
Tasya berkeliling memperhatikan setiap gedung yang menjulang tinggi. Namun bukan gedungnya yang membuatnya tertarik. Namun bunga-bunga yang tertanam disetiap depan bangunan. Nampak cantik dan warna-warni. Sekolah ini punya koleksi bunga yang lengkap dan terawat.
"Aduh mana tasku? Pasti ketinggalan dimobil. Tak jadi poto poto dong." Mencari benda yang ada Hp untuk mengabadikan bunga warna-warni itu. Namun tak jadi memotret bunga cantik karena tasnya tertinggal dimobil.
"Eh, disana ada banyak kupu-kupu." Mendekat pada kumpulan bunga yang menjadi daya tarik para kupu-kupu warna warni untuk datang.
Cukup lama Tasya berkeliling. Hingga para murid keluar kelas dan bertebaran kesetiap penjuru sekolah, karena istirahat kedua telah tiba. Namun banyak yang langsung menuju mushola sekolah untuk sholat dzuhur, meskipun lima belas menit lagi baru masuk waktunya sholat. Beberapa anak ada yang kekantin, atau sekedar nongkrong ditaman menunggu adzan berkumandang. Malas antri wudhu.
" Hay mbk. siapa namanya ?" Tanya salah satu murid cantik yang berjalan bersama tiga temannya. Banyak orang berlalu lalang dan memilih cuek akan keberadaan Tasya. Hanya mereka berempat yang peduli. Menyapa orang baru yang ada disekitar mereka. Sedangkan Tasya memang bukan tipe orang yang peduli dengan orang baru. Malas menyapa orang yang tak kenal, dan tak ada kepentingan.
"Hay." Balas Tasya menyambut sapaan, dengan senyum manis ia sunggingkan.
"Tasya. Kalian?" Mengulurkan tangan untuk perkenalan.
"Wulan."
"Eni."
"Resti."
"Diana."
Ucap setiap murid saat bergantian berjabat tangan.
"Mbk mau cari siapa? Atau guru baru ya disini?" Tanya mereka mengakrabkan diri. Mungkin memang orangnya mudah bergaul.
"Nggk lagi cari siapa-siapa sih, lagi lihat-lihat aja. Emang disini lagi cari guru baru ya?"
Mereka sudah berpindah. Kini mereka berempat duduk dibangku panjang taman. Menikmati sepoinya angin yang menggoyangkan bunga-bunga cantik yang berbaris rapi dan sama tinggi.
"Iya, mbk. Udah dua minggu mapel Alqur'an kosong. Katanya belum dapat yang cocok. Mbk tak berminat daftar? Kayaknya mbk masuk kriteria deh. " Jelas anak hitam manis bernama Diana.
"Hah? Al-Quran?" Beo Tasya tak percaya. Guru alquran? Aku? Masuk kriteria dari mananya? Batin Tasya tertawa. Tak percaya akan penilaian anak murid itu.
__ADS_1
Mungkin karena Tasya kini sudah sempurna memakai jilbab lebar, lantas mereka menilai dirinya pandai malafadzkan ayat-ayat Allah. Padahal nyatanya dia membaca Quran aja paling sehari cuma sekali, itupun paling cuma dua sampai empat halaman. Masih jauh dari kriteria pecinta Al-Quran.
"Iya, mbk. Quran. Guru yang lama juga cewek kok. Cuman dia milih ikut suaminya yang pindah tugas. Katanya dia mau buka baitul qur'an sendiri."
Ah, para pecinta Qur'an begitu ya? Selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan Al-Quran. Selalu menebar manfaat seluas-luasnya. Putus dari jalan yang satu, membuka banyak jalan yang lainnya. Dimana dia berada selalu memanfaatkan kemampuan untuk mengajar Al-Quran. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an? Mungkin guru itu salah satunya.
"Iya mbk. Padahal kami sudah nyaman diajar sama beliau. Eh, malah mau ganti." Curhat mereka.
"Ya semoga dapat yang lebih nyaman lagi. Tapi bukan aku pastinya." Jawab Tasya.
"Emang kalo mbk kenapa? Mbk nggk minat ya? Gajinya lumayan lo mbk."
Ah, anak-anak. Sok tahu banget soal gaji? Emang dia siapa sih mengerti jumlah bayaran guru? Tapi wajar kalo gaji guru disini cukup tinggi. Karena bulanan muridnya juga lumayan banyak. Ditambah jam mengajar yang full, dari pagi hingga sore. Sesuai dong dengan capeknya.
"Nggk lah. Aku nggk punya skill dibidang itu. Bukan jurusannya. Nanti kalo salah ajar, resikonya sampai akhirat lo." Ucap Tasya.
"Emang mbk lulusan apa sih? Bukan dari pesantren ya?"
"Bukan. Aku tak pernah masuk pesantren. "
"Begitukah? Tapi perasaan mudah aja masuk sini. Penjaga gerbang tak tanya macam-macam. Kan abahku ngajar juga disini. Ngajar mapel MTK." Mengingat saat dia masuk. Cukup menekan klakson, pintu langsung dibuka tuh.
Yah. Masuknya aja sama pak kepsek. Mana mungkin dipersulit?
"Owh, mbk anaknya pak Fahmi?"
" Ya udah kalo begitu. Kami ke masjid dulu mbk. Udah adzan itu." Izin mereka saat mendengar kumandangan adzan dzuhur.
"Iya."
"Mbk nggk ikut jamaah sekalian?" Menawarkan untuk pergi bareng.
"Aku tak bawa mukenah." Menolak. Karena sebelumnya dia tak memprediksi akan dibawa kesekolah. Jadi tak bawa apa-apa.
__ADS_1
"Dimasjid disediakan kok."
Akhirnya Tasya mengikuti keempat murid itu menuju masjid. Masjid ini cukup besar, meskipun tak bisa dibilang besar banget. Karena nyatanya tak mampu menampung seluruh murid disini. Jamaah sholat dilakukan dua kali, jamaah laki-laki didulukan, baru setelahnya untuk sholat berjamaah untuk murid perempuan.
Tasya selesai wudhu bersama empat anak yang baru dikenalnya. Mereka sangat baik dan ramah. Berjalan menuju masjid ada yang menarik tangannya kasar, yang membuatnya kaget dan marah. Bahkan hampir oleng karena tak siap.
"Apa-apaan sih? " Protes Tasya menepis tangan yang menggenggamnya. Menolak untuk ikuti orang yang menariknya.
"Pak Rey. Pak Reyhan." Gumam keempat wanita yang disamping Tasya. Melongo terkejut, lalu menutup mulut. Masih belum tahu kenapa kepala sekolah itu menarik tangan wanita. Padahal jelas peraturan disini. Ada jarak antara ikhwan dan akhwat yang tak bisa dilanggar. Tak boleh pegang-pegang.
Mendengar nama suaminya disebut. Tasya melihat orang yang sembarangan menarik tangannya dengan kasar. Hingga membuatnya hampir terjatuh karena tak siap mendapatkan tarikan mendadak.
Tasya melihat wajah suaminya yang mengeras. Sorot mata tajam. Bukan seperti Reyhan yang biasanya mendampinginya. Ditangan Reyhan ada tas miliknya. Membuat Tasya takut sendiri.
"Kamu dari mana aja?" Tanya Reyhan dingin, menyorot Tasya yang berdiri salah tingkah karena menjadi perhatian banyak orang. Sedangkan Reyhan menggerakkan tangan,mengisyaratkan pada empat anak yang menemani Tasya untuk pergi.
"Emm.... Aku.." Jawab Bingung Tasya. Bukan bingung mau jawab apa. Hanya takut melihat raut asing suaminya.
"Katanya mau nunggu dimobil, atau nyusul dikantor. Ini malah pergi tanpa izin, hp ditinggal lagi. Maunya apa sih?" Marah Reyhan dengan nafas yang naik turun.
"Ma-maaf. Tadi aku cuma lihat-lihat...." Alasan Tasya dengan kepala menunduk. Malu itu yang dia rasakan. Seandainya ini terjadi dirumah, mungkin tak akan membuatnya segrogi dan segugup ini. Meskipun semua murid sudah masuk masjid, namun berjajar dijendela menonton. Tasya jadi malu. Pertama datang kesekolah suaminya, eh malah jadi tontonan begini.
"Kenapa hpnya ditinggal? Aku bingung cari kamu. Aku sudah keliling dan tanya-tanya tak ada yang tahu, Aku khawatir sayang. Takut terjadi apa-apa sama kamu. Kamu kan belum pernah kesini." Suara Reyhan mulai melunak. Menyentuh wajah Tasya yang memerah karena malu jadi tontonan. Dia tak mungkin melakukan lebih disekolah ini, apalagi didepan para muridnya.
"Maaf."
Ah lebay deh. Baru juga berapa jam tak ketemu udah marah-marah aja. Gimana menghilang beberapa hari ya? Apa perlu dicoba?
"Jangan diulangi lagi. "
Tasya hanya menganggukkan kepala janji.
"Ni hp kamu. Banyak kali panggilan tak terjawab. Kalo memang berniat usaha dengan online, jangan jauh-jauh dari hp. Tu tengok, calon pembeli jadi kabur kalo begitu cara kamu." Menyerahkan ponsel beserta tasnya.
__ADS_1
Benar saja. Disana banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang sempat menelponnya tadi. Tasya mengerutkan kening heran. Ternyata dia bukan orang iseng kah? Membaca pesan nomor itu.
"Assalamualaikum. Benarkah ini dengan Tasya cake & bakery? Saya mau pesan medium brownies cake . Antarkan pada hari minggu jam sebelas siang didanau x. Tidak menerima antaran melalui kurir."