
Tak butuh waktu lama untuk Tasya menyelesaikan mandinya. Di dalam kamar Reyhan sudah bersiap-siap, bahkan memasukkan beberapa pakaian kedalam koper kecil. Tasya sedikit aneh dan heran akan kelakuan suaminya.
"Kenapa pake koper Ay? Mau nginap dimana? Emang kita mau kemana? " Tanya Tasya heran dan berjalan mendekati suaminya yang menyusun barang di koper. Pasalnya didalam koper itu juga nampak pakaian Tasya yang Reyhan siapkan, bukan hanya pakaian suaminya itu. Jadi tak mungkin kalo Reyhan akan pergi karena tugas kerja. Kalo tugas kerja sudah biasa terjadi, tapi palingan cuma bawa baju satu stel. Tak harus menggunakan koper.
"Ikut aja. Sana ganti baju." Perintahnya santai sambil tersenyum. Tanpa merasa bersalah telah membuat istrinya bingung dan penasaran.
"Mau kemana dulu?" Bujuk Tasya duduk disamping suaminya, meskipun dia kini hanya memakai handuk mandi.
"Main lah. Kan tadi rencananya mau main." Jawab Reyhan lembut.
"Tapi kemana?" Merengek.
"Rahasia." Tegas.
"Ih, tak jadi lah kalo pake rahasia-rahasia segala." Merajuk kesal karena penasaran. Duduk membuang muka dengan muka ditekuk ngambek.
"Udah nggk usah pake ngambek. Sana ganti baju. Atau mau aku pakaikan?" Godanya dengan mengedipkan mata. Tasya hanya membuang nafas kasar.
"Okey." Akhirnya Reyhan berdiri, berjalan mendekati lemari dan memilih pakaian Tasya, komplit.
"Ini. Mau pake sendiri atau dipakein?" Menyodorkan pakaian lengkap Tasya dengan mata genit menggoda.
"Apaan sih Ay?" Ujar Tasya malu dan menarik pakaiannya. Malu melihat pakaian rahasia wanita malah ditaruk ditumpukan paling atas sama Reyhan. Jadi yang paling nampak oleh penglihatan. Reyhan hanya tersenyum penuh arti melihat tingkah malu istrinya.
"Nggk usah lihat-lihat orang pake baju." Ketus Tasya saat melihat Reyhan yang memperhatikannya, yang membuatnya risih dan malu diperhatikan saat ganti baju.
"Udah hapal semua kali sayang. " Jawab santai Reyhan.
" Kalo udah hapal tak usah dilihat lah. Nanti pengen, malah bikin repot." Suara Tasya masih bernada kesal, tak bersahabat.
"Pengen sama istri sendiri harus dipenuhi yang. Dari pada cari yang lain?" Masih santai menutup koper yang siap dibawa.
Nada santai Reyhan mengatakan kata itu cukup membuat perasaan Tasya tercubit sakit. Seakan menjadi niat tersembunyi yang tersampaikan lewat candaan. Meskipun kini dia masih tak ingin berhubungan suami istri, namun membayangkan suaminya memeluk perempuan lain tetap membuat hatinya tak rela.
"Ya udah, cari yang lain aja sana, banyak yang jual tuh." Bukan cuma kesal, kini Tasya sudah mulai marah. Menyelesaikan pakai baju dengan cepat dan kasar.
__ADS_1
"Emang bakwan banyak yang jual. " Jawab Reyhan dan berjalan mendekati istrinya yang kini sudah duduk didepan meja rias.
Tasya hanya melengos menyembunyikan rasa sesak yang tiba-tiba datang. Namun Reyhan merangkulnya dari belakang, menatap istrinya dari pantulan cermin didepannya. Paham kalo istrinya sedang merajuk, namun tak berniat membujuk.
"Jadi kalo aku cari istri lagi boleh ni? Istriku kan sudah pintar cari uang sendiri?" Goda Reyhan dengan menahan senyum melihat muka manyun istrinya.
"Terserah." Ketus Tasya.
"Bilang terserahnya sambil senyum dong, kalo sambil cemberut gitu kayak nggk ikhlas." Makin jadi menggoda, dan menarik pipi istrinya hingga membuat bibirnya tertarik kebelakang, mencipta senyuman.
"Ck." Berdecak kesal dan menepis kedua tangan suaminya yang ada dipipinya. "Terserah." Ulang Tasya dengan senyum terpaksa, yang membuat tawa Reyhan pecah dan Tasya membalik badan melihat langsung wajah senang suaminya dengan muka mencebik.
"Ya udah cepetan dandan. Aku tunggu dimobil." Perintahnya dengan mencuri ciuman singkat dibibir manyun istrinya yang membuat Tasya makin menekuk muka. Ngedumel tak jelas.
"Tak usah menggerutu. Istri yang sabar dan ikhlas dijamin masuk syurga lo." Suara Reyhan ambil berlalu keluar dengan menarik kopernya, masih dengan tawa renyah. Nampaknya bahagia sekali udah buat istrinya kesal.
Setelah bersiap dan berpamitan dengan para pekerja, Tasya menyusul Reyhan kedalam mobil.
"Sudah siap?" Tanya Reyhan dengan senyum cerah. nampaknya bahagia sekali.
"Okey, lets go." Melajukan mobilnya sambil berdendang riang, mengikuti alunan nasyid yang diputar.
Sepanjang jalan Tasya hanya diam menatap keluar jendela kaca. Yang menampakkan pemandangan pedesaan yang masih asri. Menghitung rumah yang dilewatinya. Yah, rumah disini masih jarang-jarang. Jarang ada rumah yang berpagar tinggi, dan tak ada rumah yang berdinding rapat dengan dinding tetangga. Masih punya halaman yang luas untuk bermain para anak-anak.
"Kita mampir sini bentar ya." Ucap Reyhan memecah kesunyian, membelokkan mobilnya kehalaman rumah bang Rasya. Rumah yang dulu juga pernah ditinggalinya.
"Iya." Jawab singkat Tasya.
Mengucap salam, langsung dijawab sang pemilik rumah. Ternyata bang Rasya hari ini dirumah, juga ada Beti dan Bunda. Mereka bertiga sedang menonton tivi, dengan Beti yang berbaring disofa panjang, dan berbantalkan paha suaminya yang duduk diujung sofa. Sedangkan Bunda duduk disofa terpisah.
"Eh, Sayang. Jadi mau liburannya?" Sambut Bunda yang melihat kedatangan Tasya dan Reyhan, yang membuat Tasya mendelik heran, melihat kearah suaminya minta penjelasan, tapi malah diacuhkan.
Kenapa pula Bunda tanya liburan? Apakah Reyhan merencanakan sesuatu ?
"Jadi lah bun." Jawab Reyhan, Tasya hanya menjawab dengan senyuman dan menerima pelukan sang mertua. Nanti juga akan tahu jika waktunya tiba.
__ADS_1
"Kamu enak Rey, istrimu hamil tetap bisa ngapa-ngapain. Bahkan usahanya makin maju karena kehamilannya. La ini?" Tukas bang Bagas merasa iri akan keadaan Tasya, dan menunjuk istrinya dalam pangkuan yang memejamkan mata.
"Alhamdulillah. Istriku wanita kuat." Puji Reyhan dan tersenyum melihat sang istri.
"Ck."
"Ya udah kalo mau liburan sana pergi. Jangan lupa tetap jaga kesehatan. Ingat Rey, istrimu sedang hamil. Jangan terlalu capek." Usir bunda dan menyampaikan pesannya.
"Siap Bun."
"Sana-sana pergi. Bersenang-senang lah." Ucap bang Bagas.
Ah, ternyata memang hanya Tasya yang tak tahu rencana Reyhan.
"Siap. Titip bunda dulu bang." Pesan Reyhan dan berjabat tangan gantian.
"Titip-titipp. Bundaku juga ini." Protesnya.
Tasya hanya terdiam dan mengikuti Reyhan meninggalkan tempat tanpa banyak tanya, meskipun hati penasaran.
Cukup liburan kan? Bukan ketemuan dengan calon madu? Batin Tasya teringat pembahasan sebelum berangkat tadi. Reyhan mau pergi pake izin keluarganya, sedangkan Tasya sama sekali tak mengabari abahnya.
Mobil kembali melaju meninggalkan pedesaan. Menuju bandara yang ada dikota. Sepanjang jalan Tasya hanya diam mengenali jalanan. Menerka kemana dia akan dibawa pergi suaminya. Sedangkan Reyhan hanya sesekali melirik istrinya yang terdiam, sama sekali tak berniat mengutarakan tujuannya.
"Kok diam aja sih yang. Cerita ngapa?" Akhirnya Reyhan bersuara juga, yang membuat Tasya melihatnya sebentar, kemudian kembali melihat jalanan dibalik kaca jendela.
"Kamu tak suka ya ku ajak jalan-jalan? " Tanyanya memancing pembicaraan.
"Suka. " Jawabnya singkat.
"Terus kenapa diam? Tak penasaran kah? Kok diam aja?"
Dari tadi kali aku sudah bertanya, tapi tak dijawab. Kesal Tasya dalam hati.
"Nanti juga akan tahu kalo sudah tiba waktunya." Jawab Tasya datar.
__ADS_1