Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Kemarahan Bunda


__ADS_3

"Mas udah makan duluan?" Tanya Marta yang sudah duduk diatas sofa, tepat disamping Johan yang masih sibuk mengoperasikan laptopnya. Makanan pelengkap yang seharusnya masih utuh kini berkurang. Dan juga sudah ada piring kotor disamping mas Johan. Pun jus buah yang satu gelas sudah berkurang.


"Udah, nunggu kamu lama. Dingin nggak enak nanti." Jawabnya hanya melihat sekilas pada Marta, dan kembali fokus mengetik dengan kesepuluh jarinya.


"Makanlah. Masih banyak itu. Kalo kurang minta lagi aja sana." Tambah Johan masih tak melihat Marta.


Marta hanya memanyunkan bibir. Lagian makanan memang masih banyak. Yang pasti ada nasinya. Ini aja entah habis atau nggk nanti. Ada lobster besar yang disusun diatas sayuran segar dengan bumbu lumer diatasnya. Juga ada kerang dipiring terpisah. Bahkan ada jagung rebus pula?


Hanya bersama Johan, Marta bisa menikmati makan yang cukup mahal bagi kantongnya. Tapi sang kekasih sudah paham. Apapun dan dimanapun makannya, tetap harus ada nasi. Jika sama kakak dan abahnya tak pernah makan direstaurant. Kakaknya pandai masak, jadi jarang jajan. Kecuali kalo terpaksa.


"Habiskan. " Perintahnya saat Marta baru makan separohnya. Dan menutup laptopnya, berdiri mengantongi ponsel. Meraih map diatas meja kerja.


"Mas mau kemana?" Tanya Marta yang melihat Johan bersiap akan pergi.


"Mas ada janji sama supplier sayuran. " Jawabnya santai, namun membuat Marta tercengang tak percaya.


"Trus aku gimana?" Menunjuk dirinya sendiri. "Kehadiranku memang nggk diharapkan ya? Dibela-belain datang malah ditinggal pergi. Nasib-nasib." Gumam Marta melanjutkan makanannya.


"Habiskan makanannya. Nanti biar Zakia yang mengantarmu kembali keasrama."


"Mas beneran mau ketemu supplier ? Semangat amat. Kayak mau ketemu gebetan aja. Sampai-sampai pacarnya aja dianggurin disini." Cemberut. Mendorong piring yang belum kosong. Sudah tak selera.


"Dianggurin. Emang mau diapain? Didekati aja udah gemeteran gitu kok tadi. Minta diapa-apain." Balasnya mencibir.


"Terus mas mau ketemu cewek yang siap diapa-apain gitu?"


Johan menghentikan langkahnya, kembali mendekati Marta yang manyun . Meraih tangan Marta dan menggenggamnya.


"Udah lah, nggk usah mikir yang macam-macam. Kembali keasrama, belajar yang rajin biar cepat lulus. " Ucap Johan dengan suara lembut. Mengecup pelan punggung tangan yang ada digenggamannya.


"Cepat habiskan. Belum boleh pulang kalo belum habis." Ancamnya, dengan tangan mengusap pelan kepalanya yang tertutup hijab. Berjalan kembali menuju pintu.


"Kalo aku nggk boleh mikir macam-macam, mas juga harus janji tak akan berbuat macam-macam."


Johan kembali berhenti. Berbalik badan melihat pada kekasihnya yang sedang merajuk.


"Iya. Janji. " Janji Johan dengan senyum manis ia sunggingkan. "Tapi kamu juga harus janji untuk selalu jaga hati hanya untuk mas."

__ADS_1


"Iya lah. Lagian aku kan dikurung diasrama, nggk boleh keluar. Mau jatuh hati sama siapa lagi? Kalo mas mah bebas mau kemana aja, ketemu siapa aja."


"Raga mas memang bisa pergi kemana aja. Tapi percayalah, kalo hati mas sudah kau kurung tak bisa pindah " Lalu pergi setelah mengucapkan kalimat yang membuat Marta meleleh.


Marta bersorak tanpa suara sendirian. Kembali bahagia dan semangat. Melanjutkan menikmati makanannya hingga habis.


Keluar ruangan tanpa membereskan bekas makannya. Biasanya juga begitu. Berjalan mencari Zakia yang sudah dia kenal. Tanpa protes dan tanpa bertanya, Zakia langsung mengantarkan Marta pada tujuan tanpa perlu bertanya alamatnya.


_____


Setelah mandi dan sholat asar aku keluar kamar . ku lihat Reyhan berjalan tergesa masuk kamar tanpa menyapaku yang baru keluar kamar.


"Kenapa dia?" Tanyaku dalam hati.


Tak ambil pusing. Lebih baik membuatkan minum untuk suami yang baru pulang kerja. Tak lupa menyediakan makanan yang tadi siang aku buat.


" Ay." Panggilku saat melihat Reyhan sudah keluar kamar dengan baju yang berbeda. Tanda kalo dia sudah mandi. Dengan menyangklong tas kecilnya.


"Iya." Jawabnya dan berhenti menungguku datang. Dia sama sekali tak berniat nyamperin aku yang masih ada didapur.


"Ini kan hari senin, ada jadwal ngaji kelompok." Jawabnya.


"Owh, mau pergi lagi ya? Padahal aku udah berbaik hati bikinin minum lo." Ucapku kecewa. Pantas aja dia pulang dan mandi dengan tergesa. Ternyata akan pergi lagi? Padahal aku sedari tadi menunggunya. Banyak hal yang ingin ku ceritakan tentang apa yang ku alami hari ini.


"Yah masih panas ni." Menyentuh gelas teh yang memang baru nyeduh.


"Ya ialah. Baru bikin juga."


"Aku makan yang ini aja sayang. "Mencomot risoles. Langsung menggigitnya sambil jalan. " Satu lagi ya. Enak." Berbalik arah dan kembali mencomot satu. "Beli dimana? Lain kali beli lagi yang banyak ya. Aku pergi dadah." Berlari menjauh dengan tangan dadah padaku yang masih diam mematung. Bertanya tapi tak diberi kesempatan menjawab.


"Yank, nanti aku pulang agak malam. Makan malam duluan aja. Tapi jangan tidur duluan. " Kembali nongol didepan pintu menyampaikan pesan. Tanpa menunggu jawaban langsung kembali pergi.


"Ck, aneh bin nyebelin." Decakku sebal dan kembali berjalan membawa minuman yang tak laku. Minum sendiri aja sih.


Aku masih sebal, dan sesekali melihat keluar saat terdengar suara motor Reyhan yang sudah ku hapal menggerung siap jalan.


Kenapa aku kecewa ditinggal lagi ya? Harusnya kan sore begini dia dirumah . Kalo ada yang ngaji biasanya datang kerumah kok. Bukan dia yang pergi. Bergumam sendiri.

__ADS_1


Apakah aku sudah menerimanya? Melupakan Arfan? Mungkin karena terbiasa aja lah.


"Kenapa sayang? Kok bawa nampan dari luar? Manyun gitu lagi. Ada tamukah? Ada yang bikin kamu marah?" Tanya Bunda yang baru datang.


"Nggk, Bun. Tadi buatin suami. Eh, malah pergi lagi. " Mengadu dengan muka cemberut.


"Emang kalo hari senin jadwalnya begitu. Kalo minggu lalu kan dia masih pengantin baru. Jadi cuti nggk datang pengajian halaqoh." Jelas Bunda.


"Emang dimana sih Bun? Kok buru-buru banget dia perginya?" Masih belum paham . Belum terobati kecewa dihati.


"Masak istrinya nggk tahu suaminya pergi kemana?" Suara Beti bikin tambah bad mood aja.


"Beti. Namanya juga masih baru. Belum hapal jadwal suaminya." Tegur Bunda mulut lemes Beti.


"Halah. Palingan juga karena nggk izin. Makanya nggk tahu. Buat apa izin? kan situ tak penting." Beti bukannya berhenti malah tambah jadi.


Ku lihat Bunda yang mengelus dada melihat kelakuan menantunya itu. Seakan kehadiran Bunda tak dianggap. Ditegur bukannya sadar dan diam, malah tambah menggila.


"Gayamu. Emang situ tahu dimana suaminya? Apalagi sering menginap diluar. Jangan-jangan...." Balasku yang langsung dapat pelototan dari Bunda.


"Biar dia diam aja Bun. " Bisikku pada Bunda. Takut bunda mengira aku menjelek-jelekkan anaknya. "Biar nggk hina orang terus." Lanjutku masih berbisik.


"Tahulah. Suamiku tu selalu mengabari setiap saat dia dimana, ngapain, sama siapa. Emang situ?" Jawabnya dengan penuh percaya diri. Mengembalikan kembali minuman dingin pada tempatnya.


"Emang dijamin bisa dipercaya? Kalo suamiku mah dijamin jujur." Balasku, dan meletakkan nampan pada tempatnya.


"Stop." Teriak Bunda pada kami berdua. Yang membuatku bungkam seketika. Kaget pastinya. Tak nyangka ,ternyata Bunda bisa teriak dan marah juga. Ku lihat Beti tetap santai mengupas jeruk duduk dimeja makan.


Ah, kenapa aku malah meladeni Beti didepan Bunda sih? Kalo gitu apa bedanya aku sama dia? Sama-sama tak menghargai mertua.


"Bisa nggk sih kalian menghargai Bunda sedikit saja? Suami kalian itu sama-sama anak Bunda. Mereka saudara. Jadi kalian juga jadi saudara. Hidup yang rukun saling pengertian, bukan malah ngajak berantem terus. Tiap hari bunda dengar kalian tengkar terus. Yang kalian perdebatkan itu tak layak jadi perdebatan." Suara Bunda emosi.


"Maafin Tasya, Bun." Aku berjalan dan jongkok dihadapannya. Mencoba meredamkan emosi Bunda. "Tasya janji akan lebih sabar menghadapi dia." Melirik tajam pada wanita yang asik makan jeruk dan sebelah tangan memainkan ponselnya.


______


Terima kasih sudah mampir. 🙏🙏💓

__ADS_1


__ADS_2