
Malam makin larut. Langit sempurna pekat. Bintang-bintang tertutup awan. Angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk. Sweater sudah kurapatkan, bahkan Reyhan masih betah mendekapku dari belakang. Namun dingin tetap terasa hingga ketulang.
Meskipun dengan menahan rasa dingin, aku masih betah diluar. Menikmati gemerlap lampu yang memenuhi setiap penjuru. Menghalau gelap yang menyelimuti bumi. Pun pengunjung yang lain masih bercengkrama dengan pasangan, dengan kawan, juga dengan para kerabat dan keluarga. Ada juga yang berkenalan dengan orang-orang baru.
Bahkan makan malam kali ini aku makan diatas air ini. Didepan penginapan yang memang dibangun diatas air jernih dan asin ini. Reyhan tak menolak saat ku ajak menikmati santapan malam yang dipesannya ditempat kami menikmati kebersamaan. Menikmati malam panjang dengan cerita yang entah tentang apa.
"Masuk yang. Udah malam." Ajak Reyhan. Malam sudah mulai larut. Rasanya sudah habis bahan cerita yang ingin kita bahas. Beberapa menit berlalu hanya ada diam. Reyhan sudah mulai menahan kantuk.
"Udah ngantuk?" Tanyaku, melihatnya yang memelukku dari belakang. Matanya sudah nampak merah.
"Hemmz.." Gumamnya dengan menganggukkan kepala pelan.
"Okey. " Setujuku dan beranjak berdiri yang diikutinya.
Sebelum tidur tak lupa wudhu terlebih dahulu. Itu yang sedari dulu dibiasakan abah pada anak-anaknya, dan hingga kini tetap aku pakai. Yah, bersuci dari hadas kecil tak hanya dilakukan sebelum sholat saja. Kata abah agar kita tidur dalam keadaan bersuci, seandainya pagi hari tak bangun lagi kita pergi dalam keadaan suci. Meskipun tak tahu apa yang terjadi saat tidur. Juga agar saat tidur kita dijaga oleh Allah.
Aku selesai dengan aktifitas sebelum tidur, Reyhan masih duduk memainkan ponselnya. Aku mendekatinya dan melirik layar ponselnya yang sedang mengetik chat, entah untuk siapa.
"Katanya sudah ngantuk Ay?" Ucapku saat melihat layar ponselnya yang sudah menggelap saat aku berdiri tepat disampingnya.
"Iya, aku kekamar mandi dulu ya." Ucapnya dengan senyum manis, dan meletakkan ponsel sembarang diatas kasur.
"Hemm." Gumamku setuju.
Aku berbaring diatas kasur, mengacak kelopak bunga berwarna merah yang disusun menghiasai tempat tidur. Mengusapnya, membaui harumnya, hingga menyebarnya makin meluas memenuhi kasur besar ini.
Mata belum terpejam, Reyhan masih dikamar mandi, layar ponsel itu berkedip tanpa suara. Aku meraihnya, hanya terbaca balasan singkat dari nomor tanpa nama, namun layarnya terkunci, tak bisa buka riwayat chating lainnya. Biasanya aku tak pernah tanya, juga tak pernah kepo soal urusan pribadinya. Jadi tak tahu sandi dari kunci layar ponselnya.
"Kenapa yang?" Suara Reyhan mengagetkanku.
"Eh, nggk." Jawabku sedikit takut telah memegang hpnya. "Tadi kayak ada pesan." Ucapku memberikan ponselnya. Tapi dia nampak aneh melihatku.
"Owh." Meraihnya dan membukanya, mengetik balasan lalu meletakkannya diatas meja. Aku tak berfikir macam-macam, kembali merebahkan badan memeluk guling hingga Reyhan turut berbaring bersisian denganku.
__ADS_1
"Boleh ya?" Tanyanya memohon sudah bersiap-siap.
Aku tak punya pilihan lain kan? Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Melakukan tugas yang sudah lama aku abaikan. Memberikan haknya yang sudah lama aku tahan. Bukan selama ini aku tak takut akan dosa, hanya saja badan tak menginginkannya, juga tak mendukung untuk itu. Jadi saat badan punya tenaga lebih, ku coba menikmati semua sentuhannya yang membuatku lelah hingga terjatuh dalam lelap. Toh selama ini aku juga menikmatinya.
________
Pagi hari aku bangun tepat saat Adzan subuh dari ponselku berkumandang. Reyhan sudah tak ada disisiku, aku sudah merasakan dinginnya pagi tanpa pelukannya. Aku bangkit untuk membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah.
Keluar kamar mandi Reyhan sudah duduk bersila diatas kasur sambil membaca Qur'an dari aplikasi di ponselnya.
"Dari mana Ay?" Tanyaku yang membuatnya menghentikan tilawah.
"Dari mana? Emang mau kemana to?" Balik tanya dengan mimik heran.
"Tadi aku bangun tak ada disini."
"Dari sholat dari ruangan sebelah tadi." Jawabnya.
"Kamu mandinya lama sih." Jawabnya santai, menyandar pada headboard.
"Kenapa tak dibangunin dari tadi?" Sungutku sambil ganti baju.
"Maaf. Udah sana cepetan, keburu habis waktu subuhnya. Habis ini kita jalan-jalan lihat sunrise."
"Dingin Ay." Tolakku akan ajakannya, namun menurut untuk bergegas melakukan sembahyang.
"Sudah?" Tanyanya basa-basi yang bener-bener basi . Sudah lihat aku sudah selesai sholat, sudah melipat sajadah masih juga ditanya , sudah? Jadi aku hanya diam saja tanpa niat untuk menjawab.
"Cepat siap-siap! " Perintahnya. Reyhan sudah siap pergi dengan pakaian hangatnya. Hari masih sempurna gelap, matahari belum muncul, bahkan suasana pagi masih sangat sepi. Hanya suara air yang terdengar.
"Masih dingin Ay." Kembali loncat keatas tempat tidur dan menarik selimut. Kapan lagi kan bisa malas-malasan dipagi hari? Biasanya dari pagi sudah sibuk didapur menyiapkan orderan.
"Mau mengulang aktifitas semalam dibagi ini?" Tanyanya dan berjalan mendekatiku. "Oke. Aku dengan senang hati menuruti." Belum dijawab pertanyaannya sudah melanjutkan ucapan. Ikut naik ke pembaringan. Ah, ancamannya selalu begitu. Bikin aku malas aja.
__ADS_1
"Ya deh. Kita lihat sunrise." Akhirnya aku bangkit dengan muka bersungut tak ikhlas. Ganti baju yang cocok untuk keluar dipagi ini.
"Yah, tak jadi dong ini." Ucapnya sok kecewa, padahal menahan tawa. Melirikku yang bersungut pergi untuk ganti baju.
Pagi ini Reyhan mengajakku jalan-jalan, bukan untuk menikmati keindahan dalam laut atau pantainya. Juga bukan untuk menikmati spesies yang ada didalamnya. Namun hanya jalan kaki ketepi pantai, dan lanjut menaiki bukit yang tak jauh darinya. Berjalan dengan tangan saling menggenggam menyalurkan kehangatan.
"Gimana? Pemandangan disini baguskan?" Tanyanya melihat alam yang ada dikanan kiri. Bukit ini tak terlalu tinggi, namun cukup tepat untuk menikmati keindahan alam yang ada dibawahnya. Reyhan juga mengajakku berjalan pelan, tak tergesa-gesa. Yang membuatku mampu menikmati perjalanan ini, juga tak terasa lelahnya karena disuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata.
"Bagus, Ay." Jawabku riang. Melihat hamparan laut dibawah sana. Namun sayang, kami tak sempat melihat sunrise dari sini. Matahari sudah naik saat kami sampai diatas bukit. Mungkin karena lambatnya jalan kami, atau memang jaraknya yang jauh? Namun hari belum panas. Bahkan sinar matahari belum menguapkan semua embun didedaunan.
"Duduk sana yok." Menunjuk hamparan rumput yang masih basah oleh embun. Aku mengikuti anjurannya.
Ternyata disini memang menjadi tempat favorit untuk melihat sunrise. Terbukti dengan adanya beberapa orang disini. Padahal saat kami melewati jalanan tadi masih sepi, hanya berpapasan dengan beberapa orang yang memulai aktifitas pagi. Lagian daerah ini kan terkenal dengan pantai dan laut, jadi jarang orang yang tertarik untuk menikmati pagi seperti kami ini.
"Basah Ay." Menginjak rumput tanpa alas kaki, dan menolak untuk duduk.
Reyhan melepas jaketnya dan menggelarnya diatas rumput. Lalu duduk diatasnya. "Sini. " menepuk tempat yang masih muat untuk tempatku duduk.
"Nanti jaketnya kotor dong Ay." Protesku. Jangan sampai aku yang suruh nyucikan? Aku juga yang repot nanti.
"Tak apa, cuma basah nanti juga kering." Jawabnya santai.
Akhirnya aku menurut saja.
Ternyata tak terasa capek meskipun pagi ini aku jalan cukup jauh. Mungkin rasa bahagia menjadi alasannya, atau pemandangan yang memukau menjadi penawarnya.
"Besok pagi mau coba datang kesini lebih pagi?" Tanyanya menawarkan.
"Maksudnya?"
"Biar sempat melihat matahari terbit."
"Nggk usahlah. Besok coba ketempat yang lain."
__ADS_1