
Rena kini sudah berdiri mematung disamping mobil. David sama sekali tak menawarkan Rena untuk ikut bersamanya ,membiarkan gadis yang memaksa ikut itu asik sendiri. Tak ingin mengajak atau memerintah. David dan sang sopir yang juga tampan itu sudah bergabung dengan para pekerja yang tak libur diakhir pekan ini.
Sedangkan Rena malas ikutan masuk bangunan yang belum jadi sempurna. Baru tiang-tiang besar, dan kayu-kayu tersusun berdiri , menyangga lantai atas yang baru nampak besi-besi panjang melintang. Entah mau diapakan itu. Rena takut memasukinya.
Rena memilih berjalan sendirian mendekati pohon yang cukup rindang. Pohon buah mangga yang sudah besar dan tinggi di ujung pekarangan yang luas itu. Disebelahnya juga ada pohon rambutan, juga pohon jambu air yang sedang berbuah dengan warna merah merona.
"Dibikin rujak enak nih." Gumam Rena melihat buah jambu kecil berwarna merah itu. Karena cuma pohon itu yang berbuah lebat. Pohon yang lain cuma ada daun.
"Tapi gimana ngambilnya ya?" Bingung sendiri. Pasalnya dia tak bisa manjat, sedangkan pohon itu cukup tinggi untuk dijangkau tangannya. Melihat sekeliling tak aja galah panjang untuk memetik. Yang ada hanya kayu-kayu panjang yang dipasang untuk menyangga pembangunan.
"Gimana ya?" Rena duduk pada akar besar yang menjalar dibawah pohon. Memandang jambu sambil menelan ludah, dan berganti melihat kayu-kayu panjang yang berdiri ,namun tak mungkin bisa diambil.
Di siang yang terik begini, memang cocok makan buah segar dengan rasa asam manis plus pedasnya bumbu rujak. Pastilah membuat ludah meleleh karena tak tahan menahan nikmatnya.
"Kira-kira mas David mau nggk ya ngambilin jambu untukku? "Monolognya. Berfikir dan menimang untuk meminta bantuan. "Mendingan telpon Tasya dulu lah. Siapa tahu bisa bantu." Ucapnya memutuskan kebimbangan. Merasa tak mungkin meminta pada lelaki dingin itu.
"Dimana Sya?" Langsung bertanya saat panggilan tersambung. Tanpa salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum dulu atuh , Re." Jawab Tasya mengingatkan.
"Waalaikum salam. Dimana?" Jawab Rena tak peduli.
"Ck ck. " Decak Tasya. "Emang kenapa?" Tanyanya pelan, mencoba sabar menghadapi temannya yang satu itu.
"Chat ku belum dibaca ya? Aku udah share lok. Kapan dijemput?" Tanya Rena tak sabaran, dengan mata tetap melihat pada buah-buah yang bergantungan.
"Sabar atuh ,Re. Lagi ngurir ini, ngantar pesanan." Jawaban dari sebrang yang sedang sibuk bicara sama orang lain, kemudian berpamitan pergi.
"Cepetan. Disini ada buah jambu banyak lo. Ngerujak enak kayaknya say. " Ucap Rena menelan ludah membayangkan makanan berbahan dasar buah segar itu.
"Ya ambillah dulu. Nanti kalo udah dapat banyak aku jemput." Santai kali tanggapan Tasya dari sebrang.
"Gimana ngambilnya? Tinggi tahu. Aku suruh manjat gitu? Kamu cepetan kesini. Kamu kan bisa manjat." Protesnya cemberut dan memerintah datang cepat.
"Haduhh. Kalo nggk bisa manjat sendiri ya manfaatin lakinya dong. Katanya tadi bareng pacarnya. " Menekan kata pacar.
Suara Tasya dari sebrang seakan mengejek Rena. Mengejeknya yang tak bisa dan tak berani meminta tolong pada lelaki yang diidamkannya. Merendahkannya yang tak pernah dianggap oleh lelaki incarannya.
"Nggk usah menghina ku. Aku tersinggung lo." ucapnya merengut.
"Hahaha." Malah terdengar suara tawa dari sebrang. Bahagia menertawakan orang lain yang lagi sedih.
__ADS_1
"Nggk udah ketawa. Nggk ada yang lucu." Ketus Rena.
"Oke oke." Menetralkan suara.
"Nggk usah manjat, nanti jatoh. Dirumahku ada buah-buahan segar yang cocok untuk rujak. Nanti bikin dirumah aja."
"Beneran kan?" Riang Rena, Keturutan deh makan rujak.
"Bener lah. Baru diantar sama tetangga tadi pagi. Lagi musim buah memang."
"Okey, sip. Cepetan kesini."
"Masih satu lagi orderan yang mau diantar, setelah ini langsung cus kesana. Aku matikan dulu ya? Masih dijalan ini." Tanpa menunggu persetujuan langsung mematikan sambungan telpon.
"Ih. Nggk sopan. Siapa yang telpon, siapa yang matikan." Maki Rena yang menyadari panggilan telah terputus.
Tapi tak peduli. Rena tetap bahagia meskipun panggilan sudah terputus. Bahagia akan ketemu teman lama, itu yang lebih mendominasi. Kangen cerita bersama, meskipun seringnya Rena yang banyak cerita. Kalo Tasya cuma menanggapi, tak terlalu terbuka dengan masalahnya. Hanya cerita garis besar masalah hidupnya, tanpa mendetail.
"Kira-kira mas David lama nggk ya?" Memperkirakan kapan kira-kira akan pulang.
"Tanya aja lah. Kan bisa berabe kalo ditinggal pulang duluan." Putusnya. Berjalan pelan memasuki bangunan yang masih carut marut itu. Suara berisik dari beberapa mesin juga palu yang bersahutan. Membuat Rena ragu untuk mendekat.
Akhirnya berjalan memasuki bangunan. Mengintip diantara celah-celah kayu dan batu bata, berharap menemukan orang yang dicarinya.
"Mas. Mas David. " Panggil Rena dengan suara cukup kencang, namun suaranya tetap kalah dengan suara berisik disekitarnya.
Rena kini sudah masuk kedalam. Takut-takut melangkahkan kakinya. Dengan mata jeli mengelilingi sekitar.
"Maaf mbk, ngapain disini? Bahaya lo mbk disini." Tegur salah satu bekerja yang melihat Rena.
"Iya pak. Mau cari mas David dimana ya?" Tanya Rena yang memukul-mukul bajunya yang menyentuh kayu-kayu berdebu.
"Owh mau cari pak David ya? Disana mbk, di basecamp samping, lewat luar aja mbk. Meskipun sedikit memutar tapi lebih aman. " Sarannya menunjuk arah dimana David bisa ditemui, dan jalan yang bisa dilaluinya.
"Owh begitu ya? Makasih kalo gitu pak." Ucap Rena dengan senyum ramah pada bapak-bapak itu. Lalu keluar mengikuti saran darinya.
Rena mengikuti arah jalan yang sudah berjejak. Dengan mata menatap awas pada jalanan. Takut kalo sampai ada benda-benda tajam yang kemungkinan bisa terinjak dan melukai.
Rumah ini lumayan luas juga. Hampir tiga kali luas rumah yang lama. Rumah lama yang sudah banyak lubang , bocor ,dan berlumut saat dia datang bersama tante Keysa. Rumah yang kini direnovasi oleh David. Namun tanpa membersihkan semak belukar diarea yang tak dibangun.
Cukup pegal kaki Rena memutari rumah itu. Mengambil jalan aman dari alat-alat yang berserakan dikanan kiri bangunan.
__ADS_1
"Mas." Panggil Rena yang melihat David duduk disamping rumah kayu sederhana bersama sopirnya.
Rena berjalan cepat. Mendekati David yang hanya melihatnya sekilas, dan lanjut berbicara dengan sopirnya itu.
"Dari mana?" Tanya David yang melihat Rena datang dengan nafas sedikit ngos-ngosan, dan duduk disampingnya. Tanpa ditawari meraih botol air mineral yang tinggal setengah dan meneguknya.
"Dari depan lah. Capek tahu. " Keluhnya meluruskan kaki yang pegal setelah berjalan dengan sendal tingginya dijalanan tanah dan banyak pecahan tembok dari bangunan lama.
"Eh, kamu tahu arah nggk sih? Depan itu sana, kalo dari sana berarti belakang." Sewot sang sopir yang menunjuk arah berlawanan sebagai depan, dan menunjuk jalan yang dilalui Rena sebagai belakang.
"Masak sih?" Ah, berarti dikerjain sama pak tukang ini. Batinnya.
"Mau makan?" Tanya David datar. Menunjuk kotak makanan, dan disampingnya ada beberapa roti dan makanan ringan.
"Nggk usah makan. diet. " Ketus lelaki yang kayaknya dia tak suka dengan kehadiran Rena.
"Apaan sih ? Siapa sih kamu? Lancang kali . Dari tadi sewot mulu ama aku. Aku nggk merasa punya masalah ya sama lo. Diam aja lo." Kata Rena nyolot. Lama-lama keki Juga si Rena.
"Mas udah makan?" Gantian bicara pada David dengan suara berubah lembut.
"Udah." Masih si sopir yang menjawab.
"Jo." Teguran David dengan intruksi mata.
"Kenapa sih kak? Seharusnya kakak itu jujur sama dia, kalo kakak itu terganggu dengan kehadirannya." Suara tinggi lelaki yang dipanggil Jo itu.
Deg.Kaget, Sakit, tak percaya. Itu yang Rena rasakan. Sikap cuek dan dingin David yang menjadi daya tarik tersendiri untuk Rena, ternyata itu sebagai tanda tak suka dari David? Kirain itu memang sikapnya nya.
Rena gantian melihat David. David hanya melotot tajam pada orang yang duduk sedikit berjarak darinya, namun yang ditatap hanya diam tak merasa bersalah.
"Makanlah." Perintah David tanpa ada niat menjelaskan ucapan Jo itu. Seakan sama sekali tak menampiknya. Apakah itu kenyataan? David tetap santai tanpa merasa bersalah.
Mata rena terasa panas. Sepanas terik matahari disiang ini. Jantungnya bertalu mengalahkan suara palu pak tukang diatas sana. Dadanya tiba-tiba sesak, susah hanya untuk menarik oksigen.
"Rena. "Suara teriakan dari arah yang dibilang depan tadi. Rena tahu itu suara siapa. Temannya yang berjanji untuk menjemputnya. Rena sedikit lega atas kedatangan Tasya. Punya alasan untuk segera pergi dari para lelaki menyebalkan itu.
"Iya, bentar. " Jawab Rena berteriak serak. "Maaf , aku mau main dulu. Itu sudah dijemput teman." Pamit Rena tanpa berani menatap salah satu lelaki itu. Menunduk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca.
"Kamu dimana sih?" Jawaban dari Tasya. Tanpa menjawab dari dua lelaki itu, Rena langsung berlari menuju arah suara. Ingin segera pergi.
"Suara itu." Gumam David yang serasa tak asing dengan suara teriakan wanita yang belum jelas wujudnya itu. Tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri serasa ada yang berputar dalam kepalanya. Dengungan suara yang sama terdengar samar dalam ingatannya.
__ADS_1