
"Seriusan boleh dibagi, Bun?" Tanyaku antusias, dan dijawab anggukan pelan oleh Bunda. Yang membuatku riang dan menghadiahi pelukan singkat pada Bunda.
"Kenapa nggk boleh? Yang masak Tasya, barang yang beli juga Tasya kok. Mau dikasih siapa pun terserah Tasya lah. Atau mau Tasya jual juga nggk papa." Jelas Bunda.
Boleh juga tu ide Bunda. Membatin.
Aku dengan riang membagi risoles menjadi beberapa piring untuk dibawa pada tetangga. Tak lupa disisain juga untuk suami jika pulang nanti. Kalo Beti dan Rasya? Nggk usah dipikirin lah. Masa bodo dengan mereka.
"Bunda mau sekalian ikut anterin? Main Bunda. Cari teman ngobrol." Kataku menawarkan, yang dijawab anggukan kepala bahagia.
Sebahagia ini bisa mengisi waktu luang dengan sesuatu yang kita sukai. Apalagi bisa berbagi. Coba kalo bisa menghasilkan rezeki juga ya? Pikir nanti lah. Diskusikan sama Suami.
"Sini aja, nak. Kalo sana, orangnya jarang dirumah jam segini. Orang kantoran." Kata Bunda menunjuk arah kanan yang nampak rumah sederhana untuk kami singgahi, dan menunjuk arah kiri dengan rumah berpagar tinggi yang katanya orang sibuk.
"Ya udah. Ayok Buk." Membawa piring dan tangan sebelah mendorong kursi Bunda. Bunda pun membawa satu piring lagi dipangkuannya.
"Assalamualaikum. " Salamku menyapa tiga ibu-ibu muda yang sedang ngobrol didepan rumah, dibawah pohon jambu besar sambil mengawasi dua anak perempuan yang sedang bermain pasaran. Sedangkan salah satu dari mereka sedang hamil besar.
"Waalaikum salam. Eh buk Lina dan mbk... siapa ya?" Jawabnya, dan menyapa Bunda, namun lupa nama saya.
"Eh, Bu Lina. Udah lama tak jumpa ya? Gimana kabarnya?" Obrolan mereka terhenti dan semua menatap kami dengan senyum bersahabat.
"Tasya bu." Jawabku ramah dan berjabat tangan pada semuanya.
"Alhamdulillah sehat. Kalian semua sehat juga?" Jawab ramah Bunda.
"Alhamdulillah. "
"Ini Bu Mila, yang punya rumah ini. Yang ini mbk Arni, rumahnya disebelahnya. Kalo yang masih hamil ini mbk Julia, rumahnya depan situ." Jelas Bunda memperkenalkan, yang dijawab anggukan kepala oleh mereka.
"Iya, mbk. Kami mah orang santai dirumah aja ngurus anak. Makanya kalo siang suka cari teman cerita biar nggk bosen." Jelas mbk Arni agar tidak sungkan.
"Ya begitulah. Jadi kalo bosan dirumah, main aja sini." Tambah mbk Mila.
"Ni kami tadi buat makanan sedikit banyak. Silahkan dicicip." Kaya Bunda menyerahkan piring makanan pada ibu yang paling tua. Yang katanya bernama Mila itu, sang tuan rumah. Dan aku ikutan memberikan pada ibu yang satunya.
"Ah, merepotkan Bu." Ucapnya basa-basi, meskipun tangan tetap maju untuk menerima.
__ADS_1
"Iya ni. Tumben rajin masak buk." Kata mbk Arni.
"Mungkin menantu barunya yang suka masak. Kalo Beti mana pernah masak? Hangout terus kerjanya. Belanja." Balas Julia yang umurnya paling muda. Bahkan ku taksir ini hamil pertamanya.
"Betul tu, nak Julia. Menantuku yang satu ini jago masak. Perhatian lagi sama ibu." Mempromosikan dan memuji dengan semangat. Ah aku jadi malu sendiri dengarnya.
"Bunda bisa aja ah." Kataku malu.
"Beruntung punya menantu perhatian, cocok sama ibu yang juga penyayang ." Kata mbk Arni menilai.
"Sini lo ,dek. Duduk." Kata mbk Mila menepuk bangku kayu panjang tempatnya duduk. Dan dia menggeser duduknya agar muat diduduki berempat. Aku menurut, karena capek juga berdiri.
Duduk dibawah pohon begini enak juga yak? Apalagi plus minuman dingin, dan camilan. Makin betah deh menggosipnya.
Menjadi orang normal itu asik juga. Tak melulu mengurung diri dikamar meratapi nasib. Menunggu cinta yang entah kapan datangnya. Mendingan keluar cari teman cerita, hingga bisa sejenak mampu melupakan luka yang pernah ada di hati. Melupakan sejenak sesak didada.
Dulu aku terlalu sibu bekerja, hingga punya waktu luang beberapa jam hanya dinikmati didalam kamar menatap foto yang ada diponsel. Kini aku ingin mencari kegiatan lain. Mengurangi waktu sendiri yang hanya diisi melihat foto masa lalu. Meskipun beberapa kali tetap masih melihatnya sih.
"Oh ya, mbk Julia belum dapat sendiri ya? Aku ambilkan lagi ya." Kataku melihat piring yang hanya dua, sedangkan ibu-ibu ada tiga.
"Nggk papa, beneran enak kan mbk?" Meyakinkan nilai masakanku.
"Dua jempol mbk." Jawabnya.
"Perfeck mbk." Mbk Arni ikutan menilai.
"Ya udah aku ambilkan lagi, biar keluarganya bisa cicip juga nanti." Tanpa menunggu persetujuan aku beranjak siap pulang.
" Enak lo mbk. Buka pesanan nggk mbk?" Tanya mbk Mila, yang mampu menghentikan langkahku. " Besok hari kamis ada pengajian ibu-ibu dirumah. Kalo boleh, mau pesan. Sekalian mbk datang juga biar ramai." Lanjutnya mengabarkan sekaligus mengundang.
Aku melihat Bunda untuk meminta persetujuan. Bunda tersenyum. " Terima aja, Nak. Untuk ngisi waktu luang. Dari pada suntuk dirumah kan? " Kata Bunda setuju.
"Benar itu mbk. Apa salahnya memanfaat kan hobi agar lebih menghasilkan?" Mbk Julia ikut menyemangati dengan jari telunjuk dan jempol digesekkan, mengumpamakan cuan.
"Ya lah. InsyaAllah bisa." Jawabku akhirnya.
Aku berjalan kembali melanjutkan niat yang tertunda. Sampai rumah sudah ada Beti yang sedang menjejer paper bag diatas meja tamu. Dan dia sedang melihat tas baru yang sangat cantik dan elegan.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Salamku, melihat dan menghitung paper bag yang ada diatas meja. Sepuluh jari naik semua saat aku mencoba menghitung.
"Waalaikum salam." Jawabnya melengos. Mungkin masih marah atas kejadian semalam. Atau memang begitulah perangainya.
Aku mendekat. Mengintip isi setiap tas yang ada diatas meja. Tak nampak jelas lah.
"Kenapa lihat-lihat? Iri bilang!" Ketusnya melihatku yang berjalan melihatnya, dan melirik isi dalam setiap paper bag miliknya.
"Tumben jam segini udah pulang?" Tanyaku. Tak menanggapi ucapannya tadi.
"Iya lah. Udah dapat semua yang aku mau, makanya langsung pulang. " Jawabnya angkuh, memamerkan perhiasan yang baru dipakainya. Ah, seakan kejadian semalam tak membuatnya berfikir dan berubah. Malah makin menjadi aja ni anak.
Ternyata dia bukan dari kampus?
Aku menatapnya sedih. Ku pikir dia akan bersikap lebih baik, atau paling tidak meminta maaf karena ulahnya kemaren. Tapi malah makin angkuh dan tak bersahabat. Malah makin membuat sekat yang tinggi antara kami.
"Kenapa? Pengen juga punya barang-barang branded begini? " Menunjuk barangnya yang ada diatas meja. "Tapi nggk usah mimpilah ya. Suami situ kan cuma guru, mana mampu beli beginian." Lanjutnya menghina suamiku.
Rasanya terpantik juga emosiku ini. Siap meledak ingin memakinya. Tapi, tahan. Tak ada gunanya marah-marah sama makhluk seperti dia.
"Untuk apa bisa beli barang meWAH? kalo makan aja masih tak mau modal?" Balasku tak kalah sadis. Orang kayak dia mah harus dibalas kan? Makin jadi kalo dibiarkan.
"Heh. Maksud kamu apa? " Teriaknya marah. "Dasar orang miskin ! Beli makan untuk bersama aja diungkit tiap hari." Makinya.
Menarik nafas dalam, keluarkan. Tak usah buang-buang waktu meladeni orang seperti dia. Toh tadi aku pulang niatnya bukan untuk dia.
"Tak apa lah. Yang penting kaya hati, biar bahagia." Jawabku dengan bibir mencibir, lalu melenggang pergi meninggalkannya. Melanjutkan niat yang akan mengambil makanan lagi untuk tetangga yang lebih menghargai usahaku. Tak kayak dia, udah makan pake menghina lagi.
Ku lihat dia menggeram marah, dan melempar keras tas barunya diatas meja kaca. Yang menciptakan bunyi berdenting saat pengait besinya beradu dengan kaca meja.
________
Hy dears. Semoga suka ya. Jangan lupa kritik sarannya jika ada yang salah. ππ
Jangan lupa tinggalkan jejak. πΎπΎ
like, komen, gift, dan vote nya.π€ππ
__ADS_1