
Aku masih terdiam dalam pelukannya. Ku rasakan Arfan mengusap pelan punggungku. Ku lirik Amel menatap cemas kearahku. Aku mengabaikannya.Tapi entah bagaimana nanti, karena setahuku Amel termasuk pecinta gosip. Biarlah. Ku yakin dia tahu mana yang harus diucapkan, dan mana yang harus disimpan.
"Kamu kenapa sih? Kamu sakit ya? Aku antar kerumah sakit ya?" Tanya Arfan mengurai pelukan. Mengarahkanku untuk duduk berhadapan, dia menyentuh lembut pada pipiku dan mengusapnya pelan. "Wajahmu pucat banget. Kamu sakit? " Ucapnya khawatir.
"Aku nggk papa." Jawabku lemah, dengan bibir yang masih berat untuk mencipta senyuman. Aku menurunkan tangannya dari pipiku. Merasa tak nyaman dengan sentuhannya.
"Tak papa? Atau karena terlampau bahagia ketemu sama aku? jadi keder begini? " Menggoda pelan dengan menaik turunkan alisnya. Dengan tangan tak mau melepas tanganku. Menggenggam erat jemariku seakan takut hilang lagi.
"Ck." Decakku pelan. Mengalihkan pandangan dari matanya, memilih menatap air danau yang bergelombang pelan saat angin kencang datang.
Aku diam memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku. Menenangkan hati dan pikiran yang tak menentu. Bingung mau bersikap bagaimana? Dan tak tahu akan berkata apa. Tak menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili apa yang ku rasa.
"Aku minta maaf." Ucapnya terdengar tulus saat melihatku hanya terdiam. Aku hanya melihatnya sekilas, lalu kembali melihat kedepan. Sedangkan Arfan masih duduk menghadapku, dengan mata yang tak lepas menatapku. Aku tak tahu apa yang dia rasakan kini.
"Untuk?" Tanyaku.
"Aku minta maaf karena terlalu lama pergi tak memberi kabar. Pergi tanpa pamit. Tapi sungguh aku tak pernah menginginkan itu terjadi. Aku tak pernah berniat meninggalkanmu. Aku sudah lama mencarimu, namun tak pernah ketemu. Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama." Ucapnya pelan, dengan tangan yang masih menggenggam erat.
__ADS_1
"Terus apa yang kau inginkan sekarang?" Ucapku dingin. Sebenarnya pertanyaan itu lebih tepatnya ku tanyakan pada diri sendiri. Apa yang aku harapkan dari hubungan ini? Sedangkan aku sudah terikat janji suci dengan lelaki lain. Apakah aku berhak berharap lebih? Bolehkah?
Aku masih mempercayai kalo cinta ini masih milik Arfan. Meskipun bukan berarti aku tak menyayangi Reyhan. Aku nyaman bersama Reyhan yang tak banyak memberikan peraturan dalam keseharianku, tak pernah membentakku sama sekali. Tak pernah menuntutku untuk melakukan ini dan itu. Dia tak pernah membuatku kecewa, tapi bukan berarti selalu mampu membuatku bahagia.
Sedangkan Arfan? Aku masih menyayanginya seperti masa lalu. Aku masih merasa bahagia hanya sekedar mengenang kebersamaan kami dulu, kebahagiaan yang sekaligus merasa sedih karena menghilangnya dia. Namun kini dia sudah datang. Apakah aku tega meninggalkan Reyhan demi Arfan? Apakah aku bisa bahagia jika bersama Arfan? Tapi apakah aku akan bahagia jika menyakiti banyak hati? Terutama hati abah. Mungkinkah aku mampu bahagia diatas penderitaan orang lain?
Arfan cukup lama terdiam, menatapku lekat. Lalu berkata. "Aku tak tahu apakah yang ku inginkan kini sama dengan apa yang kamu inginkan juga. Aku tahu aku sudah lama pergi tanpa kabar. Aku tak pernah tahu bagaimana kabar hatimu setelah sekian lama berpisah. Apakah terlalu egois jika aku berharap cintamu masih sepenuhnya untukku? Tapi percayalah. Kalo aku selalu mencintaimu. Meskipun bertahun-tahun berpisah denganmu, hatiku hanya untukmu. Apakah salah jika aku berharap selalu bersamamu? Aku ingin mengulang kisah indah kita, atau paling tidak menciptakan kebahagiaan baru dalam ikatan yang halal? "
"Apakah kamu mau jika kita mengulang semua dari awal? Toh dulu kita berpisah tanpa ada masalah. Aku yakin kita bisa menjalani hari-hari lebih indah dan lebih bahagia dibanding dulu."
Aku terdiam, menatapnya tajam. Setelah sekian lama dia pergi tanpa kabar, terus dia datang terlambat dan mengutarakan maksudnya? Dia datang untuk mengulang kisah lama, atau mencipta cerita baru? Tak bertanyakah dia apa yang ku rasakan dan apa yang kualami setelah sekian lama dia pergi? Tak bertanyakah bagaimana setatusku saat ini? Disaat umurku tak lagi bisa dibilang muda. Tak tahukah jika terkadang waktu bisa merubah banyak hal? Termasuk hati dan karakter manusia?
"Percaya diri sekali kamu? Kamu pikir setelah sekian lama kamu menelantarkanku, aku masih mencintaimu? Apakah lelaki yang layak dicintai hanya kamu saja?" Ucapku mencibir. Namun kata-kata itu lebih tepatnya mengejek hatiku sendiri yang ternyata tak bisa melupakannya meskipun sekian lama dia menghilang tanpa kabar. Bahkan untuk mencintai lelaki sebaik Reyhan aja masih ragu. Aku tertawa, menertawakan diri sendiri.
"Sungguh, Tha. Awalnya aku ragu. Tak percaya diri untuk menemuimu lagi. Aku tak yakin kalo kamu masih setia mencintaiku. Ku pikir hanya orang bodoh yang sudi bertahan mencintai lelaki yang menghilang tanpa kabar. Namun saat melihat reaksimu saat pertama melihatku tadi. Aku percaya dan sangat yakin kalo kamu masih mencintaimu. Aku menatap binar bahagia dimatamu, meskipun aku juga tahu kamu marah dan kecewa padaku. Tapi aku percaya kalo bahagiamu lebih mendominasi. Aku masih paham dengan tatapan matamu yang bicara, saat lisanmu tak mau bersuara. Aku yakin masih ada cinta dihatimu untukku. Tatapan matamu tak pernah berubah saat melihatku." Jelasnya panjang lebar.
"Hanya orang bodoh." Ucapku tertawa miris mengulang kata-katanya. Hanya kata-kata itu yang tertangkap otakku. Yang lainnya tak ku hiraukan.
__ADS_1
Yah, akulah orang bodoh itu.
"Tidak, Tha. Tidak bodoh, itu namanya setia. Setia pada satu cinta hingga akhir hayat. Aku juga begitu." Mengangkat tanganku untuk menyentuh dadanya. Merasakan detakannya. Namun aku menarik kembali tanganku. Mataku berkaca karena banyak hal.
"Setia katamu? Kalolah aku masih menyimpan cinta dihatiku untukmu. Apakah kamu yakin ada seorang ayah yang rela menyerahkan putrinya pada lelaki yang telah menghilang tanpa penjelasan? Apakah ada ayah yang mempercayakan tanggung jawab putrinya pada lelaki yang telah membuatnya kecewa? Apakah mungkin ada ayah yang melakukan kesalahan yang sama untuk buah hatinya? Aku yakin abah tak akan mudah memaafkanmu." Ucapku dengan suara sedikit ku tegaskan. Air mataku kembali menetes, menahan sesak didada.
"Jika kau datang tiga atau empat bulan lebih awal. Aku akan menyambutmu dengan suka cita. Namun sayang. Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu." Lanjutku lirih, putus asa akan kelanjutan hubungan ini. Apakah masih ada celah untuk merajut kisah bersama?
"Aku minta maaf. " Ucapnya menyesal. " Gimana kabar Abah? " Mengalihkan pembahasan.
Dia tahu, Aku pun juga tahu. Abah dari dulu tak membiarkan kedua putrinya dekat dengan sembarang lelaki. Dan saat Arfan datang, abah hanya menyambut dingin tak bersahabat. Namun semakin lama dan semakin saling mengenal, abah mulai menerima Arfan dan merestui hubungan kami. Pastinya karena Arfan berusaha keras meyakinkan dan membuktikan kalo dia layak untuk mendapatkan putrinya. Abah merestui Dengan syarat kami tetap mematuhi rambu-rambu syariat agama yang kami anut. Abah percaya Arfan bukan lelaki yang suka mempermainkan wanita, nampak ketulusan dan keseriusan darinya. Namun apakah mungkin kini kembali percaya setelah bertahun-tahun membuat putrinya menangis? Membuat putrinya kehilangan keceriaan yang dulu ada.
"Menurutmu?"
"Aku tahu aku salah. Aku telah menyia-nyiakan restu yang telah ku usahakan mati-matian. Susah payah aku berusaha meyakinkan Abah, ternyata aku juga yang menghancurkan kepercayaannya."
"Semua sudah terjadi."
__ADS_1
"Tapi sungguh, aku tak berniat melakukan semua itu. Itu diluar kuasaku. ...."
"Sudah takdir Allah." Kataku memotong ucapannya.