
"Astaghfirullah. Beti..." Teriakku sekuat tenaga.
Masuk dapur disambut alat masak yang semua turun dari rak. Alias kotor semua. Menumpuk ditempat cuci piring beserta piring dan gelas. Ditambah meja yang berminyak dan kotor tanpa dilap. Begitupun kompor banyak bercak tetesan makanan yang bercercer. Suasana dapur lebih kacau dari pada diruang tamu. Aku geram dan marah melihat keadaan itu. Biasanya aku tata rapi, dan selalu dibereskan dan dilap setelah dipakai. Dan aku masak tak pernah membuat semua panci dan kuali kotor bersamaan.
"Beti." Teriakku lagi saat sang punya nama tak juga kunjung datang memenuhi panggilanku. Aku berjalan cepat ingin melampiaskan kekesalan.
"Beti."Teriakku didepan kamarnya, dan menggedor pintu yang tertutup.
"Ada apa sih sayang?" Tanya suamiku yang tergopoh datang. Kaget dengan teriakanku yang terdengar memenuhi rumah.
"Tengok tu bentuk dapur. " Laporku mbesengut dengan telunjuk menunjuk arah dapur.
"Ada apa sih teriak-teriak? Lagian kamu ini . Dia itu kakak ipar dirumah ini. Asal panggil nama aja. Tak pernah diajari sopan santun kamu? " Cerca Rasya yang datang dengan mengucek matanya. Usah sesore ini masih tidur aja dia. Dan nampak kesal ada yang mengganggu istirahatnya.
"Istri kau mana?" Tanyaku tanpa basa basi. Tak peduli ucapannya. Menggesernya dan masuk mencari Beti yang ternyata masih nyenyak tidur diatas kasur empuknya. Tak punya telingakah dia? Aku sudah teriak sekuat tenaga, ternyata tak mengganggu tidurnya.
"Eh, sopan dong kalo masuk kamar orang." Tegas Rasya menarikku mencegah agar tidak masuk lebih jauh lagi. "Lagian kenapa sih datang marah-marah begini?" Tanyanya heran bin bingung.
"Kamu nggk lihat keadaan rumah kayak kapal pecah karena ulah istrimu." Jelas Reyhan menunjuk-nunjuk arah yang berantakan.
"Ya kan bisa diberesin nanti." Belanya.
"Nanti kapan? Ini udah sore, bahkan udah mau magrib tau nggk. Nunggu Lusa? Biar ada belatungnya dulu?" Balasku sengit . Tak peduli kalo dia ini adalah kakak iparku.
"Nanti kan masih ada waktu."
"Apa sih? Ganggu orang tidur aja." Lenguh Beti yang menggeliat diatas tempat tidurnya. Yang membuat kami bertiga melihat kearahnya. "Kenapa kumpul disini semua?" Tanyanya tanpa rasa bersalah melihat kami yang ada dikamarnya.
"Eh. Orang tu kalo habis pake barang diberesin lagi dong. Jangan malah tinggal tidur." Teriakku pada Beti yang baru bangun tidur. Yang membuatnya langsung sadar dan berjalan menghampiriku. Karena aku tak jadi menghampirinya dan memukulnya yang masih nyenyak. Dicegah ama suaminya.
" Udah sih. Nantikan bisa diberesin. Aku capek tahu nggak sih ? Baru pulang mau istirahat malah bikin ribut aja." Kesal Rasya yang memang nampak lelah. Ikutan marah padaku yang udah buat ribut disore hari.
__ADS_1
"Jangan salahkan istriku dong. Lagian istri abang itu, ajarin tanggung jawab napa. Istri kayak gitu masih dipelihara aja." Sinis Reyhan pada kakaknya. Dengan menahan amarah dan kesal.
"Eh, emang aku apaan dipelihara?" Protes Beti berkacak pinggang.
"Yah dia masih istirahat, nanti juga diberesin. Nanti aku juga bantu lah. Sana keluar! Ganggu aja." Mengusirku yang masih didepan pintu.
"Iya, sana keluar. Baru disini hitungan hari aja udah sok belagak jadi tuan rumah." Ketus Beti menatapku. Aku tak gentar melangkah maju untuk menerima tantangan. Dia pun mengangkat dagu menantang, dengan tangan dipinggangnya.
"Rey. Ajak istrimu keluar dari kamarku." Perintah Bang Rasya pada adeknya.
"Kenapa bang? Apa abang masih akan membela istri urakanmu itu?"
"Yang urakan itu istri kamu. Datang-datang bikin geger rumah aja."
"Bang. Kalo hanya masalah rumah kotor dan berantakan itu masih bisa dimaklumi bang. Tapi bayangkan, kak Beti membuat acara masak-masak dirumah dengan temannya. Tapi Bunda dari siang tak dikasih makan. Bahkan pintu kamarnya dikunci dari luar. Anak mana yang rela ibunya diperlakukan begitu? Sekarang mag Bunda kambuh itu." Jelas Reyhan dengan suara setengah teriak. Menuding Beti yang mulai gelisah. Tak setenang dan seangkuh tadi. Tangannya sudah turun dari pinggangnya.
"Benar begitu Beti?" Tanya Bang Rasya pada isyrinya, dengan mata tajam menusuk suara penuh intimidasi.
Aku melihatnya dengan sinis. Ternyata dia bisa takut juga ya? Ditatap oleh suaminya begitu langsung menciut.
"Kamu keterlaluan Beti." Mengibaskan tangan menepis tangan Beti yang mencoba meraih lengannya.
Aku takut sendiri melihat aura Rasya saat marah. Menakutkan. Bahkan badan Beti bergetar dengan kepala menunduk takut. Tak berani menatap mata suaminya yang berkilat marah. Siap menerkam mangsanya.
"Lagian bang, Kalo memang abang peduli sama Bunda. Kalo pulang kerja cobalah sebentar menyapanya. Jangan cuma istri yang diperhatikan. Bunda juga butuh perhatian kita bang." Nasehat Reyhan dan Menarikku untuk keluar membiarkan suami istri itu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Entah kenapa aku senang melihat pertengkaran suami istri itu. Pertengkaran yang kami ciptakan. Kalo bukan karena aku dan Reyhan, mereka pasti masih damai dan harmonis.
Untung aku jadi pulang sore ini. Jika tidak pulang dan tetap keukeuh untuk tinggal dirumah Abah. Tak tahu lagi bagaimana nasibnya Bunda. Ada ya menantu yang kayak gitu? Heran deh.
"Cepatlah masak, kasihan Bunda sakit karena lapar. Bikinin bubur untuk Bunda ya." Pinta Reyhan masih sedikit ada aura marahnya dan masuk kembali kekamar Bunda. Aku masuk dapur dan mencuci panci yang aku butuhkan. Membuka kulkas.
__ADS_1
"Innalillahi..." Lirihku lemas melihat isi kulkas yang kosong. Baru kemaren aku membeli sayur dan lauk yang kuperkirakan cukup hingga seminggu kedepan. Dan ternyata habis dalam sehari.
"Sabar oh sabar." Hanya bisa mengelus dada menahan amarah. Membujuk diri agar tak marah-marah lagi.
"Ay..." Panggilku dan menyusulnya kekamar Bunda. Ku lihat Reyhan duduk ditepi ranjang dengan Bunda yang terbaring meringkuk menghimpit perutnya sendiri. Berharap bisa mengurangi perih diperutnya.
"Maafkan Bunda ya. Karena Bunda kalian bertengkar dengan abang mu." Ucap Bunda lirih merasa bersalah. Dengan mata sembab dan sesenggukan.
"Bukan salah Bunda. Reyhan hanya ingin bang Rasya tahu kalo istrinya itu tak sebaik dan semanis saat dihadapannya. Beti yang salah Bun."
Bahkan masih terdengar suara lantang Rasya, juga jawaban Beti yang takut-takut. Juga terdengar suara barang dibanting. Ah, sekali-kali bikin rusuh dan runyam rumah tangga orang tak apalah ya?
"Tapi karena Bunda kan Mereka sekarang bertengkar?" Suara lirih bunda yang kalah dengan isakannya.
"Udahlah. Bunda istirahat aja, nggk usah mikir yang macam-macam. Tasya sedang masak untuk Bunda. Istirahatlah." Mengusap pelan punggung Bunda untuk menenangkan.
Aku berjalan mendekat dan menghampiri Reyhan.
"Kenapa? "Tanya Reyhan pelan yang melihatku mendekat tanpa membawa makanan.
"Kulkas kosong, Ay. Cuma ada telor dua butir." Laporku dengan suara rendah mengangkat dua jari. Takut Bunda dengar.
"Ya udah masakkan itu untuk Bunda. " PErintahnya.
Aku menurut, dan Reyhan jalan keluar kamar.
"Selain bikin Bunda sakit dan buat rumah kayak kapal pecah. Istrimu juga mengosongkan kulkas tanpa diganti isinya. Masih kurang kali uang belanjanya." Ucap Reyhan saat melewati kamar orang yang sedang diam-diaman itu. Sudah tak ada suara makian dan teriakan pertengkaran. Sapaan Reyhan menyulut kembali emosi yang hampir padam.
"Diam kau. Cuma masalah makanan aja diperhitungkan segitunya. Dasar pelit." Suara Beti yang menyahut.
"Kamu yang diam." Bentakan Rasya. Sedangkan Reyhan langsung melenggang pergi setelah kembali membuat dua orang itu adu mulut.
__ADS_1
"Aku nggk nyangka ya. Selama ini aku mencoba percaya padamu. Menganggap angin lalu semua laporan buruk tentang mu. Ternyata kini bundaku yang jadi korban." Marah Rasya dan berjalan meninggalkan Beti dan masuk kekamar Bunda.
Sedih sih lihat Beti dimarah sama suaminya. Tapi jengkel juga jika ingat kelakuannya. Jadi biarlah. Tak usah dibela. Biarkan jadi pelajaran untuknya.