
"Waalaikum salam. Terimakasih sudah percaya belanja pada kami. Dengan senang hati kami akan menyiapkan pesanan anda pada waktu yang ditentukan. Kami akan mengabari lagi jika waktunya tiba ." Ketik Tasya sebagai jawaban.
Pesan balasan belum berhasil terkirim, sudah datang pesan baru dari nomor yang sama. Namun Tasya tetap mengirim pesan yang sudah diketiknya.
" Tambah dua rainbow cake, diantarkan pada waktu yang sama. " David menggerutu dalam hati karena yang dipesan Jo bukan kue kesukaannya, tapi kesukaan Johan sendiri. Namun tak apa, dia tetap merasa berterima kasih pada Johan yang memberikan ide tersebut. Beralasan memesan cake untuk bisa bertemu berdua ditempat yang istimewa. Tempat yang penuh kenangan untuk mereka berdua. Dan memilih memesan kue kesukaan Tasya sendiri.
David masih ingat betul kue kesukaan Tasya. Karena dulu dia yang sering membelikan untuknya. Meskipun suka masak, David tak terlalu suka membuat roti atau sejenisnya. Tapi bukan berarti tak bisa.
Tasya tersenyum senang melihat orderan barusan. Tak lupa bersyukur pada Allah atas rezeki ini. Dan tertawa lucu membaca julukan usaha barunya dari pelanggan itu. Selama ini Tasya belum memberikan nama apapun akan usaha kuenya.
"Kenapa malah senyum-senyum sendiri gitu? Siapa itu yang pesan? Kok suruh antar ke danau?" Tanya Reyhan yang masih berdiri didepan istrinya, dan melihat istrinya senyum-senyum sendiri membaca pesan singkat diponselnya.
"Hemm . Iya gimana?" Jawab Tasya tergagap, sangking bahagia mendapat orderan triple sekaligus, sampai lupa kalo ada suami didepannya. Bahkan lupa kalo mereka masih didepan masjid sekolahan, yang mana penghuni masjid sudah mulai melakukan sholat.
"Pesanan dari siapa?" Tanya Reyhan lagi dengan intonasi menyelidik. Reyhan sudah membaca pesan yang masuk itu tadi, jadi dia tak negatif thinking. Yang membuat istrinya bahagia bukan karena siapa yang mengirim pesan, tapi karena isi pesan yang membuatnya bahagia. Lagian pesan itu dari nomor yang tak tersimpan dikontaknya. Dia percaya kalo istrinya akan selalu setia, tak mungkin chatingan dengan lelaki lain. Bahkan setahu dia, Tasya bukanlah orang pecinta ghosip. Jarang membaca group gosip ibu-ibu komplek yang diikutinya. Dia masuk group bukan karena mau, tapi kehendak bu RT.
"Nggk tahu lah Ay. Dia nggk memperkenalkan diri kok." Jawab Tasya cuek. "Tapi lumayan lo Ay. Tiga sekaligus dia pesan. Mungkin mau buat acara di dekat danau kali ya?" Lanjut Tasya dengan senyum sumringah.
"Ya alhamdulillah. Ya udah yok Dzuhur dulu. Yang lain udah pada selesai itu." Kata Reyhan mengingatkan niat awal mereka ada disana, sambil melihat para murid yang sudah bubar keluar masjid. Tinggal beberapa yang masih betah berdzikir disana.
"Oh iya. Ayok." Kembali kekamar mandi untuk wudhu berdua. Lanjut sholat berjamaah dengan suami.
__ADS_1
Tasya jadi sedikit risih berjalan berdua dengan Reyhan. Semua mata yang melewatinya menatap kearahnya dengan macam-macam ekspresi. Dan beberapa menyapa sopan dan menundukkan kepala hormat. Ada juga yang senyum-senyum kearahnya sambil bisik-bisik dengan teman disampingnya.
"Kenapa sih? Nggk usah aneh gitu kali. " Ucap Reyhan yang melihat raut tak nyaman istrinya, karena menjadi pusat perhatian.
"Kenapa pada lihatin kita begitu sih? Tadi waktu aku jalan sendirian tak ada yang peduli. Cuma lihat sekilas doang. Kenapa sekarang pada repot-repot memperhatikan? Ada yang aneh ya?" Tanya Tasya yang merasa aneh. Tak biasa menjadi pusat perhatian. Tak nyaman saat banyak pasang mata menatap kearahnya dalam waktu bersamaan. Merasa ada yang salah saat banyak yang bisik-bisik ketika melihat kearahnya. Menegang wajah dan jilbabnya sendiri yang menurutnya tak ada yang salah.
"Kamu lupa sedang berjalan dengan siapa?" Jawab Reyhan sedikit menyombongkan diri.
"Tapi nggk segitunya juga kali."
"Kan mereka belum pernah melihat langsung istriku ini. Makanya pada liatin."
"Melihat langsung?" Aneh Tasya dengan ungkapan suaminya. Emang biasanya lihat lewat apa???
"Emang waktu kita nikah murid-murid diundang ya, Ay?"
Saat menikah dulu, Tasya tak ingat semua tamu undangan yang datang. Dia lebih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Jadi tak peduli siapa aja yang datang diacara pentingnya. Apalagi tamu yang datang lebih banyak yang tak ia kenal dibanding yang dikenalnya. Mungkin rata-rata kenalan Reyhan. Dan Tasya tak banyak tanya waktu itu. Karena memang acara cuma digelar ditempatnya, jadi teman dan kenalan Reyhan datang diacara yang dirumahnya. Dirumah Reyhan cuma ada acara pengajian ibu-ibu, dan syukuran kecil-kecilan aja.
"Diundang lah. Tapi tak semua datang. Tapi lebih banyak yang datang sih."
Mereka berpisah saat sudah masuk area wudhu yang terpisah antara pria dan wanita. Tasya berusaha tak mempedulikan tatapan mata yang masih ada. Karena tinggal sedikit, Banyak yang sudah pergi ke mad'am untuk makan siang.
__ADS_1
Masuk masjid yang luas itu, ternyata belum kosong. Masih ada beberapa murid yang masih betah duduk-duduk disana. Ada yang sekedar berbaring dipojokan, ada juga yang tilawah, juga ada yang masih sholat sunah. Ada juga yang mengobrol dipelataran masjid.
_________
Setelah membantu mengetikkan pesan untuk David Jo langsung pergi. Tak peduli dengan teriakan David yang protes melihat pesan yang dikirimnya. Bukannya terima kasih malah protes.
"Ingat, kak. Brownies nya untukku." Teriak Johan yang sudah diluar pintu ruangan sahabatnya. Dia lupa akan niatnya datang ketempat David, untuk membahas menu baru di restaurannya. Ada hal yang lebih menarik perhatiannya saat ini.
"Tak akan. Mau ku musiumkan." Balas David berseru, lalu menutup pintu ruangannya dengan keras. Dan memesan kue lanjutan.
Ting.
Balasan chat masuk dari nomor yang diberi nama My Destiny. Dia tersenyum senang membaca deretan huruf yang terbaca diponselnya. Merebahkan diri disofa panjang, dan membaca berulang pesan yang sudah dipahaminya, bahkan sudah hapal isinya. Mencium ponsel yang ada dalam genggamannya. Tertawa bahagia.
"Tunggu aku Tha. Penantian panjang ini akan segera berakhir sayang. " Mengusap wajah yang terpampang dilayar utama ponselnya. Wajah mereka berdua saat masih remaja yang unyu dan culun.
"Aku kangen banget sama kamu. Apakah kamu juga kangen sama aku?" Bertanya sendiri, dan dijawab tawa sendiri.
"Kenapa harus nunggu hari minggu sih?" Melempar ponsel ke sofa disebelahnya. Kesal mengingat pesan yang dikirim Johan, berarti masih tiga hari dari sekarang. Sebenarnya tiga hari bukan waktu yang lama jika dibandingkan bertahun-tahun penantiannya. Namun tiga hari untuk hati yang diserang rindu, terasa lama sekali.
"Apa perlu dimajukan aja ya?" Bertanya pada diri sendiri . Berfikir. "Tapi nanti dia meragukanku kalo plin plan begitu. Malah curiga nanti. Tak jadi kejutan dong." Memilih menunggu lagi.
__ADS_1
David memejamkan mata. Menikmati bayangan Tasya yang datang membayang dipelupuk mata. Membiarkan kenangan yang baru diingatnya itu datang silih berganti memenuhi kepala. Dia sama sekali tak menolak. Namun dia sangat menikmati, mengingat kenangan bahagia yang pernah dilaluinya.
Dia tak peduli dengan kerjaan menumpuk. Juga tak peduli bagaimana keadaan restorannya hari ini. Kali ini dia memilih percaya pada pegawai yang direkrutnya. Lebih baik santai menikmati hayalannya sendiri. Merancang apa yang akan dilakukannya saat bertemu Tasya.