Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Tamu Untuk Siapa?


__ADS_3

"Mari masuk, nak. " Kata Abah mempersilahkan. " Ni Marta gimana? Ada tamu kok tak disuruh masuk." Menyalahkan putrinya, dan merangkul Johan untuk masuk kedalam, dengan kaki yang masih sedikit pincang. Johan hanya menurut, tak peduli pada muka Marta yang kebingungan.


Marta hanya bengong didepan pintu, merasa heran dengan abahnya yang ternyata sudah kenal dengan pacarnya.


"Kenapa abah udah kenal? Dan kenapa pula mas Johan tak pernah cerita? Huhf.. Tapi biarlah, nampaknya abah suka dengan Johan." Monolog Marta yang nampak bingung, namun sesaat kemudian tersenyum tipis karena merasa punya harapan besar untuk hubungannya ini. Yakin kalo abah akan merestui hubungannya dengan Johan.


"Marta." Panggil abah pada putrinya yang masih bengong dedepan rumah. Dan dengan cepat Marta lari saat mendengar namanya dipanggil.


"Iya Abah." Sahut Marta sambil berlari.


"Ini tamu abah mbok yo dibikinkan minum. " Perintahnya .


Hah? Tamu abah? Dia tamu aku abah. Batin Marta yang melihat Johan, Johan hanya tersenyum mengedipkan mata kearah Marta.


"Atau mau makan? Belum makan siang to? Tadi ini anak abah dari pagi sudah ribut masak banyak, Katanya pacarnya mau datang. Eh, sampe sekarang tak muncul juga. Lelaki tak tepat waktu kok dipacarin. Kamu aja yang makan ya?" Tambah abah menawarkan pada Johan, dan bercerita tentang putrinya sambil mencibir. Johan melihat Marta dengan perasaan bahagia. Ternyata pacarnya mempersiapkan untuk menyambutnya. Dan ayah yang katanya galak itu, ternyata tak segalak ceritanya. Dia menyambut kedatangannya dengan baik, meskipun kini dia belum paham kalo dirinya adalah pacar yang dimaksud itu.


"Abah kok gitu sih?" Ucap Marta salah tingkah, lalu pergi kedapur karena malu diperhatikan Johan sambil tersenyum begitu.


"Gimana kaki abah? Sudah baikan?" Tanya Johan saat Marta sudah menghilang.


"Alhamdulillah sudah mendingan. Sudah dioles minyak tadi." Jawabnya sambil menggerakkan kakinya yang tadi keseleo.


"Udah diurut? Kata abah anak abah bisa urut? Emang Marta bisa ngurut bah?" Tanya Johan teringat perkataan abah saat dihalaman masjid tadi.


"Bukan, bukan Marta." Menggoyangkan tangannya untuk menekankan perkataannya.


"Terus?"


"Ya anak laki-laki saya. Tapi sekarang lagi main bentar, anaknya ribut ngajak main ke waterboom. Mungkin bentar lagi sampai. La wong berangkat sudah dari pagi tadi kok." Jelas Abah yang membuat Johan paham.


"Owh, kirain dia. " Kata Johan.


"Bukan dia. La kamu katanya ada urusan sama teman? Kok cepet banget lo. Apa nggk jadi ketemu toh?" Tanya Abah penasaran. Johan hanya tersenyum kikuk, bingung mau menjawab apa. Tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan kalo yang ingin ditemuinya adalah putrinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi nggk papa, abah senang akhirnya kamu mau mampir kesini." Tambah abah lagi yang melihat tamunya tak berkenan menjawab. Tak ingin maksa.


"Iya bah. Johan juga senang bisa mampir kesini." Jawab Johan menjaga kesopanan.


Ternyata bertemu dengan calon mertua tak semenakutkan bayangannya. Meskipun tetap ada rasa grogi, namun tersamarkan dengan ramahnya calon mertua. Tapi kalo dia datang bener-bener sebagai calon mantu, apakah tetap disambut seramah ini ya? Kan sekarang dia dianggap orang yang tadi menolongnya, bukan sebagai pacar Marta.


"Ya Alhamdulillah kalo gitu. " Jawab Abah semangat.


"Kalo sering-sering main boleh nggk, bah?" Suara Marta yang baru datang membawa minuman dan makanan, nyengir kuda.


"Eh, kamu ini. Kenapa memang?" Tanya Abah heran, dan melihat Marta dan Johan yang saling pandang. Mencoba memaknai keadaan.


"Ya boleh nggk?" Jawab Marta dengan senyum malu-malu melirik Johan, dan turut duduk disamping abah.


"Kok cuma minum sama biscuit? Makannya mana?" Protes abah melihat hidangan yang disajikan Marta. Marta hanya merengut karena pertanyaannya tak dihiraukan oleh abah.


"Nggk usah, bah. Johan tadi sudah makan kok." Tolak Johan sopan.


"Tu, dia sudah makan bah. " Kata Marta membela diri, yang membuat Johan tersenyum melihat kekasihnya yang merasa dia bela. Padahal Marta merasa tak percaya diri menyajikan hasil masakannya pada dang pacar yang punya usaha restorant.


"Abah, pacar Marta sudah datang lo." Jawab Marta meyakinkan abah, dan menunjuk dengan lirikan mata pada lelaki yang duduk dihadapannya.


Abah melihat kode yang diberikan anaknya. bukannya tak paham, namun lebih pada tak percaya. Karena melihat Johan yang tetap duduk santai tak mengiyakan ucapan Marta. Juga Johan tak mengatakan kalo ia ingin ketemu Marta.


"Mana ? Nak Johan lo datang kedaerah ini untuk ketemu temannya, bukan pacarnya. Lagian temannya bukan disini, tadi abah suruh mampir aja tak mau karena ada urusan sama temannya dulu. Setelah itu baru kesini. Iya kan, Nak?" Sanggah abah dan bertanya pada Johan.


Marta hanya melotot pada Johan, minta penjelasan tentang ucapan abah. Johan hanya mengangkat bahu acuh, dan tersenyum kecut. Dia bingung mau bilang apa. Tak mungkin kan kalo dia jujur kalo dia tak tahu jika rumah Marta adalah rumah abah Fahmi juga?


"Udah sana kebelakang." Usir abah.


"Tapi...."


"Tak elok ikut nimbrung pada tamu laki-laki." Potong abah tak menerima alasan, mengusir dengan tatapan tajamnya. Johan hanya tersenyum lucu melihat muka kesal Marta. Tak ingin membela, lebih memilih menikmati adegan ayah dan anak dihadapannya.

__ADS_1


Meskipun kesal, Marta tetap menurut. Meninggalkan kekasihnya yang lebih dikuasai oleh abahnya. Kebelakang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Membersihkan setiap bagian rumah agar lebih kinclong. Dengan sesekali mengintip kearah ruang tamu, dan melihat abah dan Johan yang masih asik bercengkrama. Nampaknya sedang asik bercerita, dengan sesekali terdengar tawa renyah abah.


Kini Marta sudah selesai dengan pekerjaannya. Bingung mau melakukan apa lagi. Hanya duduk dikursi dapur, dan memainkan ponselnya. Mengirim pesan berulang pada Johan, namun sama sekali tak dapat balasan. Bahkan di read pun tidak. Di telpon juga sama saj, tak ada jawaban. Duduk dengan gelisah. Ragu mau tetap duduk dibelakang, atau ikutan nimbrung pembicaraan abahnya.


Selama ini Marta memang tak pernah diizinkan ikut nimbrung bercerita dengan tamu abahnya. Dan memang selama ini Marta sama sekali tak berniat. Namun kali ini kan beda. Tamu abahnya kali ini adalah tamunya juga.


"Apa salahnya? Aku cuma ingin duduk disana. Paling tidak bisa puas melihat wajah ganteng mas Johan." Ucap Marta memutuskan untuk keluar ke ruang tamu.


Baru masuk keruang tamu, bang Bagas beserta anak dan istrinya masuk. Bang Bagas langsung ikutan duduk bersama abah, sedangkan kak Ina menghampirinya.


"Kenapa disini Dek? Ayok masuk. Tak baik menguping pembicaraan orang." Ajak kak Ina menarik Marta masuk. Yang membuat Marta cemberut , namun menurut.


"Kenapa sih? Kok ditekuk gitu muka?" Tanya kak Ina yang memperhatikan adek iparnya.


"Kesel sama abah."


"Kenapa? Eh, kamu masak banyak, Dek? Tumben?" Tanya kak Ina membuka tudung saji.


"Iya, kan mas Johan datang. Cicip kak, udah enak belum?" Ucap Marta berubah semangat. Padahal tanpa disuruh kakak iparnya itu sudah mengambil nasi siap makan. Habis jalan-jalan, makan masih dirumah.


"Enak. Terus kapan datang? Dan yang didepan itu siapa sih?" Jawab Kak Ina dengan pertanyaan pula.


"Ya itu, yang didepan itu mas Johan. Tapi abah malah menyuruhku masuk. Aku kan kangen, yang ingin ketemu kan aku." Curhatnya merajuk.


"Owh begitu?"


"Gitu aja tanggapan kakak? Kirain mau bantuin aku biar bisa berduaan dengan mas Johan gitu."


"Enak aja. Ogah aku bantuin adek pacaran. "


"Huffh. kakak tak bisa diajak kompromi, ah." Membuang nafas kasar karena kesal.


"Abah benar. Kamu mengundang dia datang kemari untuk ketemu abah kan? Biar abah kenalan dengan calon suamimu dulu. Nanti kamu lebih banyak punya waktu berdua setelah nikah." Nasehat kakaknya.

__ADS_1


"Ah, kakak nggk asik." Gumam Marta dan memilih pergi kekamar.


"Eh, mau kemana? Cepetan ini disiapin. Dihangatin, terus disuruh makan tu calon suami. Malah pergi." Cegah kak Ina. Dan memerintah untuk menyiapkan makanan.


__ADS_2