
"Naik motor ,Rey?" Tanyaku tak yakin akan naik motor besar miliknya.
Aku tak pernah naik motor besar, palingan naik motor matic. Dan kemana-mana lebih sering naik mobil. Tapi sayang mobil masih dirumah abah. Dan sejak aku diboyong kesini aku belum pernah main kerumah abah lagi. Selalu berdiam diri dirumah. Keluar paling mencegat tukang sayur untuk beli bahan masakan.
"Aku ini suami kamu ya. Panggil yang bagus dong." Mulai protes akan panggilan aku yang hanya menyebut nama. nampak tak terima dengan panggilanku.
"Emang minta dipanggil apaan sih?" Masih berdiri disisi motor yang sudah dinaiki Reyhan.
"Panggilan yang sopan lah. Ayok naik. Keburu malam ini." Perintahnya.
"Malas kali lah." Gerutuku saat menaiki motor .Karena kesusahan naik yang masalahnya gengsi tak mau pegangan pada pengemudi depan.
"Mentang-mentang biasanya naik mobil mulu lah."
"Bukannya gitu. Tapi tinggi kali ni motor. Besok ganti matic aja lah."
"Enak saja. Motor kesayangan ini." Mulai menyalakan motor setelah yakin aku sudah naik.
"Hey. Hati-hati dong." Teriakku kaget saat badanku terasa akan terpental karena motor yang melaju mendadak dengan kecepatan. Memang sengaja ni orang bikin aku jantungan. Mau bikin aku jatuh atau gimana?
Secara reflek untuk menghindari jatuh, aku menarik bajunya dan melingkarkan tangan diperutnya. Nafas masih ngos-ngosan efek kaget. Begitupun jantungku yang masih berdetak diatas normal.
"Nah, gitu dong. Pegangan biar nggk jatuh." Ucapnya santai, dan menautkan kedua tanganku yang melingkar diperutnya.
"Sengaja ya. Kalo aku jatuh gimana tadi?" Seruku protes . Berteriak marah dan memukul punggungnya. Melepas kembali tanganku yang berpegangan padanya. Untung tak jatuh.
"Kalo, kalo. Yang penting tak jatuh kan?" Tetap santai mengendarai motornya. Tak merasa bersalah membuatku ketakutan karena hampir terpental kebelakang. Dia kembali menarik tanganku untuk dilingkarkan diperutnya. " Pegangan gini, lo. Biar nggk jatuh beneran."
Hening. Aku menurut tanpa protes. Masih takut kalo sampai jatuh beneran. Meskipun tetap duduk tegak. Menghindari menyandar pada punggungnya.
Motor sudah keluar komplek perumahan. Mulai melewati jalanan padat penjual makanan. Kalo di perumahan mertua tak ada penjual makanan dipinggir jalan gini. Keluar kurang lebih satu kilo meter, baru penuh pedagang kaki lima yang memenuhi pinggir jalan.
"Kamu tak pernah pacaran ya?" Tanyanya tiba-tiba. Yang membuatku kaget plus heran. Kenapa pula bahas masalalu?
"Memang kenapa?" Masih mode judes.
"Tanya aja. Naik motor ama suami aja suruh pegangan susah banget. Nampak kali kalo biasanya selalu sendiri."
Deg. Maksudnya apa ini?
Kamu salah Rey. Aku seperti ini karena pernah pacaran. Dan masih mengharap punya kesempatan untuk kembali pada cinta pertama. Meskipun aku sadar sesadar sadarnya. Kalo kesempatan itu sudah kau renggut. Tapi aku belum ikhlas membuka hati untuk yang baru. Mencoba memberi jarak untuk hatiku.
"Tapi aku suka kok dengan wanita mandiri. Meskipun aku juga suka perempuan yang sedikit manja." Lanjutnya lagi.
"Lebih suka yang mana? Mandiri atau manja?" Tanyaku ketus, yang disambut tawa renyah olehnya.
"Keduanya."
__ADS_1
"Ya udah. Sana cari istri yang mandiri dan manja." Ucapku dengan penuh penekanan. Kenapa aku jadi sebel ya dengan dia bilang begitu?
"Aku sudah punya istri."
"Terus maksudnya apa bilang gitu? "
"Bukan apa-apa. Mau makan dimana ini?" Mengalihkan pembahasan. Memelankan laju kendaraan melewati gerobak-gerobak makanan.
"Basing lah. "
"Bakso mau? Ada mie ayamnya juga disitu. "Tawarnya. Melihat gerobak bakso yang lumayan banyak yang antri.
"Nggk mau. Nggk kenyang makan bakso." Tolakku.
"Kamu kecil-kecil makannya banyak ya?" Ledeknya menoleh kebelakang dengan senyum yang sedari tadi tak hilang.
"Kenapa? Tak suka?"
"Suka lah. Makan lah yang banyak. Biar nanti punya tenaga lebih untuk melanjutkan misi." Ujarnya dengan mata melirikku dan senyuman menggoda.
"Misi apaan?" Sok tak paham. Dan tak tertarik untuk paham. "Makan situ aja lah." Menunjuk gerobak penjual ketoprak.
"Okey. Aku mah makan apa aja asal ama kamu." Memarkirkan motor dekat penjual yang aku tunjuk. Dengan gombalan garing yang sama sekali tak menarik.
Setelah makan kami langsung pulang. Nampak sekali sepanjang kebersamaan Reyhan berusaha keras selalu membuat percakapan yang ku jawab ala kadarnya.
Pagi hari telah tiba. Tumben pagi ini aku bangun lebih dulu. Karena aku masih merasakan pelukan hangat Reyhan dari belakangku. Dengan dengkuran halus terdengar. Aku bergerak untuk menghadapnya. Ingin bangkit dan melepaskan pelukan. Tapi urung. Ternyata nyaman juga tidur dalam pelukan begini.
Melihat wajah tenangnya saat tidur membuat tanganku bergerak sendiri untuk menyentuh wajahnya. Membelai pipinya yang bersih tanpa bekas jerawat. Menyentuh alis hitamnya, juga hidung bangirnya. Turun menyentuh bibir tebalnya.
Kalo dia bangun mana berani pegang-pegangkan? Sesaat biarkan aku menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Terbersit rasa syukur punya suami se menawan ini.
"Mau coba?" Suara serak yang mengagetkanku. Perlahan mata itu terbuka. Membuatku langsung mundur dan memberikan jarak. Memalingkan muka karena malu. Karena nyatanya aku malah makin rapat karena pelukannya yang semakin erat.
"Hemmzz. Mau coba nggk?" Memajukan wajah mendekatiku. Membuatku berusaha keras menghindar dan menyembunyikan wajah yang sudah memerah karena malu.
"Ah, kecewa. Kirain tadi pegang-pegang karena mau mencoba ciuman yang sudah halal ini." Desahnya kecewa. Melihatku yang menyembunyikan wajah dibalik selimut. Aku tak bisa melihat rautnya kini. Pasti sok tersiksa.
Badanku terasa panas dingin tak karuan. Apalagi dalam posisi sedekat ini. Bisa kurasakan ada yang mengganjal dibagian wajah tubuh Reyhan. Seperti menusuk hendak protes dibalik kurungannya.
"Apaan sih?" Mempertahankan selimut yang ditarik untuk dibuka. "Udah bangun sana. Udah mau adzan itu." Memerintah turun duluan saat terdengar suara bedug yang dipukul. Tanda waktu sholat telah tiba. Disambung suara adzan yang memenuhi langit fajar. Bersahutan dari masjid-masjid dan mushola-mushola.
Menurut aja tu anak. Mungkin memang karena sudah waktunya bangun. Melepas pelukan dan turun dari pembaringan. Aku masih nyaman bersembunyi dibalik selimut. Hingga Reyhan keluar kamar untuk kemasjid, aku baru keluar dan memulai hari.
Aktifitas pagi ku tak ada yang berubah. Mencoba masak sekaligus bersih-bersih. Anggota keluarga yang lain keluar dari kamar sudah rapi siap berangkat memulai aktifitas masing-masing. Aku pun sudah selesai dengan semua pekerjaan rumah. Tinggal menyapu halaman depan dan menyiram koleksi tanaman milik suami.
Pagi ini Bunda ikut sarapan dimeja makan. Sudah selesai mandi . Sedangkan Beti beserta suaminya langsung pergi saat Bunda turut bergabung dimeja makan. Meskipun sarapan belum juga habis.
__ADS_1
"Mau Tasya ambilkan sarapan sekarang bun? Makan ya?" Kataku menawarkan makan pada Bunda yang menatap sedih kepergian anak dan menantunya. Menatapnya lekat hingga hilang dibalik pintu. Aku mengambil piring untuk menyiapkan sarapan.
"Benar tu, Bun. Kami masih disini menemani bunda sarapan. Ayok sarapan." Tambah Reyhan dengan senyum terbaiknya.
"Antar makanan bunda kekamar aja." Pintanya pelan, dan memutar kembali kursi rodanya untuk balik kekamar.
"Kenapa sih?" Tanyaku pada suami. Butuh penjelasan akan muka sedih Bunda. Biasanya saat aku temani makan dan cerita, bunda ceria-ceria aja. Kenapa pagi ini berubah? Apakah ada yang salah dengan kedua orang yang baru meninggalkan meja makan?
"Nggk papa. Sana anterin makan Bunda." Perintahnya yang langsung aku turuti. Sedangkan Reyhan melanjutkan sarapan seorang diri.
Pagi ini Bunda ingin makan sendirian. Memintaku keluar untuk mengurus suami yang akan berangkat kerja. Pengusiran halus karena ingin sendiri.
"Udah selesai? " Tanyaku melihat piring yang sudah kosong. "Nungguin apa?" Heranku, karena Reyhan masih duduk dimeja makan. Belum beranjak berangkat meskipun waktu terus bergerak maju. Tak takut telat apa?
"Pagi ini kamu masak banyak nggk?"
Eh. Kenapa malah tanyain makanan? Aku masak seperti biasa. Dan masih lumayan banyak sih. Karena kedua kakak ipar cuma makan sedikit. Biasanya setiap makan masakanku selalu tambah.
"Banyak lah. Mau nambah? Emang belum kenyang?"
"Udah kenyang lah." Mengusap perutnya yang katanya sudah kenyang.
"Teruuuuss?" Masih belum paham apa mau ni orang.
"Aku ingin makan siang masakanmu." Ucapnya dengan cengiran .
"Ya udah apa masalahnya? Nanti waktu makan siang pulang aja. Aku masakin yang enak. Gitu aja kok bimbang banget kayaknya." Berlalu pergi meninggalkannya yang masih duduk anteng ditempatnya. Aku berniat keluar mau nyiram bunga.
"Waktu istirahatku tak sepanjang itu." Sungutnya memanyunkan bibir. Yang membuatku menghentikan langkah, dan urung keluar. Balik arah mendekat suami kembali.
"Terus maunya gimana?" Keki deh aku. Menguji kesabaran aja ni suami.
"Itu." Menunjuk nasi goreng sisa sarapan, juga telor ceplok yang masih ada. Yang membuatku ikutan melihat kearah yang dimaksud.
"Mau dibawa ?" Tanyaku tak percaya. Mana enak kan nasi goreng untuk makan siang? Dia udah dingin kalo dimakan nanti.
Tapi ku lihat Reyhan menganggukkan kepala perlahan dengan mata berbinar senang.
"Aduh." Tepuk jidat. Tapi tetap aku turutin.
Bagai ngurusin anak mau berangkat sekolah ya? Pake nyiapin bekal segala. Seneng kali lihat bekalnya.
"Emang disana nggk ada kantin apa?" Tanyaku masih tak percaya dengan kemauan suamiku. Katanya kepala sekolah. Masak ke sekolah bawa bekal nasi goreng?
"Ada."
"Teruuss?"
__ADS_1
"Mau makan masakan istri tercinta." Jawabnya ngedrama. Memperjelas akhir katanya. Yang membuatku geleng-geleng kepala.