuat Reyhan urung keluar kamar bunda.
__ADS_1
"Apa lagi bund? Apa bunda ingin sesuatu? Ingin dibelikan sesuatu saat Rey pulang?" Kembali duduk ditepi ranjang tempat bunda duduk. Aku hanya menjadi penonton interaksi anak dan ibu itu.
Kenapa kalo dihadapan bunda suamiku berubah jadi lembut kali ya? Tak sekaku saat berhadapan denganku.
"Nggk. Bunda nggk mau dibawakan apapun." Menegaskan.
"Terus?" Herannya. Berharap mendapatkan penjelasan.
Tapi bunda tak menjawab. Malah memberikan kode lewat lirikan matanya yang terarah kepadaku. Yang membuatku bingung sendiri. Dan melihat Reyhan yang juga melihatku.
"Halah. Dasar pengantin baru yang masih malu-malu. " Membuatku memutus kontak mata dengan suami yang membuat jantung berdegup kencang. Melihat bunda bersamaan.
"Rey, sekarang kamu kalo mau pergi bukan cuma pamit sama Bunda. Istrinya juga dipamitin dong."
Owh, itu maksudnya? Tanpa pamit pun Tasya tahu kalo Reyhan akan kerja kok.
Reyhan mengulurkan tangan untuk kujabat plus ku cium. Lalu berbalik badan siap pergi.
"Masa cuma cium tangan aja. Bunda aja cium pipi kanan dan kiri lo." Protes lagi. Yang membuatku membulatkan mata sempurna. Tak percaya kalo mertuaku meminta anaknya menciumku didepan dia.
Ku lihat dia berjalan mendekat kearahku. Menuruti perintah ibundanya. Atau malah memanfaatkan kesempatan? Aku makin menciut duduk dikursi. Ingin menghindar dan berlari, tidak mungkin. Memundurkan kursi, sudah mentok. Dia mendekatiku senyum menyeringai. Aku jadi takut sendiri.
"Bunda, ah. Malu tahu." Memalingkan muka. Rasanya akan mendapatkan pelecehan saja. Ketakutan.
"Kenapa malu? Bunda juga pernah muda lo."
Reyhan malah jongkok didepanku, dengan tangan menggenggam jemariku.Yang membuatku kaget dan tak percaya. Kirain kan? Perlahan ku beranikan menatapnya. Terlihat jelas dimatanya yang menyimpan kecewa telah ditolak istrinya, menyimpan luka karena tak diterima. Aku jadi merasa bersalah melihat dia begini. Aku paksa untuk tersenyum tulus kepadanya. Dia pasti paham ketidak siapanku.
Dia bangkit dari duduk, lalu menarikku. Aku pasrah. Siap mau diapakan aja.
"Maafkan aku." Lirihnya merengkuhku dalam pelukannya. Dia tak menciumku seperti saran bunda. Dia memelukku erat. Perlahan aku membalas pelukannya. Nyaman, itu yang ku rasa.
"Aku yang seharusnya minta maaf." Balasku berbisik.
Bisa ku dengar detakan jantungnya yang tak beraturan. Dan nafasnya yang memburu saat memelukku.
"Ya, jangan lama-lama juga pelukannya. Tak jadi berangkat nanti. Ditahan ! sampai nanti malam."
"Ah, bunda. Mengganggu saja." Sungut Reyhan melepas pelukan. Yang membuatku malu bukan kepalang.
__ADS_1