Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Keluarga Mila


__ADS_3

Matahari sudah naik , memberi kehangatan pada penduduk bumi. Memberi semangat untuk menjalani hari. Menjalani aktifitas harian yang terus berulang. Namun aku memilih menambah aktifitas baru dalam daftar harianku. Yaitu buat makanan.


Usai menyiapkan dagangan pertama yang dititipkan disekolahan. Juga selesai dengan pekerjaan rumah yang selalu ada. kini aku memulai untuk membuat pesanan mbk Mila. Dengan Bunda yang selalu setia menemani dan membantuku pastinya. Mengajak cerita dan mengobrol biar tak bosan. Membahas apa saja yang penting tak membicarakan kejelekan orang. Loncat-loncat pembahasan sesuka hati.


"Bunda kalo capek istirahat aja dulu. Bentar lagi ini kok." Saranku yang melihat Bunda sedari pagi sudah membantuku. Lagian tinggal membuat kuah pempek. Semua sudah jadi tinggal goreng sebelum diantar sore nanti.


Adzan dzuhur masih satu jam lagi. Tapi alhamdulillah tak terasa semua sudah jadi. Tak terasa capek jika melakukan sesuatu sesuka hati.


"Ya udah. Bunda istirahat dulu. Pegel juga dari tadi duduk terus." Setujunya dan kembali kekamar untuk istirahat sebelum datang waktunya sholat.


"Istirahat lah Bun. Habis ini Tasya juga mau istirahat kok." Kataku yang masih menunggu kuah cuka mendidih.


Aku tinggal istirahat sejenak setelah selesai. Berbaring diatas karpet tebal depan tivi. Semua tayangan rata-rata sama. Acara drama perebutan harta, tahta, dan wanita. Melihat berita pun rata-rata yang disiarkan setiap harinya sama. Soal ekonomi negara yang kacau karena wabah yang beredar, tindak kriminal dimasyarakat, Juga tengkulak yang suka memainkan harga, kabar duka yang tak ada habisnya. Aku malas menonton semua itu. Bukan karena tak ada rasa empati atau simpati, hanya merasa bukan wewenangku untuk mengurus semua itu. Memilih channel acara memasak yang dipandu chef terkenal. Ini lebih menyenangkan. Mengobati pegal yang badan rasakan.


Asik-asik melihat acara kesayangan. Nampak Beti masuk rumah dengan senandung riang. Tanpa salam atau sapaan melewatiku begitu saja. Aku balas cuek aja, tap peduli.


Sedangkan suara Rasya sedang bicara sendiri diluar sana. Bukan karena gila ya, mungkin lawan bicaranya ada dalam benda pipih digenggamannya.


"Mau kemana?" Kepo juga ternyata aku. Tak tahan untuk tak tanya melihat Beti menyeret koper mini dari kamarnya. Dengan wajah berseri , nampak sangat bahagia.

__ADS_1


"Liburan dong." Jawabnya sombong. Dengan bergaya menyombongkan diri.


"Owh." Hanya itu balasanku. Tak tertarik untuk bicara lebih. Dan memilih kembali fokus pada layar besar dihadapanku.


"Liburan lah. Horang kaya. Emang situ? Jangan kan liburan, honeymoon aja nggk." Ucapnya lagi dengan penuh penghinaan. Aku mengernyitkan kening heran dengan ucapan Beti.


"Tunggu aja tanggal mainnya. Nanti aku juga akan liburan ketempat paling romantis didunia ini." Jawabku tak kalah pongah. Padahal aku tak ada niatan sedikit pun untuk liburan atau honeymoon, atau apapun itu namanya. Mencibir dengan memajukan bibir bawah.


"Buktikan!" Serunya dan kembali melangkah pergi.


Honeymoon? Dulu aku juga punya impian untuk menikmati awal pernikahan ditempat yang jauh dari gangguan orang-orang sekitar. Menghabiskan waktu bersama pasangan. Menciptakan kenangan manis ditempat yang romantis. Mengabadikan dalam foto dan menjadi cerita yang tak akan bosan membahasnya.


Tapi impian itu menguap. Hilang dibawa lelaki yang pergi membawa seluruh mimpi manisku tentang hubungan harmonis. Lenyap semua mimpi tentang adegan romantis seperti yang pernah ku lihat dalam layar kaca.


"Eh. Gimana tadi buatnya? Kok udah selesai aja." Sadarku saat kembali melihat tivi, ternyata sudah selesai.


"Hanya gara-gara Beti yang mengingatkan honeymoon kan." Gerutuku kecewa karena tak jadi mengikuti acara yang kulihat. Malah asiik mengkhayalkan bulan madu dengan sang mantan. Padahal Suamiku juga lebih dari sempurna untuk menjadi pasangan. Meskipun tak romantis, nyatanya tak pernah mengajak liburan, apa lagi bulan madu. Tapi dia tak kalah baik.


Mematikan televisi saat tak ada lagi acara yang menarik untukku. Berganti melihat ponsel. Berselancar di dunia maya yang jarang sekali ku singgahi. Hanya scroll story orang, tanpa ikutan memosting atau menulis sesuatu. Dari satu aplikasi ke aplikasi yang lain, tetap hanya melihat-lihat hot issue yang sedang booming. Tak ingin ikutan membagikan hot issue, juga tak minat sekedar komentar.

__ADS_1


Setelah cukup istirahat, juga sudah dzuhur dan makan siang kini melanjutkan menyelesaikan pesanan. Cukup menggoreng donat terlebih dahulu, lanjut goreng risoles dan pempek. Setelah donat dingin, lanjut memberikan toping yang menarik.


Sebelum waktuini acara dimulai aku mengantar ke tempat tetangga samping rumah. Karena dia yang pesan.


"Assalamualaikum." Salamku didepan rumah. Hari ini tak ada ibu-ibu teman nongkrong didepan rumah. Mungkin karena mbk Mila sedang sibuk menyiapkan rumah untuk acara pengajian.


"Waalaikum salam. Eh, mbk Tasya, masuk mbk." Membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkanku masuk.


Aku masuk dengan kedua tangan yang masih penuh bawaan. Ni ibu-ibu tak niat bantuin aku apa? Aku hanya menggerutu dalam hati, dan tetap berjalan mengikuti mbk Mila.


Memasuki ruang tamu yang sudah rapi. Atau memang selalu rapi? Entahlah. Diruangan sebelahnya kosong tanpa perabotan, hanya ada karpet berbulu yang digelar. Mungkin ini tempat yang akan dipake mengaji.


Emang anggota pengajiannya tak banyak ya? Pikirku melihat hanya satu ruangan yang disiapkan untuk menerima tamu.


Ruang sebelahnya lagi ada suara tivi yang menyala. Dan, Subhanallah. Disini ruangan yang cukup menakjubkan. Tivi menyala, dan ada kasur busa tipis didepannya, dengan kain sprei yang sudah tidak pada tempatnya, juga mainan berserakan dimana-mana, dua anak perempuan yang kira-kira dibawah lima tahun bermain pasaran dengan Barbie dan rumah-rumahan. Satu anak laki-laki lebih besar sedang membaca buku sambil berbaring diatas kasur, buku yang sekilas kutahu kalo itu buku komik. Sedangkan anak lelaki yang berkisar umur tujuh tahunan sedang menggambar dengan pensil warna yang bececeran.


Aku sedikit kaget melihat ruangan yang amburadul, tak seperti ruangan lain yang rapi. Maklum aku tak biasa serumah dengan anak kecil. Punya keponakan satu pun tak akrab denganku.


"Sini, mbk. Maaf ya mbk, rumahnya berantakan. Maklum punya anak kecil ya beginilah mbk." Kata mbk Mila yang melihatku memperhatikan ruangan yang ditempati anak-anak. Berharap aku memaklumi keadaannya.

__ADS_1


"Iya , Bu. Emang itu anak ibu semua?" Tanyaku memastikan. Anak-anak yang jaraknya tak terlalu jauh itu, mungkinkah anaknya sendiri? Alangkah repotnya seandainya iya.


"Iya, mbk. Itu yang paling kecil namanya Hana, baru umur dua tahun, kakaknya Bela umur empat tahun. Sedangkan yang gambar itu umur tujuh tahun kelas satu SD, namanya Fatih. Yang kakaknya lagi kelas empat SD namanya Ammar. Itu masih ada Fahri anak pertama belum pulang les, udah kelas enam dia." Jelas mbk Mila yang membuatku takjub sekaligus kaget.


__ADS_2