Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Bingkai Fhoto


__ADS_3

Marta menurut. Dibantu kakak iparnya menyiapkan makanan yang sudah dimasaknya.


"Orang mana dia?" Tanya kak Ina disela-sela kesibukannya.


"Orang kota lah." Jawab Marta bangga. Siapa yang tak bangga punya kekasih seperti Johan? Udah kaya, tampan, sholeh lagi. Meskipun terkadang cuek banget, tapi ada kalanya perhatiannya berlebihan.


"Sepertinya kaya ya? Mobilnya mantab." Tebak kak Ina yang dijawab anggukan kuat oleh Marta.


Mobil yang terparkir didepan itulah yang membuat Ina dan suaminya datang langsung kerumah abah. Penasaran siapa yang bertamu.


"Kaya itu bagus, tapi yang paling penting itu setia. Paham dari mana dan akan dibawa kemana kekayaannya. Bukan cuma mengumpulkan harta, namun lupa hak dan kewajiban sebagai orang muslim. Banyak orang kaya, tapi kurang setia pada wanita. Lebih suka foya-foya." Kata kak Ina menasehati.


"InsyaAllah, kak. Meskipun aku belum paham betul tentang kehidupan dia, tapi aku yakin dia orang baik kok. Sholeh dia kak. Dan ku yakin juga setia."


"Bagus kalo begitu."


"Iya."


"Ya udah, sana dipanggil untuk makan bareng. Bang Bagas belum makan siang tahu." Perintah kak Ina.


"Habis jalan-jalan kok makan dirumah. Kenapa tak jajan diluar?" Cibir Marta, namun tetap patuh untuk memanggil tamu.


"Ngapain jajan? Adeknya aja punya makanan banyak begini kok." Jawab Kak Ina santai. Padahal memang lagi irit, karena suaminya belum waktunya gajian.


Marta memanggil abah untuk mengajak tamu dan abangnya makan. Tak ada penolakan. Meskipun Johan dan Abah tadi sudah makan, namun tetap menurut saat disuruh makan lagi. Toh kini hari sudah mulai sore. Sudah mendekati waktu asar.


Johan nampak memperhatikan ruang tivi yang memajang banyak foto. Kalo diruang tamu memang tak ada foto sama sekali.


Marta mendekat saat Johan berhenti sejenak memperhatikan foto masa kecil Marta beserta keluarga. Foto yang diambil saat ibunya masih ada. Sedangkan abah dan bang Bagas masih berjalan sambil asik bercerita sendiri.


"Ini aku waktu masih SD. Masih imut-imut kan?" Ucap Marta mendekat, dan menunjuk gambar dirinya pada photo yang dibingkai di dinding. Johan hanya melihat Marta, lalu perhatiannya kembali pada fhoto lagi.


"Fhoto ini diambil dua bulan sebelum ummi pergi." Tambah Marta menyimpan kesedihan mengenang sang ibu, namun tetap memaksa tersenyum untuk menguatkan diri. Bukan tak rela. Bukan pula tak ikhlas umminya pergi lebih dulu. Hanya saja terkadang rindu datang tanpa diundang, yang membuat hati sedih saat mengenangnya.

__ADS_1


"Aku sedari dulu tetap sama kan? Tetap imut dan manis, juga pakaian sudah tomboi. Jadi jangan maksa aku berubah." Ucap Marta tertawa melihat gambar dirinya dimasa kecil. "Tapi aku janji deh, akan belajar menjadi feminim seperti kakak." Ucap Marta lagi yang berdiri bersisian dengan Johan, dan mata menatap pada poto yang sama.


"Kakak?" Gumam Johan. Karena yang menjadi fokus Johan bukan gambar Marta waktu kecil, namun gadis remaja yang sedang tersenyum lebar berdiri disampingnya.


"Iya. Ini kakak ku yang sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Dan kali ini dia tak sempat ikut hadir disini. Dia lagi banyak orderan katanya. Dia setelah menikah buka usaha kue gitu. Ditambah sekarang dia sedang hamil muda, jadi sedikit jaga kesehatan dan kondisi." Jelas Marta yang membuat Johan melongo tak percaya. Kaget dengan penjelasan Marta.


"Ini kakak kamu? Dan dia beneran sudah menikah? Dan sedang hamil?" Johan sedikit tersentak mengetahui kenyataan itu.


Johan ingat betul dengan wajah anak remaja yang ada difoto itu. Itu adalah wajah yang sama dengan foto remaja yang selama ini selalu ada dimeja kantor David, juga foto remaja yang memenuhi kamar kakak sepupunya itu. Dan itu adalah orang yang tadi ingin ditemui David ditepi danau.


Ternyata dia sudah menikah? Terus bagaimana reaksi kak David jika tahu ini? Pasti dia kecewa banget. Batin Johan memikirkan nasib percintaan kakak sepupunya itu.


"Iya. Dia sudah menikah. Ini foto pernikahannya." Jawab Marta dan menunjuk bingkai disebelahnya. Johan mengikuti arah telunjuk Marta. Namun wajah mempelai wanita dalam foto itu tak terlalu dikenali oleh Johan. Secara pengantin wanita yang difoto itu sudah dewasa, juga terpoles makeup. Terlihat sendu dan tersenyum terpaksa. Sedangkan saat remaja masih imut dan natural. Tanpa sentuhan makeup sama sekali. Dengan senyum lebar dan tanpa beban.


"Jadi. Anak abah yang belum menikah tinggal aku aja. Dan InsyaAllah bentar lagi aku akan selesai. Baru deh nanti kita menikah. Aku berharap bisa menikah dengan bahagia, dengan lelaki yang aku cintai. Tanpa beban seperti kakak ini. " Harap Marta, dan nampak sedih mengucapkan akhir kalimatnya.


"Emang kenapa dia?" Tanya Johan penasaran. "Emang dia punya beban apa?"


"Ah, ceritanya panjang. " Jawab Marta tak ingin membahas soal kakaknya.


"David?" Tanya Marta yang dijawab anggukan kepala oleh Johan. Marta ingat nama itu. Nama yang disebut Johan sebagai kakak sepupunya yang mirip dengan kak Arfan. Bahkan David itu nama depan dari Kak Arfan.


"Entahlah. Tapi yang aku yakini kalo sekarang kak Tasya sudah bahagia. Nyatanya sekarang dia sudah hamil . Patinya sudah ada cintakan dalam pernikahan mereka? Terkadang cinta bisa dikalahkan oleh orang yang selalu ada." Tambah Marta penuh keyakinan.


"Benarkah begitu?"


"Aku yakin begitu."


"Apakah keluargamu kenal dengan kak David?"


"Kenal banget lah. Dulu dia sering datang kemari. Tapi kini kayaknya kak Arfan sudah lupa sama kami. Dia nampak asing sekarang."


Dia tak bermaksud melupakan. Tapi memang lupa ingatan. Batin Johan.

__ADS_1


"Terus, keluargamu tahu kalo mas masih saudara dengan David? Atau Arfan?"


"Aku tak pernah cerita tentang mas sama abah." Jujur Marta.


Johan nampak berfikir dan mengangguk-angguk perlahan. Lalu diam. Mereka masih berdiri melihat dinding yang terpajang beberapa foto dalam diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Johan memikirkan nasib percintaan kakak sepupunya yang berharap banyak pada cinta pertamanya. Baru kini Johan melihat kak Davidnya semangat mengejar cinta, dan nampak senyum-senyum sendiri melihat foto yang sebenarnya sudah lama dimilikinya. Johan turut berharap kakak sepupunya akhirnya menemukan kebahagiaan setelah sekian lama memilih sendiri, dan fokus untuk kerja. Johan bahagia melihat David akhirnya hidup kembali setelah menemukan wanita yang dicarinya. Namun kenyataan ini?


Sedangkan Marta tersenyum tipis mengenang kisah-kisah yang diabadikan dalam bingkai. Mengenang umminya. Mi, adek bawa pacar adek lo. Seandainya ummi masih ada, ummi pasti senang berkenalan dengan lelaki pilihan adek. Dia baik, mi. Dia juga sholeh kok. Namanya Johan, mi. Lain kali sebelum menikah , adek pasti ajak dia untuk ziarah kemakam ummi. Ucap Marta dalam hati. Dan menghapus matanya yang berkaca mengingat kehangatan kasih sayang ummi.


"Johan, Marta. Mari makan." Panggil bang Bagas yang menyusul. Mungkin terlalu lama menunggu kedatangan mereka berdua.


"Eh, iya bang." Jawab Marta melihat abangnya yang sudah ada dibelakangnya.


"Kalian kenapa? Diam-diaman lihat foto?" Tanya Bang Bagas berjalan mendekat. Dan ikutan melihat foto yang sudah dihapalnya. Namun Johan dan Marta sudah berbalik siap menuju meja makan.


"Udah tak sabar mau pake baju pengantin?" Ledek bang Bagas yang melihat gambar yang ada .


"Apa sih bang? Ayok makan. Katanya abang belum makan siang?" Jawab Marta mengabaikan ucapan abangnya. Sedangkan Johan hanya tersenyum menanggapi.


"Makanya cepet selesaikan tu kuliah. " Bang Bagas masih tak berhenti menggoda, turut berjalan ditengah-tengah memisahkan adeknya dengan Johan.


"Abang ni apaan sih? Kok Abang bilang gitu sih? Mas Johan ngomong apa tadi?" Melihat gantian pada dua lelaki yang ada disampingnya.


"Matamu tak bisa bohong." Jawab Bang Bagas, sedangkan Johan hanya mengangkat bahu tak tahu menahu. tak merasa menjelaskan apapun pada abah dan Abang Marta.


______


Happy reading .


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like, komen, gift, dan votenya...

__ADS_1


Thankyou ....


__ADS_2