Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Masa Lalu Reyhan


__ADS_3

Matahari sudah sempurna menghilang. Meninggalkan bumi dalam dekapan malam. Hanya mengirim bintang dan bulan, yang sesekali tertutup awan.


Dunia malam baru dimulai. Pedagang kaki lima mulai menjajakan makanannya. Memenuhi pinggir jalan dengan lampu mini sebagai penerang.


Meskipun hari sudah malam, desa yang mulai maju ini masih ramai. Jalanan masih banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dengan suara klakson yang bersahutan. Sepanjang perjalanan pulang tak ada lagi kesunyian. Aku yang mulai banyak bicara menuangkan rencana-rencana yang ada dalam pikiran. Reyhan sesekali menanggapi, namun lebih banyak Bunda yang menyahut dan menyetujui rencanaku. Meskipun Reyhan juga tak melarangnya.


"Terserah kamu aja. " Kata itu yang sering dipake Reyhan saat ku minta persetujuan. Seakan malas mikir, atau memang suka dengan planning ku, atau bisa jadi malas mendebatku. Seakan mau bicara yang penting kamu senang. Lakukan sesukamu. Ah, payah.


Benar saja. Kami masih dijalanan hingga adzan isya terdengar. Mampir makan malam di tempat makan yang sudah reot, dan belum direnovasi. Untung tadi ngajak Bunda. Kalo tak kasihan kan?


"Ini tempat favorit ayahmu dulu. Dulu sering makan disini saat masih pacaran.Bahkan disini pertama kali ketemu." Cerita Bunda mengenang masa lalunya. Dengan senyuman menerawang masa lalu. Mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan yang masih sama. Seakan setiap centi ruangan ini menyimpan kenangan.


"Udah lama banget berarti tempat ini Bun?" Aku yang menanggapi. Sedangkan Reyhan hanya ikutan melihat tempat makan yang jauh dari kata mewah. Tempat sederhana dengan tempat duduk bangku kayu memanjang begitu pun mejanya. Bangunan kayu yang tidak lagi kokoh, ditandai kayunya yang sedikit mengelupas dan keropos . Namun tetap nyaman dengan kebersihan yang terjaga, dan pemiliknya yang ramah dan murah senyum.


"Udah lama banget lah. Sejak bunda kecil udah ada ini. Dulu ini warung makan paling laris dimasanya. Sekarang mah udah banyak saingan, udah banyak tempat makan yang lebih megah. Makanya sudah kalah saing."


Bunda mulai bercerita dengan semangat kisah masa lalunya. Awal jumpa dengan suaminya yang seorang duda punya anak banyak. Hingga seiring berjalannya waktu sering ketemu secara kebetulan. Hingga akhirnya memutuskan menikah dengan duda itu. Lagian bunda sudah terlanjur terkenal dengan sebutan perawan tua waktu itu. Dan yang pasti cinta tak pandang umur kan?


Setelah selesai makan dan mendengar curhatan Bunda. Kami lanjut pulang kerumah. Langit malam kali ini begitu cerah. Awan mendung yang berarak sudah hilang entah kemana. Ah, musim sekarang memang tak bisa ditebak ya?


"Nggk masuk, Yanx?" Tanya Reyhan yang melihatku malah berjalan mendekati kayu panjang melintang dekat tumpukan batu besar. Duduk menatap langit.


Tanpa jawaban, Reyhan menyusulku setelah membantu Bunda turun dari mobil. Sedangkan Bunda langsung masuk rumah untuk istirahat.


"Ngapain disini?" Ikutan duduk disampingku, dan mengikutiku yang mendongak menatap langit.


"Tu. " Jawabku menunjuk langit.


"Kamu tahu nggk Ay?" Tanyaku dengan senyuman, namun mata masih menatap angkasa.


"Hemmzz " Cuma menjawab dengan gumaman kecil. Lagian aku belum bilang kan tahu tentang apa? Aneh.


"Dulu aku benci banget dengan malam. Sama sekali tak pernah menikmati keindahan bulan ataupun bintang. " Ceritaku dengan suara pelan.

__ADS_1


"Yang selalu menjadi perhatianku adalah senja. Karena senja menandakan hilangnya siang, hilang pula harapan pada hari itu." Melihat senja untuk membujuk diri agar tak kecewa dia tak datang hingga akhir hari. Membatin


Reyhan kembali melihat langit malam setelah melihatku sejenak. Bergerak membaringkan badan dan meluruskan kakinya, meletakkan kepalanya dalam pangkuanku. Menarik tanganku dan meletakkan kekepalanya. Tanganku pun bergerak menyisir rambutnya dengan jemariku.


"Kalo aku dari dulu suka malam. Malam itu ketenangan. Waktu istirahat setelah lelah aktifitas seharian. Malam mampu membuatku melupakan sejenak beban kehidupan. " Ucap Reyhan menatap mataku. menikmati belaian tanganku dirambutnya.


"Emang seberat apa beban kehidupannya?" Penasaran. Apa salahnya lebih tahu tentang pasangan kan?


"Udah lah lupakan. " Mengibaskan tangan tak ingin membahas beban yang dimaksud. " Kalo kamu kenapa tak suka malam? " Membalik pertanyaan.


"Kenapa ya?" Berfikir mencari alasan yang tepat.


"Kalo aku bukannya tak suka dengan senja. Hanya saja tak pernah punya kesempatan untuk menikmatinya."


"Lain kali kita lihat bersama. Dijamin suka. " Ucapku semangat. Daya tarik langit senja tak ada saingannya.


"Kamu belum jawab alasan tak suka malam?" Mengingatkan kembali.


"Ya, kalo kamu tak sempat menikmati senja. Kalo aku juga sama. Aku kan perempuan, tak biasa keluar malam." Alasanku meniru alasanya. Namun Reyhan nampak mengangguk mafhum meskipun sedikit curiga.


"Ya, begitu lah. Tapi ,Ay emang sesibuk apa sih dulu? Hingga tak sempat lihat sun set gitu? " Tanyaku penasaran juga heran.


Bukankah biasanya masa muda yang punya waktu banyak untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan baginya? Ini tak sempat. Emang sesibuk apa masalalunya?


"Udah lupakan saja. Masa lalu."


"Emang aku tak boleh tahu masa lalumu ya? Padahal aku istrimu lo." Menampilkan wajah sedih. Kecewa.


"Bukannya tak boleh. Tapi tak penting kan?" Tanyanya hati-hati. Menyentuh pipiku dan mengusapnya pelan. "Jangan cemberut ah, jelek."


"Makanya cerita. Biar aku lebih kenal siapa suamiku. Seperti apa masalalunya? Bagai mana dulu menjalani hidup? Aku kan ingin tahu juga. Biar bisa menjadi istri yang disayang." Bujukku untuk cerita.


"Oke. Dengarkan baik-baik ya. "

__ADS_1


Flashback


Hari yang panas. Reyhan merajuk dan marah karena hari ini pengambilan hasil ujian akhirnya, kelulusan sekolah dasar yang alhamdulillah mendapat nilai terbaik. Tapi ayahnya tak kunjung datang memberikan selamat dan mendampinginya kesekolah. Apalagi memberikan hadiah yang sudah dijanjikan.


"Bun, ayah kok tak datang-datang sih? " Memandang amplop hadiah dari sekolah yang belum dibukanya. Niatnya menunggu ayah untuk membukanya, tapi tak kunjung datang. Bahkan hingga siang tiba, bahkan hampir sore.


"Bunda juga tak tahu, nak. Yang sabar aja. Ayah tak pernah mengingkari janji." Ucap Bunda menenangkan dan meyakinkan Reyhan. Duduk disampingnya dan mengusap kepalanya. " Kalo tak sabar buka aja itu. Siapa tahu isinya uang." Ikut melihat amplop yang masih dipegang Reyhan. Sedari tadi hanya dilihat dan dibolak- balik, sesekali ditrawang menerka isianya.


"Tapi...." Ragu.


"Tak apa. Ayah tak akan marah." mencoba mengobati gundah dan ragu.


Sedangkan Rasya belum pulang dari sekolah. Dia sudah sekolah kelas dua SMP. Masuk disekolah favorit yang sedikit jauh dari kontrakannya. Dan hari ini dia masih ujian semester kenaikan kelas.


"Beneran bu? Rey buka ya?" Izinnya dan dijawab anggukan kepala oleh Bunda.


"Mbk. Mbk Lina. Mbk Lina." Teriakan orang yang berlari dijalanan. Masih dijalan sudah berteriak histeris, bikin orang panik aja.


Reyhan urung membuka amplop. Berlari kedepan menyusul Bunda, melihat apa yang terjadi. Disana nampak mpok Lastri yang lari tergopoh dengan nafas tersenggal karena lari.


"Mbk, gawat mbk. Mbk Lina yang sabar mbk." Ucapnya disela nafas yang ngos-ngosan. Hingga tak jelas apa yang dibicarakan. Belum paham ada apa. Malah ngomong ngawur soal sabar. Emang kapan Bunda mengeluh?


"Mpok Lastri yang tenang dulu. Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan. Tenang." Bunda menuntun Mpok Lastri untuk mengatur nafas. Mpok Lastri menurut untuk mengatur nafas berulang hingga tenang.


"Udah tenang?" Tanya Bunda pelan.


"Udah. Minta minum dulu. Haus." Pintanya yang langsung diambilkan oleh Reyhan yang juga penasaran apa yang terjadi.


"Baru jelaskan pelan-pelan. Ada apa sih? Kok lari-lari gitu?" Tanya bunda lembut setelah minum, dan dibimbing duduk dikursi teras.


"Suamimu mbk. Tadi ada kabar kalo suamimu meninggal pagi tadi dirumah sakit. " Jelasnya kembali panik.


Duarrrrt. Disiang tanpa mendung . Bahkan langit nampak cerah dengan sinar matahari yang menyengat. Tapi serasa ada petir tepat menghantam tempat nya duduk.

__ADS_1


______


Selamat membaca.


__ADS_2