
Siang yang cukup terik. Matahari tepat diatas kepala. Didesa yang masih berkembang , belum ada bangunan pencakar langit yang menjulang, masih banyaknya pepohonan rindang ditepi jalan. Yang membuat suasana panas disini tetap asri, dengan sesekali hembusan semilir angin yang tertiup. Terhindar dari polutan.
Johan menyusuri jalanan yang lenggang, menikmati pemandangan disepanjang lintas jalan. Tak terburu-buru meskipun sudah rindu ingin ketemu sang kekasih. Sekaligus menghapal jalan yang mungkin akan sering ditempuhnya nanti. Jadi suatu hari nanti tak perlu lagi datang kemari bergantung pada aplikasi.
Jarak rumah Marta dari danau yang sempat disinggahinya ternyata tak terlalu jauh. Hanya membutuhkan kurang lebih satu jam perjalanan dengan kecepatan sedang. Rencana awal Johan akan mengajak Arfan untuk menemaninya bertemu ayah Marta. Namun dengan syarat terlebih dulu menemani Arfan bertemu dengan kekasih lamanya. Namun sayang, Johan tak mau menunggu kekasih Arfan yang entah sampai kapan akan datang. Karena dia juga tak mau kekasihnya menunggu kedatangannya terlalu lama. Menunggu itu menjemukan, menunggu membuat waktu berjalan terlalu lamban.
Kini Johan sudah sampai daerah yang akan ditujunya. Dari aplikasi maps ,rumah Marta tinggal dua ratus meter lagi. Namun tepat kini Johan melewati masjid yang sedang mengumandangkan iqomah, yang memaksa Johan untuk turun sejenak melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.
Masjid yang cukup besar jika dibandingkan dengan bangunan perumahan disekitarnya. Namun makmum sholat cuma ada segelintir orang. Hanya hitungan jari jamaah sholat dzuhur kali ini. Padahal hari ini hari libur, bagaimana kalau hari kerja? Mungkinkah kosong?
Yah, begitulah zaman sekarang. Banyak yang membangun masjid dengan megah dan nyaman, namun lupa membangun iman pengunjung nya untuk sudi datang dan meramaikan tempat ibadah itu. Ternyata megahnya masjid tak menjamin megah pula iman penganut agama tempat ibadah itu.
Usai sholat Johan tak memperpanjang bacaan dzikir. Lagian jamaah yang lain juga sudah pada pulang, tinggal dua orang yang masih khusyuk berzikir dan berdoa.
"Bapak nggk papa?" Tanya Johan pada lelaki paruh baya yang berjalan didepannya. Berjalan dengan sedikit kesusahan, nampaknya kakinya sedang tak baik-baik aja.
"Eh, nggk papa. Cuma keseleo tadi. Biasalah, nak. Udah tua, lompati parit kecil aja udah sakit." Jawabnya terkekeh pelan , dan jalan mensejajari Johan.
"Owh begitu? Jangan lupa diurut pak, biar tak tambah sakit." Saran Johan sopan. Kasihan melihat bapak-bapak yang berjalan tertatih kesusahan.
"Aman lah itu. Anak Abah bisa ngurut beginian. Ngomong-ngomong sampean siapa? Orang mana? Perasaan Abah belum pernah lihat sebelumnya." Tanyanya menyelidik, memperhatikan Johan yang nampak asing dimatanya.
"Namaku Johan, pak. Memang baru kali ini datang kemari." Jawab Johan sopan, mengulurkan tangan berjabat perkenalan.
"Owh, begitu?" Manggut-manggut.
"Kalo bapak siapa?"
"Panggil aja Abah. Abah Fahmi." Jawab Abah menyambut uluran tangan Johan.
"Abah Fahmi ya?" Ulang Johan yang merasa tak asing dengan nama itu. Lagian memang nama Fahmi cukup pasaran bukan? Makanya tak asing.
"Mau cari apa kesini? Atau mau ketemu keluarga? Atau teman?"
"Mau ketemu teman, bah." Jawab Johan. " Abah rumahnya dimana?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Rumah Abah deket aja."
"Ya udah, mari Johan antar , bah." Tawarnya.
"Tak usah. Deket kok. Biasanya abah juga selalu jalan kaki kok." Tolaknya halus, dengan tawa pelan. Lelaki paruh baya ini nampaknya suka tertawa, atau memang orangnya ramah meskipun dengan orang baru.
"Meskipun dekat, tapi kaki abah kan lagi sakit. Nanti kalo dipaksa jalan tambah sakit lo." Menunjuk kaki yang berjalan sedikit pincang.
"Ah, kamu nak." Menepuk bahu Johan pelan dengan wajah yang susah dideskripsikan.
"Kenapa, bah?" Tanya Johan tak paham maksudnya.
"Tak apa, cuma jarang ada pemuda zaman sekarang seperti nak Johan gini. Waktu sholat mau mampir masjid, peduli sama orang tak dikenal. biasanya orang nuda lain masa bodo lah." Puji abah.
"Ah abah bisa aja." Tersenyum kikuk karena malu. "Ya udah, mari ku antar abah." Mempersilahkan memasuki mobilnya.
"Bukannya kamu mau ketemu teman? Kasihan nanti ditungguin kalo ngantar abah dulu."
"Nggk papa lah bah. " Padahal dalam hati juga ingin cepat-cepat. Ingin segera ketemu gadis yang membuatnya susah tidur disetiap malam. Namun tak tega juga melihat bapak-bapak jalan sendirian dengan kaki dinglang.
"Apa pekerjaanmu nak?" Tanya Abah sambil memperhatikan mobil mewah yang dinaikinya. Jauh beda dengan mobil yang dimiliki anak perempuannya. Mobil ini sangat nyaman dan tak membuat bosan. Pastilah pemuda yang mengendarainya bukan orang sembarangan. Pasti punya penghasilan besar, atau punya warisan yang banyak.
"Pekerjaan? Apa ya?" Berfikir sambil tertawa. Bingung mau menjawab bagaimana. Takut dibilang sombong.
"Apa pun itu, pastinya gajinya besar bukan?" Ucap abah terkekeh, masih mengagumi kendaraan yang dinaiki.
"Kerjaku gajinya tak pasti abah. "
"Owh. Usahawan ya?" Tebak abah, yang hanya dijawab tertawa oleh Johan.
"Kalo abah guru matematika." Tambah abah dengan bangga.
Sepanjang perjalanan abah banyak bercerita tentang pekerjaannya. Johan hanya sesekali menanggapi seperlunya.
"Tu. Rumah yang bercat biru itu rumah abah." Kata Abah menunjuk rumah yang sudah dekat. Yang membuat Johan membelokkan mobilnya.
__ADS_1
"Ayok mampir dulu? " Ajak abah saat sudah turun, namun Johan malah naik mobil lagi, siap pergi.
"Lain kali aja abah. Aku buru-buru ni, mau ketemu teman dulu. Kasihan kalo dia nunggu lama-lama." Tolak Johan secara halus.
"Oh begitu? Ya udah, nanti kalo ada waktu mampirlah. " Abah tak memaksa, paham akan situasinya.
"Iya, abah." Ucapnya sopan, dan kembali memacu kendaraannya.
Sebelum datang kerumah Marta, Johan berniat mencari makan siang dulu karena perut sudah terasa lapar. Tak mungkin kan datang pertama langsung minta makan? Iya kalo disambut dengan baik, kalo ternyata ayah Marta tak senang dengan kedatangannya bagaimana? Jadi antisipasi kalo ternyata nanti tak disuruh makan, jadi cari makan dulu dari pada kelaparan.
Didesa ini tak banyak penjual makanan seperti dikota. Cukup sulit mencari penjual makanan untuk mengganjal perut. Yang ada hanya warung-warung kecil penjual sembako, toko yang sedikit besar menjual pupuk dan racun hama dan kebutuhan perkebunan lainnya.
Setelah hampir setengah jam berkeliling, akhirnya Johan menemukan tukang lotek yang cukup ramai.Namanya orang baru ya? Tak paham letak daerah. Mencari lewat maps, juga percuma. Banyak warung pedagang yang tak terbaca dalam aplikasi.
Setelah kenyang Johan kembali membuka ponselnya untuk mencari rumah Marta lagi. Berdendang riang membayangkan pertemuan yang membahagiakan. Menghilangkan bayangan ditolak oleh calon mertua. Meskipun tetap harus mempersiapkan diri jika itu terjadi. Membayangkan ayah Marta yang katanya galak.
Johan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh aplikasi. Melajukan mobilnya pelan menyusuri jalan dengan sedikit heran.
"Ini nggk salah kan? Bukannya ini rumah abah Fahmi tadi?" Tanya Johan memperhatikan rumah dihadapannya. Rumah yang tadi sempat didatanginya. Dan saat mencari rumah Marta, ternyata dia dituntun untuk datang kembali kesini. Masalahnya tadi saat bersama abah dia tak melihat ponsel sih.
"Itu dia." Melihat Marta yang mondar-mandir didepan pintu dengan gelisah. Mungkin dia sedang menunggu.
Johan membelokkan mobilnya kepekarangan rumah saat yakin kalo itu rumah Marta.
"Assalamu'alaikum." Salam Johan saat sudah memarkirkan mobilnya, dan turun dengan senyum lebar saat tahu siapa yang menyambutnya.
"Waalaikum salam. Mas kok lama sih? Nyasar ya?" Tanya Marta khawatir karena pacarnya telat datang.
"Maaf, nungguin lama ya?" Berjalan mendekat dan merentangkan tangan siap memeluk, melepas rasa rindu.
"Silahkan masuk mas. Abah sudah nungguin." Ucap Marta menghindari jangkauan Johan.
"Eh, nak Johan toh? Udah selesai urusan sama temannya? " Tanya Abah yang baru keluar untuk melihat siapa tamu yang datang.
"Maksudnya?" Marta bingung akan ucapan abahnya. Melihat kearah Johan untuk minta penjelasan, namun Johan hanya menggaruk kepala salah tingkah.
__ADS_1