
Didapur membuka tudung saji. Risoles yang tadi diatas nampan masih banyak ternyata sudah berkurang. Mungkin Beti sudah memakannya. Sebelum mengambil untuk tetangga, ku sisakan sedikit untuk suami dan ku simpan di rak paling atas. Masih ada beberapa biji untuk mengisi meja makan.
Apakah memang aku terlalu perhitungan ya? Apakah Benar kata Beti kalo aku ini untuk sekedar makan bersama aja pake dihitung? Bahkan menyimpan tersendiri untuk suami? Aku berfikir mengingat ucapan Beti barusan.
"Biarlah. Aku juga bermimpi untuk punya rumah sendiri. Apa salahnya jika mulai menabung? Dan aku kan ingin suamiku ikut mencicip kue bikinan aku. Tak ada salahnya aku menyisihkan sedikit untuknya." Membela diri sendiri. Dan berjalan kerumah tetangga dimana Bunda juga masih disana.
Melewati Beti yang masih membongkar belanjaannya. Memperhatikan gaun yang dibentang didepan badannya. Mencocokkan pada dirinya.
Apa sih maunya tu anak? Mau pamer atau gimana? Kenapa pula harus buka barang belanjaan disini? Dikamar kan bisa. Eh, emang Beti sama Rasya sudah baikan kah? Secepat itu? Kirain akan ada hukuman penghentian jatah bulanan gitu?
Sibuk dengan pikiranku sendiri saat melirik kakak yang katanya lebih muda itu. Menggerutu dan bertanya yang hanya berani dalam hati. Tak berani tanya pada orangnya langsung. Tak punya hak kan?
"Mau bawa kemana tu?" Tanya Beti yang melihatku lewat membawa piring, namun sama sekali tak menyapanya.
"Mau kasih mbk Julia. " Jawabku singkat tanpa menoleh.
"Idih, gaya mau berbagi sama tetangga. Sedekah gitu? Dimakan sodara aja ngedumel, tandanggk ikhlas." Suara menyindirnya kembali terdengar.
Tarik nafas dalam, keluarkan perlahan. Sabar Tasya. Jangan marah, jangan terpancing emosi. Berdoa aja agar bisa cepat pisah rumah dari dia. Membujuk diri untuk tetap bersabar. Berbalik badan.
"Ya, karena sedekah itu harus pada orang yang tepat. Kalo saudaraku kan sudah kaya." Ucapku mencoba santai, meskipun hati sangat medengkel.
"Eh, Lo bloon ya?" Makinya dengan marah. Bahkan kini dia sudah berdiri. "Si Julia itu lebih kaya dari pada lo." Serunya dengan tangan menunjukku.
Betulkah? Tanyaku dalam hati. Kok dia bisa tahu?
"Begitu ya? Tak apa lah. Yang penting dia lebih menghargai masakanku.Sudi mengucapkan terimakasih." Ucapku dan melambaikan tangan tak masalah. Dan berjalan kembali meninggalkan Beti yang masih menyimpan geram.
___________
Marta masih diam dalam ketakutan dan waspada. Berdoa dalam hati agar masih diberikan keselamatan dari dosa Zina. Merutuki diri yang ceroboh, dan menyayangkan mas Johannya yang bersikap diluar prediksinya. Mas Johan yang selama ini dikenalnya diam dan kalem, pun sholeh dan berkarakter. Paham tatakrama ketimuran dan selalu bisa menguasai diri.
Bayangan wajah abah yang sedang sedih dan kecewa berkelebat. Suara abah yang sedang memberikan petuah terngiang jelas di pendengaran. Nasehat yang selalu diulang, bahkan membuat Marta hapal.
'Jadi gadis itu yang santun dan lembut. Jangan suka mengumbar aurat yang bisa membangkitkan birahi lawan jenis. Jangan sampai mahkota berharga wanitamu hilang pada orang yang salah. Ingat nak. Kesalahan yang kamu lakukan ,abah ikut menanggung dosanya. '
Kesalahan yang kamu lakukan, abah ikut menanggung dosanya. Kata itu terngiang berulang memekakkan gendang telinga. Membuatnya semakin takut dan takut.
__ADS_1
"Mas. " Lirih Marta mencoba mengangkat kepala. Melihat Johan yang mengurungnya dengan kedua tangannya bertumpu didinding, wajah sangat dekat dengan sorot mata merah yang tak biasa. Hembusan nafas naik turun menahan sesuatu dalam dirinya.
Johan memejamkan mata menghirup dalam aroma Marta yang wangi. Sesaat membuka mata kembali, menatap lekat manik Marta yang ketakutan dan gugup, plus malu.
"Jaga sikap dan prilakumu. Sana masuk! Jangan keluar sebelum rapi." Suara intimidasi Johan disertai perintah. Membuka tangan sebelah kiri, tepat dekat pintu yang terbuka.
Marta beringsut minggir, dan berlari cepat kedalam ruangan dan menutup pintu dengan kencang. Badannya merosot duduk dibalik pintu. Tangannya memegang dada yang masih dag dig dug tak karuan.
"Ya Allah. Hampir saja. ." Lirih Marta menarik nafas dalam lalu mengeluarkan lagi perlahan , berulang kali dilakukannya untuk menormalkan kembali detak jantung, juga nafasnya.
"Apakah gairah lelaki semudah itu bangkit ya? Hanya lihat aku habis mandi dengan rambut basah aja udah berubah banget mas Johan. Matanya merah kayak orang kesurupan." Ucap Marta bertanya pada diri sendiri. Dan bergidik ngeri mengingat kejadian barusan. Bangkit berdiri dan mengedarkan pandangan untuk mengenali ruangan yang ia tempati.
"Hah? Kok aku malah ada dikamar sih? Tambah bahaya ini." Seru Marta mulai panik kembali.
Baru aja mulai bisa bernafas lega, kini ancaman yang lebih bahaya datang. Ternyata disini ada kamar? Kenapa mas Johan malah memasukkan aku dikamar? Apakah dia akan .....
"Hah. bisa gila lama-lama aku disini. Makanya jangan terlalu nekat Marta." Ucap Marta frustasi, mengetuk-ngetuk kepalanya yang tak berfikir jauh sebelum bertindak.
Sebenarnya ini bukan pertama dia diajak Johan kerestaurant miliknya. Namun baru kali ini dia masuk ruangan privasi milik Johan, yaitu kamar. Biasanya pun dia cuma bentar, dan ditemani Ana teman kamar sekaligus teman kampusnya. Sekarang dia datang sendirian karena tak sabar menunggu izin keluar asrama besok. Setelah masuk Asrama baru boleh izin keluar saat masuk kampus. Selesai jam kampus harus masuk lagi diasrama. Melakukan semua kegiatan dikomplek putri. Dengan alasan tak mampu menahan rindu, dia nekat melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri.
Ceklek.
Marta mengedarkan pandangan melihat setiap ruangan. Tak banyak benda diruangan ini. Hanya ada satu meja, satu single bed, dan satu lemari kaca yang cukup kecil. Rapi dan bersih. Itu yang pertama dinilai oleh Marta. Tak seperti kamarnya yang banyak gantungan baju didinding. Dan rak buku jauh dari kata rapi.
Ceklek, ceklek. Suara handle pintu diputar untuk memaksa buka.
Marta mengelus dada. "Untung sudah aku kunci."
Ceklek, ceklek. Kembali berbunyi. Marta hanya diam melihat arah pintu. Duduk memeluk diri sendiri diatas kasur. Dengan bibir terus melapal dzikir.
"Marta cepetan. Makanannya keburu dingin tu." Suara teriakan dari luar.
Tok tok tok. Kini gantian mengetuk pintu.
"Hair dryer nya ketemu nggk?" Kembali Johan bersuara.
"Ampun deh. Kan tadi aku nanya hair dryer ya? Kenapa jadi lupa sih." Monolog Marta pelan, memukul keningnya sendiri. Bodoh kali dia. Kenapa jadi pikun begini sih?
__ADS_1
"Tahu nggk?. Diatas meja situ."
Marta melihat meja. Benar sih, disana ada alat yang dia cari. Juga ada sisir, minyak rambut, pun beberapa krim wajah.
"Iya tahu." Balas Marta berteriak. Turun dari tempat tidur dan mengambil alat untuk mengeringkan rambut. Johan kembali duduk ditempatnya semula.
Marta sudah rapi. "Kayak ada yang kurang ya?" Berfikir, mengingat-ngingat. "Oh ya jilbab. "
"Aku kan belum ambil jilbab ganti, yang tadi masih dikamar mandi." Ucap Marta mengingat letak jilbab. Gimana dong? Dia masih trauma dengan kejadian tadi.
"Marta, sayang." Johan kembali memanggil. Terlalu lama Marta didalam. "Kamu tidur atau dandan sih?" Protesnya.
Ceklek. Marta membuka pintu sedikit, mengintip Johan yang ada didepan pintu. Tapi Johan langsung mendorong pintu agar terbuka. Marta mempertahankan untuk menutupnya. Jadilah dorong-dorongan pintu.
Pikiran Marta sudah bertraveling kemana-mana. Pada kemungkinan-kemungkinan terburuk jika dia berada dalam kamar yang sama. Kemungkinan terburuk yang baru kini ia takuti. Sebelumnya ia tak pernah berada dalam situasi begini.
Namun sial. Bagaimana pun juga tenaga Johan lebih kuat dari pada Marta. Yang membuat pintu akhirnya terbuka juga. Marta mundur hingga menempel dinding. Menjauh jadi Johan. Waspada .
"Kamu kenapa? Kok belum pakai jilbab? " Tanya Johan heran, dan sudah kembali normal seperti biasa. Tak merasa sudah membuat Marta ketakutan.
"Jilbabnya diluar. " Jawab Marta takut-takut.
"Sini." Melambaikan tangan meminta mendekat. Johan lalu berjalan mendekati tempat tidur.
"Mau ngapain?" Tanya Marta dengan suara sudah sedikit bergetar. Kenapa ketempat tidur? Mati aku. Rutuk Marta dalam hati.
"Katanya mau jilbab. " Berjalan lurus melewati tempat tidur, dan berhenti didepan lemari kaca, lalu membukanya. Mengambil gamis panjang sepasang dengan jilbabnya. Juga ada jilbab instan panjang.
"Owh." Marta sudah mulai tenang.
"Kamu kenapa sih? Kamu mikirin apa? "Tanya Johan menelisik raut Marta. Menerka apa yang dipikirkan gadisnya itu.
"Kamu mikir mesum ya?" Tebaknya yang membuat wajah Marta memerah malu.
"Ng-nggk kok." Jawab Marta gugup. "Kenapa disini ada pakaian wanita." Tanya Marta mengalihkan pembahasan.
"Tenang. Masih baru semua itu." Menunjuk badrol dan nama brand yang belum dilepas.
__ADS_1