
Gelap makin pekat. Gemericik suara gerimis dari luar menambah gairah sepasang suami istri yang saling berbagi kehangatan. Tak peduli malam bergulir hingga dini hari, tapi mata belum ingin terpejam. Melampiaskan hasrat pada pasangan halal.
Suasana didalam kamar itu berbanding terbalik dengan diluar ruangan yang dingin karena percikan gerimis dimalam hari. Hingga mereka selesai dalam lelah dengan peluh yang membasah. Namun tetap saling memeluk erat.
"Makasih. " Ucap lirih Reyhan mencium keningku lama sebagai akhiran. Kembali menyelumuti seluruh badan yang sama-sama tanpa busana.
Hening. Nafas Reyhan sudah kembali teratur. Matanya terpejam rapat. Namun aku belum juga bisa memejamkan mata.
"Ay." Penggilku mengetes apakah sudah benar-benar tertidur atau belum.
"Hemmz. " Jawabnya tanpa membuka mata.
Aku bingung mau bicara apa, dan memulai dari mana. Yang penting belum ingin tidur. Menusuk-nusukkan jari telunjuk didada bidangnya. Berfikir dan menimbang-nimbang untuk bicara yang sedari tadi sudah menyusun katanya. Izin jualan makanan untuk mengisi waktu luang, membantu keuangan biar cepat bisa beli rumah dan pisah dari Beti. Lagian sebagai istri harus selalu minta izin suami saat akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatku sibuk. Tak bisa selalu ada saat suami butuhkan. Karena mungkin akan mengganggu satu sama lain jika tak dibicarakan dari awal.
"Kenapa? Aku udah capek. Kalo mau nambah besok lagi." Ucapnya pelan dengan mata masih terpejam. Menggenggam tanganku untuk menghentikan gerakan jariku. Dan ditarik dipindahkan untuk melingkari pinggangnya.
Aku langsung merengut mendengar penuturannya. Bukan karena tak bisa nambah seperti yang suami ucapkan. Lagian badanku juga sudah capek pake banget. Sudah tiga kali menikmati puncak kenikmatan dalam satu malam. Capek pake banget.
"Bukan itu. "Cebikku. "Tapi aku mau cerita boleh?" Dengan menerbitkan senyum manis. Padahal Reyhan sama sekali tak melihatku.
"Boleh. " Masih dalam posisi yang sama.
"Tapi dengerin, jangan tinggal tidur." Manja.
"Iya."
"Kalo iya buka mata dong. Nanti ketiduran." Ku buka paksa dengan tangan matanya yang terpejam.
"Emang ceritanya mau diliatin atau didengerin sih?" Kembali memejamkan mata. Mengusir tanganku yang jail.
"Didengerin."
"Ya cepetan cerita. Kalo nggk mulai-mulai tidur beneran ini." Suaranya berat seperti menahan kantuk.
__ADS_1
" Kue yang aku buat tadi enak kan?" Membuka cerita dengan pertanyaan.
"Kue? Yang mana? Aku nggk nyicip. " Tanyanya berfikir dengan mata yang sudah terbuka.
"Ih, kok lupa sih, Ay? Yang kamu makan tadi lo. Sebelum pergi ngaji. Dibikinin teh juga tapi nggk diminum." Jelasku mengingatkan.
"Oh, itu kamu yang bikin, sayang? Kirain beli. Rasanya enak sih." Sudah membuka mata lebar .
"Iya. Enak kan? " Senang dipuji ama suami.
"Enak. Terus ceritanya apa?" Sudah kembali mode mengantuk. Suaranya lemes banget.
"Ya tadi aku berbagi dengan tetangga, dan mbk Mila mau pesan untuk pengajian karena katanya enak. Katanya seratus lima puluh biji dalam tiga macam. Jadi lima puluh per macamnya. Ya aku mau izin untuk buka usaha kecil-kecilan jualan kue gitu. Ya buat dikit-dikit dulu lah. Promosi disosmed, siapa tahu banyak yang minat." Ceritaku , namun Reyhan tetap aja memejamkan mata. Semoga aja nggk tidur.
"Ya kan biar nambah penghasilan juga. Untuk nabung. Dari pada kerja dibank yang dulu kan jauh ,katanya nggk boleh. Didekat sini ada juga sih, tapi malas lah. Kalo cuma dirumah bosan dan tak ada pemasukan. Jadi kalo diizinkan aku milih usaha dari rumah aja. " Masih tak ada sahutan.
"Ya, kan aku juga ingin cepat punya rumah sendiri. Membangun keluarga berdua, tanpa ada kakak-kakak mu yang nyebelin itu. Aku sebel lama-lama ngadepin Beti. Kesabaranku tak seluas itu, untuk selalu memaklumi kelakuannya. "
"Ayang tahu? Aku dan Marta yang kakak adek, saudara kandung aja kadang iri soal pekerjaan rumah yang tak imbang. Apalagi orang asing yang hidup dalam satu rumah, kesal juga aku kalo suruh mengurus semua pekerjaan rumah bahkan membiayai semua makan, sedangkan dia cuma pamer belanjaan , kalo dirumah cuma ngurung diri dikamar, atau ongkang-ongkang kaki sambil main hp. " Kesal ku sambil curhat.
"Ay. Ayang dengerin aku curhat nggk sih?" Memukul pelan bahunya dengan bibir mengerucut. Emang enak dikacangin? Udah bicara panjang kali lebar malah ditinggal tidur, kan nggk lucu. Nyebelin malah.
"Denger." Jawabnya dengan suara lemah.
"Denger apa? Kalo denger kok diam aja." Membalik badan kesal, namun ditahannya.
"Emang udah selesai ceritanya? " Tanyanya lembut dan pelan. Dengan mata merah yang sudah terbuka.
"Udah." Ketusku merajuk. Gimana mau lanjut kalo didiamin aja?
"Boleh dijawab ni? "
"Ya."
__ADS_1
"Kalo udah cerita baru ditanggapi. Kalo belum selesai cerita ditanggapi nanti ngambek. Ternyata ditunggu ngambek juga."
"Apa Tanggapannya?" Masih manyun.
"Kalo aku selagi kami suka dan nyaman melakukannya ya terserah. Mau kerja seperti dulu juga nggk papa, tapi cari yang dekat sini aja. Mau buat makanan untuk dijual juga boleh. Lagian aku akui masakan kamu enak kok, pasti laku. Nanti aku bantu promosi. Atau mau jualan disekolah juga boleh. Disana cuma ada satu kantin, yang jual pun cuma satu. Cuma ada makanan seperti bakso, nasi goreng, soto, dan sejenisnya. Karena memang makanan instan dan sejenis chiki tak diizinkan. " Jelasnya.
"Tapi aku nggk mau kalo harus jualan nungguin dikantin sekolah. Kalo titip aja bisa nggak? Dirumah bisa buat jika ada yang pesan." Tertarik dengan tawaran Reyhan.
"Boleh lah. Biasanya ada juga sih yang jualan kue seperti brownis, donat, dan kue buatan lainnya. Tapi katanya orangnya pindah ikut suaminya yang pindah tugas. Coba aja kamu gantian yang jualan. Pasti laris. Tapi namanya untuk anak sekolah disesuaikan sendirilah. "
"Kalo soal rumah. Boleh nggk aku minta sesuatu?" Tanyanya dengan nada serius.
"Apa?" Mengerjapkan mata menunggu. Permintaan seperti apa?
"Soal rumah. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu untuk membangun keluarga hanya berdua. Karena aku tak bisa mempercayakan Bunda dengan mereka. Bolehkan kalo Bunda tetap sama kita?" Tanyanya penuh permohonan dan merasa bersalah.
Aku menarik nafas dalam. Berfikir. Aku tak keberatan soal Bunda sih. Lagian aku tak mau suamiku menjadi anak yang durhaka. Meskipun kini aku sudah menjadi istrinya, tapi bukan berarti aku berhak sepenuhnya atas hidupnya. Ada ibu yang lebih berhak. Untuk seorang lelaki berbakti pada orang tua tetap nomor satu.
"Tapi aku berjanji kita akan segera pisah dengan Beti dan bang Rasya. Bukankah yang membuatmu tak nyaman adalah mereka? Apakah kamu juga merasa mengurus Bunda memberatkanmu dan menjadi beban? " Menggenggam tanganku. Meyakinkan akan janjinya. Dan bertanya hati-hati.
"Oke. Aku mau Bunda sama kita. Kasihan juga jika Bunda harus serumah dengan Beti tanpa kita. Tapi janji secepatnya, ya? Mau ngontrak dulu atau....?"
Suamiku ini masih terbilang muda. Mulai bekerja palingan batu dua sampai tiga tahunan. Jadi aku yakin tak mungkin langsung bisa punya rumah sendiri. Apalagi ayahnya sudah lama berpulang. Ditambah pesta pernikahan kemaren semua dia yang membiayai, juga mas kawin yang lumayan tinggi.
"Besok sore ikut aku. Sekarang tidur dulu udah malam. Ngantuk. " Menenggelamkan wajahku dalam pelukannya. Ku sembunyikan wajahku dalam dadanya. Meskipun baru hitungan hari , aku sudah terbiasa dan candu aroma tubuhnya.
________
Selamat membaca. 🤗🤗🤗
Moga syuka.😍😍
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
Like, komen, gift, dan vote nya..🙏🙏