
"Dek." Panggil Tasya mengetuk pintu kamar Marta yang terkunci rapat.
"Dek, sholat bareng yok." Panggilnya lagi saat tak ada sahutan dari dalam. Masih hening tanpa sahutan. Bahkan tak terdengar suara kehidupan dari dalam.
Diamnya orang cerewet ternyata bikin khawatir juga ya?
"Dek, buka pintunya. Kalo ada masalah cerita lah. Bukan ngurung diri gini, gak akan nyelesain masalah tahu. Kalo memang malu mau cerita sama kakak, sholat geh. Cerita sama Allah. " Bujuk Tasya lagi.
"Kakak tak mau nebak apa masalah kamu. Tapi, mungkin masalah itu datang karena Allah kangen pada Marta. Kangen doa Marta, kangen tangisan Marta dihadapan-Nya. Bukan malah mogok sholat gini. Nanti nggk selesai-selesai lo masalahnya. Tak ada jalan keluarnya."
"Dek. Kakak sholat duluan, kakak selesai sholat kamu juga harus udah sholat. " Akhirnya Tasya memilih menyerah karena pemilik kamar masih betah menutup mulut juga pintunya. Tasya memilih sholat sendirian, keburu waktu magrib habis. Waktu magrib tidaklah panjang, harus disegerakan.
Tasya mengambil wudhu lalu sholat dikamar yang berdampingan dengan kamar Marta. Saat Tasya masuk kamar terdengar pintu kamar Marta terbuka, yang membuat Tasya lega karena adeknya mau keluar kamar.
Kamu kenapa sih dek? Tanya Tasya dalam hati.
Sepanjang dia hidup bersama adeknya. Tak pernah mendapati Marta mengurung diri dikamar seperti ini, tanpa mengizinkan siapapun mengganggu. Sesedih-sedihnya dia, masih Mengizinkan abah dan kakaknya masuk untuk bicara. Tak pernah mengunci pintu.
Usai sholat, tak lupa melafadzkan dzikir dan doa. Tepat selesai sholat, para lelaki yang dari masjid sudah pulang. Sudah berkumpul dimeja makan untuk makan malam. Kak Ina juga sudah datang menyajikan makanan. Kali ini makan malam bersama dirumah. Menunya komplit dan terlihat sangat spesial. Tak seperti biasanya.
"Alhamdulillah hari ini kita makan bersama. Sebagai tanda Syukur pada Allah , karena keluarga ini akan tambah anggota baru. Sini sayang." Kata abah melambaikan tangan kearah Tasya meminta mendekat.
"Ih, abah. Nggk usah repot-repot juga kali. " Malu Tasya tak enak, namun juga bahagia. Merasa terharu akan hal ini. Perasaan waktu kak Ina hamil Tama tak segininya lah. Tak ada acara makan bersama dengan menu makanan yang terbilang mewah untuk mereka. Atau karena saat itu dia tak dirumah, makanya tak tahu.
"Kami tak repot kok." Kak Ina ikutan angkat suara. Karena dia pastinya yang paling direpotkan dalam hal ini. Kak Ina yang harus sibuk menyiapkan segalanya.
__ADS_1
"Kakak dulu begini juga nggk waktu hamil?" Tanya Tasya kepo. Dulu waktu kakaknya hamilkan dia tak dirumah. Dia masih kerja dikota.
"Kalo Ina, abah percaya sama Abangmu ini. Jadi tak usah syukuran-syukuran segala." Kata abah sambil terkekeh pelan, menepuk bahu anak lelakinya yang duduk disebelahnya.
"Maksudnya?" Tasya tak paham arah bicara abah. Apa hubungannya percaya sama syukuran kecil-kecilan?
"Maksudnya abah itu, abah meragukan kemampuan suamimu ini." Cetus Reyhan dengan muka sedikit memerah dan manyun plus malu.
"Hahaha. Bukan abah yang bilang lo." Jawab abah sambil tertawa. Tak mengganggap serius pembahasan yang ada. "Tapi abah bangga kamu bisa membuat anak abah lupa dengan orang tak jelas itu."
"Apa sih bah? " Ucap Tasya tak suka.
"Udah nggk usah dilanjutin pembahasannya. Panggil Marta sana, dek." Kak Ina menengahi dengan raut tak tertarik pada pembahasan para lelaki. Yang membuat para lelaki itu terdiam dan menatap satu arah, yaitu kamar Marta.
"Marta dirumah? Kenapa dan ada apa kok pake dipanggil segala?" Heran Reyhan yang melihat semua terdiam saat mendengar nama Marta.
Tasya kembali lagi dengan wajah lesu, karena tak berhasil membujuk adeknya untuk keluar kamar. Menjawab panggilannya pun tidak. Hanya kebisuan yang menyambut panggilan berulangnya.
"Tak berhasil, dek?" Tanya bang Bagas yang melihat kedatangan Tasya. Tasya hanya menjawab dengan gelengan kepala dengan lesu.
"Emang kenapa sih dia? Ada apa?" Tanya Tasya heran.
Abah hanya diam dengan pandangan menerawang. Pasti dia yang paling sedih mendapati anak bungsunya seperti ini. Anak yang biasanya paling ceria dan cerewet , mudah mengakrabkan diri dengan siapa pun, ramah pada orang baru, bahkan terbilang perhatian. Kini hanya terdiam tanpa mau bercerita ada apa. Mengurung diri dikamar tanpa tahu apa sebabnya.
"Semalam telpon katanya sakit, makanya abah suruh pulang." Jawab abah sedih.
__ADS_1
"Dia datang langsung masuk kamar. Lihat abang didepan aja nggk nyapa, apalagi saliman. Kayaknya habis nangis gitu sih. Kalo cuma karena sakit? " Jawaban bang Bagas.
"Mungkin ada masalah dengan pacarnya. " Tebak kak Ina . Ini bukan kali pertama Marta sakit , tapi ini kali pertama Marta mengurung diri dikamar.
Semua melihat kearah Kak Ina, yang membuatnya salah tingkah karena salah bicara. Tapi semua tak menyangkal kemungkinan itu. Ini kali pertama Marta bercerita punya pacar. Pastinya bukan cerita pada Abah, tapi pada kakak iparnya itu.
"Emang siapa sih pacarnya? dan seperti apa?" Celetuk Reyhan yang tak paham.
Abah nampak menarik nafas berat. " Kan udah abah bilang, tak usah pacaran. Tak ada untungnya pacaran. Cuma bikin nangis aja." Kata abah melirikku. Anak lelaki abah tak pernah pacaran, punya teman perempuan dekat pun tidak. Namun dua anak wanitanya semua pernah pacaran, yang sama-sama dikecewakan. Dan yang paling parah merasa kecewa adalah Tasya. Tak cuma berhari-hari mengurung diri dikamar, bahkan hingga minggu berlalu, bulan berganti, bahkan tahun telah lewat, tetap aja masih selalu murung. Berusaha menghibur, dan semua nasehat abah sampaikan, bahkan hingga ancaman, tak membuat Tasya bangkit dari keterpurukan. Hingga membuatnya setahun stay dirumah tanpa kegiatan. Hingga tahun berikutnya baru lanjut kuliah dikota setelah yakin dia baik-baik saja, meskipun keceriaan belum kembali pada Tasya.
"Gimana mau kenal dekat atau paham seperti apa orangnya. Kenal aja tidak, kok. Marta tak pernah memperkenalkan pada kami." Jelas bang Bagas.
"Kamu tak kenal dek? Dulu kan kamu tinggal tak jauh dati kampusnya Marta?" Tanya bang Bagas melihat kearah Tasya.
"Tak tahulah bang. Tak pernah dikenalin kok." Jawab Tasya apa adanya.
"Makannya kapan sih? Adek lapar lo." Protes Tama yang dari tadi menunggu diambilkan nasi sambil menonton smart hafidznya.
"Ya udah. Makan dulu, kasihan makanannya dianggurin." Pinta abah mengalihkan pembahasan.
"Ya, ayok dimakan. Kan seharusnya hari ini hari yang bahagia, jadi nggk usah murung-murung. " Kata kan Ina sambil menyiapkan makanan untuk anak lelakinya.
"Iya nih. Maafin abah ya, seharusnya hari ini hari bahagia, eh malah adekmu itu bikin ulah. " Abah meminta maaf, merasa bersalah acara bahagianya berubah dari rencana karena kedatangan Marta yang tak mau keluar kamar.
Setelah makan selesai, Abah meminta disiapkan makanan untuk Marta. Dia sendiri yang akan turun tangan untuk membujuk putrinya.
__ADS_1
"Nak, buka pintunya. Abah bawakan makanan ini. " Pinta abah mengetuk pintu kamar.
"Marta. Buka pintunya dan bicara sama abah sekarang, atau tidak selamanya." Peringatan Abah tegas saat masih tak ada jawaban.