
"Udah ,sekarang istirahat dulu." Mengambil bungkus kertas yang kubaca, dan meletakkannya diatas nakas. "Katanya bagusnya pakenya bangun tidur. Jadi sekarang tidur dulu." Membenarkan selimut, dan menenggelamkan wajahku dalam dadanya. Ku rasakan dia mencium lama keningku, lalu memejamkan mata. Aku pun ikutan memejamkan mata.
Aku selalu nyaman tidur dalam dekapannya. Tapi entah kenapa malam ini mataku susah terpejam. Pikiranku tak membiarkanku tenang dan terlelap. Kemungkinan-kemungkinan datang membuat otakku terus bekerja.
Nafas Reyhan sudah terdengar lamban berirama. Diiringi dengkuran halus yang menandakan dia sudah tidur dengan tenang. Aku merubah posisi, melepaskan pelukannya dan berubah membelakanginya. Mencari posisi ternyaman untuk tidur. Namun tetap aja tak bisa masuk ke dunia mimpi. Hingga berulang merubah posisi yang menurutku nyaman, tetap aja tak bisa tidur. Hingga malam larut, mata belum terpejam. Berulang merubah posisi nyaman, tetap tak membuatku nyaman.
Kini aku kembali menghadap Reyhan yang tidur dengan tenang. Memperhatikan wajah tampannya yang sedang terlelap. Ku sentuh alis hitamnya, hingga turun kemata, hidung, pipinya yang bersih tanpa flek hitam sama sekali. Dan berhenti dibibir tebalnya. Aku tersenyum sendiri memperhatikan suamiku itu.
Kamu itu tampan Rey. Baik hati lagi. Dan yang paling utama kamu itu sholeh. Otakku selalu mensugesti kalo kamu adalah lelaki idaman. Tapi kenapa kehadiranmu tak bisa menghapus Arfan dalam hatiku? Maaf kan aku Rey.
*Seandainya kamu datang lebih dulu, mungkin perasaanku tak akan seperti ini. Aku akan lebih memilih kamu dari pada Arfan yang tak bertanggung jawab itu. Tapi kamu datang saat hatiku telah dicuri sempurna oleh dia. Apakah kamu percaya akan pepatah lama Rey? Kalo cinta pertama itu tak akan pernah mati, tapi bukan berarti tak bisa terganti bukan? Namun apakah aku bisa mencintaimu, sedangkan namanya masih terukir jelas dihatiku? Apakah benar kamu bisa menggantikannya tanpa aku harus melupakannya?
Tapi satu hal yang pasti,Rey. Aku sudah berjanji pada semua orang akan hidup bersamamu. Dan aku akan tepati janjiku, Rey. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik demi meraih syurgaku. Meskipun aku tak bisa berjanji untuk mencintaimu sepenuhnya.
Kamu juga harus berjanji Rey. Untuk tak akan meninggalkanku meskipun mungkin nanti kamu tahu, aku melakukan kesalahan terbesar ini. Kamu selalu mau memaafkan aku kan Rey*?
"Kenapa yank? Kok belum tidur?" Suara serak Reyhan menyadarkanku dari lamunan. Ternyata sentuhanku mengganggunya. Spontan aku menarik tanganku yang masih asik menyusuri wajahnya, berbalik badan karena malu. Namun dia sudah terlanjur tahu kelakuanku, dan menangkap basah aku yang memperhatikan wajahnya.
"Kenapa sih? Ada masalah lain?" Tanyanya lembut dengan mata merah karena masih mengantuk. Memutar badanku agar kembali melihatnya. "Cerita dong yang. Atau mau minta jatah ni? " Lanjutnya dengan seringaian kecil, yang membuatku bergidik.
"Nggk." Jawabku cepat. Kenapa pula dia berfikir aku minta jatah segala? Jatah apa pula? Kan gajian dia sudah diserahkan padaku seminggu yang lalu. Lagian sekarang aku sudah punya pemasukan sendiri. Cukup untuk makan sehari-hari. Uang darinya cukup aku tabung untuk kebutuhan yang lain disuatu hari nanti.
"Kalo iya nggk papa kok. Aku dengan senang hati akan mengabulkan. " Jawabnya dengan kantuk yang sempurna hilang, matanya sudah terbuka lebar dengan senyuman genit. Melihat senyumannya aku jadi paham kemana arah pembahasannya.
"Siapa bilang sih? Aku cuma nggk bisa tidur aja." Jawabku cemberut.
"Nggk usah malu-malu sih. Aku suami kamu lo. Kalo ingin bercinta nggk usah ditahan, jangan selalu menunggu lelaki yang memulai. Sesekali aku juga ingin kali istriku ini minta duluan. Kamu aja selalu memenuhi saat aku menginginkannya, jadi saat kamu ingin aku juga akan memenuhinya. Bukankah suami istri harus saling mengerti?" Ucapnya yang entah apa maksudnya. Aku malah malu sendiri mendengarnya.
Apa pula maksud perkataan suamiku ini? Minta apaan pula? Aku jadi malu sendiri mendengar penuturan Reyhan. Bukan aku tak paham tujuan perkataannya, cuma aku masih tak habis pikir kenapa Reyhan mengiraku begitu.
"Nggk ah. Tidur aja ,udah malam." Ucapku malu, dan menyembunyikan wajahku pada dada bidangnya.
__ADS_1
Ku dengar tawa pelan suamiku. Namun dia tak lagi memejamkan mata. Membalas pelukanku dengan lebih erat.Bahkan ku rasakan usapan pelan dipunggungku berulang yang membuatku mengantuk. Baru akan terlelap mataku terjaga lagi, karena tangannya sudah bukan hanya mengusap punggung. Sudah pindah kearea yang lebih sensitif.
"Ay." Protesku karena merasa tidurku terganggu.
"Hemmz.." Gumamnya dengan bibir yang sudah mencium sana sini.
Aku tak punya pilihan lain selain pasrah akan kemauannya. Lagian salah aku sih karena membangunkannya yang sudah tertidur tadi. Jadi mau tak mau menuruti ajakannya untuk olah raga malam. Aku tak berusaha membalas apapun yang dia lakukan. Biarlah respon alami tubuh yang melakukannya.
Hingga kelewat tengah malam dia baru menyelesaikan hasratnya. Penunjuk waktu didinding menunjukkan pukul 02:33 dini hari.
"Makasih. Istirahatlah sayang." Ucapnya dengan mengecup pelan keningku setelah menyelesaikan ritualnya. Dan bangkit, memungut selimut yang terjatuh dan membentangkannya untuk menutupi tubuh polosku.
"Mau kemana?" Tanyaku saat dia bangkit berdiri. Menariknya agar tak meninggalkanku. Dia kembali mendekat.
"Aku mau mandi sayang. Kamu istirahatlah lagi. Kamu dari tadi belum tidur kan? Masih ada waktu untuk istirahat sebelum subuh." Mengusap pelan kepalaku.
"Nanti aja mandinya."
"Ya. Aku temani kamu tidur." Kembali berbaring disisiku, dan mengusap pelan kepalaku. Usapan lembut sebagai penghantar tidur. Aku menurut perintahnya untuk tidur. Dia tak meninggalkanku sebelum aku benar-benar terlelap.
Bangun di pagi hari Reyhan sudah tak ada didalam kamar. Ku lihat jam dinding menjelaskan kalo ini sudah siang. Sudah kelewat satu jam dari waktu adzan subuh.
Dengan cepat aku loncat dari tempat tidur, dan bergegas untuk mandi dengan kilat dan sholat subuh yang kesiangan.
Baru sujud dirakaat pertama aku teringat pembicaraanku semalam dengan Reyhan.
Testpack ? Karena mandi dengan buru-buru hingga aku lupa akan hal yang semalaman membuatku susah tidur. Buang air kecil dipagi hariku sudah lewat begitu saja. Sholatku jauh dari kata khusuk karena kesiangan. Kenapa pula ingat hal itu saat sholat?
Sial. Karena bangun kesiangan membuatku tak khusuk dalam sholat, juga gagal mengetahui positif atau negatif kehamilan.
Aku keluar kamar dengan wajah kesal. Kecewa karena tak dibangunkan oleh suami. Masuk dapur sudah ada suami dan Bunda yang sibuk didapur.
__ADS_1
"Sudah bangun sayang?" Tanya Reyhan yang melihat kehadiranku didapur. Sedangkan Bunda mengemas jualan hari ini. Suamiku ini memang pandai sekali. Tahu istrinya bangun telat dia yang menyiapkan semua tugasku dipagi hari. Kecuali urusan baju dan bersih-bersih. Dia hanya memasak dan menggoreng makanan yang sudah kubuat kemaren, dan simpan dikulkas. Pagi hari tinggal goreng untuk dijual disekolah.
"Udah." Jawabku ketus. Meskipun suamiku pengertian. Namun aku masih marah karena tak dibangunkan pagi ini. Aku memilih duduk membantu Bunda. Sedangkan Bunda sangat pengertian saat melihat muka kusutku, langsung undur diri menjauh untuk memutar kran mengisi mesin cuci. Meninggalkan kami berdua untuk berbicara.
Reyhan nampak kaget dengan nada suaraku yang tak seperti biasanya. Menghentikan masaknya yang memang sudah matang, dan membiarkannya tetap diatas penggorengan. Cukup mematikan kompor.
"Ada apa lagi sih? Kok manyun gitu? " Reyhan sudah duduk disampingku.
"Marah." Jawabku kesal. Malas menatap suami yang duduk disampingku.
" Marah kenapa? Semua sudah beres tu. Bunda yang menyelesaikannya dengan aku. Bukannya terima kasih malah marah." Dia bukannya membujukku malah ikutan ngomel. Menunjuk kerjaanku yang sudah beres dengan muka tak enak dipandang.
"Kenapa nggk bangunin aku?" Protes.
"Udah tadi tu sayang. Tapi kamu dibangunin susah banget, lagian kayaknya capek banget gitu, nyenyak kali tidurnya. Jadi ya kubiarkan saja kasihan kalo dipaksa bangun. Semalam aku kelamaan ya mainnya? makanya capek. Maaf ya. Tapi matahari belum terbit kok, waktu subuh belum kelewat. Aman itu." Jelasnya dengan wajah yang sudah berubah memelas, menjelaskan dengan senyuman menghiba
"Emang kenapa sih? Bangun telat sekali aja udah ngambek aja." Tambahnya.
"Iya. Karena telat bangun aku jadi gagal pake testpack nya." Curhatku.
"Owh begitu? Ya udah sih besok lagi. Kalo nggk sabar menunggu besok nanti istirahat aku antar keklinik yang tak jauh dari sekolahan. Mau?"
"Terserah." Aku masih ngambek ini.
"Ya , nanti siap-siap aja , kira-kira jam sepuluh aku jemput. Ya? Aku tak mengizinkan kamu berangkat sendiri." Perintahnya tak menerima bantahan. Dan kembali pada kesibukannya. Sedangkan pagi ini aku memilih duduk manis memperhatikan suamiku yang kerepotan.
______
Happy reading. π€π€
Jangan lupa tinggalkan jejak πΎπΎ
__ADS_1
Jangan lupa klik π biar selalu ada pemberitahuan.
dan Like, Koment, Gift, dan Votenya. Mumpung masih awal minggu ini.