
Akhirnya Marta mau mengangkat telpon dari Johan. Sedikit punya harapan saat mendengar ucapan abah tadi. Meskipun masih marah, tapi apa salahnya mendengarkan penjelasan darinya dulu? Berusaha husnudzon.
Menarik nafas dalam, keluarkan perlahan. Jangan sampai suara Marta terdengar habis nangis. Nanti jadi besar dia kepala kalo tahu Marta menangisinya.
"Sayang. Kamu kemana aja? Kok dari siang ditelpon tak diangkat-angkat? Tak kekampus juga? Mas khawatir tau. Kamu sehat kan? Sibuk banget sampai tak sempat pegang hp? Atau lagi marah? Tak mau dengar suara mas? Tapi mas kangen lo." Berondong Johan saat panggilan tersambung. Terdengar jelas nada khawatir darinya. Marta sampai menjauhkan telponnya karena pusing dengan banyak pertanyaan dari pacarnya itu.
Kangen? Preeeeettt. Kangen sama aku kok jalannya sama Ana. Kata Marta dalam hati. Namun tersenyum tipis mengetahui kalo Johan masih menghawatirkannya. Tandanya dia masih peduli dengannya.
"Yang. Sayang. Kok masih diam aja sih?" Tanyanya lagi saat Marta masih diam. "Kamu sehat kan?"
"Satu-satu nanyanya. Pusing mau jawab yang mana dulu." Akhirnya Marta bersuara meskipun sedikit ketus. Mendengar suara khawatir Johan, Marta tak jadi marah. Melupakan pasal ngambek dan cemburu tadi. Meskipun dia tetap penasaran dan perlu tanya tentang sebab Johan jalan dengan Ana.
"Ya jawabnya boleh satu-satu ,sayang. Mas khawatir sama kamu. Seharian tak ada kabar. Mas tadi kekampus tak nampak kamu. Mas tanya sama teman kamu katanya kamu tak ngampus karena dosen pembimbing lagi pergi. Tapi kok ditelpon tak pernah diangkat? Sering tak aktif juga."
"Mas tadi tanya sama teman aku? Siapa?"
"Ya. Teman yang sering kamu ajak ke resto itu. Ana bukan namanya? Lupa tadi tak kepikiran untuk tanya nama panjangnya." Jawab Johan jujur.
"Penasaran sama nama panjang dia? Nggk kepikiran atau nggk sempat nanya karena sibuk jalan bareng? Menikmati banget kayaknya ya?" Suara jutek Marta.
Mendengar jawaban Marta, Johan mengganti sambungan suara menjadi vidio. Namun Marta tak menampakkan dirinya, hanya terlihat poster artis ternama didinding kamar.
"Yang....." Merasa kesal karena tak bisa melihat gadisnya.
"Jawab dulu!!" Meskipun panggilan vidio, tetap hanya suaranya yang terdengar. Wajahnya tak terlihat.
"Jawab pertanyaan yang mana? Mas nggk jalan bareng sama Ana. Cuma antar pulang aja, biar sekalian bisa lihat kamu. Eh, malah tetap tak lihat juga." Jawab Johan nampak sedang duduk dibawah langit gelap. Dia nampak tak sedang dirumah. "Yang, kamu lagi dirumah ya? Kamu pulang?" Memperhatikan dinding kamar yang dihiasi poster dan beberapa bingkai poto. Kalo diasrama dindingnya bersih, tak ada gantungan apa-apa.
"Ya . Aku lagi dirumah." Jawab Marta masih dengan nada merajuk.
"Kenapa pulang? Nggk karena sakit kan?" Wajahnya nampak khawatir, Marta tersenyum melihat wajah khawatir kekasihnya. Merasa senang , dan merass diperhatikan.
"Oh iya, lupa. Kan beberapa hari kamu free ya? " Dijawab sendiri. Marta senyum-senyum sendiri, menikmati saat-saat pacarnya banyak bicara. Biasanya jika sedang berdua, Marta yang mendominasi percakapan. Sedangkan Johan lebih banyak diam dan mendengarkan.
"Yang. Arahin kameranya kewajahmu dong. Mas kangen tahu." Merengek Manja. Marta ingin ketawa melihat ekspresi Johan. Jarang-jarang wajah tenang itu jadi manja begini.
Akhirnya Marta menurut. Tak tega melihat wajah nelangsa pacarnya.
"Kamu sakit, Yang? Wajahmu pucat lo. Dan itu mata kenapa? Habis nangis ya? Ada masalah." Cerocos Johan saat melihat wajah Marta.
"Sejak kapan sih pacarku ini jadi banyak bicara? Nglah-ngalahin perempuan."
"Kenapa? Ini karena mas khawatir, yang."
"Mas tadi jalan kemana aja sama Ana?" Mengalihkan pembahasan. Ingin tahu kebenarannya.
"Emang dia nggk cerita ya? Oh iya. Kamu kan dirumah ya."
Ah, anak ini. Tanya sendiri jawab sendiri. Aneh deh.
"Kemana?"
"Nggk kemana-mana kok. Cuma ketemu dikampus trus antar dia pulang. itu aja."
__ADS_1
"Beneran?"
"Beneran dong. Kapan sih mas bohong? "
"Banyak kali."
"Kamu habis nangis kenapa? Ada masalah apa? Cerita dong."
"Aku tadi lihat mas ngantar Ana pulang. Ana nampak senang kali habis jalan sama mas. " Cerita Marta cemburu.
"Kamu tadi lihat mas? Kok mas tak lihat ya? Kamu dimana tadi?"
"Aku dimobil lah. Mau pulang."
"Oh. Pantes tak nampak."
"Mas beneran tak ada apa-apa sama Ana?" Masih ragu akan kesetiaan.
"Tak ada sayang. Dia kan teman kamu. Apa salahnya sih mas ngantarin teman kamu pulang? "
"Aku sudah tak dekat sama dia. " Marta belum kembali ceria. Masih merajuk dan berharap dibujuk. Meskipun dalam hati sudah bahagia.
"Kenapa?"
"Dia itu terang-terangan mengaku kalo suka sama Mas." Kesal Marta.
"Benarkah? Dia bilang sama kamu?" Tak percaya dengan anak yang menurutnya ceria itu.
"Bukan. Tapi sama teman aku yang lain."
"Hahahha..." Sudah bisa tertawa lagi.
"Kok ketawa sih? Mas lagi nggk ngelawak lo."
"Akhirnya, mas ku ini bisa merayu juga. Biasanya sering marah."
"Mas bukannya merayu. Itu kenyataan. Mas cuma sayang sama kamu. Lagian tak enak dicuekin dan diamkan begini. Mas kangen Marta yang cerewet seperti biasanya."
"Tapi Marta suka yang jadi diam begini lo."
"Kenapa?"
"Karena kalo Marta diam. Mas Johan yang gantian cerewet." Akhirnya bisa tersenyum tulus dan bahagia.
"Hemmm... Berapa hari dirumah?"
"Tak tahu lah. Mungkin awal pekan nanti baru pulang." Jawab Marta melihat wajah serius Johan dilayar ponsel.
"Owh.."
"Kenapa? "
"Kangen."
__ADS_1
"Mas tak berniat main kesini kah?"
"Emang boleh?"
"Boleh. Abah yang nyuruh."
"Okey. Insyaallah hari ahad mas kesana."
"Ku tunggu."
Mereka bercerita banyak hal. Mendiskusikan macam-macam. Membahas hal yang serius, hingga hal tak penting sama sekali. Yang penting bisa dengar suara kekasih untuk mengobati rindu. Marta tak lagi marah. Dia aja yang terlalu mudah berprasangka. Menyimpulkan sesuatu tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.
Bahkan hingga semua penghuni rumah sudah kembali kekamar masing-masing setelah cerita. Bahkan sudah terlelap tidur, Marta dan Johan masih asik berbagi cerita. Tak terasa lagi badan demam dan pusing kepala Marta.
Namun meskipun tidur hingga larut malam. Marta tetap bisa bangun pagi. Bahkan kini badannya terasa lebih segar dan sehat. Merasa demam dibadan sudah turun, dan pusing dikepala sudah hilang. Memang Cinta adalah obat paling mujarab.
"Sudah ceria aja. Sudah sehat, dek?" Tanya Tasya yang sedang mencuci beras untuk dimasak.
"Sehat dong. Sudah ketemu obatnya." Jawabnya riang, dan mendekati sang kakak untuk membantu. Lebih naik mengerjakan semua bareng-bareng kan? Tak usah lagi ada pembagian tugas seperti dulu.
"Palingan obatnya si Johan." Jawab Tasya dengan bibir mencibir.
"Apaan sih kak?" Merasa malu-malu.
"Kapan mau dikenalin sama keluarga? Jangan lama-lama diumpetin. Keburu basi nanti."
"Emang Johan makanan peke basi segala?"
Tasya hanya mengedikkan bahu.
"Kak, menikah itu gimana sih? Enak nggk? Kakak terbebeni nggk dengan pernikahan?"
"Kenapa tanya begitu? Sudah siap mau menikah ya?" Goda Tasya, yang membuat Marta tersenyum.
"Lagi mempersiapkan diri kak. Nunggu kabar kehadiran keponakan dulu ah, baru aku mau nikah."
"Keponakan dari siapa? Kakak lo sudah hamil. " Jawab Tasya.
"Hah beneran? Kok aku tak dikasih tahu?" Seru Marta antusias.
"Nggk usah teriak-teriak juga kali."
"Ya ampun kak. Selamat ya kak. Aku ikut bahagia deh." Memeluk kakaknya sebagai ucapan selamat.
"Ya. Buktikan kalo kamu juga akan nikah setelah dapat kabar ini."
"Hah.....?" Tasya tetap cuek melihat wajah terkejut Marta.
"Berarti kakak sudah melupakan Kak Arfan ya? Aku senang deh, kalo kak Reyhan sudah bisa menghapus bersih nama Arfan dihati kakak."
Tasya mematung mendengar ungkapan adeknya.
_____
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, koment, Hadiah, dan vote nya. Komen yang banyak-banyak ya.