
Aku memasak bubur dengan cepat. Karena sore sudah mulai tumbang berganti gelap. Reyhan masih keluar entah kemana. Tak mau Bunda menunggu lebih lama dalam kelaparan.
Setelah makanan untuk Bunda siap. Aku bergegas mengantarnya kekamar. Namun kakiku terhenti didepan pintu saat melihat Rasya bersimpuh dikaki Bunda, yang kini sudah duduk bersandar . Dengan mata sembab dan mata menerawang menyimpan kesedihan. Rasya menundukkan kepala dihadapan Bunda.
"Bunda yang minta maaf." Suara lirih bunda terdengar pilu. Aku pun ikutan sedih mendengarnya, aku tak tahu apa yang dikatakan Rasya tadi. Bukan kata-katanya yang membuat sedih, tapi nada suara dan keadaan Bunda yang membuat miris.
"Istri Rasya yang salah, Bun. Rasya nggk tahu kalo Beti bisa berlaku begitu kejam sama Bunda. Maafkan Rasya yang terlalu sibuk kerja . Atas nama Beti, Rasya minta maaf, Bun." Balas Rasya dengan kepala menunduk. Bunda sama sekali tak melihat anaknya, pun tak berniat meminta Rasya berdiri dari tempatnya.
"Bunda yang salah." Suara bunda tercekat, ditelan isak tangis.
"Seandainya Bunda tak lumpuh begini, mungkin istrimu tak akan malu dan tak akan mengunci Bunda dikamar saat banyak temannya datang. " Lanjut Bunda yang membuat sedih. Menyalahkan keadaannya sendiri yang tak bisa berjalan normal.
Aku masih diam bersembunyi dibalik pintu, memegang erat nampak untuk Bunda. Bukan maksud menguping atau mencuri dengar. Hanya memang kebetulan dengar dan tak ingin mengganggu anak dan ibu yang sedang bicara dari hati kehati itu.
"Besok kita berobat ya? Biar Bunda bisa jalan lagi." Bujuk Rasya akhirnya mengajukan solusi.
"Bunda tidak mau." Tegas Bunda kini beralih melihat anak lelakinya dengan tatapan sulit diartikan. " Apakah kamu juga malu punya ibu seperti Bunda? Sama seperti istrimu yang malu punya mertua lumpuh begini. " Tanyanya tajam dengan wajah tanpa senyuman. Membujuk diri agar tak sakit hati berlebihan. Namun sesaat kemudian tertawa aneh. Terlalu sakit perlakuan yang dia terima. Namun dia memilih tak marah pada sang menantu. Menyalahkan keadaannya sendiri yang tak sempurna.
"Tidak." Rasya menggeleng cepat,dengan menggoyangkan tangannya untuk mempertegas jawabannya.
"Rasya nggk malu kok punya ibu seperti Bunda. Bunda tetap ibu terhebat yang Rasya punya. Bagaimana pun keadaan Bunda, bunda tetap ibu Rasya yang selalu Rasya cintai. Tapi..." Nampak menjeda berfikir.
"Tapi apa? "
"Tapi,,,, seandainya Bunda bisa kembali berjalan bukankah itu lebih baik, Bun?"
"Apakah kau tak ingat, Nak? Apa yang dokter Rio jelaskan dulu? Sudah terlambat. "Jawab bunda dengan mata kembali berkaca.
Aku ikutan sedih mendengar dan melihat apa yang ada didepan mata. Toh kita tak pernah bisa mengerti takdir bukan? Kita tak tahu akan menjadi seperti apa dan akan ada musibah apa yang menanti kita kedepannya.
__ADS_1
"Kenapa disini?" Tanya Reyhan menoel lenganku yang masih berdiri mengintip pada pintu yang tak tertutup sempurna. Yang membuatku terkesiap kaget dan mengalihkan pandangan dari dalam.
"Apaan sih? Ngagetin aja." Kagetku dengan suara ku rendahkan.
"Ngapain?" Mengerutkan kening heran, dan ikutan melihat kearah dalam kamar.
"Nggk papa. Kamu aja yang antar." Menyodorkan nampan yang sedari tadi aku pegang.
"Okey. Ni." Gantian memberikan plastik yang tadi dibawanya.
"Maaf, diwarung tak ada sayuran. Habis katanya. Jadi cuma dapat mi instan dan telor." Jelasnya meminta maaf karena cuma dapat mi instan, dengan nyengir maaf.
"Ya nggak papa lah." Aku menerima plastik dan dibawa kebelakang. Meletakkannya diatas meja dan lanjut cuci piring dulu. Katanya si Beti mau diberesin , mana? Sampai sekarang juga tak beres-beres. Keluar kamar aja nggk tu anak.
"Dasar anak malas." Gerutuku sambil memutar kran siap cuci piring, gelas, dan semua peralatan masak yang kotor.
"Kamu harus minta maaf sama Bunda." Tegas Rasya menyeret istrinya kekamar Bunda. Tapi sang istri ngotot menolak. "Apa salahnya sih minta maaf, dan mengakui kesalahan?" Bentak Rasya dengan suara tertahan saat tahu istrinya tak mau menurut.
"Aku nggk salah, kenapa pula harus minta maaf? Toh sekarang dia udah baik-baik aja kan?" Mengibaskan tangan menantang. Entah dapat keberanian dari mana dia. Tadi mengkerut takut saat dimarah suaminya, kenapa kini melawan?
"Beti." Mulai hilang kesabaran. Suaranya meninggi tak tertahankan.
"Apa?" Tanpa gentar.
Lucu juga melihat sepasang suami istri bertengkar. Semoga aku tak akan seberani itu melawan Reyhan. Bagaimana pun surga dan neraka istri tergantung pada keridoan suami. Semua bisa dibicarakan baik-baik.
"Dasar wanita tak tahu diuntung ya? Tak tahu terima kasih kamu ya. Kamu sadar nggk sih siapa kamu dulu? Seburuk apapun keadaan ibuku, itu lebih baik dari pada ibumu yang telah membuangmu. " Rasya sudah hilang kesabaran. Hingga mengungkit hal yang mungkin tak perlu dibahas. Nampak wajah Beti berubah marah tak terima orang tuanya dibawa-bawa.
"Kenapa? Marah?" Tanya Rasya melihat perubahan pada istrinya.
__ADS_1
"Tak perlu kau bawa-bawa nama ibuku. " Geram tertahan dan melangkah kekamarnya. Membanting pintu kamar hingga tertutup dengan bunyi berdebum keras. Yang membuatku terperanjat kaget.
____
Lupakan masalah rumah tangga sebelah.
Setelah terang berganti gelap. Merah saga sudah benar-benar lenyap dari angkasa. Berganti bulan separoh yang menenangkan jika menatapnya, dan gemintang yang setia mendampinginya. Bertabur menambah keindahan langit malam. Pun lampu-lampu pijar yang bertebaran dimana-mana. Menghidupkan bumi dari gelapnya malam.
Aku dan Reyhan tak jadi makan mie instan yang tadi dibelinya. Memilih keluar cari makan, sekalian belanja bahan dapur yang ludes dalam sehari. Yang pastinya setelah membereskan kekacauan yang dibuat Beti, yang nyatanya suami istri itu malah ribut sendiri. Sama sekali tak membantu. Dan juga setelah memastikan Bunda kembali membaik setelah makan dan minum obat, dan istirahat dengan tenang setelah menunaikan sholat isya.
"Ni." Reyhan menyerahkan amplop putih sebelum berangkat cari makan dan belanja.
"Apa ni, Ay?" Menerima amplop yang ternyata sudah dibuka. "Kok udah dibuka?" Tanyaku melihat isinya yang ternyata uang nafkah. Dulu juga pernah dikasih, sih. Tapi hanya lima lembar berwarna merah, dan udah habis dalam seminggu ini.
"Ya kan aku juga butuh uang untuk beli bensin." Jelasnya. "Tapi aku juga cuma ambil tiga lembar kok. Untuk minyak, kalo ternyata ada kerusakan pada kendaraan nanti minta lagi." Lanjutnya nyengir tanpa bersalah.
"Ya lah." Aku mengeluarkan isinya dan menghitungnya. Menghitung uang itu keahlianku. Haha. Dan untuk gaji seorang guru di sekolah swasta. Ini cukup banyak, bahkan lebih besar dari gaji guru PNS.
"Ayok." Mengajakku keluar kamar, dan tak lupa memasukkan kembali lembaran uang setelah mengambil beberapa lembar secukupnya untuk belanja malam ini. Sisanya kembali ku simpan dalam lemari. Bisa tak cukup sebulan kalo dibawa semuanya. Namanya ibu rumah tangga harus pandai mengurus uang kan? Harus cukup sebelum gajian bulan depan.
Malam ini kami keluar memilih mengendarai mobil setelah sedikit perdebatan pastinya. Karena dengan alasan hari sudah malam, juga memudahkan membawa belanjaan.
_______
Selamat membaca. Moga bisa sedikit menghibur. Maaf kalo masih amburadul.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, komen, dan gift nya. Awal pekan ini, vote nya juga ya..🤗😍😍
__ADS_1