
Setelah beberapa jam ada penundaan penerbangan, dan lanjut perjalanan yang cukup melelahkan. Kini akhirnya sampai juga di rumah. Malam sudah cukup larut. Jalanan kampung ini sudah sepi dari aktifitas penduduknya. Semua sudah memilih masuk rumah masing-masing. Istirahat, atau sekedar bercengkrama dengan keluarga menghabiskan waktu kebersamaan.
"Kok masih ramai tu?" Tanyaku saat ku dengar suara berisik dari arah toko yang semua lampunya masih menyala.
"Nungguin kita kali. Mau buat acara penyambutan gitu mungkin." Kata Reyhan dengan percaya diri, dan terkekeh pelan.
"Ck. " Decakku kesal. "Emang tadi ngabarin kalo mau pulang?" Tanyaku lagi yang dijawab gelengan kepala dan nyengir. Aku berjalan mendekati toko, menjauhi Reyhan yang dibantu pak sopir menurunkan barang bawaan. Dia nampak tak penasaran dengan apa yang terjadi.
Dengan perlahan dan mengendap-ngendap aku memasuki toko yang tak terkunci. Ah, kenapa kayak maling begini? Pake mengendap-ngendap segala. Toh aku hapal betul suara siapa aja yang ada didalam. Suara orang-orang yang memang aku amanahi untuk mengurus toko.
Ekhem. Aku berdehem pelan. Menarik nafas, Menormalkan langkah kaki.
Aku masuk makin kedalam. Ruang depan kosong, suaranya dari belakang. Semuanya ada dibagian belakang. Sedang membereskan kekacauan yang mereka ciptakan. Dan mereka hanya ada tiga orang yang masih muda-muda. Masih asik dengan kegiatan beberesnya sambil bercanda tawa. Masih belum menyadari keberadaanku.
Aku menyandar dipintu memperhatikan mereka bertiga. Berusaha mendengar apa yang mereka bahas.
"Huh, capek guys." Ucap Amel setelah selesai mencuci piring.
"Banget." Jawab Nita yang sudah duduk menyelonjorkan kaki diatas karpet. Nampak wajah lelah tergambar. "Mbk Tasya curang ya? Dia enak-enak liburan, kita yang suruh kerja." Tambahnya menggerutu.
" Ya lah. Biar tetap ada pemasukan meskipun lagi liburan gitu. Nasib pekerja ya beginilah." Jawab Siska yang selesai mengepel. Meletakkan peralatan dan ikutan duduk beristirahat.
Emang sebanyak apa pesanan hari ini? Kenapa sampai malam sekali? Tanyaku membatin. Namun masih ingin mendengar apa yang mereka gosipkan saat tak ada aku.
"Bukan salah mba Tasya lah , mbk. Kan mbk Nita yang menerima kerja sama ini. Ya, resiko lah." Kata Siska.
Aku mengerutkan kening heran. Kerja sama apa? Sama siapa?
"Iya, mbk Nita ini." Kata Amel ikutan menimpali.
"Iya lah aku yang salah. Lagian hasilnya lumayan lo. Ku yakin mbk Tasya tak akan marah." Jawab Nita membela diri.
"Mereka liburan ngapain aja ya?" Tanya Siska yang merebahkan diri diatas lantai. Menatap langit-langit.
"Kepo deh. Makanya cepet nikah, biar bisa rasain honeymoon." Jawab Nita.
"Tapi aku tak yakin pak Reyhan bisa romantis. dia lo orangnya serius banget. "
"Serius ma orang lain. Ma istri beda lagi dong."
"Gitu ya? Apa mungkin mas Riko besok bisa romantis juga ya?" Membayangkan lelaki yang sering mengapelinya.
"Nggk jamin kalo itu."
"Mbk, Nit. Nanti kalo mbk Tasya tau marah nggk ya?" Kata Amel yang sedari tadi diam.
"Marah kenapa?" Tanya Siska bingung.
"Ya marah dengan keputusan mbk Nita lah."
"Nerima kerja sama ini?" Tanya Nita yang dijawab anggukan Amel.
__ADS_1
"Kalo kena marah aku nggk ikut-ikutan pokoknya. Kan kemaren aku sudah nyaranin nunggu mbk Tasya pulang." Ini suara Amel dengan raut panik dan takut.
"Kenapa marah? Untuk memajukan toko dia juga kan?" Kata Nita membela diri. "Siapa tahu nanti kita malah akan dinaikkan gaji karena sukses membuat toko makin laris manis." Tambahnya percaya diri.
"Aku tak yakin." Kata Amel menerawang.
"Kamu kenapa sih Mel? Dari kemaren kok kayak aneh gitu lihat bang tampan itu. Kamu kenal?" Tanya Siska serius dan merubah posisi duduk menghadap Amel.
"Iya ni. Kayak ada yang kamu sembunyikan ya? Apa salah dia sih?" Nita ikutan menanggapi dengan sewot.
Amel nampak menarik nafas dalam, dan menghembuskan perlahan. Menerawang menatap lurus kedepan.
Mereka bekerja sama dengan siapa? Dan kenapa sama sekali tak konfirmasi dulu ma aku? Tanyaku membatin. Tak paham yang mereka bahas. Aku masih berdiri mendengarkan.
"Hey,,, malah bengong. Kamu kenal dengan cogan itu?" Desak Nita tak sabar melihat keterdiaman Amel.
"Kalo kenal, kenalin ma aku juga dong Mel. Lumayan kan? Ganteng, kaya lagi." Ucap Siska menoel lengan Amel, dan senyum gemas diakhir katanya .
"Ck." Decak Amel pelan, melihat dua rekannya bergantian. " Aku tak kenal." Suara lemah Amel.
"Terus kenapa sikapmu aneh gitu? Ngotot banget menolak tawaran menggiurkan ini? Untung aja aku terima." Ucap Nita bangga dengan keputusan yang dia ambil.
"Jangan bilang cuma feeling." Siska ikutan kesal.
"Aku nggk kenal dengan dia, tapi mbk Tasya kenal." Suara Lemah Amel terdengar, yang membuat Nita dan Siska terdiam dan saling pandang kemudian tertawa bersama.
"Ya bagus dong kalo mbk Tasya kenal. Berarti lebih mudah urusanya kan? Lagian calon tetangga, nggk bakal menipu."
Apa sih ini?
"Yang? " Suara Reyhan terdengar memanggil, sontak membuat tiga wanita itu menoleh kearah pintu masuk, dimana ada aku disana.
"Mbk Tasya." Kompak tiga wanita muda mengucapkan kata tanpa suara. Nampak terkejut melihat keberadaanku. Saling pandang dengan temannya, bicara lewat pandangan mata. Aku hanya tersenyum.
"Lama banget sih. " Suara Reyhan yang sudah dihadapan. "Tidur yok ngantuk." Ajaknya menarikku. "Udah malam ni. Kalian mau pulang atau tidur disini?" Pengusiran halus dari Reyhan untuk ketiga pekerjaku.
"Apaan sih Ay? Aku disini dulu, kamu tidur duluan ya? Nanti aku nyusul." Menolak untuk ikut. Melepas genggaman tangannya.
"Tapi.."
"Bentar aja." Rayuku.
"Oke. Awas kalo lama." Ancamnya dan pergi meninggalkanku, dan melirik tak suka pada tiga wanita yang masih duduk dilantai.
Setelah Reyhan pergi barulah mereka bertiga bangkit menghampiriku.
"Mbk udah datang? Udah lama disini?"
"Gimana liburannya mbk? Seru nggk?"
"Mbk liburan kemana sih?"
__ADS_1
"Kami sampe tak boleh menghubungi mbk lo. Padahal kangen plus kepo kan." Pernyataan yang membuatku mengernyitkan kening.
"Sini duduk dulu mbk." Menarikku duduk diatas kursi, dan mereka berdiri mengerubungiku.
Aku melihat satu persatu, hanya Amel yang senyumnya nampak tak tulus. Seakan ada yang dia takutkan. Entah apa.
"Mbk cerita dong."
"Iya. "
"Tunggu deh. Tadi kamu bilang tak boleh menghubungiku? Siapa yang melarang?" Tanyaku.
"Bapak Reyhan lah. Siapa lagi. Sebelum berangkat dia pesan 'Jangan ganggu liburan kami, bereskan semua dengan berunding bertiga.' " Jawab Nita menirukan gaya bicara Reyhan.
"Terus kenapa kalian sampai malam banget? Dan aku dengar ada kerja sama. Kerja sama siapa?" Tanyaku to the point. Tak menghiraukan permintaannya untuk cerita.
Mereka nampak saling pandang, aku ikutan melihat satu persatu.
"Siapa yang mau cerita?"
Siska dan Amel kompak menunjuk Nita. Yang ditunjuk hanya melotot protes meskipun tak bisa menolak.
"Ceritanya panjang mbk. Besok aja ya? Sekarang mbk aja yang cerita." Negonya.
"Ceritaku juga panjang."
Amel dan Siska nampak diam, dan beringsut duduk tak jauh dari kursi tempatku duduk.
"Dengan siapa?" Tanyaku.
"Dengan pak David, tetangga samping rumah, mbk." Jawab Nita, yang membuatku tak paham. Samping rumah siapa?
"Maksudnya?"
"Samping rumah aku mbk. Penduduk baru yang sedang bangun rumah gedongan itu. Selain bangun rumah disini dia juga bangun resto diperbatasan kota. Tak jauh kok dari sini. Kalo rumahnya kan memang belum jadi, tapi Restonya sudah resmi dibuka tiga hari lalu. Dan saat peresmian dia pesan banyak kue dari kita untuk mengisi menunya."
Tiga hari? Berarti tepat saat aku pergi? Dan kenapa pesan kue dari sini?
" Hasilnya lumayan lo mbk, karena meskipun untuk dijual lagi dia tetap mengambil dengan harga jual kita. Dia tak minta persenan dan diskon meskipun mengambil banyak dan tiap hari. Orangnya baik dan ramah kok."
David? Siapa? Tapi kenapa Amel bilang aku kenal dengan dia tadi? Ku lihat Amel menunduk dan meremas jemarinya sendiri. Nampak gelisah.
Tunggu deh. Bukankah david pemilik rumah disamping rumah Nita adalah gebetannya Rena? Apakah ini rekomendasi dari dia?
Tapi apakah aku kenal dia? David? Otakku mencoba mencerna ,mengingat nama yang dimaksud.
" mbk kalo capek istirahat aja. Dibahas besok lagi." Pinta Amel menyarankan.
Aku mengangguk. Lagian belum jelas. Besok aja sekalian ketemu orangnya kan?
"Iya mbk,ngantuk." Kata Siska menguap beberapa kali. " Kasihan anaknya mbk Nita, udah dua kali telpon nyuruh pulang."
__ADS_1
"Ya udah pulanglah."