
Bener kata Reyhan. Malam ini dia pulang telat. Hingga kumandang adzan isya terdengar , belum juga sampai rumah. Tak ada kegiatan malam hari ini. Setiap selepas isya sudah seperti kuburan aja. Sepi dan senyap. Bunda sudah istirahat dikamarnya, sedangkan Beti sedang makan malam bersama sang suami diluar. Entah sampai kapan akan pulang.
Aku berjalan keluar rumah. Menikmati dinginnya hembusan angin malam yang menusuk kulit. Melihat bulan purnama diatas sana. Seakan tersenyum meyakinkan jika harapan itu selalu ada. Kesempatan akan selalu datang. Bintang berkedip beriringan. Seakan mengabarkan bahagia akan tiba. Menghibur hati yang sepi.
Duduk pada batu besar didepan rumah. Diantara pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bunga yang kini selalu aku yang menyirami. Hanya menyirami, karena aku tak tahu apa yang harus dilakukan pada bunga-bunga yang kini mulai rimbun. Bercabang dan bertunas tak terkendali.
Puas menikmati bunga dibawah cahaya lampu, yang membiaskan basah embun didedaunan. Membuatnya mengkilap ,menarik. Aku kembali melihat jalanan yang masih ramai dengan kendaraan. Menunggu ada motor besar yang belok kepekarangan. Tapi tak kunjung datang.
"Kenapa aku segininya sih menunggunya?" Bingung dengan diri sendiri.
Tapi entah kenapa aku menanti kehadirannya. Menikmati kebersamaan disetiap malam. Karena sepanjang siang dia jarang dirumah. Hanya malam aku punya waktu untuk berdua. Meskipun hanya sekedar bercengkrama, bercerita, atau lebih sering melihatnya duduk memainkan ponsel tanpa suara, tanpa kata. Baru hitungan minggu aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Meskipun sesekali aku masih mengingat masa lalu yang pernah ada.
Bukan kah hakikatnya manusia itu tak bisa melupakan? Mungkin hanya berhenti sejenak untuk memikirkan, karena ada hal lain yang lebih perlu diperhatikan. Namun pada saat tertuntu, saat ada hal yang mengingatkan pada sesuatu. Ingatan itu akan kembali dengan sendirinya. Datang tanpa diminta.
Aku sebenarnya tak suka dengan malam. Sedari dulu malam itu selalu menyakitkan bagiku. Sendirian tanpa kegiatan, yang membuatku ingat dengan luka yang pernah ada. Namun sejak kehadiran Reyhan, aku jadi sedikit mau berdamai dengan keadaan. Mulai menyukai menghabiskan lelap malam dalam pelukannya yang menghangatkan juga menenangkan. Hingga terbangun dipagi hari karena dingin setelah dia pergi.
"Nunggu didalam aja lah." Bangkit dan berjalan masuk rumah. Saat dinginnya malam sudah menusuk hingga ketulang. Switer yang ku kenakan tak mampu menghalau dingin, kalah dengan angin yang berhembus menyentuh kulit.
Jarum jam terus berdetak. Terasa lama sekali bagiku. Jarum kecil pada jam dinding sudah menunjuk angka sepuluh. Tapi Reyhan tak kunjung datang. Biasanya kalo ada dia, jam segini sudah tidur. Atau sekedar menikmati malam dalam kehangatannya. Atau bercerita macam hal. Seringnya Reyhan yang bercerita kegiatannya dalam sehari. Aku hanya cuek tak menanggapi, meskipun tetap mendengarkan.
Mencoba memejamkan mata lebih dulu. Tapi tak bisa jatuh terlelap. Miring kanan, miring kiri, telentang, pindah posisi lagi. Memeluk guling, meluk bantal. Tapi tetap aja tak bisa tidur. Hanya bergerak gelisah tak bisa memejamkan mata.
"Kamu kemana sih Ay? Kok belum pulang?" Duduk dan membuang nafas kasar. Meraih ponsel mencari nomor yang belum aku kasih nama. Karena memang jarang sekali interaksi by ponsel. Namun aku hafal empat digit terakhir nomornya.
"Telpon nggk ya? Tapi salah nggk sih kalo telpon? Nanti dia marah? " Urung memanggil, kembali meletakkan ponsel dengan layar yang masih menyala. Merebahkan badan lagi, melihat hp yang kini layarnya menggelap, menyentuhnya agar kembali menyala. Tapi ragu untuk memakainya. Berulang kali selalu begitu.
"Telpon aja lah. Apa salahnya tanya keberadaan suami? Paling nggk tahu dia dimana dan ngapain. Biar hati tenang bisa tidur." Meraih ponsel dan meyakinkan diri untuk melakukan panggilan. Waktu sudah menunjukkan setengah sebelas.
Nada dering tersambung lama, namun tak diangkat. Hingga suara operator yang menjawab. "Kok nggk diangkat." Praduga buruk mulai datang minta dipertimbangkan. Kembali melakukan panggilan lagi, tetap masih sama.
__ADS_1
"Ih nyebelin. Jahat. " Seruku kesal bercampur marah, membanting ponsel diatas kasur. Menidurkan diri, menarik selimut hingga menutupi seluruh badan.
Isakan kecil terdengar. Air mata menetes tanpa diundang. Kecewa dan sakit hati karena merasa diabaikan. Kenapa aku harus menunggu lagi? Apakah kau juha akan pergi setelah membuatku terbiasa dengan kehadiranmu?
Sabar Tasya. Mungkin dia masih ada urusan. Gumamku mencoba menenangkan diri.
Tak lama terdengar suara motor berbelok mendekati rumah. Berhenti saat suaranya tepat digarasi samping rumah.
Menghapus air mata cepat. Loncat turun dari kasur untuk menyambut suami pulang. Membuka pintu. Harus beginikah? urung, tak jadi keluar. Tutup pintu kembali, kembali loncat keatas tempat tidur, Menarik selimut untuk menutup hingga keleher. memejamkan mata. Pura-pura tidur.
Satu ,dua, tiga, empat, , , , sepuluh." Kok lama kali sih nggk masuk-masuk?" Kembali menoleh melihat arah pintu yang masih tertutup dengan tak sabar. Dan kembali pura-pura tidur saat terdengar suara langkah kaki mendekat.
Ceklek.
Suara pintu terbuka. Entah kenapa bibirku menyungging senyum saat pura-pura tidur membelakangi pintu masuk. Ada rasa senang dia telah kembali. Tanpa peduli apa yang di lakukan diluar sana. Cukup percaya.
Ku rasakan pergerakan disampingku. Dia duduk ditepi ranjang. Menyentuhku dan menunduk melihatku.
Kini tangannya pindah di pinggangku . Menyusup dibalik baju tidur dan bergerak menggelitik. Yang membuatku tak tahan dan tertawa. Menggeliat dan meronta.
"Apaan sih Ay? Geli tahu." Menepis tangannya dan merubah posisi melihatnya yang setengah duduk disampingku. Dengan tawa yang masih tersisa.
"Salah siapa pura-pura tidur." Kembali melanjutkan aksinya menggelitik. Yang membuatku kelimpungan dan guling-guling menghindari tangannya.
"Udah, udah ,Ay.Ampun. Geli ah..." Teriakku meminta ampun. Tapi Reyhan masih belum mau menghentikan tangannya.
"Jangan Ay. Udah lah." Rengekku dengan mata yang sudah basah kebanyakan tertawa.
Dia menghentikan tangannya, dan menarikku untuk tetap merapat dalam dekapannya. Berbaring saling memeluk membagi kehangatan. Menormalkan kembali nafas yang ngos-ngosan karena tertawa.
__ADS_1
"Kok tahu sih kalo aku cuma pura-pura?" Tanyaku dengan tangan membuat guratan abstrak didadanya yang masih pake baju kemeja panjang.
"Ya tahulah. Baru beberapa menit lalu ada panggilan tak terjawab, masak udah tidur aja?" Jawabnya dengan tangan menghentikan gerakan jemariku. "Mau menggodaku ya?" Mengedipkan mata genit, yang membuatku menarik tangan dan memutar badan mengulum senyuman.
"Berarti kamu tahu kalo aku telpon? Kok nggk diangkat?" Mengalihkan pembahasan.
"Tadi masih dijalan. Aku tahunya juga udah masuk rumah tadi kok." Kembali menarikku mendekat.
"Dari mana sih? Kok lama amat." Tanyaku mengintrogasi.
"Pengajian kelompok. Dan tadi ada diskusi untuk acara amal. Jadi sedikit molor deh. Nungguin ya?" Jelasnya diakhiri tanya menggoda.
"Nggk kok. " Jawabku cepat. Bohong.
"Terus kenapa belum tidur?"
"Tadi udah tidur. Bangun-bangun suami kok belum pulang. Coba deh aku hubungi. Siapa tahu lupa alamat pulang. " Jelasku dusta.
"Owh. Kirain nungguin karena kangen mau kerja malam." Ucapnya dengan senyuman menyeringai yang sangat menakutkan, dengan alis naik turun memberi kode.
"Big no." Jawabku tegas, namun bibir menahan senyum mengiyakan.
"Beneran?" Tak henti menjailiku yang kepalang malu, ketahuan nungguin suami.
Tapi emang apa salahnya sih nungguin suami pulang hingga malam? Apakah salah? Apakah karena dulu aku selalu tidur lebih dulu dan bangun paling akhir? Tak peduli keberadaan suami. Tapi ini baru pertama kali aku menunggu. Karena memang baru pertama kali telat pulang sih.
"Udahlah. Sana kekamar mandi dulu, bersih-bersih, wudhu ganti baju." Mendorong tubuhnya menjauh.
"Okey. Tapi jangan tidur dulu."
__ADS_1
_______
Mari mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak.