
"Maaf Rey. Kakak nggk tahu kalo selama ini kalian hidup susah. Tapi kalo soal warisan??" Ucap Aisya dengan suara berat. Mempertimbangkan untuk melanjutkan ucapan.
"Kenapa? Apakah benar kata Bunda kalo kami tak pernah berhak? Karena nama kami tak pernah ada dalam kartu keluarga ayah?" Potong Reyhan cepat, yang merasa tak sabar menunggu bicara Aisya yang lambat. Kecewa? Ah, Reyhan sudah mengantisipasinya. Dia datang hanya untuk mencoba peluang seandainya ada.
"Tidak, dek. Tidak begitu." Jawabnya dengan menggoyangkan tangan didepan dadanya dengan penuh penekanan . Menarik nafas dalam, menatap Reyhan lekat.
"Terus.?"
"Maaf untuk warisan, kami belum membagi warisan Rey. Karena masih banyak yang belum selesai sekolah dan mendapat pekerjaan yang baik. Sesuai mimpi ayah yang ingin semua anaknya sekolah hingga sarjana. Jadi, hasil kebun milik Ayah kami titik beratkan untuk biaya pendidikan. Dan untuk kamu dan Rasya, kami tak bisa membantu banyak karena kami juga butuh banyak biaya. Tapi sesuai mimpi ayah tadi, kami akan membantu membiayai sekolah kalian hingga sarjana tapi soal biaya hidup dan makan, berusahalah sendiri. Setelah kalian semua lulus baru kita urus pembagiannya warisan ayah."
"Jika dibagi sekarang? Siapa yang akan menanggung biaya kehidupan anak yang belum berpenghasilan? Takutnya tak cukup hanya mengandalkan uang peninggalan dari ayah. Jadi saya yang tertua memutuskan untuk membiayai biaya pendidikan sekolah dengan hasil kebun ayah. Karena kami yang sudah bekerja juga punya kehidupan sendiri kan? "
"Sebenarnya bisa juga dibagi sekarang. Tapi kakak sendiri tak bisa menjamin semua adek kakak bisa menggunakan hasil peninggalan ayah dengan baik. Takutnya malah disalahgunakan, pendidikan jadi tak tercapai apa yang diharapkan. "
Jelas Aisyah panjang kali lebar. Bolehkan Reyhan sedikit berbahagia mendengar kabar ini? Yang pasti biaya pendidikan Reyhan dan bang Rasya ditanggung oleh mereka. Sedikit bisa bernafas lega jika hanya mengurus biaya hidup.
Reyhan cukup lama berbincang dan mendengar cerita kakaknya itu. Memperkenalkan semua saudara Aisya lewat fhoto keluarga, menjelaskan seberapa banyak kebun ayah, juga penghasilan tiap bulannya. Biaya perawatan dan pembayaran pekerja, juga menjelaskan total bersihnya. Meskipun kebunnya cukup luas, tapi pekerjanya juga banyak, banyak juga yang perlu dikeluarkan untuk perawatan. Juga anggaran pengeluaran untuk kelima adeknya yang belum bekerja. Kalo dua adeknya yang lain, yang sudah bekerja Aisya lepas tangan, mereka membiayai hidupnya sendiri.
Hingga Reyhan makan siang disana dan berkenalan dengan suami Aisya yang kini mengurus perkebunan teh milik ayahnya itu. Ternyata Reyhan disambut baik oleh dia. Meskipun kak Aisya sendiri tak menjamin kalo semua adeknya akan menyambut Reyhan dan Rasya sama baik dengan penyambutannya.
Hingga mobil jemputannya datang. Waktunya Reyhan pulang kerumah.
"Hati-hati dijalan. Salam untuk Bunda dan abangmu. Ini untuk ongkos." Pesan Aisya dan menyelipkan beberapa lembar uang kertas saat bersalaman. Reyhan langsung menerima dan berterima kasih. Tak perlu drama penolakan. Karena memang dia butuh itu.
"Ya, Rey pulang dulu kak."
__ADS_1
"Dan ini nomor telpon kakak. Kalo ada apa-apa telpon aja." Memberikan secuil kertas bertuliskan dua belas digit angka.
"Makasih kak. Makasih sudah menerima Rey." Ucap Rey bahagia dan tulus.
"Bagaimanapun juga kamu adek kakak , Rey. Dan maaf kalo sedari dulu kami memberikan jarak pada kalian. "
"Sama-sama, kak. Semoga kedepannya kita bisa menjadi keluarga yang baik. Assalamualaikum." Berpelukan singkat sebelum pergi.
"Amien. Waalaikum salam. "
Rey berjalan meninggalkan rumah yang cukup megah itu. Mobil yang ia tumpangi sudah berulang mengklakson, tanda tak sabar. Reyhan bisa pulang dengan kabar gembira. Ingin mengatakan kalo saudara tirinya tak sejahat yang diperkirakan.
"Reyhan." Teriak suami Kak Aisya dari dalam. Yang membuat Reyhan urung naik mobil tinggi itu. Membalik badan untuk melihat ada apa.
"Kenapa Mas?" Tanya Aisya yang juga heran suaminya memanggil Reyhan. Dan memberikan pada Aisya sebuah kertas berwarna biru berbungkus plastik.
"Ini." Menyerahkannya pada Reyhan. " Bulan depan kak Fuad, adek pertama kakak akan menikah. Datang lah. Ajak Bunda dan Abangmu. Untuk menjalin sulaturahmi dengan baik. Kakak ingin semua berdamai dan menjalin persaudaraan dengan baik." Pesan Aisya yang disetujui Reyhan.
Pulang kerumah Bang Rasya yang marah atas sikap Reyhan yang pergi kerumah ayahnya. Beda dengan Bunda yang menyambut bahagia undangan pernikahan anak sambungnya itu.
"Ngapain kamu mengemis bantuan pada mereka? Toh selama ini kita juga bisa hidup layak tanpa bantuan mereka. Aku masih kuat bekerja membiayai sekolahku." Ngotot Rasya yang marah atas kabar yang dibawa Reyhan.
Bukannya marah, dia sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dari awal sudah dibedakan oleh ayahnya. Dia juga anaknya, tapi kenapa dia ditempatkan dirumah kontrakan yang kapanpun bisa diambil paksa pemiliknya. Bahkan tiap bulan selalu ditagih jika telat bayar. Apalagi jatah bayar kontrakan adalah tanggung jawab Rasya setelah ayahnya tiada. Sedangkan mereka bisa hidup tenang menempati rumah besar, dengan fasilitas lengkap. Tak perlu berfikir besok akan makan apa? Rasya dari dulu sudah merasa sakit hati atas perbedaan itu.
"Udahlah, Ra. Lagian kebun teh milik ayah itu tak sepenuhnya milik Ayah kalian, tapi itu semua usaha bersama dengan ibu mereka. Wajar kalo mereka yang lebih berhak atas hasilnya. Sedangkan Bunda? Bunda memang tak punya apa-apa. Seharusnya kalian bersyukur mereka berbaik hati mau menjamin biaya sekolah kalian. "
__ADS_1
"Lupakan, lupakan sakit hatimu karena pernah ditolak mentah-mentah saat akan memasuki rumah mereka dan tinggal dengan mereka. Maafkanlah. Tak ada yang perlu dibanggakan akan hidup kita." Nasehat Bunda pada bang Rasya.
"Dulu memang ayah pernah mengajak kita hidup bersama mereka, saat kamu baru berusia tiga tahun. Mungkin kamu sudah lupa. Lagian saat itu kamu sedang sakit demam tinggi. Memang mereka saat itu menolak kita untuk tinggal dirumah yang sama. Mereka tak mau punya ibu tiri. Takut kalo ibu tiri yang dia dapatkan seperti dalam cerita dongeng ibu tiri yang jahat gitu. " Cerita Bunda berganti menghadapku. Mengenang masa sakit karena tak diterima anak tirinya. Tapi Bunda tak marah, malah tersenyum mengenang kisah itu.
"Tapi sekarang mereka sudah besar semua. Sudah bisa bersikap lebih dewasa. Tak takut lagi akan mendapat ibu tiri yang jahat. Udah bisa melindungi diri sendiri. "
"Iya, Bun. Kak Aisya tadi baik kok menerimaku. "
____
Akhirnya Bunda dan kedua anaknya datang menghadiri pesta pernikahan Fuad. Datang membawa hadiah terbaik yang bisa dibawanya. Meskipun mungkin tak ada apa-apanya, tapi tetap harus membawa hadiah kan?
Hubungan Bunda dengan seluruh anak tirinya membaik. Meskipun Rendra, adek terakhir dari mereka sangat keras menentang. Bahkan Bunda akan pulang baru mau berjabat tangan dan berpelukan.
"Kenapa Bunda pergi lagi? Padahal aku baru merasa punya Bunda. Dari kecil tak pernah disayang sama Bunda. Bunda disini aja ya?" Ternyata Rendra bisa manja juga. Awalnya dia paling keras menolak kehadiran Bunda. Tapi yang keras juga melarang Bunda pulang kembali.
"Ren. Kayak anak kecil aja sih?" Ledek kakak-kakaknya yang melihat manjanya Ren pada Bunda.
"Biarin. Kalian enak udah puas ngerasain pelukan Bunda. Sedangkan aku? " Mencebik. Yang membuat tertawa semua yang hadir.
Bunda tersenyum senang mendapat pelukan Rendra yang tak mau lepas. mengusap punggung Ren dengan sayang.
_____
Selamat membaca. Moga bisa mengisi waktu luangnya. 🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, koment, Gift, dan votenya. Mumpung awal pekan ini...😚😚