
Aisya menepati janjinya. Semua kebutuhan sekolah Reyhan dan Rasya semua dibiayai olehnya. Ke tujuh adeknya pun tak ada yang protes. Semua sudah menjalin tali persaudaraan dengan baik.
Bunda cukup duduk dirumah tanpa bekerja. Mengurus rumah setelah Aisya membelikan kursi roda untuk Bunda. Sedangkan Rasya memasuki kelas tiga SMA tak lagi bekerja. Otaknya yang tak sepandai Reyhan memutuskan untuk fokus menyiapkan ujian kelulusan, agar bisa keterima kuliah di kampus impian. Mulai kerja lagi setelah kuliah.
Sedangkan Reyhan? Dia tak lagi kerja jualan kue keliling. Kini dia sudah masuk SMA terbaik ditempatnya tinggal. Berbekal kepandaiannya, dia membuka les privat untuk anak-anak SD. Alhamdulillah gaji bulanannya lebih tinggi dibandingkan jualan kue keliling. Apa lagi makin lama muridnya makin bertambah. Bertambah pula penghasilannya.
Selain pandai dikelas, Reyhan juga pandai menjelaskan dengan singkat dan jelas materi pelajaran. Makanya banyak anak-anak yang betah dan cocok belajar dengannya. Selain membuka les privat untuk pelajaran sekolah setelah asar, Reyhan juga mengajar ngaji setelah magrib. Kalo mengaji gratis. Tapi nyatanya orang tua anak-anak itu sangat berbaik hati. Meskipun Reyhan menolak bayaran uang untuk belajar mengaji, tapi wali murid sering mengganti bayaran dengan mengantar makanan, sembako, atau kebutuhan pokok yang lain. Cukup meringankan kebutuhan sehari-hari. Sedekah tak boleh ditolak kan?
Saat bang Rasya lulus SMA, kak Aisya mengusulkan untuk membuatkan rumah untuk tempat tinggal kami, yang langsung disetujui oleh bang Rasya. Bang Rasya semangat memilih dan mengurus jual beli tanah yang diinginkan, menentukan bentuk dan ukuran rumah. Semua yang mengurus bang Rasya.
Alhamdulillah. Tak perlu lagi mendengar tagihan uang sewa tiap akhir bulan.
flashback of
"Owh. Rumah yang dibuatkan kak Aisya yang ini?" Tanyaku menunjuk langit-langit rumah yang kini kami tinggali.
Kini kami sudah kembali kerumah. Angin malam kian dingin diluar rumah. Memilih masuk kamar dan mencari kehangatan dibalik selimut.
"Iya. Yang ini." Kata Reyhan menyetujui.
"Berarti ini bukan sepenuhnya milik bang Rasya dong?" Tak jadi merasa tak enak telah berani memarahi dan menyindir kak Beti. Padahal tadi niatnya mau minta maaf lo. Tak jadi deh.
"Ya ini milik kita semua. Tapi memang semua atas nama bang Rasya, karena yang mengurus semua bang Rasya. Kak Aisya hanya membiayai."
__ADS_1
"Terus katanya warisan itu ,sudah jadi dibagi?" Tanyaku penasaran.
Ah, kenapa aku jadi ikutan mempertanyakan warisan? Tapi aku cukup tahu lika-liku kehidupan suamiku. Tak semulus perjalananku yang penuh kasih sayang abah dan ummi. Meskipun ummi harus berpulang lebih dulu, tapi aku masih beruntung bisa cukup puas merasakan kasih sayangnya. Permasalahanku hanya soal cinta yang rumit. Sedangkan Reyhan terlalu sibuk dengan mencari uang dan belajar, jadi tak sempat mengenal pacaran. Bahkan terbilang menjaga jarak dengan para wanita yang sering mengejarnya.
"Sudah lah. Aku dan bang Rasya minta jatahnya Berupa uang. Milikku untuk bikin rumah yang tadi, sedangkan bang Rasya untuk bangun usahanya yang kini sudah lumayan maju." Jelasnya.
Terjawab sudah rasa penasaranku. Dari mana suamiku mendapat uang untuk bangun rumah? Sedangkan kerjanya belum lama? Tidak. Suamiku kerja dari kecil bahkan. Tapi hasilnya untuk membiayai hidup satu keluarga. Meskipun ada tabungan tak akan cukup untuk membangun rumah yang terbilang besar itu. Dan ternyata bisa membangun rumah uang dari warisan ayahnya.
"Dulu aku penjual kue keliling. Makanya aku senang punya istri pintar bikin kue sendiri. Aku mendukung banget saat kamu ingin memulai usaha jualan kue."
"Ya udah sekarang tidur. Besok harus bangun lebih pagi untuk memulai usahanya. " Ajakku. Menaikkan selimut, merapatkan pelukan, mencari tempat ternyaman untuk tidur.
________
Setelah menunaikan qiamul lail bersama suami. Aku memulai bekerja didapur. Tak lupa Reyhan juga membantu. Tanpa protes menuruti semua perintahku. Dengan dua gelas kopi menemani, mengusir kantuk yang masih belum sempurna pergi.
"Udah sibuk aja sih? Udah adzan subuh ya? Kok Bunda belum dengar?" Tanya Bunda yang baru datang kedapur. Mengucek mata yang masih mengantuk. Merasa terganggu dengan aktifitas kami yang bikin berisik. Bukan memasaknya yang bikin berisik, tapi candaan dan tawa kami berdua yang sesekali terdengar untuk mengusir sepi yang mengganggu keheningan pagi buta ini.
"Belum adzan, Bun. Maaf, kami berisik ya? Bunda istirahat lagi aja. Masih setengah jam lagi adzan subuhnya." Jawabku merasa bersalah sudah mengganggu istirahat Bunda.
"Tanggung mau tidur lagi Bun. Sini bantuin kami aja! Tasya mau mulai usaha kue untuk perdana, Bun." Kata Reyhan meminta Bunda mendekat dan menjelaskan dengan bangga akan usaha kecilku. Memberikan adonan untuk buat pempek pada Bunda. Adonan yang sudah aku bikin, dan tinggal membentuknya aja.
"Boleh tu. Bunda cuci tangan dulu ya." Urung Mendekat kan tangannya pada adonan, menuju wastafel untuk mencuci tangan terlebih dulu, juga mencuci mukanya yang baru bangun tidur.
__ADS_1
"Sip, Bun." Jawab Reyhan.
"Emang nggk ngerepotin, Bun? Bunda kalo masih ngantuk istirahat aja lo." Pintaku tak enak udah buat Bunda bangun sepagi ini. Bukan cuma bangun pagi, malah merepotkannya dengan membuat kue sederhana ini.
"Kenapa ngerepotin? Bunda meskipun tak pandai bikin makanan beginian, tapi Bunda suka membantunya. Siapa tahu besok-besok bisa bikin sendiri. Sekalian belajar gitu." Sahut Bunda sama sekali tak merasa keberatan. Bahkan bahagia bisa membantu sekaligus belajar masak.
Bahagia mendapatkan dukungan penuh dari orang-orang terdekat kita. Bukankah itu salah satu kunci sukses? Doa dan dukungan suami dan orang tua sangat berpengaruh besar untuk usaha apapun yang kita jalani.
Tepat jadwal suami berangkat kerja makanan yang aku buat selesai semua. Tiga macam makanan. Pempek, risoles, dan donat. Tak terlalu banyak jumlahnya. Namanya baru pemula dan percobaan tak perlu banyak-banyak. Pengenalan dulu, kalo banyak yang suka baru tambah lagi untuk kedepannya.
"Ay, nitip ya?" Kataku memberikan dua kotak besar transparan untuk tempat tiga macam kue, yang sudah kususun sesuai jenisnya.
"Kok nitip? Kamu tak ikutan kesana?"
"Nggk mau lah. Aku kan mau buat pesanan mbk Mila untuk pengajian nanti sore. Nanti nggk kekejar lo." Kataku beralasan. Alasan yang nyata sih.
"Masak kepala sekolah suruh jualan juga?" Gumamnya dengan suara rendah, namun masih mampu tertangkap indraku dengan jelas.
"Katanya mau bantuin promosi? Suruh bawain nitip dikantin sekolah aja ngedumel." Protesku.
"Nggk ngedumel kok. Sini dulu. " Membuka kembali penutup toples tadi, dan mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan gambarnya. "Ni, untuk promosi." Ucapnya memfoto makanan buatanku. "Moga laris manis." Ucapnya semangat dengan tangan dan mata fokus pada ponsel.
Jualan zaman sekarang ya? Tak perlu buka lapak dan teriak menawarkan jualan. Cukup buka hp dan posting dengan caption terbaik untuk menarik pelanggan.
__ADS_1