Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Bertemu Rena


__ADS_3

Gelap sempurna sirna. Matahari telah bertahta diangkasa, menyemangati setiap insan untuk memulai hari. Menguapkan tetes-tetes air didedaunan sisa hujan semalam. Menghangatkan pagi yang cerah ini.


Cerahnya pagi tak kalah cerah dengan senyuman yang sedari tadi ku sunggingkan. Yang semangat memulai hari tanpa cacat. Banyak planning yang akan ku lakukan sepanjang hari ini. Meskipun pagi ini tetap sama dengan pagi kemaren. Tetap sendirian berperang dengan panci dan kuali, pun juga sapu dan piring-piring berlemak. Tak lupa baju menumpuk minta perhatian. Tapi aku tetap riang. Membayangkan banyak kemungkinan yang membahagiakan.


Sesekali dendangan kecil keluar dari bibirku. Tak ada keluhan atau gerutuan seperti hari-hari lalu saat sendirian didapur karena iri pada menantu perempuan yang lain disini, yang masih asik dikamarnya.


"Riang banget sih? Dapat mood booster dari mana nie?" Sapa Reyhan yang masuk dapur, masih dengan pakaian dari masjid. Meskipun kini sarung telah pindah menggantung dileher, menyisakan celana pendek dibawah lutut. Baju kokonya pun sudah tak terkancing sempurna. Tiga kancing dari atas sudah terlepas, menampakkan kaos putih **********.


"Emang nggk boleh riang toh?" Tetap melanjutkan membilas piring yang tersabun. Aku memang jarang cuci piring malam. Piring bekas makan malam nyucinya pagi hari.


"Boleh dong. Tapi aku kalo dibikin kan minuman hangat tak nolak lo ,yank. Orang bahagia pasti bikin apa-apa hasilnya sempurna." Merayu dia, dengan menggerakkan alisnya.


"Ya aku bikinkan teh hangat." Menghentikan cuci piring, dan mengambil gelas untuk buat minum. " Ay, kalo mau bantuin jemur baju aku juga nggk nolak kok." Menunjuk keranjang penuh baju yang sudah diangkat dari mesin pencuci. Dengan melebarkan senyum minta bantuan. Minta bantuan dengan cara yang dia ajarkan.


"Okey. Aku bantuin. Tapi bikinkan minum." Reyhan berjalan dan melepas sarung disampirkan pada sandaran kursi. Melenggang pergi membawa tumpukan baju yang tadi aku tunjukkan.


Bahagia melihat suami mau ringan tangan membantu kerepotan istri. Tersenyum melihat Reyhan yang sudah menghilang dibalik pintu.


______


Siang ini aku kembali belanja bahan-bahan yang diperlukan untuk memulai usaha kecilku sendirian. Mengajak Bunda untuk ikut tapi ditolak. Mau dirumah aja katanya. Ya udah lah. Seorangan berburu bahan pangan.


Tak lama aku keliling dipusat perbelanjaan modern. Karena semua sudah ku catat rinci sebelum berangkat. Tinggal mengikuti catatan. Karena jika tak dicatat nanti takut ada yang lupa, malah melenceng belanjanya pada hal yang tak bersangkutan.


Setelah dapat semua, sudah penuh kedua tanganku dengan belanjaan. Minta tolong petugas untuk membawakan sampai ke mobil. Beres tinggal eksekusi untuk besok.


"Ah lapar juga ternyata. Cari makan dulu lah." Urung pulang, kembali masuk dalam. Ternyata sudah dua jam aku keliling, pantas cukup capek juga lapar. Yang pasti butuh minuman segar.


Bruk. Tak sengaja ada yang menubrukku dari arah samping.


"Gimana sih kalo jalan? Lihat-lihat dong. Awas kalo sampai rusak hp ku." Marahnya dan memungut ponselnya yang terjatuh. Siapa yang nabrak, siapa pula yang marah.


"Situ yang salah. Kalo jalan matanya lihat jalan, bukan lihat hp." Jawabku ketus.

__ADS_1


Dia sudah berdiri kembali dan mencoba menyalakan ponsel yang terjatuh. Ku lirik ponsel terbaru yang kini ada retak memanjang, namun tetap menyala. Bibirnya nampak manyun mengusap layar penuh yang ada cacatnya.


"Tu masih nyala kan?" Kataku merasa tak bersalah. Karena memang aku tak salah kan?


"Nyala sih nyala. Tapi tengok ni, rusak kan jadinya?" Masih berseru marah, memperlihatkan layar ponsel yang sudah ku lihat sedari tadi .


"Yang penting masih bisa dipake." Balasku dan melanjutkan jalan.


"Eh, tunggu dulu. Tanggung jawab dong." Menarik kasar tanganku yang akan pergi.


"Apa lagi sih?'


Aku menurut. Berhenti dan berputar untuk menghadapnya kembali. Perempuan cantik dengan wajah oval, dagu lancip, mata hitam pekat makin pekat karena makeup. Tampilannya membuktikan kalo dia bukan orang kelas menengah kebawah.


"Pokoknya ganti rugi." Serunya. Aku masih mencoba kalem. Aku udah capek, belum isi energi lagi untuk berdebat dengan anak baru gede itu.


"Ada apa sih, Rin?" Tanya seorang ibu-ibu yang menghampiri kami.


"Ni, Mi. Hp ku pecah karena dia." Mengadu dengan manja dan telunjuk menunjuk wajahku. Memperlihatkan ponsel bagusnya.


"Tasya kan? Pa kabar? Sendirian aja? Nggk dianterin suami? Baru datang ya?" Rena. Dia yang menyapaku dan memberondong pertanyaan. Yang membuat anak dan ibu itu melongo heran.


"Kakak kenal sama dia?" Tanya gadis manja yang tadi marah-marah padaku.


"Kenal dong. Dia ini teman kerja kakak dulu. Tapi sekarang udah nikah jadi resign dari tempat kerja." Jelas Rena pada kedua wanita dihadapanku.


"Kamu sekarang kerja dimana?" Tanya lagi padaku.


"Kamu kok ada disini?" Aku masih bingung mendapati Rena didaerah ku dengan orang yang tak aku kenal. Kalo orang tuanya aku sudah hapal, bahkan cukup akrab. Ada apa? Ngapain?


"Owh ya, kenalin dulu dong. Ini karin, dan ini tante Keysa. "Menunjuk bergantian perempuan dihadapanku itu. " Dan ini Tasya ,Tan. " Kini gantian memperkenalkan aku. " Keluarga gebetan." Rena mendekatkan kepala, berbisik.


Aku mengulurkan tangan sambil menyebut nama. Dan disambut bergantian dengan mereka. Meskipun si anak masih manyun sambil mengusap-ngusap ponselnya.

__ADS_1


"Maaf ya nak, kalo Karin udah bikin ribut. " Ucap tante Keysa lembut, dan senyum yang menyenangkan.


" Hp aku mi." Karin masih protes disalahkan dan menunjuk ponselnya.


"Makanya kalo jalan nggk pake main hp." Jawaban tante Keysa.


"Kok sendirian aja?" Tanya Rena yang melihatku sendiri.


"Iya. Suami masih kerja. " Jawabku.


"Nak Tasya ini asli orang sini ya?" Tanya tante Keysa menatapku lamat-lamat. Seperti sedang mengingat sesuatu.


"Nggk tan, aku disini ikut suami. Kalo rumah ku didesa Maju Makmur, sekitar terpisah satu desa dengan desa ini." Jelasku dengan sopan.


"Pengantin baru dia,tan." Kata Rena.


"Owh gitu."


"Kenapa sih mi? Mami kenal dengan dia?" Tanya Karin yang memperhatikan maminya.


"Entah lah. Cuma mami kayak nggk asing aja dengan wajahnya. Tapi lupa pernah ketemu dimana." Jelasnya.


Aku ikutan bingung dan berfikir mengingat. Tapi aku sama sekali tak menemukan kepingan kenangan tentang orang ini. Bahkan menurutku ini pertemuan pertama kali.


"Tasya ini cukup lama kerja di bank, Tan. Mungkin tante lihat disana." Kata Rena menjelaskan kemungkinan yang ada.


"Mungkin ." Setuju dengan kemungkinan yang diungkap kan Rena." Ya udah kalo gitu. Tante sama Karin mau cari kado dulu. Kamu temani Tasya aja. Kasihan dia sendirian." Kata tante Keysa dan berlalu pergi.


Rena tetap tinggal untuk menemani aku.


"Pa kabar lo, Sya. Aku kangen tahu. Sepi tak ada kamu dikantor. Tak ada yang dijailin." Merangkulku untuk melepas kangen.


"Aku lapar. Ngobrol sambil cari makan yok." Ajakku. Kami berjalan beriringan dengan tangan saling bergandengan.

__ADS_1


____


Happy reading....


__ADS_2